Berpuas Menjadi Juru Catat
"Tapi kalau diingat, rasanya dari dulu hidup begitu-begitu saja. Barulah setelah satu fase berlalu 5-10 tahun, mulai ada dorongan untuk…
Berpuas Menjadi Juru Catat

Lagi nyantai karena produksi berhenti, mungkin ada mesin rusak entah di bagian mana. (Di sebuah pabrik daging di NSW, Juni 2025).
Sejak awal tahun lalu saya mulai jarang menulis. Ada banyak alasan: capek kerja, tidak ada waktu senggang, lingkungan tak memadai, dan seterusnya, dan seterusnya. Namun, alasan utamanya saya kira satu: hidup saya terasa semakin mekanis, dan tak lagi menarik. Jika pengalaman hidup saya selama WHV dijadikan sekuens gambar, maka akan muncul adegan berulang tak sudah-sudah.
Selama tinggal di Sydney, dari November 2024 sampai April 2025, saya bangun tiap pukul 9 atau 10 pagi. Saya tak langsung beranjak dari tempat tidur, memilih menggulir linimasa media sosial, mandi, lalu merapel sarapan dan makan siang pada pukul 12 siang. Saya lantas berangkat kerja, ke pabrik tahu, sebelum pukul 3 sore. Mulai kerja dari pukul setengah 4 sore hingga jam 12 malam.
Biasanya, dari jam setengah 4 sampai 5, saya jadi all-rounder. Seringnya bantu mengemas tahu lunak. Kadang-kadang, kalau lagi ada produksi tempe, saya bantu membuka plastik tempe yang baru saja selesai masa fermentasinya untuk kemudian dimasak dengan bumbu-bumbu tertentu. Saya tak tahu persis bagaimana proses memasak dan membumbuinya, sebab pada pukul 5 sampai pukul 6 kurang 15 menit, saya harus menjaga mesin penggoreng tahu karena operator utamanya biasanya mengambil waktu istirahat di jam itu. (Operator itu sudah tua, asam uratnya suka kumat. Karenanya ia tak boleh telat makan dan minum obat).
Usai menjaga mesin sebentar, saya lantas memotong-motong tahu putih yang reject—biasanya karena underweight atau overweight—untuk digoreng dan dijadikan tahu berbumbu. Proses pemotongan itu dilakukan dua kali. Pertama, tahu putih yang bentuknya serupa batu bata itu dipotong jadi dua bagian menggunakan pisau. Hasil potongan pisau itu lantas dimasukkan lagi ke mesin pemotong yang membuat tahu jadi lembaran-lembaran setebal biskuit berselai. Proses ini, biasanya memakan waktu sampai sebelum jam 8, ketika matahari baru mulai terbenam.
Karena saya sudah familiar dengan mesin penggoreng, biasanya saya juga yang ditugaskan untuk memasukkan tahu yang sudah terpotong kecil-kecil itu satu per satu ke konveyor, yang berjalan memasuki mesin penggoreng.
Konveyor itu berjalan lambat, menyesuaikan waktu menggoreng yang sudah diatur oleh operator mesin. Alhasil, itu bikin saya mesti berdiri di depan minyak panas hampir dua jam. Tak terlalu soal buat saya—sebab kerjaan itu cukup digarap satu orang, dan saya jadi tak perlu mengobrol dengan teman kerja yang tak terlalu akrab dengan saya dan terus terasa seperti basa-basi. Pekerjaan ini saya garap sampai pukul 10.
Dari pukul 10 sampai 12, waktunya bersih-bersih pabrik. Saya biasanya bantu-bantu membersihkan mesin penggoreng: menyedot minyaknya, mencuci mesin pemotongnya, mengelap sisa-sisa minyak di bawah mesin, dan seterusnya.
Usai semua sudah, saya pulang. Sampai apartemen, saya makan dulu, mandi, lalu tidur. Begitu terus.
Mungkin ada variasi di tiap harinya, tapi rasanya seperti rutinitas pada umumnya: membosankan.
Rutinitas itu sempat dikacaukan ketika April saya memutuskan pindah kerja lagi ke regional area, tepatnya di Cootamundra, sekira 5 jam naik kereta dari Sydney, untuk memperpanjang visa sampai 2027. Saya kembali kerja di pabrik daging. Bedanya kini daging sapi, bukan kambing seperti dulu. Dan kini, saya kerja sebagai knifehand, bukan general labour.
Pengalaman baru itu terasa mengasyikkan dan menantang di awal. Saya jadi belajar mengasah pisau. Belajar teknik-teknik memotong.
Tapi itu cuma berlangsung satu dua minggu. Setelahnya, hari kembali menjadi rutin: membosankan.
Ilham Rukmana, seorang teman yang baru saja menerbitkan buku puisi pertamanya dan resmi jadi penyair, berusaha meyakinkan saya bahwa cerita yang saya alami menarik. “Mungkin kau bisa mencoba menulis puisi seperti Goenawan Mohamad, menjadikan tempat-tempat asing buat pembaca lokal sebagai latar.”
