← Back to list

00 — Perang Dingin #NextChapter

Arnata dan awal dari segala masalah.

Estellavea · 2026-01-31 10:24 · 0 claps · 6.7 min read
#sma #fiksi-remaja #fiksi-indonesia #wattpad #teenlit
Open on Medium ↗

00 — Perang Dingin #NextChapter

Arnata Azura beranjak dari kursi kantin begitu dia membuka pesan yang dikirimkan oleh ketua kelasnya delapan belas detik yang lalu. Dia bahkan tega meninggalkan mangkuk mie ayam yang baru saja diantar oleh ibu kantin bersama dengan Isabella Gracie sendirian di tengah keramaian kantin yang seolah sudah melupakan peraturan PPKM.

“Azura! Hey!” Si Cantik, Isabella, mencoba memanggil rekannya itu, tetapi Arnata Azura mengacuhkannya dan tetap bergegas pergi. Arnata Azura membuat si Cantik rela meninggalkan santapan mereka demi mengejarnya.

Berbicara tentang gadis berambut sebahu yang diikat selalu diikat rapi dengan pita biru, yang bergoyang-goyang seiring dengan langkah tegasnya, Arnata Azura adalah seorang sekretaris I di kelas 10 MIPA 2 dan seorang gadis yang sering diandalkan oleh teman-teman di kelas. Setidaknya, Arnata Azura, atau Atzu, memiliki keunggulan dibandingkan murid-murid lain di 10 MIPA 2.

Kalau ada jutaan orang yang paling fast response di dunia ini, Atzu adalah salah satunya. Kalau ada ratusan orang yang paling fast response di dunia ini, Atzu adalah salah satunya. Kalau hanya ada satu orang yang paling fast response di dunia ini, maka Atzu lah satu-satunya.

Namun, skill cepat membuka, membaca, dan membalas pesannya itu mungkin menjadi malapetaka besar yang mengungkapkan berita luar biasa dan memicu perang dunia baginya hari ini.

Dua menit yang lalu, ponsel Atzu bergetar dan notifikasi sebuah pesan masuk muncul ketika dia dan Isabella tengah menunggu mie ayam yang tak kunjung datang sejak lima belas menit silam. Dahi Atzu lantas mengerut dalam-dalam saat jari telunjuknya dengan leluasa membuka pesan WhatsApp dari Chandra, ketua kelas 10 MIPA 2, yang berisi daftar nilai dari hasil penilaian akhir Seni Budaya pekan lalu di dalamnya.

Atzu buru-buru membuka fail yang dikirim Chandra sebab dia merasa bahwa pekan lalu dia telah menyelesaikan tugasnya dengan baik dan seingatnya tidak mungkin ada yang salah. Apakah ingatannya ini justru salah karena Chandra mengirimkan dokumen ini padanya seolah dia harus merevisi bagian-bagian yang keliru?

Kamis lalu tepatnya, pengambilan nilai akhir semester 2 berupa praktik gerak dasar tari dilakukan. Para murid diharuskan menampilkan gerakan tari yang sudah pernah diajarkan dan hasilnya dinilai langsung oleh guru Seni Budaya mereka. Atzu sebagai sekretaris I membantu Pak Wisnu merekap nilai yang disebutkan secara spontan. Sepanjang yang Atzu dengar dan Atzu catat dengan baik, hanya ada segelintir murid yang bisa dihitung dengan jari yang berhasil mendapatkan nilai di atas 80 sementara sisanya berada di antara 75 sampai 80 dan Atzu — untungnya — termasuk ke dalam segelintir murid tersebut. Dia dan seluruh murid 10 MIPA 2 pun tahu siapa saja yang memang mendapatkan nilai terbaik dan siapa yang tidak. Atzu bahkan hafal setiap angka yang dia tuliskan di kertas itu beserta nama-namanya.

Namun, apa yang dia lihat di fail yang dikirim Chandra ini sama sekali di luar pikirannya. Ada beberapa nama yang tidak mendapatkan nilai seharusnya. Ada beberapa anak yang diubah nilainya. Ada yang memanipulasi nilai Seni Budaya ini … dan satu-satunya orang yang paling mungkin melakukannya adalah Chandra, si Ketua Kelas 10 MIPA 2 sendiri.

Tentu saja hal tersebut memancing amarah Atzu yang selama ini mengerjakan pekerjaannya sebagai sekretaris kelas dengan penuh tanggung jawab. Gagasan bahwa tujuan Chandra melakukan manipulasi nilai ini entah ingin menjatuhkan Atzu dengan cara memfitnahnya atau murni untuk menyelamatkan nilai teman-temannya yang jelas tidak mendapatkan nilai bagus pada Seni Budaya kemarin mendorong Atzu untuk segera menemui si dalang utama.

