← Back to list

Menari dan Menyanyi di Marandan Weser

Selebihnya, dan yang paling penting, mereka mengingatkanku bahwa hidup selalu indah dan perlu dirayakan, apa pun caranya.

wahab in postcards to my mom · 2026-07-12 10:02 · 0 claps · 10.4 min read paywalled
#journaling #sailing #travel-journal #sail-ternate-sorong #raja-ampat
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✈️ · Travel

#447 | SAIL TERNATE-SORONG

Menari dan Menyanyi di Desa Marandan Weser

Day 9: Batanta & Piaynemo

Baca melalui tautan teman

Marandan Weser. (photo by wahab)

Marandan Weser. (photo by wahab)

Terakhir kali kami berkunjung ke pulau berpenghuni dan bertemu dengan orang-orang di desa, yaitu pada hari ke-2. Waktu itu kami singgah di Desa Lelei yang berada di Halmahera. Sebuah desa nelayan yang mata pencahariannya tidak hanya bergantung pada laut, tetapi juga pada rempah-rempah bersejarah, yaitu pala.

Aku senang, tentu saja. Berkunjung ke desa di pulau-pulau kecil dan terpencil selalu menjadi kegiatan yang menarik bagiku setiap kali ikut berlayar. Selalu ada hal menarik yang bisa kutemukan dan kupelajari. Entah itu menemukan senyum hangat penduduk pulau hingga mempelajari cara hidup mereka yang tampak biasa saja tetapi penuh dengan hal-hal kompleks. Selebihnya, dan yang paling penting, mereka mengingatkanku bahwa hidup selalu indah dan perlu dirayakan, apa pun caranya.

Kupikir itulah salah satu hal menarik yang kutemukan pagi ini di Desa Marandan Weser. Desa pertama yang kami kunjungi sejak berada di kawasan perairan Raja Ampat.

12 Oktober 2025

Kami tiba di Marandan Weser setelah berlayar selama 12 jam dari Balbulol. Sekitar pukul 5 pagi, kapal sudah menurunkan jangkar. Meskipun begitu, kami tidak langsung berkunjung ke desa. Hal pertama yang perlu dilakukan, seperti biasanya ketika menepi ke desa, adalah meminta izin kepada penduduk setempat.

Perahu nelayan. (photo by wahab)

Perahu nelayan. (photo by wahab)

Orang-orang desa itu tentu saja sudah mengenali kapal kami, sebab ini bukan kali pertama kami berkunjung ke desa itu. Namun, tetap harus meminta izin dan kupikir begitulah seharusnya. Entah salah satu pemandu perjalanan ini akan turun ke desa untuk meminta izin, atau biasanya juga ada orang dari desa yang naik ke kapal kami. Misalnya, pagi ini Om Boy dari desa itu naik ke kapal kami.

Sambil bersiap-siap sebelum mendarat di desa, aku menyempatkan diri menulis catatan harian terlebih dahulu. Duduk di kursi panjang di sisi kapal, sambil melihat ke desa itu, aku menemukan pemandangan yang menarik. Pemandangan yang sebetulnya sederhana, tetapi menurutku langka.

Kira-kira seperti ini pemandangan yang kulihat. Dari kejauhan, aku melihat desa itu berada pada sebuah pulau kecil yang memanjang. Di tepiannya tumbuh pohon-pohon yang tinggi menjulang. Ada pohon kelapa, dan banyak pohon lainnya yang tidak kuketahui namanya. Lalu di bibir pantai ada perahu-perahu nelayan yang berbaris dengan tali yang ditambatkan ke dermaga kayu. Lalu rumah-rumah kayu yang tampak serupa juga berada di sepanjang pantai.

Di atas desa itu, berterbangan burung kakaktua. Terbangnya cukup rendah, dan itu membuatku seketika berpikir, sepertinya desa ini adalah tempat yang aman bagi burung-burung indah itu. Aku membayangkan, jika burung-burung ini ditemukan di tempat lain, kemungkinan akan ditembak, ditangkap, dan sebagainya. Sedangkan di desa ini, ia terbang bebas.

