← Back to list

From knowledge to impact

Photo by Edward Howell on Unsplash

zharafh · 2026-05-08 15:20 · 10 claps · 2.6 min read
Open on Medium ↗

From knowledge to impact

Photo by Edward Howell on Unsplash

Photo by Edward Howell on Unsplash

Memiliki waktu 24 jam yang sama dengan manusia lainnya, tidak lantas menjadikan satu manusia dengan manusia lainnya memiliki pencapaian yang sama. Banyak effort dan kegiatan yang dilakukan tidak serta merta hasil yang diinginkan bisa dicapai.

Di sebuah perusahaan masalah kinerja terjadi bukan karena kurang nya sumber daya manusia, atau kurang fasilitas dan tools yang digunakan, atau bahkan kurang effort.

Nah ada tiga kondisi yang secara tidak sadar memberikan dampak yang signifikan yaitu yang pertama, tidak tahu apa yang benar, Ini adalah kondisi dimana tim bekerja keras, namun tanpa arah yang jelas. Mereka berlari cepat, tapi tidak tahu ke mana tujuannya.

Lalu kedua, merasa tahu tapi ternyata salah. Di kondisi ini tim tidak hanya kehilangan arah, mereka justru yakin sudah berjalan di jalur yang tepat. Inilah yang paling sulit ditembus, karena tidak ada yang merasa perlu berubah.

Dan ketiga sudah tahu tapi tidak dilakukan. Semua orang paham masalahnya dan tahu solusinya. Namun perubahan tidak terjadi. Ada gap antara pemahaman dan eksekusi yang akan kita bahas selanjutnya!

  • Ketidaktahuan (knowledge gap)

maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (QS. An-Nahl; 43)

Knowledge gap terjadi ketika seseorang belum memiliki informasi, kompetensi, prosedur, atau pemahaman yang dibutuhkan untuk menjalankan tugasnya dengan benar.

“Saya belum tahu caranya.”

“Belum ada SOP-nya.”

“Tidak ada yang pernah mengajari saya soal ini.”

Kalimat-kalimat ini bukan selalu bentuk kemalasan atau ketidakpedulian. Jika dibiarkan argumen ini akan bertransformasi dari sebuah keluhan menjadi sebuah budaya. Sebuah budaya di mana ketidaktahuan dianggap alasan yang sah untuk tidak berubah dan bergerak.

Dan ketika itu terjadi, risikonya adalah ketergantungan. Ketergantungan pada orang lain yang lebih mengetahui entah itu leader atau tim dan pastinya pekerjaan berjalan dengan tidak efektif.

Jika knowledge gap adalah penyakitnya, maka solusinya adalah buat SOP yang mudah diakses dan dipahami, sistem training dan mentoring yang sistematis, dan sebagainya yang bisa menunjang knowledge tim.

  • Pengetahuan salah yang diyakini benar

“mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan (dugaan), padahal persangkaan itu tidak berguna sedikitpun terhadap kebenaran” (QS. An-Najm; 28)

Seseorang merasa yakin dengan caranya, padahal pemahamannya bisa jadi atau bisa sekali keliru. Nah biasanya berbalut kalimat seperti “Biasanya memang seperti ini” atau “Dulu saya juga begitu.”

Ini dia yang paling berbahaya karena tidak terasa seperti masalah bagi yang mengalaminya. Risikonya bisa meluas dengan timbulnya drama, menyesatkan tim dan klien, memecah belah tim, hingga mengacaukan standar kerja perusahaan.

Solusinya bisa dengan lakukan unlearning sebelum training, bangun budaya critical thinking di seluruh organisasi, serta gunakan metode training dan mentoring berbasis roleplay untuk menguji pemahaman secara nyata.

  • Pengetahuan yang tidak menjadi tindakan

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak. kamu kerjakan?” “Sangat besar kebencian di sisi Allah kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. As Saff 2–3)

Seseorang sudah memiliki pengetahuan, namun tidak mengimplementasikannya dalam tindakan nyata, selalu ada alasan yang terdengar masuk akal seperti misalnya : “Kalau ada waktu nanti saya rapikan” atau “Saya tahu kok, cuma belum sempat aja.”

Risiko dengan pemahaman yang salah dibiarkan hidup dan berkembang di dalam organisasi, dampaknya tidak berhenti pada satu individu ia akan menyebar, peluang yang hilang, target tidak tercapai, budaya menunda yang mengakar, dan menghambat kerja tim secara keseluruhan.

Solusinya adalah terapkan KPI berbasis outcome, bangun dashboard monitoring real time, sederhanakan proses kerja, dan terapkan audit pekerjaan berkala.

Penutup

Pada akhirnya, kemampuan seseorang tidak dinilai dari seberapa banyak ilmu yang dimiliki, tetapi dari seberapa konsisten ilmu itu diterapkan menjadi tindakan yang benar, pada waktu yang tepat, dan dengan cara yang tepat.

Perjalanan untuk mencapai hal itu dimulai dari langkah sederhana yang sering diabaikan: berani jujur. Jujur tentang apa yang belum kita pahami, jujur bahwa kita bisa saja salah, dan jujur melihat perbedaan antara apa yang kita ketahui dengan apa yang benar-benar kita lakukan.

Karena perubahan yang nyata selalu berawal dari kejujuran pada diri sendiri.


메타데이터
post_id
cfc67b58e4c9
slug
from-knowledge-to-impact-cfc67b58e4c9
url
https://medium.com/@zharafh/from-knowledge-to-impact-cfc67b58e4c9
canonical_url
https://medium.com/@zharafh/from-knowledge-to-impact-cfc67b58e4c9
author_url
https://medium.com/@zharafh
status
ok
fetched_at
2026-07-17 21:26:36