← Back to list

Trauma, Lika-liku kehidupan yang menjadikan seseorang tidak berguna.

Pada sebuah malam, entah di bulan Agustus atau September kala itu. Sepulang dari acara kampus di Madura, dan hendak pulang ke Gresik. Saat…

Jundi Luthfillah · 2026-01-24 16:04 · 0 claps · 8.4 min read
#memoir #the-memoirist #traumatic-events #homeless #jobless
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 🧠 · Mental Wellness ✍️ · Writing & Creative

Trauma, Lika-liku kehidupan yang menjadikan seseorang tidak berguna.

Pada sebuah malam, entah di bulan Agustus atau September kala itu. Sepulang dari acara kampus di Madura, dan hendak pulang ke Gresik. Saat itu mungkin pukul 11.00 atau 12.00, aku lupa pastinya jam berapa, yang pasti saat itu sudah larut malam. Di perjalanan pulang itu, aku mampir sejenak ke sebuah minimarket di samping jalan, untuk beristirahat sejenak sambil membeli minuman dan rokok.

Saat akan masuk minimarket, aku disambut oleh seorang pria lusuh, sedikit gemuk, dengan pakaian compang-camping, dan membawa sebuah gitar ukulele. Bau yang begitu menyengat merasuk ke dalam hidung dengan cepat, mengisyaratkan bahwa memang dia ini adalah gelandangan. Seketika itu pun dia berdiri dan menatapku, lalu mengulurkan tangannya dan berkata:

“Mas, minta uang dikit, Mas, belum makan.”

Tapi aku hanya terdiam tanpa sepatah kata pun, dan langsung bergegas menuju ke dalam minimarket. Sedikit ku lirik, pria tersebut kembali duduk di depan pintu minimarket lagi. Aku pun melanjutkan belanja di minimarket.

Saat sedang memilih-milih minuman di kulkas, seketika perasaan mengisyaratkan untuk membantu pria itu tadi dengan memberikan sedikit minuman atau makanan. Sejenak ego muncul, bertanya kepada diri sendiri, mengapa aku harus membantu orang yang meminta-minta tersebut, terlebih ia juga masih muda, mungkin umurnya tidak jauh dariku dan juga masih kuat untuk bekerja. Namun, kemudian ada satu pertanyaan lagi muncul di kepalaku: apakah mungkin dia memang malas dan enggan bekerja, atau mungkin ada sesuatu yang lain yang membuat dia seperti itu? Pikiran itu seolah menghancurkan ego-ku sebelumnya yang memandang sebelah mata pria itu. Setelah itu, aku putuskan untuk membeli sebotol air dan juga roti untuk diberikan kepada pria yang cukup terlihat malang itu.

Seusai menyelesaikan pembayaran belanjaan, sejurus kemudian aku beranjak untuk keluar dari minimarket. Pria tadi masih saja duduk di depan pintu dekat tong sampah, menatap jalanan Gresik yang masih saja dijejali truk-truk besar di malam hari. Kemudian aku menuju kursi yang disediakan di teras minimarket, lalu menaruh belanjaanku di atas meja. Aku mencoba memberanikan diri untuk memanggil pria tersebut untuk bergabung bersamaku. Tak lama, aku langsung memanggilnya untuk ke sini.

“Mas, sini.”

Ia pun bergegas dari duduknya dan menghampiri aku dengan wajah yang tampak semringah. Aku pun menyodorkan sebotol air minum dan juga roti yang telah aku beli tadi untuknya. Dia terlihat sangat girang dan tidak menyangka akan diberikan makanan oleh seseorang. Ia pun duduk di kursi sebelahku. Aku juga menawarkan sebatang rokok kepadanya, dan tanpa pikir panjang ia langsung mengambilnya, lalu menaruhnya di bibirnya. Ia pun mengatakan padaku dengan nada yang melas kalau seharian ini belum makan sama sekali, dan baru ini makanan yang ia konsumsi selama seharian. Aku pun tertegun dan tak bisa berkata-kata, lagi. Ternyata memang hidup ini sangat jahat. Sejenak aku membiarkan ia makan dulu sebelum aku ajak ia ngobrol.

Bau badannya sangat busuk menusuk hidungku, mungkin belum mandi seminggu, menghilangkan konsentrasiku. Rasanya aku ingin beranjak dari sana. Setelah ia menyelesaikan satu kunyahan roti, kami pun ngobrol santai. Sejenak setelah kami berkenalan, aku langsung menghujani dia dengan pertanyaan yang mungkin agak keras bagi sebagian orang.

“Kenapa kamu ngamen dan mengemis? Kenapa tidak bekerja saja, toh kamu masih muda juga?”