Menepi ke Desa Marandan Weser. (photo by wahab)

Menepi ke Desa Marandan Weser. (photo by wahab)

Begitu pula, desa ini sangat tenang. Jauh dari bisingnya mesin-mesin kendaraan seperti di kota-kota. Suara yang paling besar kudengar adalah suara ibu-ibu yang sedang saling mengobrol dan suara anak-anak yang sedang bermain. Selebihnya hanya burung-burung dan petikan ukulele yang mengiringi bapak-bapak yang sedang menyanyi.

Tak luput dari jangkauan pandanganku, ada menara telekomunikasi. Katanya, menara itu dibangun pada tahun 2021. Sebab itu pula, selain terpukau oleh keindahan hamparan pulau ini dan ketenangan suasananya, aku juga jadi senang sebab akhirnya ponselku mendapatkan jaringan internet. Aku membayangkan hidup di tempat yang jauh dari keramaian seperti ini, tetapi tetap memiliki jaringan internet, tentu saja sangat menarik. Namun, tanpa internet sebetulnya jauh lebih menarik.

Menelusuri Desa Marandan Weser

Pukul 8 pagi, kami akhirnya bersiap-siap dan menapakkan kaki di desa. Tiba di dermaga, anak-anak kecil menyambut kami. Mengenakan semacam pakaian adat dan dengan wajah dan tubuh yang dipenuhi lukisan, mereka menyambut dan mengiringi kami masuk melewati gerbang desa. Sambutan itu dilengkapi dengan nyanyian dari bapak-bapak dan alat-alat musik buatan mereka sendiri.

[embed]

Belakangan aku baru tahu kalau ternyata anak-anak desa itu berlatih seni tari bukan hanya untuk penampilan, tetapi juga sebagai bagian dari kesadaran mereka untuk menjaga tradisi. Begitu pula, bapak-bapak yang menyanyi ini membentuk semacam grup musik dan membuat alat musik mereka sendiri. Salah dua gitar mereka dibuat dengan kayu pilihan sendiri dan dengan ukuran pilihan sendiri.

Kami tiba di desa itu dengan tarian dan nyanyian. Anak-anak itu menari dengan lincah mengikuti nada-nada yang mengiringi mereka. Begitu pula, bapak-bapak menyanyi dengan suara yang indah dan lirik-lirik lagu yang kupikir menceritakan tentang kehidupan mereka. Aku sempat menangkap beberapa bagian, meskipun tidak memahami lagunya. Lalu kami diajak menari bersama.

[embed]

Selepas menari dan menyanyi bersama, kami berkenalan dengan orang-orang desa. Salah satunya, Om Boy. Aku memanggilnya Om sebab kupikir dia lebih tua dariku, dan aku tak tahu berapa usianya sebab ia menyebut dirinya Boy. Yang aku tahu, dia memiliki 6 orang anak, dan anak tertuanya berusia 17 tahun. Katanya, seingatku, entah anak pertama atau anak keduanya yang melatih seni tari kepada anak-anak desa itu.

Masih dalam suasana yang sama, kami juga diperkenalkan dengan pakaian yang dikenakan oleh penari itu dan makna lukisan pada wajah dan tubuh mereka. Namun, jujur saja, aku tidak ingat sama sekali detailnya, jadi aku tidak bisa menyebutkannya dalam catatan ini.

Anak-anak Marandan Weser dengan pakaian adat mereka selepas tarian sambutan. (photo by wahab)

Anak-anak Marandan Weser dengan pakaian adat mereka selepas tarian sambutan. (photo by wahab)

Lalu, bagian menarik lainnya adalah berjalan menelusuri desa. Desa ini tidak begitu luas dan tidak ramai. Kata Om Boy, kira-kira pulau ini hanya dihuni oleh sekitar 300 orang atau 36 KK saja. Tak ada penduduk asli. Mereka semua adalah pendatang dari pulau-pulau sekitar dan baru mulai dihuni pada tahun 1999.

Desa ini mulai dihuni oleh dua orang, tetapi mereka sudah tidak ada lagi. Hanya ada kuburan mereka berdua yang berada di tempat yang istimewa. Kupikir itu cara orang-orang desa ini menghargai pendahulu mereka, juga cara untuk terus mengingat dari mana mereka berasal.

