Sudah sampaikah kepadamu kisah Musa?
(ada 5 cangkir yang tidak terlalu penuh, yang ingin kubagikan ulang di sini) (cerita dibalik bagaimana akhirnya saya memutuskan untuk…
Sudah sampaikah kepadamu kisah Musa?
(ada 5 cangkir yang tidak terlalu penuh, yang ingin kubagikan ulang di sini) (cerita dibalik bagaimana akhirnya saya memutuskan untuk mendokumentasikan tulisan ini di Medium, bisa dibaca nanti setelah jamuan 5 cangkir di bawah selesai dinikmati)
هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَى
Sudah sampaikah kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa? (Qs. 79:15)

Kelas Tadabbur Quran — The Story of Musa

#1 — Jauh sebelum pertemuan pertama itu tiba
Bukan tanpa alasan mengapa Musa a.s. lebih banyak diulang-ulang kisahnya dibandingkan dengan kisah Nabi dan Rasul lainnya.
Untuk mengetahui hal apa yang menyelamatkan diri, kita harus tahu hal-hal apa yang dapat membinasakan/menghancurkan.
Jangan berharap dengan masa kejayaan dan keemasan umat manusia, sebelum mengenal apa itu dan bagaimana kaum manusia terdahulu pernah hancur + dihancurkan.
Dimulai dengan mengenal awal mula kisah kerajaan ‘tiran’ besar nan megah, yang tirani-nya berbalik arah oleh sosok bayi laki-laki yang tumbuh di dalam kerajaannya (Fir’aun) sendiri, yang hampir saja (seharusnya) ia juga dibunuh.
Untuk dapat berjumpa pada “pertemuan pertama”, Allah siapkan Musa a.s. dalam perjalanan hidup yang amat pelik, yang selalu mendebarkan pada tiap langkahnya. Agar kokoh jiwanya, mantap hatinya.

#2— ‘Pertemuan’ pertama seorang hamba dengan Rabb nya
Sebagai manusia (pada umumnya), kita selalu berusaha mendapat perhatian manusia lain dengan gelar-gelar duniawi, jabatan, harta, benda-benda yang ingin kita perlihatkan. Namun, untuk mendapat perhatian-Nya, untuk berjumpa dengan Sang Pemilik Alam, kita tidak butuh semua itu.
Allah ingin kita datang menjumpai-Nya dalam keadaan bersih (tanpa jubah dunia) dan rendah hati. Tidak dalam keadaan meninggi, namun dalam kondisi yang menerima takdir-Nya dengan lapang dada.
Maka pada saat itulah, Allah dengan kuasa-Nya akan membuka segala hal dan rintangan yang mengalangi kita, agar mudah untuk menjumpai-Nya.

#3 — Yakin terhadap takdir Rabb nya
”..dan Aku telah memilihmu (menjadi rasul) untuk diri-Ku” (Qs. 20:41)
Masyarakat yang telah hidup bertahun-tahun lamanya di balik kuasa tirani, segenap hati mereka perlahan luluh dan meyakini kebenaran yang dibawa oleh sosok pemuda ini. Satu per satu, hari demi hari, kian bertambah yang mengikuti Nabi Musa a.s.
Barulah mereka sadari, bahwa selama ini mereka hanya mengikuti perintah orang-orang yang berbuat kerusakan. Bahwa ternyata masih ada harapan untuk para pribumi, masih ada kebaikan yang bisa diusahakan di masa depan.
Maka, (atas amanah yang telah Allah titipkan padanya) Nabi Musa a.s. tidak berhenti menyampaikan kebaikan (dakwah) itu hanya kepada Fir’aun saja kemudian selesai. Sekali-kali tidak. Namun Musa juga terus dan tetap melanjutkan risalah-Nya kepada umatnya satu langkah demi satu langkah, dengan segenap keyakinan penghambaan terhadap Rabb nya.

