Eighth Step — Sparks of Certainty
Cahaya matahari menyelinap malu-malu melalui celah tirai kamar, membentuk garis tipis keemasan. Hujan semalam tampaknya telah lama reda…
Eighth Step — Sparks of Certainty

Cahaya matahari menyelinap malu-malu melalui celah tirai kamar, membentuk garis tipis keemasan. Hujan semalam tampaknya telah lama reda, menyisakan aroma tanah basah di pagi hari yang cerah.
Sedikit gerakan terlihat di atas kasur Hanbin.
“Hhhng…” Zhang Hao terbangun lebih dulu.
Matanya mengerjap pelan, mencoba mengumpulkan kesadaran. Kilasan tentang kegiatan panas keduanya di tengah dinginnya hujan tadi malam terlintas jelas di benaknya. Ujung bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis.
Kini tatapannya tertuju pada pria yang masih mendekapnya erat. Rambut pria itu sedikit berantakan, jatuh menutupi sebagian keningnya. Napasnya teratur, hangat, dan tenang.
Dengan hati-hati, jemari Zhang Hao terangkat. Ujung jarinya menyentuh dahi Hanbin pelan, seolah takut membangunkannya. Perlahan, ia menyusuri garis hidung pria itu dengan sentuhan lembut.
Hanbin mengernyit tipis sebelum akhirnya membuka mata. Senyumnya perlahan mengembang saat melihat sosok yang ada di dalam dekapannya.
“Hao…” Suaranya serak, nyaris hanya bisikan.
Zhang Hao tersentak kecil, tubuhnya merinding saat mendengar namanya dipanggil — dengan suara yang menurutnya… sangat… seksi…
Hanbin — masih dengan senyumnya — mengecup bibir Zhang Hao lembut.
“Ish, aku belom sikat gigi…” Zhang Hao pura-pura kesal hanya untuk menutupi salah tingkahnya.
Hanbin tertawa kecil. “Kamu tetap wangi, sayang.” Tangannya mengerat di pinggang Zhang Hao, menariknya sedikit lebih dekat.
“Masih pagi, nggak usah gombal deh.” Zhang Hao masih berpura-pura cemberut namun bibirnya menarik garis tipis ke atas saat mendengar perkataan sang kekasihnya tadi.
Hanbin terkekeh sebelum kembali mengecup dahi Zhang Hao pelan dan lembut. Mata Zhang Hao terpejam, menikmati sentuhan lembut yang diberikan oleh Hanbin — kekasihnya kini.
Keduanya masih saling mendekap, Hanbin mengelus pipi Zhang Hao lembut dan menatapnya dalam seolah ingin menghafal setiap detail lekuk wajahnya.
“Makasih ya,” Ucapnya jujur.
“Untuk apa?” Tanya Zhang Hao, dahinya berkerut kecil.
“Karena kamu mau nerima aku… dan ngizinin aku masuk ke hidup kamu.”
Sentuhan di pipinya terasa semakin lembut.
Wajah Zhang Hao mendekat dan mengecup bibir Hanbin pelan.
“Aku juga makasih,” Bisiknya. “Udah sayang sama aku.”
Hanbin membalas dengan kecupan-kecupan ringan di seluruh wajah Zhang Hao yang membuat pria itu melenguh pelan, setengah tertawa.
“Ih, udah… ayo bangun,” Protesnya lembut sambil mencoba melepaskan diri.
Namun Hanbin kembali memeluknya erat, dagunya bersandar di atas kepala Zhang Hao.
“Setengah jam lagi,” Gumamnya manja. “Tidur sebentar lagi, ya?”
Zhang Hao kini berada di dapur rumah Hanbin. Dengan rambut yang masih sedikit berantakan dan kaus longgar milik Hanbin yang kebesaran di tubuhnya, ia sibuk berkutat dengan peralatan masak.
Perut mereka berbunyi saat keduanya masih saling mendekap, dan memaksa Zhang Hao untuk bangkit lebih dulu. Ia akhirnya memutuskan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Saat Zhang Hao tengah asyik menyiapkan sarapan, tiba-tiba sepasang lengan melingkari perutnya dari belakang.