Di depan Kios Rijen. (photo by wahab)

Di depan Kios Rijen. (photo by wahab)

Selama kami berkeliling desa, anak-anak kecil menemani kami. Mereka semua tampak ceria dan kupikir salah satu alasannya adalah karena ini hari libur. Di desa ini hanya ada satu bangunan sekolah, yaitu untuk sekolah dasar (SD). Untuk tingkatan berikutnya, SMP dan SMA, mereka harus ke pulau lain, entah di Yensawai atau di Sorong.

Hanya SD itu yang dibangun dengan batu-bata. Selebihnya, semua bangunan lain menggunakan kayu. Terutama, rumah-rumah mereka yang menjadi ciri khas desa ini. Semua rumah di sini mirip. Tinggi, panjang, lebar, dan luasnya sama. Seingatku, kalau tidak salah, berukuran selebar 7 meter dan sepanjang 7 meter.

Bertamu. (photo by wahab)

Bertamu. (photo by wahab)

Begitu pula, bahannya terbuat dari bahan yang sama. Dinding dan atapnya terbuat dari bahan Pohon Bobo, aku tak tahu jenis pohon ini tetapi begitulah, kata Om Boy. Atap dan dindingnya diperbarui setiap 5 tahun, seperti pemilu, pikirku. Setiap rumah terbagi dalam tiga ruang, yaitu ruang tidur, ruang dapur, dan ruang mandi. Satu hal menarik yang kutemui, katanya, adalah kesamaan rumah ini membuat tak ada di antara mereka yang saling cemburu dalam bertetangga, apalagi mereka semua juga masih saling terikat hubungan keluarga.

Rumah khas di Marandan Weser. (photo by wahab)

Rumah khas di Marandan Weser. (photo by wahab)

Rumah-rumah itu mereka bangun sendiri, dan mereka bisa membuat rumah tanpa harus membeli tanah, alias gratis. Hanya saja, tentu saja, bagian mereka adalah merawat kayu-kayu yang menjadi bahan pokok pembuatan rumah-rumah mereka.

Selain membuat rumah mereka sendiri, mereka juga membuat perahu sendiri. Di tepi pantai, aku menemui sekelompok pembuat perahu. Ada sekitar 6 orang yang sedang mengerjakan satu perahu. Membuat perahu memakan waktu sekitar dua minggu atau lebih. Itu jika dilakukan oleh satu orang, katanya. Sedangkan, jika dilakukan oleh beberapa orang, mereka bisa menyelesaikannya sekitar satu minggu saja.

Para pembuat perahu dan perahu buatan mereka. (photo by wahab)

Para pembuat perahu dan perahu buatan mereka. (photo by wahab)

Perahu-perahu ini tidak dijual. Mereka saling membantu dalam pembuatannya. Perahu-perahu ini menjadi alat transportasi utama mereka untuk mengunjungi pulau-pulau lain, sekaligus untuk membantu mata pencaharian mereka sebagai nelayan.

Sungguh mengagumkan melihat cara hidup mereka. Mulai dari kebiasaan untuk saling bantu-membantu hingga adanya kesadaran akan alam dan adat yang mereka pegang. Aku ingat, Om Boy sempat menegur salah satu anak kecil yang sedang bermain dan hampir saja lemparannya mengenai burung kakaktua yang sedang terbang rendah. Lalu dia mengajarkan anak kecil itu untuk tidak melemparnya lagi dengan alasan, burung itu tidak akan kembali jika tempatnya tidak aman.

Kelapa muda. (photo by wahab)

Kelapa muda. (photo by wahab)

Selepas berkeliling desa, kelapa muda sudah menunggu kami. Kami berkumpul menikmati kelapa muda sambil mengobrol dengan ibu-ibu. Salah satu yang menarik perhatian kami dalam obrolan itu adalah ketika tiba-tiba ada yang bertanya, “Rumah sakit di bagian mana ya?”

Benar, tempat atau pulau yang jauh seperti ini selalu luput dari hal-hal dasar seperti itu. Namun, orang-orang desa ini hanya menjawab bahwa mereka bisa merawat diri mereka sendiri dan menjaga kesehatan dengan mengandalkan bahan-bahan alami berupa akar-akar dan buah-buahan. Yang tertua di antara mereka berusia sekitar 100 tahun, dan ia masih duduk berbagi cerita dan tawa bersama kami.