Aku langsung melemparkan pertanyaan kepadanya. Sejenak dia menatap jalan, dengan raut muka yang semringah, akhirnya mencoba menceritakan kisahnya padaku.

Berawal saat ia ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, ia hidup sebatang kara, tanpa saudara atau kerabat yang membantunya. Itu menjadi pukulan telak bagi hidupnya dan harus berjuang sendirian untuk tetap hidup. Suatu ketika, ada seorang tetangga yang mengajaknya untuk bekerja sebagai nelayan. Desa tempat ia tinggal memang terkenal sebagai desa nelayan, maka dari itu pekerjaan yang paling umum di sana adalah sebagai nelayan. Ia pun akhirnya ikut melaut bersama tetangganya itu. Awalnya semua berjalan mulus, ia pulang membawa hasil tangkapan ikan yang banyak lalu akhirnya dijual dan mendapatkan uang untuk menyambung hidupnya. Sampai pada suatu hari, ketika ia dan rekan-rekannya sedang pergi melaut, cuaca menjadi sangat tidak bersahabat. Angin berhembus mengombang-ambingkan kapal mereka dengan sangat kuat. Awan hitam pun menyelimuti pelayaran mereka. Gemuruh petir seakan menghantui mereka dan mengisyaratkan agar segera kembali pulang. Namun apa daya, tangkapan ikan belum didapatkan, lantas jika sudah di darat nanti mereka akan membawa pulang apa. Akhirnya dengan mental yang kuat, mereka tetap bertahan di lautan yang ganas itu dengan gemuruh petir yang seakan berteriak marah kepada mereka. Sebuah cahaya datang mendekati mereka, seperti akan melahap. Disusul pula dengan suara guntur yang makin meraung, laut tiba-tiba menjadi ruang hampa. Semua serba putih, tak ada lagi langit mendung, tak ada lagi laut biru.

Kejadian itu seperti sebuah mimpi buruk yang sangat mencekam dan begitu nyata baginya. Setelah kejadian itu, ia menyadari telah bangun di sebuah daratan. Orang-orang ramai mengerubunginya. Ia pun menatap orang-orang itu aneh, pun sebaliknya mereka pun kaget, ternyata ia masih hidup. Ia pun makin bingung dengan situasi ini yang begitu sangat janggal. Tak lama ada seorang pria datang kepadanya dan mengatakan bahwa hanya ia yang selamat dari perahu yang ia tumpangi bersama temannya untuk melaut. Semua temannya mati tersambar petir. Tidak ada yang tersisa kecuali dirinya yang berhasil ke daratan dengan selamat.

Aku pun seolah masuk ke dalam ceritanya yang begitu tragis itu. Sampai-sampai baunya kembali menggangguku lagi. Kali ini seperti bau mulut yang sangat bau. Tetapi ia masih ingin bercerita kembali soal masa lalunya. Wajahnya seolah sedih mengingat itu namun tetap dengan perasaan yang semringah.

“Yah setelah itu aku coba merantau sih, Mas,” ujarnya setelah menyelesaikan ceritanya di laut itu.

“Merantau ke mana?” Tanyaku kepadanya.

Ia melanjutkan kembali cerita tentang masa lalunya. Setelah selamat dari tragedi itu, nasib membawanya untuk pergi dari desa tempat ia tinggal untuk merantau ke kota sebelah. Ia diajak teman bapaknya untuk kerja menjadi buruh kasar di sebuah proyek pabrik. Ia cukup bersyukur atas pekerjaan itu. Ia tak perlu risau dengan pendapatannya karena yang pasti dia akan menerima gaji sebulan sekali. Pada saat itu gajinya selama bekerja di proyek itu lumayan cukup untuk memenuhi kebutuhannya, hingga ia bisa menyisihkan uangnya untuk ditabung. Selain itu, ia juga tinggal di mess karyawan, jadi tak perlu memikirkan biaya sewa untuk tempat tinggal. Namun, kesialan seolah tak henti-henti menariknya. Walaupun telah mendapatkan pekerjaan dan gaji yang layak, ia kini harus dihadapkan dengan orang-orang culas yang setiap hari menjadikan dia sebagai samsak. Ia dirundung dan dikucilkan oleh buruh-buruh yang lain. Entah mengapa alasannya sehingga mereka berbuat zalim kepadanya. Sampai pada puncaknya ia menyadari bahwa setiap bulan, saat uangnya terkumpul lumayan banyak, uang itu hilang. Ia pun merasa teman-temannya di mess itu telah keterlaluan. Ia pun menghampiri salah satu dari mereka, dan mencoba menanyakan perihal uangnya. Namun, sebuah pukulan langsung melayang tepat ke kepalanya. Mereka tidak terima, saat dia bilang ia telah mencuri uangnya. Merasa sedang terancam, ia pun mencoba melawannya, akan tetapi jumlah mereka yang begitu banyak tidak memungkinkan. Akhirnya setelah kegaduhan itu, ia pun dikeluarkan dari proyek tersebut, dan harus hidup menggelandang lagi.

