Memb-ASU-h
#034: Memaafkan Atas Keputusan yang Bisa Diperjuangkan
Memb-ASU-h
034: Memaafkan Atas Keputusan yang Bisa Diperjuangkan
Pengantar Penulis:
Disclaimer: (Topik Sensitif) Segala bentuk pembahasan disini hanya hipotesis/cara pandang penulis atas bentuk keresahan pribadi untuk menemukan jawaban, bukan untuk diilhami secara pasti terkait kebenarannya/valid, sebab bersifat subjektif. Harapannya para pembaca dapat terbuka terkait pemikirannya sendiri dan mampu memfalsafahkan sendiri, karena keingintahuan memiliki alasan tersendiri untuk keberadaannya.

Bisakah kita tetap memberi
Walau tak suci?
Bisakah terus mengobati
Walau membiru?
Cukup besar ‘tuk mengampuni
‘Tuk mengasihi
Tanpa memperhitungkan masa yang lalu
Walau kering
Bisakah kita tetap membasuh?
Membasuh – HINDIA ft. Rara Sekar
Sampai saat ini aku belum menemukan esensi pernikahan secara jelas. Agama mungkin memang menjelaskannya secara rinci dan terukur. Tetapi hatiku belum serta merta menerimanya begitu saja. Orang tuaku sendiri bahkan menikah bukan atas dasar karena perintah agama. Aku menyebutnya hanya dorongan nafsu belaka. Terdengar kasar, namun begitulah faktanya. Akan jadi omong kosong ketika orang tuaku nantinya menyuruhku menikah dengan dalih agama. Bisa jadi mereka berubah karena itu, bisa jadi pembenaran atas kesalahan di masa lalu.
Aku tidak ingin pernikahan sia-sia, aku tidak ingin pula ada manusia (lagi) yang dikorbankan. Perasaanku sudah sesak menerima fakta itu, otakku bakan tidak pernah berpikir jernih lagi, bahkan aku tidak punya visi misi untuk melanjutkan jenjang kehidupan selanjutnya. Aku kadang iri ketika teman-temanku bisa bangga menceritakan orang tuanya di masa muda dulu, bagaimana pdktnya, bagaimana langkah-langkah pernikahannya, dan bagaimana mereka saling memperjuangkan, aku sungguh sangat ingin diceritakan begitu pula. Sayangnya tidak demikian, aku menganggap pernikahan orang tuaku adalah hikmah terbesar dan terberat menurutku untuk diambil. Hal-hal yang seharusnya aku hindari, mereka melakukannya. Hal-hal dimana itu keputusan ceroboh, mereka juga melakukannya. Aku selalu berpikir juga, Allah begitu baiknya dengan hambanya. Sampai suatu ketika aku mempertanyakan itu ke diri sendiri,
Bagaimana mereka bisa sejauh itu?
Jika percontohannya saja atas dasar gambling, apakah aku harus berjudi pula untuk menitih kehidupan bersama selanjutnya? Aku hanya ingin menyerah soal pernikahan, aku tidak ingin pula berbuah perjodohan, dan aku tidak yakin bisa membina rumah tangga dengan baik pula. Pertanyaan selanjutnya yaitu sampai
Sejauh mana pernikahan itu layak untuk diperjuangkan?
Aku merasa kebingungan dengan setiap keputusan yang akan aku ambil ketika memiliki hubungan. Awalnya gimana, endingnya bakal gimana. Skeptis selalu menghantui pikiranku. Aku selalu menganggap pernikahan adalah keputusan akhir atau keputusan hidup dan mati, jika saja keputusan salah diambil, aku tidak bisa berpikir jernih lagi. Ketika aku menceritakan cara pandangku tentang pernikahan dengan perbandingan pernikahan orang tuaku pun, mereka (teman-teman baikku sekalipun) tidak melemparkan sebuah jawaban yang pasti, antara mereka sungkan atau memang belum bisa memahami dan hanya bisa menenangkan. Namun, disisi lain aku butuh sekali jawaban, sisi lain mungkin berpikir aku hanya ingin terpuaskan secara ego. Sungguh…..
Aku hanya ingin jawaban
Jika memang pernikahan itu candu, bagaimana aku bisa berpikir demikian. Jika memang pernikahan itu bisa mendewasakan, bagaimana aku yang punya pikiran kekanak-kanakan ini bisa dewasa. Dan jika memang pernikahan itu adil, bagaimana keadilan itu bisa diperjuangkan bersam oleh dua insan nantinya.
Karena sampai saat ini aku belum berpikir aku layak untuk diperjuangkan oleh seseorang pula.
Tidak seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya yang berusaha menyampaikan argumentasi buah dari pemikiran saya atau inspirasi-inspirasi lainnya. Tulisan kali ini justru penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang mencari dan butuh jawaban, yang mana ingin jadi bahan diskusi, diskursus, ataupun refleksi yang berkelanjutan kedepannya bukan sebagai ajang mencari posisi siapa yang benar dalam topik ini. Terbaring lemas tidak berdaya ya begitulah akhir yang kuinginkan, hanya rasa sayang dan diperhatikan akan membuatku lega.
Informasi selengkapnya terkait konten-konten menarik terkait seni dan desain oleh penulis bisa klik link ini www.linktr.ee/inteens
메타데이터
- post_id
- cfd698e1c7de
- slug
- memb-asu-h-cfd698e1c7de
- url
- https://medium.com/@onlyemptyspacescanbefilled/memb-asu-h-cfd698e1c7de
- canonical_url
- https://medium.com/@onlyemptyspacescanbefilled/memb-asu-h-cfd698e1c7de
- author_url
- https://medium.com/@onlyemptyspacescanbefilled
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30