← Back to list

Cerita di Tanah Lada

Ia adalah seorang anak yang tumbuh di antara diam dan gemetar. Usianya muda, namun batinnya telah renta oleh perkara yang tak sepatutnya…

masihsama · 2025-12-16 15:50 · 0 claps · 1.0 min read
#lada
Open on Medium ↗

Cerita di Tanah Lada

Ia adalah seorang anak yang tumbuh di antara diam dan gemetar. Usianya muda, namun batinnya telah renta oleh perkara yang tak sepatutnya diwariskan pada jiwa sekecil itu. Rumah baginya bukan perteduhan, melainkan ruang sempit tempat suara keras bersemayam dan kasih sayang kehilangan rupa. Dalam keheningan, ia belajar bahwa tidak semua luka berdarah; sebagian tinggal dan berakar dalam takut.

Ayah hadir laksana murka yang tak berwajah musim, datang tanpa aba-aba, pergi meninggalkan sisa gentar. Ibu, sebaliknya, adalah senyap yang panjang, memeluk derita tanpa kata. Di antara keduanya, ia hidup sebagai bayang-bayang, belajar berdiri tanpa sandaran, belajar menahan tangis agar tidak menambah bising dunia.

Sering ia bertanya dalam benaknya yang lugu: mengapa cinta mesti bersuara keras, dan mengapa sabar kerap disalahartikan sebagai takdir. Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah mendapat jawab, selain gema yang kembali ke dalam dadanya sendiri.

Hingga pada suatu waktu, takdir mempertemukannya dengan seorang anak lain, jiwa yang sama-sama koyak oleh kehidupan. Pertemuan mereka bukanlah perjamuan yang hangat, melainkan sekadar dua kesepian yang saling mengenali. Mereka tidak berbagi janji, sebab masing-masing telah belajar bahwa janji mudah patah. Namun dari kesamaan luka, tumbuh keberanian yang lirih: keberanian untuk meninggalkan.

Maka mereka pun melangkah, menempuh jalan yang tak ramah, menjauhi rumah yang tak lagi bernama rumah. Dunia terbentang luas, namun terasa dingin dan asing.

Ia menamai hidup yang dijalaninya sebagai tanah lada; pedas dan perih, menyengat hingga ke mata dan dada. Namun rasa pedas itu mengajarkan satu perkara: bahwa ia masih bernyawa, masih mampu merasa, masih mampu berharap meski harapannya kecil dan rapuh. Sebab ia mengerti, tidak semua luka meminta sembuh; sebagian hanya ingin dikenang agar tak lagi menjadi sunyi yang mematikan.


메타데이터
post_id
cfc22daf260f
slug
cerita-di-tanah-lada-cfc22daf260f
url
https://medium.com/@Masihsama/cerita-di-tanah-lada-cfc22daf260f
canonical_url
https://medium.com/@Masihsama/cerita-di-tanah-lada-cfc22daf260f
author_url
https://medium.com/@Masihsama
status
ok
fetched_at
2026-06-20 20:29:01