#4 — Sumber tragedi adalah keinginan. Keinginan, adalah awal mula setiap tragedi.
Seseorang baru bisa menemukan (memahami) kebenaran sejati setelah ia belajar melewati masalah dan keinginan duniawinya yang ia pilih sendiri.
Yang pada mulanya, orang-orang (merasa ingin dan harus) patuh kepada Fir’aun sebab jabatan dan kuasa yang terlihat tidak pernah goyah,
yang mulanya kebanyakan orang-orang (memiliki keinginan untuk) mengagumi sosok Qarun sebab harta dan kekayaan, yang dianggap ia memiliki keberuntungan yang besar,
lalu pada akhirnya, orang-orang mulai meyakini apa yang diajarkan oleh Musa a.s : yakni ‘mengetahui batas cukup’ di dunia, memahami makna hidup yang sesungguhnya.

#5 — Cangkir penutup
”Bagaimana kalau aku tidak menjadi apa-apa?”
Memangnya, Allah minta kamu jadi apa.. selain menjadi hamba yang taat dan yang bertakwa? :)
Carilah dunia, ketahui batas cukupnya.

Kelas Tadabbur Quran — The Story of Musa | bersama Ustadzah Aulia Musla Mustika, M.Pd. @ Bandarlampung
Kholash. Wallahu’alam bish shawab.
[Epilog] Dibalik jamuan 5 cangkir sederhana ini
Selamat menikmati sisa akhir pekan! 😊 Akhirnya, inilah waktu yang tepat untuk menuliskannya di tempat (media tulisan panjang) yang tepat pula. Sengaja saya simpan 5 cangkir ini terlebih dahulu selama dua hari satu malam pada sebuah fitur rekaman tulisan daring saya yang lainnya. Dalam sebuah kelas belajar atau majelis ilmu, terkadang kita ingin mencatat semua hikmah yang disampaikan oleh guru. Namun ingatan kita terbatas, kekuatan dan kecepatan tangan kita juga terbatas, sementara ceramah kuliah (lecture) terus berjalan, hingga sayang jika kita melewatkan satu-dua kata saja. Sehingga kedua telinga kita secara otomatis bermode siaga untuk terus mendengar satu-dua ucapan, kata demi kata yang dituangkan oleh guru sebagai petuah kita, tanpa sempat melengkapi catatan, atau bahkan tanpa sempat menulis apapun. Hehe. Maka semoga 5 cangkir sederhana ini bisa dapat saling bantu melengkapi isi cangkir teman-teman kemarin yang masih belum sempat tertuang~
📖✍🏻
Kemarin, seusai kelas di hari Jum’at ba’da Maghrib, saya ingin tergesa-gesa untuk menulis dan membuat story (cerita) baru dalam pesan instan hijau itu. Lagi-lagi, alam bawah sadarku menegur dengan amat halus :
Yang pertama harus dicari saat akan menulis, bukanlah bagaimana memulai paragraf pertama, melainkan menata ulang niat dan pikiran.
Karena menulis adalah laku jiwa. Dan tulisan … mencerminkan kekuatan jiwa penulisnya. (Re-post dari Ustadzah Aulia)
Oh benar juga. Kenapa harus terburu-buru?
Bulan Muharram lalu, saya hampir berhasil puasa (oversharing) story di media sosial selama sebulan penuh, namun batal (gagal) karena berita emas 74 Kg. Jika diingat-ingat, setelah satu bulan itu, ada banyak kesempatan untuk saya menulis panjang di pesan instan hijau. Tapi tidak saya lakukan. Saya memilih untuk menulis hal-hal pendek yang sebagian kurang berfaedah.
Tiba pada bulan Safar ini, naluri diri untuk berkarya menulis dan mengajarkan (kelas-kelas kecil) kembali muncul dari arah tak terduga, sebab ada beberapa sahabat yang secara mendadak menaruh harapan agar mereka bisa belajar di kelasku. Betapa.. saya merasa bahwa ini adalah sebuah tanda / ayat / petunjuk / sinyal, agar saya benar-benar harus mengurangi frekuensi oversharing yang tak perlu, dan harus mulai menambah frekuensi menulis yang perlu (penting) untuk dibaca lebih banyak khalayak.

