← Back to list

‘The Shammy Awards’ Karikatur Kekerasan terhadap boygroup BTS sebagai Gejala Sosial Asian Hate…

Anindita Haura Zhafira XE/07

haurazhafira · 2025-05-28 01:32 · 0 claps · 4.9 min read
#sosiologi #asian-hate #bts #boygroup #korean
Open on Medium ↗
Wiki topics: ML · Machine Learning

‘The Shammy Awards’ Karikatur Kekerasan terhadap boygroup BTS sebagai Gejala Sosial Asian Hate dalam Masyarakat Multikultural

Anindita Haura Zhafira XE/07

Pendahuluan

Akhir-akhir ini seperti yang kita lihat banyak terjadinya rasisme dan diskriminasi terhadap golongan tertentu. Salah satu gejala sosial yang akan saya bahas berkaitan dengan kasus tersebut adalah Asian Hate, yang merupakan gejala sosial yang muncul dalam masyarakat multikultural akibat dari konflik budaya, prasangka, dan diskriminasi terhadap kelompok etnis Asia. Kasus karikatur kekerasan terhadap boyband Korea Selatan BTS yang diterbitkan oleh The Topps Company pada tahun 2021, menjadi contoh nyata bagaimana kebencian terhadap komunitas Asia dapat muncul dalam bentuk simbolik melalui media budaya populer. Karikatur ini menunjukkan anggota BTS dengan wajah lebam dan terluka dalam permainan whack-a-mole yang mengandung simbol kekerasan. Kasus ini memicu banyak protes dari komunitas Asia dan penggemar BTS, terutama karena dirilis di saat yang bersamaan dengan tragedi penembakan di Atlanta yang menewaskan enam wanita Asia. Esai ini akan menjawab dan membahas mengapa kasus ini merupakan gejala sosial, bagaimana stereotip dan diskriminasi berperan, serta implikasi sosialnya dalam masyarakat multikultural.

Kasus sebagai Gejala Sosial dalam Masyarakat Multikultural

Kasus karikatur kekerasan terhadap boygroup BTS dapat dianggap gejala sosial dalam masyarakat multikultural, karena mencerminkan Diferensiasi Sosial yang secara sosiologis menunjuk pada klasifikasi atau penggolongan sama atau sejenis. Dalam masyarakat multikultural, diferensiasi sosial muncul karena keberagaman etnis, budaya, agama, dan bahasa. Diferensiasi ini menciptakan identitas kelompok yang berbeda-beda, yang kemudian menjadi dasar interaksi sosial antar kelompok. Dalam kasus ini, Karikatur BTS yang menampilkan kekerasan simbolik merupakan bentuk nyata dari ketidakmampuan kelompok mayoritas untuk menerima dan menghargai perbedaan budaya yang dimiliki komunitas Asia. Diferensiasi sosial yang seharusnya menjadi dasar pengakuan keberagaman, dalam kasus ini justru menjadi alat untuk memperkuat stereotip negatif dan prasangka yang dapat menyebabkan pada diskriminasi. Dengan kata lain, diferensiasi sosial yang tidak dikelola dengan baik memicu munculnya gejala sosial berupa kebencian dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas.

Stereotip, Prasangka, dan Diskriminasi

Kasus karikatur kekerasan terhadap BTS oleh Majalah Topps merupakan bentuk nyata dari stereotip, prasangka, dan diskriminasi yang terjadi dalam masyarakat multikultural, khususnya terhadap komunitas Asia dan fans K-pop. Komunitas Asia dan fans K-pop sering distereotipkan sebagai kelompok yang “asing” dan “fanatik berlebihan,” sehingga menimbulkan prasangka negatif. Karikatur tersebut memperkuat gambaran negatif ini dengan simbol kekerasan yang merendahkan martabat mereka. Prasangka ini kemudian memicu diskriminasi berupa pelecehan verbal, kekerasan simbolik, dan pengucilan sosial terhadap komunitas Asia dan fans K-pop. Dengan demikian, stereotip terhadap fans K-pop dan komunitas Asia dapat memperkuat diskriminasi dan konflik sosial.