Gerbang Desa Marandan Weser. (photo by wahab)

Gerbang Desa Marandan Weser. (photo by wahab)

Bahkan untuk urusan melahirkan, mereka juga melakukannya sendiri dengan bantuan dukun beranak yang ada di desa. Rumah sakit hanya akan menjadi pilihan berikutnya jika mereka tidak bisa lagi menanganinya. Apalagi, untuk tiba di sana diperlukan waktu sekitar dua jam menggunakan perahu.

Mendengar cerita mereka, aku jadi teringat potongan materi Abdur Arsyad pada salah satu penampilan stand-up comedy-nya. Dia bilang, dalam kondisi seperti itu, tentu saja dalam bentuk candaan, “Bapak masih mendayung perahu, anak sudah lahir.” Aku membayangkan materi itu sambil mendengar mereka bercerita.

Menikmati Keindahan Melissa’s Garden dan Piaynemo

Balik dari desa, kapal langsung berangkat ke tujuan kami berikutnya, yaitu Piaynemo. Dalam perjalanan, selepas makan siang, kami menonton film dokumenter mengenai Alfred Russel Wallace oleh Bill Bailey. Judulnya Jungle Hero. Aku sudah pernah menontonnya sekali, jadi aku tidak merasa ketinggalan apa-apa ketika tiba-tiba tertidur pulas saat menonton.

Tak lama setelah itu, kami sudah tiba di depan Geosite Piaynemo. Namun, sebelum naik ke puncak untuk melihat pemandangan yang sama yang terdapat pada uang kertas 100 ribu rupiah, rencananya kami akan snorkeling terlebih dahulu.

Tiba di depan Geosite Piaynemo. (photo by wahab)

Tiba di depan Geosite Piaynemo. (photo by wahab)

Tempat snorkeling itu berada tepat di depan Piaynemo, dan orang-orang menyebutnya dengan nama Melissa’s Garden. Nama Melissa itu, aku berpikir itu pasti diambil dari nama seseorang, tetapi aku tidak mencari tahu lebih lanjut. Sedangkan kata Garden, kupikir itu penamaan yang tepat setelah aku mengunjungi tempat snorkeling itu secara langsung. Seumpama taman, ia penuh dengan karang dan ikan-ikan.

Melissa’s Garden. (photo by wahab)

Melissa’s Garden. (photo by wahab)

Aku bisa bilang, tempat ini merupakan salah satu tempat snorkeling terbaikku selama pelayaran ini. Tentu saja, membandingkan tempat-tempat snorkeling tidak mudah sebab semuanya indah dan perbedaannya tidak mencolok.

Penyu di Melissa’s Garden. (photo by wahab)

Penyu di Melissa’s Garden. (photo by wahab)

Aku hanya menilainya berdasarkan kepuasanku selama snorkeling, dan hanya di tempat ini aku masih ingin snorkeling, tetapi tiba-tiba aku diajak kembali ke kapal. Rasanya seperti ingin tinggal setidaknya lima atau sepuluh menit lagi. Ditambah pula, baru kali ini aku melihat penyu berenang di sampingku. Pengalaman yang langka dan baru bagiku.

Namun, kami harus segera kembali ke kapal. Sebab tepat setelah snorkeling, kami hanya membersihkan tubuh sejenak, mengganti pakaian, lalu bersiap untuk mendaki ke viewpoint Piaynemo.

Viewpoint Piaynemo. (photo by wahab)

Viewpoint Piaynemo. (photo by wahab)

Untuk tiba di puncak, tidak sulit sebab pengelolanya sudah membuatkan tangga. Ada sekitar 316 anak tangga. Ditambah pula, ini adalah pengalaman keduaku ke tempat ini, jadi aku sudah memahami jarak dan lelahnya. Bedanya, pada kunjungan pertamaku tahun 2023 lalu, kami naik pada saat pagi hari. Sedangkan kali ini, sore hari. Bedanya, tentu saja, ada pada cahaya dan awan yang menentukan hasil foto pemandangannya.

Sunset di Piaynemo. (photo by wahab)

Sunset di Piaynemo. (photo by wahab)

Pada malam hari, seperti biasanya, Dr. George Beccaloni memberikan materi lagi mengenai Wallace. Katanya ini materi terakhirnya pada pelayaran ini. Dia memperkenalkan Wallace Correspondence Project. Itu adalah semacam organisasi yang dia bikin dan berfokus untuk menjadi ruang untuk memperpanjang usia Wallace.