“Atzu! Wait, lo kenapa sih tiba-tiba pergi kayak gini?” Isabella berhasil meraih pergelangan tangan Atzu, menghentikannya, yang langsung ditepis oleh gadis berpita biru tersebut.

Atzu menatap Isabella lamat-lamat seraya menunjukkan layar ponselnya ke hadapan Isabella. “Jawab gue, Bel. Ini apa?”

Isabella membaca dengan perlahan, tetapi kedua matanya tak dapat membohongi siapa pun dan rasanya, Isabella pun tidak ingin berbohong. “Dari mana lo dapat failnya?”

“Chandra.” Atzu mengepalkan tangannya begitu dia menyebut nama orang sialan itu. “Dia pasti salah kirim. Harusnya, fail ini dikirim ke grup sirkel lo, ‘kan? Atau bahkan langsung ke Pak Wisnu.” Atzu mengangguk-angguk.

Tanpa menunggu balasan dari Isabella, Atzu melenggang pergi memasuki kelas 10 MIPA 2 yang kini dihuni oleh setengah populasinya sebab pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah masih menerapkan absen awal dan absen akhir.

Mata Atzu berpendar mencari sosok laki-laki bertubuh kekar dan tinggi yang tidak jauh berbeda dengannya, berambut gondrong acak-acakan, dan berwajah tengil tidak karuan. Tatapannya terhenti pada orang yang sedang duduk dan bercanda riang dengan gengnya di pojok ruangan.

Tanpa berpikir panjang, Atzu membelah keramaian di kelasnya itu dan menghampiri biang kerok kekacauan ini. Atzu mencengkram kemeja seragam Chandra dengan kasar untuk menarik perhatiannya. Raut wajah Chandra berubah kesal begitu menyadari keberadaan Atzu, tetapi dia mencoba menyembunyikan kekesalannya tersebut dengan tetap mengontrol nada bicaranya karena dia sadar siapa yang berdiri di depannya itu dan menepis tangan Atzu.

“Ada apa sih! Kenapa lo marah-marah gitu?” Chandra bangkit dari kursinya, berhadapan langsung dengan Atzu.

Atzu menyodorkan ponselnya tepat di muka Chandra. “‘Kenapa’ lo bilang? Maksud lo kirim fail itu ke gue apa, Chan? Lo berencana mau fitnah gue? Ada masalah apa lo sama gue sampai lo tega-teganya mau ngejatuhin gue kayak gini!” sembur gadis itu. “Atau … sebenarnya, ini bukan pertama kalinya lo ngelakuin ini, ya? Apa sebelumnya, semua nilai-nilai anak kelas MIPA 2 yang dikumpulkan lewat lo, semua nilai mereka lo manipulasi dan lo cuma mau nyelamatin teman-teman lo itu sampai mereka dapat nilai bagus dan bisa jadi top 5 di kelas ini?” tukas Atzu.

Suasana kelas yang semula berisik sebab semua orang sibuk akan urusannya masing-masing, kini senyap seketika, menyisakan keributan di antara Atzu dan Chandra yang baru juga dimulai. Semua tatapan dan pendengaran tertuju pada kedua anak itu.

“Lo jangan sembarangan ngomong, Nat! Siapa yang mau fitnah lo?”

“Lo. Lo yang pengin jatuhin gue, Chan. Gue gak tahu salah gue apa sama lo, tapi lo tega. Gue gak mikir macam-macam sewaktu gue kirim draft nilai itu ke elo karena gue percaya sama lo. Gue pikir lo gak akan selicik ini, tapi gue salah besar. Lo malah manfaatin gue untuk ngelakuin hal curang demi mendapatkan nilai bagus. Kalau ulah lo itu ketahuan sama Pak Wisnu atau yang lain, lo mau gue yang dimusuhin sama anak kelas ini karena kita semua tahu kalau gue yang merekap nilai kemarin, sedangkan lo bisa bebas dari tuduhan apa pun karena gue yang bertanggung jawab sama nilai-nilai mereka. Gue benar, ‘kan?”

“Sumpah! Gue gak pernah ada niatan jelek buat ngejatuhin lo, ngefitnah lo, atau semacamnya, Arnata. Lo salah paham.”

“Kalau gitu, lo jelasin ke gue, apa maksud fail yang lo kirim itu, Chan!”

“Gue salah kirim.”

Atzu mengerang frustrasi. “Jelasin ke gue, kenapa lo ubah nilai Seni Budaya lo dan teman-teman lo jadi lebih bagus dengan angka yang sama kayak anak-anak yang emang pantes buat dapatin nilai bagus? Dan lo … lo kurangi nilai gue dan anak-anak lain 1–2 poin lebih rendah dari teman-teman lo itu, padahal kita semua sama-sama tahu siapa aja yang memang layak mendapatkan nilai tertinggi di praktik kemarin,” geram Atzu. “Don’t tell me it’s by accident, Chan, because it’s not. I know, you did it on purpose, didn’t you?