Berdasarkan dari buku sosiologi halaman 176, ada 4 istilah multikultural. Dalam kasus ini, saya memilih dua istilah multikultural yang menurut saya sangat relevan dengan kasus diskriminasi simbolik ini yaitu; Primordialisme: Sikap mempertahankan identitas kelompok sendiri secara eksklusif, yang dalam konteks ini terlihat dari dominasi budaya Barat yang mengabaikan dan merendahkan budaya Asia, termasuk ekspresi seni dan budaya populer seperti K-Pop dan juga Xenophobia: Ketakutan dan kebencian terhadap orang asing atau budaya asing yang tercermin dalam reaksi negatif terhadap BTS dan budaya Korea Selatan secara umum, memperlihatkan sikap tidak menerima keberagaman budaya dalam masyarakat multikultural. Kedua fenomena ini memperkuat konflik sosial dan memperbesar jarak antar kelompok, sehingga memperparah diskriminasi yang dialami komunitas Asia.

Nilai-nilai multikulturalisme seperti pluralisme, demokrasi, dan humanisme sangat penting untuk dikembangkan di masyarakat agar dapat mengatasi diskriminasi simbolik ini :

  • Pluralisme berarti kita harus mengakui dan menghargai keberagaman budaya yang ada, termasuk budaya Asia dan fans K-pop. Dengan pluralisme, masyarakat belajar untuk menerima perbedaan sebagai sesuatu yang berharga, bukan sebagai hal yang harus ditolak atau dicemooh. Misalnya, dengan memahami dan menghormati budaya K-pop sama seperti menghormati budaya musik dan artis Barat, stereotip negatif yang sering muncul bisa berkurang dan masyarakat jadi lebih terbuka.
  • Demokrasi memberikan kebebasan bagi semua orang untuk menyampaikan pendapat dan melindungi hak-hak kelompok minoritas, seperti komunitas Asia dan fans K-pop. Dengan demokrasi, mereka bisa melawan diskriminasi secara hukum dan mendapatkan keadilan. Selain itu, demokrasi juga membuka ruang untuk berdialog sehingga masalah sosial bisa diselesaikan dengan cara damai dan adil.
  • Humanisme menekankan penghormatan terhadap martabat setiap individu tanpa memandang latar belakang budaya, mengajak masyarakat untuk berempati dan menghargai perbedaan. Fans K-Pop memiliki impact untuk menyuarakan isu-isu, meski secara skala besar terlihat bahwa kepedulian fandom-fandom K-pop terhadap isu iklim belum besar tetapi mereka sudah mulai menunjukkan kemampuan untuk menyuarakan berbagai isu sosial.

Implementasi nilai-nilai ini dapat mengubah sikap masyarakat dan media agar lebih inklusif dan menghargai keberagaman budaya.

Stratifikasi Sosial yang Memperparah Kasus

Stratifikasi sosial yang menempatkan komunitas Asia sebagai kelompok minoritas dengan posisi sosial yang lebih rendah memperparah diskriminasi yang mereka alami. Ketimpangan akses ekonomi, politik, dan sosial membuat komunitas ini rentan menjadi sasaran stereotip dan pelecehan, termasuk dalam bentuk simbolik seperti karikatur yang merendahkan.

Diferensiasi Sosial dan Potensi Konflik

Diferensiasi sosial yang mengelompokkan masyarakat berdasarkan etnis dan budaya dapat menimbulkan konflik ketika kelompok mayoritas memandang rendah kelompok minoritas. Dalam kasus ini, perbedaan budaya dan ekspresi seni menjadi sumber ketegangan yang memicu diskriminasi simbolik dan konflik sosial.

Pentingnya HAM, Demokrasi, dan Globalisme

Tiga faktor berikut sangat penting dalam menangani kasus ini:

  1. Hak Asasi Manusia (HAM): Melindungi hak setiap individu untuk bebas dari diskriminasi dan pelecehan, termasuk dalam ekspresi budaya.
  2. Demokrasi: Menjamin kebebasan berekspresi dan perlindungan hukum bagi kelompok minoritas.
  3. Globalisme: Mendorong pemahaman antar budaya dan kerja sama internasional, sehingga mengurangi stereotip dan prasangka negatif terhadap budaya asing seperti K-Pop.

Solusi dan Langkah Konkret

Untuk mengatasi diskriminasi simbolik seperti kasus karikatur terhadap BTS, masyarakat, dan pemerintah dapat melakukan:

  • Pendidikan Multikultural: Mengajarkan nilai toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman budaya sejak dini.
  • Regulasi Media: Mendorong media dan perusahaan hiburan untuk bertanggung jawab dalam menyajikan konten yang tidak merendahkan kelompok tertentu.
  • Dialog Antar Budaya: Memfasilitasi diskusi dan pertukaran budaya untuk meningkatkan pemahaman dan mengurangi prasangka.
  • Penegakan Hukum: Memberlakukan aturan yang melindungi kelompok minoritas dari diskriminasi simbolik dan kebencian.
  • Kampanye Kesadaran: Menggunakan media sosial dan kampanye publik untuk melawan stereotip dan diskriminasi.