Zhang Hao sedikit tersentak, spatula di tangannya hampir terlepas. Ia segera mematikan kompor untuk menghindari hal yang bisa membahayakan keduanya. Setelah itu, ia menghela napas pelan sebelum membalikkan badannya.
“Bin…” Gumamnya sedikit merengek.
Hanbin berdiri di belakangnya dengan wajah yang masih tampak mengantuk, rambut acak-acakan dan mata yang setengah terpejam.
Hanbin kembali memeluk Zhang Hao. Dagunya bersandar di bahunya, pelukan kekasihnya itu makin mengerat seolah tak ingin memberi jarak walau hanya beberapa langkah.
“Kangen…” Bisik Hanbin dengan suara serak.
Zhang Hao mendorong pelan tubuh Hanbin dan menatap wajah tampan sang kekasih. Tangannya terangkat, merapikan rambut Hanbin yang berantakan.
“Baru juga pisah beberapa menit. Aku lagi buat sarapan kita,” Jawabnya pelan.
“Tadi ada yang perutnya bunyi keras banget.” Zhang Hao lalu mengecup pelan bibir Hanbin.
Hanbin terkekeh kecil dan kembali menarik Zhang Hao ke dalam pelukannya, menghirup aroma tubuh pemuda itu di tengkuknya. Zhang Hao menghela napas tipis karena geli.
“Lebih enak meluk kamu daripada sarapan,” Gumam Hanbin pelan.
Zhang Hao memutar bola matanya, namun senyum tipis tetap tergurat di wajahnya.
“Gombal lagi…” Ujarnya pelan.
Meski begitu, tangannya tetap terangkat untuk membalas pelukan itu sebentar sebelum akhirnya menepuk pelan punggung Hanbin.
“Udah, lepas dulu. Aku selesain ini dulu, nanti kamu bisa peluk lagi. Ya, sayang?”
Hanbin yang mendengar panggilan sayang itu langsung melepaskan pelukannya, lalu mengecup bibir Zhang Hao cukup lama.
Zhang Hao menepuk dada Hanbin, meminta ruang untuk bernapas. Dengan sedikit enggan, Hanbin akhirnya melepaskan — sarapan pagi yang kini menjadi favoritnya.
Zhang Hao mendorong tubuh kekasihnya yang lebih besar dari dirinya agar duduk di kursi meja makan, dan kembali melangkahkan kaki ke dapur untuk melanjutkan menyiapkan sarapan mereka yang sempat tertunda.
“Hari ini kita mau kemana?” Tanya Hanbin kepada Zhang Hao saat keduanya tengah bersantai menghabiskan waktu berdua di ruang TV rumah Hanbin.
Zhang Hao yang tengah bersandar dan memainkan jemari Hanbin merengut seolah berpikir.
“Hhhmm… Kemana ya?” Pikirnya.
Ia menggerakkan jari Hanbin satu per satu, seolah menghitung kemungkinan tempat yang bisa mereka datangi. Hanbin hanya memperhatikannya sambil tersenyum tipis, membiarkan Zhang Hao tenggelam dalam pikirannya sendiri.
“Kalau… kita keluar cari makan?” Usul Zhang Hao akhirnya, meski nada suaranya masih ragu.
Hanbin mengangkat alis. “Baru juga sarapan tadi.”
Zhang Hao mendengus pelan, lalu menoleh menatapnya. “Ya kan cuma ide.”
Hanbin tertawa kecil. Ia mencium puncak kepala Zhang Hao lembut.
“Kalau jalan-jalan aja? Kita naik motor,” Kata Hanbin santai. “Kamu yang pilih tempatnya.”
Zhang Hao terdiam sebentar. Matanya menatap ke arah TV, lalu kembali melihat jemari Hanbin yang masih ia mainkan.
Tiba-tiba sudut bibirnya terangkat.
“Aku sebenernya pengen ngajak kamu ke suatu tempat, tapi jauh.”
“Kemana?” Tanya Hanbin.
“Kamu inget gak aku pernah cerita tentang kafe favoriteku pas aku sekolah? Aku mau ajak kamu kesana, cuma di luar kota” Zhang Hao sedikit mencebikkan bibirnya.
Hanbin mengangguk sambil tangannya mengelus kepala Zhang Hao.