Semua murid yang menyaksikan mereka saling melempar tatap satu sama lain. Entah bagi mereka, kebenaran itu adalah hal yang amat mengejutkan … atau justru sebenarnya mereka sudah mengetahuinya lebih dahulu dan hanya Atzu yang baru mengetahuinya.

It’s just a piece of shit. Ini mata pelajaran Seni Budaya. Mau bagus, mau jelek, nilai berapa pun juga bakal sama aja, Nat. Gak bakal memengaruhi nilai anak-anak yang lain.”

“Gue gak ngerti sama jalan pikiran lo. Kalau emang menurut lo sama aja, lantas kenapa lo manipulasi nilai itu? Lo bahkan gak mau kalah dari gue, padahal gue mati-matian mempersiapkan segalanya untuk praktik kemarin, tapi lo libatkan gue dalam kelicikan lo itu. Kenapa lo gak menerima aja hasil nilai lo yang emang sepantasnya segitu?” Atzu sedikit membentak begitu mengucapkannya. “Karena seremeh apa pun pelajarannya, nilai sekecil apa pun bakal berpengaruh sama peringkat lo itu, ‘kan. I know you. You’re such a jerk.

Atzu melangkah mundur, hendak meninggalkan lelaki itu dan pergi dari kelasnya.

Tangan Chandra mengepal. Kalimat terakhir Atzu membuat dahi Chandra berkerut dalam. Lelaki itu berdecak. “Semua orang di sini punya caranya masing-masing buat mendapatkan nilai bagus dan mempertahankan rankingnya, Nat. Semua orang … termasuk lo juga.”

Namun, Atzu menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Chandra kembali dengan tangan yang ikut terkepal kuat. Kedua insan itu saling melempar tatapan setajam belati seolah bisa saja membunuh mereka satu sama lain.

“Jadi, jangan munafik … dan berhenti menganggap gue sebagai satu-satunya bajingan di sini,” Chandra berjalan mendekati Atzu dan mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu, “karena gue tahu, lo juga pada akhirnya akan sama bajingannya nanti.”

“Argh!” Atzu berteriak frustrasi dan spontan melayangkan tinju ke pipi Chandra cukup keras hingga lelaki yang tak menduga serangan mendadak itu mundur beberapa langkah, kesakitan. Belum puas, bak kehilangan akal, Atzu merampas segelas es batu yang tergeletak di atas meja sembarangan di dekatnya dan melemparnya ke arah Chandra.

“Gak usah samain gue kayak lo!”

“Azura, stop!” Salah satu siswi merangsek ke depan menghentikan kegilaan Atzu sebelum amarah gadis itu membuatnya semakin menjadi-jadi, sementara beberapa anak lelaki yang lain menahan Chandra untuk tidak membalas perbuatan Atzu dengan kekerasan juga.

“Udah, Dra, udah. Sabar,” ujar Farhan seraya menghalangi Chandra yang menyalak galak ke arah Atzu.

“Kayaknya, lo yang punya dendam pribadi sama gue, Nat!” seru Chandra.

“Calon koruptor kayak lo gak pantes jadi ketua kelas, Chan!” balas Atzu masih tak mau kalah.

“Lo bilang apa, anj-”

Farhan dan temannya yang lain menahan Chandra mati-matian. “Sabar, Dra, sabar. Jangan sampai guru ada yang ngelihat ini.”

“Azura, udah, ya. Gue tahu lo marah sama Chandra, tapi jangan kayak gini. Kalau guru ada yang lihat, lo bisa dapat SP,” bujuk Magdalena. “Udah, ayo kita keluar aja dulu. Jangan di sini, yang ada lo malah tambah marah nanti.”

Atzu enggan meninggalkan medan perang tersebut seakan-akan masih menginginkan satu pukulan lagi mendarat di wajah tengil Chandra agar ketua kelasnya itu jera dan tak akan berani mengulangi perbuatannya hari ini. Namun, sepertinya harapan Atzu tidak akan pernah terkabul karena seharusnya dia pun tahu, Chandra yang ambisius dan keras kepala tidak akan mundur dengan mudahnya.

Atzu menatap lelaki itu sekali lagi sebelum akhirnya menuruti saran Magdalena agar segera meninggalkan kelas untuk mendinginkan suasana. []


메타데이터
post_id
d03bb4fbf369
slug
00-perang-dingin-nextchapter-d03bb4fbf369
url
https://medium.com/@laveanderz/00-perang-dingin-nextchapter-d03bb4fbf369
canonical_url
https://medium.com/@laveanderz/00-perang-dingin-nextchapter-d03bb4fbf369
author_url
https://medium.com/@laveanderz
status
ok
fetched_at
2026-06-25 12:15:08