Dr. George Beccaloni. (photo by wahab)

Dr. George Beccaloni. (photo by wahab)

Hal-hal yang mereka kerjakan mulai dari melakukan pengarsipan, mempublikasikan, hingga mendistribusikan ide-ide dan buku-buku Wallace. Katanya, saat ini mereka sedang mengerjakan analisis terhadap surat-surat terkenal Wallace yang dikirimkan kepada Darwin, yang dikenal dengan Letters from Ternate.

Aku selalu menaruh rasa hormat kepada orang yang memiliki keinginan untuk mengurai dan memahami satu materi lebih dalam, seperti Dr. George. Aku pernah bertemu dengan beberapa orang lainnya yang memiliki kepakaran dan kedalaman dalam satu bidang, serta meluangkan waktunya untuk mengerjakan itu dalam waktu yang lama. Persis seperti yang dilakukan Dr. George. Kuharap orang-orang seperti mereka akan selalu ada dan berlipat ganda.

Baca cerita-cerita sebelumnya:

[embed]Menelusuri Bukit-Bukit Karst dan Langit yang Menyala Sore itu langit berwarna merah menyala dan kupikir, sepertinya ini adalah senja terindah yang kulihat di sepanjang…medium.com

[embed]Menyaksikan Ribuan Ubur-Ubur yang Menari di Danau Kecil di Raja Ampat Menyaksikan ribuan ubur-ubur ini menari di depanku, aku sesekali berhenti memotret atau merekamnya.medium.com

[embed]Menemukan Keindahan Di Bawah dan Di Atas Permukaan Laut Raja Ampat Jika mencelupkan wajahku ke air aku bisa melihat gerombolan ikan, maka mendongakkan kepalaku ke atas aku bisa melihat…medium.com

[embed]Mengunjungi Raja Ampat untuk Kedua Kalinya Aku merasa sangat beruntung bisa menginjakkan kaki ke tempat ini untuk kedua kalinya.medium.com

[embed]Mendaki di Pulau Vulkanik yang Dipenuhi Hutan Lebat Kupikir, aku akan selalu senang dengan perjalanan semacam ini ketika aku bisa belajar hal baru sambil mendapatkan…medium.com

[embed]Menemukan Harta Karun Wallace di Pulau Bacan Pulau Bacan menjadi salah satu bagian penting bagi Alfred Russel Wallace dalam perjalanannya menjelajahi Kepulauan…medium.com

[embed]Menikmati Hari yang Mantap di Pulau Guraici dan Desa Lelei Entah karena lelah atau karena suasananya sangat menenangkan di pantai itu, aku tertidur di bawah tenda payung itu.medium.com

[embed]Mengunjungi Desa Dodinga Tempat Lahirnya Teori Evolusi “Saya tiba di Ternate pada suatu pagi 8 Januari 1858,” tulis Wallace pada bab Molucca, Ternate di buku Kepulauan…medium.com

[embed]Menginjakkan Kaki di Ternate untuk Pertama Kalinya Buku itu yang akhirnya membawaku untuk tiba ke Ternate untuk pertama kalinya.medium.com

[embed]Mempersiapkan Perjalanan Menelusuri Jejak Wallace Kali ini, aku akan berlayar dari Ternate menuju Raja Ampat, dalam sebuah pelayaran menelusuri jejak Alfred Russel…medium.com

Baca cerita dari pelayaran lainnya:

[embed]List: sailing stories from maumere to ambon | Curated by wahab | Medium sailing stories from maumere to ambon · Cerita-cerita selama pelayaran 12 hari dari Maumere menuju Ambon. · 15 stories…writtenbywahab.medium.com


메타데이터
post_id
d01dfabbb367
slug
menari-dan-menyanyi-di-marandan-weser-d01dfabbb367
url
https://medium.com/postcards-to-my-mom/menari-dan-menyanyi-di-marandan-weser-d01dfabbb367
canonical_url
https://medium.com/postcards-to-my-mom/menari-dan-menyanyi-di-marandan-weser-d01dfabbb367
author_url
https://medium.com/@writtenbywahab
status
ok
fetched_at
2026-08-21 15:21:25