Langkah-langkah ini harus didukung oleh kerja sama pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat agar menciptakan masyarakat multikultural yang inklusif.

Kesimpulan

Kasus karikatur kekerasan terhadap BTS oleh Topps merupakan contoh nyata gejala sosial Asian Hate dalam masyarakat multikultural yang muncul dalam bentuk diskriminasi simbolik. Dengan memahami akar sosial dan menerapkan nilai-nilai pluralisme, demokrasi, dan humanisme, masyarakat dapat mengurangi prasangka negatif dan diskriminasi. Penanganan yang efektif membutuhkan kerja sama antara pemerintah, media, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang menghargai keberagaman budaya.

Referensi

Daftar Pustaka

  1. Imamatul Silfia. (2022). Stigma Media terhadap Fandom Perempuan dalam Pemberitaan K-Pop. Repository UIN Jakarta.
  2. Kompasiana. (2024). Pendidikan Multikultural sebagai Sarana Mengurangi Diskriminasi di Lingkungan Pendidikan.
  3. Lanu, S. B., dkk. (2024). Pendidikan Multikultural sebagai Alat untuk Mencegah Diskriminasi di Sekolah. E-Journal Arraayah.
  4. Putri, R. & Savira, D. (2021). Stigma Gender dalam Fandom K-Pop. Jurnal Ilmiah.
  5. Rolli, B. (2021). Topps’ Racist BTS Garbage Pail Kids Sticker Would Have Been A Terrible Idea At Any Time. Forbes.
  6. SNHRP. (2024). Penanaman Pendidikan Multikultural dalam Mencegah Diskriminasi.
  7. Stop AAPI Hate. (2023). Annual Report on Anti-Asian Hate Incidents.
  8. USA Today. (2021). BTS Fans Criticize Topps Sticker Portraying Band with Bruised Faces.
  9. DW Indonesia. (2022). Di Balik Stereotip Fans K-pop. Diakses dari https://www.dw.com/id/di-balik-stereotip-fans-kpop/a-63582169
  10. Jurnal Komunikasi UII. (2021). Stigma Media terhadap Fandom Perempuan dalam Pemberitaan K-Pop. Diakses dari https://journal.uii.ac.id/jurnal-komunikasi/article/download/22914/14405/79383
  11. Neliti. (2020). Aktivitas Fanatisme K-Pop di Media Sosial. Diakses dari https://media.neliti.com/media/publications/331048-aktivitas-fanatisme-k-pop-di-media-sosia-943ecae9.pdf
  12. Unair Journal. (2020). Fanatisme Fans K-Pop dalam Blog Netizenbuzz. Diakses dari http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-comm0920a22386full.pdf
  13. Unib Journal. (2021). Fenomena Korean Wave Terhadap Fanatisme Penggemar dan Dampaknya. Diakses dari https://ejournal.unib.ac.id/jsn/article/download/33278/14876/109495
  14. Andalas University Repository. (2023). Stigma terhadap Fans K-Pop dan Stereotip Gender. Diakses dari http://scholar.unand.ac.id/462340/2/BAB%20I%20PENDAHULUAN.pdf
  15. Inaba Journal. (2022). Fanatisme Mahasiswa Universitas Inaba terhadap K-Pop. Diakses dari https://journals.inaba.ac.id/index.php/jdcs/article/download/181/170
  16. UPN Jatim Repository. (2023). Kajian terhadap Fandom K-Pop (ARMY & EXO-L) sebagai Studi Sosial. Diakses dari https://repository.upnjatim.ac.id/10002/1/45_SRI%20WULANDARI%20(324-328).pdf

메타데이터
post_id
d02f573e06fd
slug
the-shammy-awards-karikatur-kekerasan-terhadap-boygroup-bts-sebagai-gejala-sosial-asian-hate-d02f573e06fd
url
https://medium.com/@aninditahaura07/the-shammy-awards-karikatur-kekerasan-terhadap-boygroup-bts-sebagai-gejala-sosial-asian-hate-d02f573e06fd
canonical_url
https://medium.com/@aninditahaura07/the-shammy-awards-karikatur-kekerasan-terhadap-boygroup-bts-sebagai-gejala-sosial-asian-hate-d02f573e06fd
author_url
https://medium.com/@aninditahaura07
status
ok
fetched_at
2026-07-28 12:19:09