Ceritanya semakin tragis dari waktu ke waktu. Aku pun makin merasa heran dengan apa yang ia alami. Apakah memang sekelam itu?

“Setelah kejadian itu kamu langsung memutuskan mengamen?” Tanyaku.

“Sebenarnya, ada… aku dulu pernah juga jadi kenek truk,” jawabnya, mencoba mengingat kembali kejadian tersebut.

Ia pun melanjutkan ceritanya kembali dengan penuh gairah di wajahnya. Selang beberapa bulan setelah ia keluar dari proyek tadi, ia kemudian bertemu dengan seorang supir truk pengangkut batu kapur untuk kebutuhan konstruksi. Dari pertemuan itu kemudian si supir merasa iba dengannya, kemudian menjadikannya kenek truk miliknya. Mungkin pekerjaan ini lebih mudah dari sebelumnya, ia tak perlu terlalu bekerja keras seperti saat menjadi buruh kasar di proyek pabrik. Tugasnya hanya menemani supir, membersihkan truk, mengangkut muatan ke bak truk, membantu supir mengganti ban, dan tentunya memandu supir saat akan parkir atau menyeberang. Ya, walaupun gajinya tak seberapa dari sebelumnya, setidaknya ia masih bisa makan dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya, yang penting bisa hidup. Profesi itu ia geluti cukup lama. Ia bersama supir itu telah melanglang buana ke mana pun untuk mengantarkan kiriman batu kapur yang dipesan orang-orang. Suatu hari, sang supir memutuskan untuk mengajarinya mengemudikan truk agar nanti bisa bergantian saat sang supir merasa lelah di perjalanan. Mendapat kesempatan itu, ia merasa bersemangat, karena ia dapat mempelajari skill baru yang akan bisa ia gunakan untuk mencari uang. Sang supir mulai mengajarinya hal-hal dasar dalam mengendarai dan menguasai truk. Pertama-tama ia diajari bagaimana mekanisme dalam truk itu sendiri. Setelah memahami semua mekanisme, ia akhirnya mencoba mengemudikan truk itu. Semua materi tentang mengendarai truk ia dapat dari mulai ganti transmisi, cara menekan gas, haluan truk, dan juga cara memarkir. Sang supir merasa keneknya itu cepat mempelajari mengemudi. Akhirnya ia kini mempunyai tugas baru sebagai kenek, yaitu mengambil alih kemudi truk saat sang supir sedang capek atau belum tidur seharian. Walaupun belum mempunyai SIM, tapi sang supir telah mempercayakan kemudi truk tersebut kepadanya.