Saya langsung menyergah. Tidak. Saya pekerja migran di Australia. Saya bukan pelancong yang hari Senin ke Opera House, Selasa ke pameran seni, Rabu ke Blue Mountain, dan seterusnya, dan seterusnya. Apa yang saya lihat setiap hari adalah tembok pabrik.
“Ya tetap menarik,” jawabnya, memaksa.
Namun, kendati memaksa, paparannya selanjutnya nggak sepenuhnya bisa saya tolak. Bagaimanapun, hanya orang berprivilege yang bisa bekerja di luar negeri seperti saya. Privilege-nya kalau bukan modal uang, ya, modal sosial. Dan tidak semua orang di Indonesia punya itu. Karenanya, kata Ilham, pengalaman saya bisa jadi unik buat banyak orang.
Saya tak bisa mengelak. Tapi entah kenapa, perasaan saya terhadap pengalaman sehari-hari itu (baca: mood), juga penting untuk mendorong saya menulis atau tidak. Jika pengalaman itu saya jalani dengan mood datar, sulit buat saya mengolahnya jadi tulisan. Kalau pengalaman itu dipenuhi emosi meledak, katakanlah itu sedih sekali atau senang sekali, barulah itu mungkin menarik buat saya tulis. Dan jarang sekali saya mengalami hal itu, karena capek dan tekanan bekerja menjadi rutin; senang dan gembiranya berlibur juga terasa repetitif.
Inikah writer’s block? Entah. Saya bingung.
Sebenarnya, ada kata lain yang lebih mudah dipakai untuk menjelaskan kondisi saya, alih-alih kata abstrak dan nggak jelas lan ra mutu seperti writer’s block: malas. Iya, kayaknya saya pemalas saja.
Tapi ada sisi lain dari diri saya yang mungkin tak akan serta-merta terima dengan penjelasan itu.
Pertama, saya pekerja pabrik loh, bukan penulis. Kedua, saya diam-diam tak nyaman juga dengan kondisi "tidak produktif" ini.
Jangankan menulis, sampai menjelang akhir tahun 2025 kemarin membaca pun saya sudah hampir tak sanggup. Teman diskusi juga tidak ada. Saya meratapi kondisi ini begitu dalam, sampai-sampai suatu waktu saya mengirim surel ke Ariel Heryanto dan mengajaknya kopdar di Melbourne. Siapa tahu ketemu beliau bikin moral saya bangkit. Bagaimana kejadian itu berlangsung akan saya ceritakan di lain kesempatan.
Namun intinya, dorongan untuk menulis itu tetap tak ada. Perasaan bingung dan tak bisa apa-apa tetap dominan sampai 2 Februari 2026 lalu, ketika saya membaca buku kumpulan esai Mahfud Ikhwan, Menumis Itu Gampang, Menulis Tidak.
Esai-esai di buku itu sebagian besar pernah saya baca di situs Mojok. Esai Mahfud, sejak saya jadi pekerja migran, bahkan jadi bacaan yang paling sering saya gumuli. Saya selalu suka dengan esai-esainya, membacanya berulang-ulang, hingga jadi rutinitas, paling tidak dua minggu sekali.
Namun, bukan esai Mahfud yang jadi perhatian saya kala membaca buku Menumis. Saya malah "terganggu" ketika membaca pengantar editor, ditulis Prima Sulistya.
Format tulisannya saya coba tiru di bagian awal esai ini: ia menceritakan kesehariannya menghadapi pekerjaan kantor dan rumah, lalu menyatakan betapa biasa-biasanya pengalaman itu. Membosankan malah.
“Tapi kalau diingat, rasanya dari dulu hidup begitu-begitu saja. Barulah setelah satu fase berlalu 5-10 tahun, mulai ada dorongan untuk mengingat-ingat seperti apa keseharian di masa lalu itu.”
Membaca kalimat Prima, saya terhenyak. Di bagian-bagian berikutnya, Prima menjelaskan bagaimana cerita fiksi seperti Laskar Pelangi atau Ulid maupun nonfiksi seperti kumsai Menumis, memuaskannya dahaganya. Dahaga terhadap cerita keseharian, yang membuatnya mafhum bahwa kehidupan begitu beragam.
Saya barangkali belum tentu bisa menulis cerita keseharian dengan cara demikian, tapi pengantar Prima bikin saya sadar.
Tampaknya saya memasang standar terlalu tinggi. Saya pengin tulisan saya menarik dan nikmat, bahkan untuk diri saya sendiri. Padahal, tugas tulisan ini, yang niat awalnya dibuat sebagai catatan, tak mesti begitu. Barangkali 5-10 tahun ke depan, saya justru bisa berpuas karena catatan ini bisa memenuhi dorongan mengingat-ingat seperti apa keseharian saya selama WHV.
메타데이터
- post_id
- cf8eead55ecb
- slug
- berpuas-menjadi-juru-catat-cf8eead55ecb
- url
- https://medium.com/@sidramnth/berpuas-menjadi-juru-catat-cf8eead55ecb
- canonical_url
- https://medium.com/@sidramnth/berpuas-menjadi-juru-catat-cf8eead55ecb
- author_url
- https://medium.com/@sidramnth
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 08:33:37