Topeng yang Tak Bisa Dilepas
#1246: Ketika Komitmen kepada Orang Lain Mengalahkan Izin kepada Diri Sendiri
Jurnal
Topeng yang Tak Bisa Dilepas
#1246: Ketika Komitmen kepada Orang Lain Mengalahkan Izin kepada Diri Sendiri
Topeng yang dipakai karena janji sering lebih sulit dilepas. (engin akyurt/Unsplash)
Senin saya siaran langsung di Zoom untuk peluncuran buku bersama Mizan. Selasa saya mengikuti Temu Penyunting bersama tim Narabahasa. Rabu saya merekam dua siniar. Kamis saya mengisi webinar penceritaan bersama Gramedia. Jumat saya berdiskusi dengan klien tentang perubahan gaya buku mereka. Sabtu saya mengajar seharian untuk Fasilkom UI, lalu mengisi siaran langsung di X. Di sela semua itu, ada tisu di saku yang makin sering diambil.
🔑 **Klik tautan ini untuk melanjutkan membaca. 🔑**
Tidak ada sesi yang dibatalkan. Tidak satu pun. Tidak semua terasa ringan, tetapi di balik setiap jadwal, ada orang yang sudah menyiapkan diri, mengatur waktu, dan menunggu. Ketika orang lain sudah hadir, alasan untuk tidak hadir terasa seperti sesuatu yang tidak bisa dibayar hanya dengan kata maaf.
Yang berusaha dijaga bukan hanya jadwal, melainkan juga muka orang lain. Kita sering berusaha agar orang lain tidak merasa diabaikan, dikecewakan, atau dipermalukan. Saya baru sadar bahwa topeng kadang tidak dipakai untuk menipu dunia, tetapi untuk menjaga agar rencana orang lain tidak runtuh oleh ketidakhadiran kita. Dalam pragmatika, inilah yang disebut upaya menyelamatkan muka.
Saya jadi ingat buku *Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero* yang membahas topeng dalam psikologi Jung, yaitu persona untuk menghadapi dunia luar. Bang Andreas menulis bahwa topeng perlu dilepas agar kita tidak lelah dan tidak lupa wajah sendiri. Dia menawarkan lima langkah, dari becermin dan mengenali topeng hingga membangun lemari topeng agar kita tahu mana yang perlu dikenakan, kapan, dan kepada siapa.
Saya setuju bahwa topeng perlu dikelola. Namun, ada yang belum sepenuhnya terjawab oleh kerangka itu. Topeng yang saya kenakan selama tujuh hari bukan topeng yang saya pilih saat becermin pada pagi hari. Ia sudah terikat sejak saya mengiyakan undangan, menyanggupi jadwal, dan membuat orang lain merencanakan sesuatu berdasarkan kehadiran saya. Ketika hari itu tiba, memilih atau tidak memilih bukan lagi pertanyaan yang relevan.
Kita biasa membahas topeng sebagai produk ketakutan atau rasa malu, sesuatu yang dikenakan agar terlihat lebih kuat daripada yang sebenarnya. Topeng semacam itu bisa dilepas, asal ada keberanian. Namun, tampaknya ada jenis topeng lain yang bekerja dengan mekanisme berbeda. Topeng itu lahir bukan dari ketakutan, melainkan dari janji. Janji, tidak seperti ketakutan, tidak bisa dilepas hanya dengan keberanian.
Lemari topeng yang ditawarkan Bang Andreas hanya bisa dikelola jika kita masih memegang kendali atas waktu pemakaiannya. Ketika komitmen sudah mendahului kondisi, lemari itu tidak lagi bisa dibuka dengan leluasa. Topeng sudah dipakai sebelum kita sempat memilih, bukan karena kita lupa wajah sendiri, melainkan karena wajah orang lain lebih dulu menunggu di depan pintu.
Pertanyaan yang tersisa bukan tentang bagaimana melepas topeng. Pertanyaannya ialah apakah topeng itu masih tepat disebut topeng jika ia dikenakan bukan karena takut, bukan karena malu, melainkan karena orang lain memang membutuhkan kehadiran kita. Mungkin ada nama lain untuk itu. Mungkin itu wajah lain dari tanggung jawab yang tidak mengenal jadwal sakit.
Minggu menjelang siang, saya masih perlu bertemu calon mitra. Topik yang kami bahas sangat menarik, yaitu aplikasi untuk membantu anak yang mengalami gangguan wicara. Saya kembali mengenakan topeng saat itu. Topeng baru saya lepas ketika tiba di rumah di tengah derasnya hujan. Setelah itu, tubuh mengambil haknya. Sore tadi saya terbaring lemas di depan TV.
Jurnal dan Kenangan
Sabtu kemarin, saya mengisi lokakarya penulisan ilmiah di MIK Fasilkom UI. Pak Dekan Wisnu Jatmiko, membuka acara yang ternyata cukup formal meski berlangsung pada akhir pekan. Untung saya datang mengenakan jas. Pada sesi pagi, saya membedah contoh tesis dan disertasi yang sudah dikirim Pak Indra Budi, Kaprodi MIK, sambil membahas teori. Pada sesi siang, peserta membuat paparan singkat karya akhir berdasarkan abstrak untuk menguji kelengkapannya.
Tahun lalu, saya mewawancarai Mbak Reda Gaudiamo dalam Kinara #47. Kami berbicara tentang sifat geleman dan cici-cici yang melahirkan buku Kisah-Kisah para Pencerita. Dari kartu pemantik untuk anak-anak di Perth, proyek itu berkembang menjadi buku berisi cerita dan ilustrasi dalam tenggat sangat singkat. Obrolan tersebut menegaskan bahwa menulis bukan sekadar bakat, melainkan latihan, keberanian, pemantik yang tepat, dan kebiasaan membaca.
[embed]Cici-Cici Geleman #881: Bagaimana Reda Gaudiamo menulis (Kinara #47)ivanlanin.medium.com
Dua tahun lalu, saya mengisi dua acara untuk Ditjen Pajak pada pekan ketiga Mei 2024. Dari dua acara itu, tampak bahwa pegawai pajak tidak hanya membutuhkan ketelitian ejaan dan kalimat, tetapi juga kecakapan menyusun argumentasi hukum. Pertemuan tersebut membuat saya makin memahami hubungan erat antara bahasa tulis, profesionalisme, dan kemampuan meyakinkan pembaca dalam dokumen pajak.
Ingin lebih terampil berbahasa? Kunjungi toko 🏪, ikuti kelas 👨🏫, atau hubungi 📞 Narabahasa.
메타데이터
- post_id
- cfc0b387a091
- slug
- topeng-yang-tak-bisa-dilepas-cfc0b387a091
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/topeng-yang-tak-bisa-dilepas-cfc0b387a091
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/topeng-yang-tak-bisa-dilepas-cfc0b387a091
- author_url
- https://medium.com/@ivanlanin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30