Pada suatu ketika, ada sebuah pesanan batu kapur di desa dekat bukit. Saat itu sang supir masih ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Namun ia tak mau menolak rezeki tersebut. Akhirnya sang supir memutuskan untuk menyuruhnya untuk mengantarkan pesanan itu sendirian. Sang supir tak mau menyia-nyiakan rezeki itu. Lagipula keneknya sudah bisa mengendarai truk dan menurutnya ia sudah cukup mampu untuk mengendalikan truk tersebut. Akhirnya ia pun mengiyakan perintah bosnya itu, karena memang tidak ada pilihan lain, selain memasrakan tugas itu padanya. Sejurus kemudian ia langsung menancap gas, mengantar batu-batu itu ke tempat tujuannya. Jalanan desa di dekat bukit itu sangatlah berliku-liku dan curam bak roller coaster. Jalanannya memang sepi dan jarang ada kendaraan lewat, ia pun lebih bisa tenang karena itu. Sampai pada saat itu juga, ia merasa ada yang aneh. Jalanan di depannya memang sepi sejauh mata memandang. Tidak ada satu kendaraan pun yang nampak. Kiri-kanan hanyalah kebun-kebun dan juga belukar yang tinggi. Hingga tiba-tiba ada sebuah sepeda motor menyalipnya dari sebelah kiri dengan ugal-ugalan. Pemotor itu berhasil mendahului truknya, sampai tiba-tiba, pemotor itu hilang kendali dan terjatuh dari motornya. Di dalam truk, ia mengetahui apa yang ada di depannya, dan secara spontan berusaha menghindari pemotor yang terjatuh tepat di depannya. Namun nahas, truk hilang kendali dan oleng ke kiri. Usahanya untuk menghindari pemotor itu pun juga sia-sia karena tepat setelah ia membelokkan setirnya ke kiri. Badan truk itu menghantam sang pemotor beserta motornya juga hingga terpental sampai sejauh 10 meter. Truk yang ia kendarai pun menabrak pohon di samping jalan hingga bagian depan truk itu ringsek sangat parah. Untungnya ia tetap selamat sampai akhirnya ia keluar dari truk untuk mengecek keadaan. Ia pun segera mencoba mendekati pemotor itu. Namun saat ia mencoba melihat sekitarnya, aspal jalan itu telah dinodai dengan bercak darah dari pemotor itu. Pemotor itu sendiri tidak sedikit pun bergerak, tergeletak di bahu jalan. Ia menyadari bahwa orang itu sepertinya telah mati. Ia pun makin syok dan sangat panik. Ia takut jika harus berhadapan dengan massa ataupun lebih parahnya dikeroyok oleh massa karena perbuatannya. Ia juga takut kalau harus berhubungan dengan polisi. Ia tak mau hidup di penjara dan sengsara selamanya. Apalagi orang kecil sepertinya pasti akan selalu mendapatkan perundungan dan ketidakadilan di sel tahanan. Lantas juga ia memikirkan sang supir, bosnya. Sang supir pasti akan marah besar melihat truknya itu hancur. Terlebih itu truk satu-satunya yang dimiliki oleh sang supir. Apalagi batu-batu kapur yang ada di bak belakang truk, berhamburan keluar berantakan. Ia tidak tahu lagi apa yang ia harus lakukan di sana. Ia seolah berada di tengah-tengah lautan neraka yang siap membakarnya. Akhirnya, sejurus kemudian ia lari dari tempat itu. Berlari meninggalkan desa dekat perbukitan itu. Ia tinggalkan truk bosnya yang sudah ringsek dengan batu-batu yang semula diangkut, kini berceceran sedikit demi sedikit ke tanah. Pemotor yang tak berdaya itu juga ia biarkan tergeletak di sana, bersimbah darah, dengan kondisi motornya yang sudah tidak berbentuk. Lalu ia pun kabur dari itu semua. Ia tak ingin urusan ini berlarut-larut. Akhirnya ia memutuskan untuk kabur ke desa asalnya, dan kembali ke rumah peninggalan orang tuanya yang sudah tak terurus lagi semenjak ia memutuskan untuk merantau dari desa itu. Mencoba bersembunyi dari segala prahara yang menghantamnya dalam satu waktu.

Ceritanya sungguh menghentakku. Begitu saksama aku dengan ceritanya hingga tak sadar rokok yang telah aku bakar sudah habis. Kami seketika terdiam, sampai pria itu kembali dengan satu kalimat.

“Yah, itulah kenapa aku memilih untuk mengamen dan mengemis, bukan karena enggak mau atau malas, tapi aku trauma setelah beberapa kejadian nahas itu,” ujar pria itu yang kemudian meneguk air pemberianku tadi.

Aku tidak bisa membayangkan hidupnya tadi itu benar-benar terjadi atau hanya bualan. Seolah-olah itu terlalu dibuat-buat seperti drama yang sadis. Namun, jika memang itu terjadi, kehidupan macam apa yang didapat oleh orang itu. Semuanya seperti membencinya. Dunia seolah enggan memberikannya sedikit ruang untuk bahagia. Rasanya sangat tidak adil, tapi itu memang nyata terjadi padanya.

Malam itu berlarut. Aku melihat jam di ponselku, waktunya telah menunjukkan 00.30. Aku harus segera pulang, badanku sudah tidak kuat dan ingin segera istirahat di rumah. Akhirnya sejurus kemudian, aku meninggalkan pria itu dan bergegas pulang. Di saat aku hendak menghidupkan motorku, pria itu juga beranjak dari tempat duduknya semula. Seketika ia menghampiri orang lain yang tengah duduk juga di teras minimarket itu, dan meminta uang lagi dan berkata:

“Mas minta uang, saya belum makan dari tadi pagi.”

Aku pun langsung menancap gas motorku dan pergi meninggalkan minimarket itu. Oh iya, aku juga lupa siapa nama pria itu, tapi itu bukan soal penting bagiku.


메타데이터
post_id
cfe1b4cfb61d
slug
trauma-lika-liku-kehidupan-yang-menjadikan-seseorang-tidak-berguna-cfe1b4cfb61d
url
https://medium.com/@jundijundai/trauma-lika-liku-kehidupan-yang-menjadikan-seseorang-tidak-berguna-cfe1b4cfb61d
canonical_url
https://medium.com/@jundijundai/trauma-lika-liku-kehidupan-yang-menjadikan-seseorang-tidak-berguna-cfe1b4cfb61d
author_url
https://medium.com/@jundijundai
status
ok
fetched_at
2026-07-17 00:37:06