← Back to list

Mengamati ‘Fosil Paus’ di Tanjung Jabung Barat: Menduga dan Mencari Fakta Sebenarnya

Pertama kali pada 27 Oktober 2025 ditemukan sejumlah tulang di kebun kelapa warga tepatnya di Parit KUD, Desa Muara Seberang, Kabupaten…

Miss Curiosity · 2025-12-25 16:03 · 0 claps · 3.8 min read
#science #education #media-literacy-education #indonesia #whales
Open on Medium ↗
Wiki topics: EDU · Education & Learning 🔬 · Science · General

Mengamati ‘Fosil Paus’ di Tanjung Jabung Barat: Menduga dan Mencari Fakta Sebenarnya

Pertama kali pada 27 Oktober 2025 ditemukan sejumlah tulang di kebun kelapa warga tepatnya di Parit KUD, Desa Muara Seberang, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Peneliti menduga bahwa tulang tersebut adalah tulang ikan paus atau mamalia laut besar lainnya. Namun, hasil pastinya masih menunggu analisis lebih lanjut dan hasil laboratorium. Pemerintah memindahkan tulang-tulang tersebut ke Kantor Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Aku pun penasaran, ingin melihat langsung, apakah benar ini tulang ikan paus? Apakah benar ini fosil? Kenapa bisa ditemukan di Tanjung Jabung Barat? Aku mengajak anak-anak tempat lesku berkunjung ke Perpustakaan untuk mengamati lebih dekat.

  1. Mengamati Tulang Ikan Paus

Gambar Tulang yang Tersimpan di Perpustakaan

Gambar Tulang yang Tersimpan di Perpustakaan

Dari struktur tulang memang terlihat seperti mamalia laut besar yaitu paus. Dapat dilihat memiliki tulang belakang, tulangnya beruas-ruas berbentuk gepeng dan besar, tersusun memanjang, sangat mengarah pada ciri khas ikan paus. Ditemukan 12 vertebrata berderet. Biasanya paus memiliki puluhan vertebrata tergantung spesiesnya.

Pada bagian depan seperti berlubang. Lubang pada tulang sering dianggap sebagai ciri paus, padahal secara anatomi lubang sembur paus tidak tersisa pada tulang. Anak-anak saat melihat lubang langsung teringat paus yang menyemburkan air. Padahal lubang sembur (blowhole) yang kita lihat misalnya di video bukan tulang, melainkan jaringan lunak (kulit & otot). Tampaknya juga bagian itu bukan kepala, kemungkinan bagian tulang scapula (bahu), atau bagian tulang rostrum (moncong) yang sudah rusak, atau tulang sternum yang terbelah. Karena, pada umumnya kepala paus punya struktur besar dan memiliki rahang panjang. Artinya tulang-tulang yang ditemukan ini bukan keseluruhan rangka dan kemungkinan telah rusak juga. Untuk memastikan apakah benar ini paus kita perlu bukti yang lebih lengkap, misalnya dengan melakukan analisis anatomi lebih lanjut yang dilakukan oleh para ahli. (Baca juga: https://doi.org/10.1017/S0952836901000164)

  1. Mengenal Fosil

Gambar Tulang Lebih Dekat dan Saat Aku Bersama Anak-anak Mengamati dari Jarak yang Diizinkan

Gambar Tulang Lebih Dekat dan Saat Aku Bersama Anak-anak Mengamati dari Jarak yang Diizinkan

Setelah diamati lebih dekat, dilihat dari warna tulang yang krem, masih punya pori-pori, tidak berubah menjadi batu, tidak menunjukkan mineralisasi kuat. Menurut paleontologi (ilmuan yang mempelajari masa lalu bumi melalui fosil), fosil adalah sisa atau jejak organisme yang hidup di masa lalu dan telah terawetkan dalam sedimen atau batuan geologis melalui proses yang panjang dan kompleks. Fosil umumnya terbentuk melalui fosilisasi yang memakan waktu ribuan sampai jutaan tahun. Agar sebuah sisa organisme bisa disebut fosil, ia harus mengalami fosilisasi yang umumnya mencakup permineralisasi atau penggantian material organik dengan mineral dari lingkungan sekitarnya.