Sesekali aku terkejut sebab mereka menyampaikan keinginan dan semangat belajarnya melalui pesan suara (voice note). Tentu saja, saya tidak langsung menjawab dan meng-iyakan. Saya berusaha memutar otak agar satu-dua kegelisahan jiwa mereka terjawab lebih awal, agar rasa gelisah dan keresahan itu dapat terjawab secara bersama-sama, dalam satu paragraf utuh yang sama.
Karena teringat akan nasihat guru kami, saya jadi teringat pula bahwa pada beberapa pekan terakhir, saya sedang mempelajari dan mengulang kisah pejalanan dan perjuangan dakwah Nabi Musa a.s. dalam sebuah kelas tadabbur Quran secara tatap muka yang diampu oleh Ustadzah Aulia. Di mana, semua keresahan sahabat-sahabat saya saat ini.. sebenarnya bisa diredam oleh ilmu, oleh mutiara hikmah yang terkandung dalam kisah Musa a.s.
Wahai diriku sendiri, wahai jiwaku (Yang Berada dalam Genggaman-Nya), malam ini.. kamu hendak menuangkan tulisan seperti apakah? Ada cerita apa hari ini?
Lantas saya bergumam di dalam hati, apakah teman-teman yang berada di dalam kelas tadabbur ini sudah mengetahui / menyimak sumber utamanya?
Dengan mantap, juga dalam waktu yang sempit, hati kecil ini memutuskan, baiklah, sepertinya kau perlu menunda tulisanmu. Sembari menata ulang niat dan pikiranmu sendiri. Kau harus menulis dengan tujuan. Maka menulislah agar tangan kananmu dapat menembus banyak kepala dan isi pikiran orang-orang.
Tidak ada kondisi yang paling ideal untuk menulis, selain dengan memulainya. Maka malam itu, tangan kananku mulai menuangkan satu cangkir paragraf pertama, kemudian berhenti sejenak. Lalu kembali membaca kepingan-kepingan takarir (caption) singkat pada sumber utama yang menjadi rujukan awal mula dibentuknya kelas ini.

Kembali kepada cerita permintaan beberapa sahabatku tadi, yang ingin kembali duduk bermajelis ilmu seperti masa kuliah dulu. Dengan tulisan ini, saya hendak berusaha meneladankan satu sikap pembelajar seumur hidup : jadilah murid, yang dengan dirinya, ia merasa butuh (berkeinginan) untuk terus mencari ilmu sampai kepada sumbernya.
Tidaklah seseorang dikatakan (sebagai) murid, melainkan dia memang orang yang ingin mendapatkan ilmu dari gurunya. Tidaklah seseorang dikatakan murid, kecuali dia memang ingin mendapat keberkahan majelis, ingin mendapat rahmat dan maghfirah-Nya, dan seterusnya, seterusnya.
Saat sampai sebuah kisah.. sebuah ilmu kepada kita, boleh jadi itu adalah (tanda) awal dibukakannya pintu-pintu keberkahan oleh Allah, agar kita dapat sampai kepada hikmah.
Jadi, sahabat.. bagaimana?
Sudahkah sampai ke dalam dadamu, kisah Nabi Musa?
Ditulis di Bandarlampung pada hari Jum’at s.d. Ahad, 7–9 Agustus 2026 (24–26 Safar 1448)
메타데이터
- post_id
- d0038c5c59fa
- slug
- sudah-sampaikah-kepadamu-kisah-musa-d0038c5c59fa
- url
- https://medium.com/@maayaru/sudah-sampaikah-kepadamu-kisah-musa-d0038c5c59fa
- canonical_url
- https://medium.com/@maayaru/sudah-sampaikah-kepadamu-kisah-musa-d0038c5c59fa
- author_url
- https://medium.com/@maayaru
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-24 19:53:45