Ciri-ciri tulang yang telah menajadi fosil, sebagai berikut:

a. Mineralisasi

Pori-pori ditulang terisi oleh mineral dari lingkungan, bahkan menggantikan bahan organik secara bertahap. Sehingga, tulang lebih padat dan berat karena kandungan mineralnya meningkat. (Ini juga diamati dalam kajian mineralogi fosil tulang laut Miocene; https://doi.org/10.1016/j.jsames.2020.102924)

b. Warna

Fosil tulang sering berwarna lebih gelap seperti hitam atau coklat tua. Karena, mineral berupa besi dan mangan yang terendapkan selama ribuan tahun.

Kesimpulan dari pengamatan sederhana yang sebenarnya juga masih bersifat praduga ini, tulang belulang tersebut belum mengalami proses fosilisasi yang panjang. Dengan kata lain, secara geokimia dan struktural lebih mirip tulang “organik yang terawetkan”. Perkiraan usianya belum sampai ribuan atau jutaan tahun. Mengenai usia tulang masih perlu konfirmasi dari hasil laboratorium. Dapat dilakukan dengan uji karbon-14 (Radiokarbon-Dating), yaitu metode ilmiah yang mengukur peluruhan karbon radioaktif pada sisa bahan organik.

Kenapa kandungan karbonnya yang diperiksa?

Di Perpustakaan aku menemukan buku Enskilopedia Ekologi, menjadi kesempatan untukku bisa menjelaskan ke anak-anak dengan argumen dan sumber yang jelas mengenai pertanyaan di atas. Setiap makhluk hidup itu memiliki unsur karbon dalam tubuhnya. Karbon ini ada di daging, darah, dan juga di tulang. Paus sebagai makhluk hidup juga punya karbon di tulangnya. Selama makhluk itu hidup, karbon di dalam tubuhnya terus bertambah dan seimbang. Tapi setelah mati, karbonnya perlahan berkurang. Nah, dari sisa karbon inilah para ilmuwan bisa memperkirakan kapan makhluk itu mati. Dari sana kita bisa tahu berapa usianya dan bisa menentukan apakah tulang ini layak disebut fosil.

  1. Geologi Tanjung Jabung Barat

Tanjung Jabung Barat terletak di timur Sumatra. Kawasan dari Jambi sampai Riau dahulunya merupakan bagian dari paparan Sunda yang terpangaruh naik turunnya permukaan laut. Pada Zaman Holosen (5.000–10.000 tahun lalu), laut masuk ke pedalaman (marine transgression), dan banyak wilayah yang saat ini merupakan daratan sebelumnya adalah pesisir laut atau laut dangkal. Setelah laut surut, daerah yang tadinya dekat laut menjadi rawa. Di rawa ini tumbuhan tumbuh lebat, lalu sisa-sisanya menumpuk selama waktu yang sangat lama hingga berubah menjadi tanah gambut. (Baca selengkapnya: 10.58837/tnh.6.2.102930)

Dikatakan oleh para peneliti, jarak lokasi penemuan dari laut berkisar 2–3km. Hal ini mendukung dugaan bahwa daerah penemuan tulang tersebut pernah menjadi perairan laut dangkal atau estuari.

Gambar Sesi Diskusi

Gambar Sesi Diskusi

Setelah kami mengamati tulang-tulang tersebut dan berdiskusi, aku menyampaikan pada anak-anak bahwa temuan tulang besar di Tanjung Jabung Barat masih dalam analisis para peneliti. Ilmuan perlu melihat konteks lapisan tanah, lingkungan sekitarnya, dan temuan lain yang mungkin menyertainya. Karena, satu potong tulang tidak cukup untuk memastikan jenis makhluk hidupnya. Belajar dari fosil bukan hanya belajar tentang masa lalu, tetapi juga belajar bagaimana ilmu pengetahuan bekerja: pelan, hati-hati, dan berbasis bukti.

Gambar Setelah Selesai Berdiskusi

Gambar Setelah Selesai Berdiskusi


메타데이터
post_id
d00d5463affe
slug
mengamati-fosil-paus-di-tanjung-jabung-barat-menduga-dan-mencari-fakta-sebenarnya-d00d5463affe
url
https://medium.com/@hi.azlinaa/mengamati-fosil-paus-di-tanjung-jabung-barat-menduga-dan-mencari-fakta-sebenarnya-d00d5463affe
canonical_url
https://medium.com/@hi.azlinaa/mengamati-fosil-paus-di-tanjung-jabung-barat-menduga-dan-mencari-fakta-sebenarnya-d00d5463affe
author_url
https://medium.com/@hi.azlinaa
status
ok
fetched_at
2026-08-24 01:52:02