“Hhhmm.. Selain itu, kamu ada mau kemana lagi gak? ke kafenya nanti kita rencanain lagi di lain waktu, oke sayang?” Tanya Hanbin.
Zhang Hao menaruh jarinya di dagunya seolah berfikir.
“Kebun binatang? Gimana kalau kita ke kebun binatang aja?” Ajaknya.
Hanbin mengerutkan dahi. “Kebun binatang?”
“Iya! Kamu tahu nggak sih, yang kemarin sempat viral itu… ada bayi panda yang baru lahir, dan dia lucu bangeeet…” Jelas Zhang Hao dengan penuh semangat.
Hanbin menatap wajah kekasihnya, lalu tersenyum gemas.
“Boleh juga,” Jawabnya.
Hanbin lalu menarik Zhang Hao sedikit lebih dekat.
“Tapi sebelum itu…” Gumam Hanbin pelan.
Zhang Hao menoleh. “Apa?”
Hanbin tersenyum nakal, lalu dengan cepat mencondongkan tubuhnya dan mengecup bibir Zhang Hao singkat.
Zhang Hao terkejut, matanya langsung membelalak.
“Hanbin!” Protesnya sambil memukul dada sang dominan pelan, pipinya memerah.
Hanbin tertawa pelan. “Pemanasan sebelum jalan.”
Zhang Hao mendengus, namun pipinya masih merona. Tanpa aba-aba, ia membalas dengan mengecup bibir Hanbin cepat.
“Cepet ganti bajuuuuu,” Katanya akhirnya sambil bangkit dari sofa dan berlari meninggalkan Hanbin yang masih terkejut — siapa sangka si cantiknya itu akan berinisiatif menciumnya.
Hanbin terkekeh melihat kepergian Zhang Hao, lalu bangkit dan segera menyusulnya.
Sudah beberapa hari ini, Zhang Hao menginap di rumah Hanbin. Bukan tanpa alasan — beberapa waktu lalu sempat terjadi pencopetan di malam hari, tak jauh dari tempat tinggal Zhang Hao. Karena khawatir pada sang kekasih Hanbin akhirnya memutuskan agar Zhang Hao tinggal sementara di tempatnya sampai keadaan membaik.
Seperti akhir minggu ini, keduanya tengah bersiap untuk pergi kencan. Zhang Hao kebetulan sudah siap lebih dulu. Ia duduk di meja makan, menikmati sisa kopi hangat dari sarapan tadi. Sementara itu, Hanbin masih berada di kamar untuk bersiap-siap.
Zhang Hao melirik ke arah pintu kamar, jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja.
“Hanbin, lama banget sih — ”
Ting tong.
Ucapan Zhang Hao terpotong ketika suara bel rumah tiba-tiba terdengar dari pintu depan.
Ia mengernyit.
“Masih pagi, Siapa ya?” Gumamnya pelan sambil dirinya berjalan menuju pintu rumah dan hendak membukanya.
Begitu pintu terbuka, Zhang Hao melihat seorang wanita paruh baya yang berdiri tepat di depan rumah dengan senyum keibuan yang terpampang di wajahnya.
Penampilannya elegan. Rambutnya terikat rapi, pakaian yang dikenakannya sederhana tapi jelas terlihat mahal. Salah satu tangannya menjinjing sebuah tas besar yang Zhang Hao sama sekali tidak tahu isinya apa.
Zhang Hao sedikit tertegun.
Wanita itu juga tampak sama terkejutnya, senyumannya memudar perlahan.
Keduanya hanya saling menatap beberapa detik dalam diam, sama-sama keheranan.
“Ehm…?” Saat Zhang Hao hampir membuka suara, terdengar langkah dari belakangnya.
“Siapa yang datang, sayang?” Suara Hanbin terdengar sambil berjalan mendekat.
Hanbin berhenti tepat di belakang Zhang Hao, lalu melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya.
Begitu pandangannya jatuh pada wanita paruh baya itu, dirinya terdiam.
“M…mama” Hanbin memanggil wanita itu dengan sebutan mama. Kedua matanya membesar penuh keterkejutan.
Zhang Hao yang berdiri di depannya langsung menoleh cepat ke arah Hanbin dengan wajah kaget.
Mama?
Zhang Hao kembali menatap wanita itu dengan tatapan terkejutnya.
Wanita paruh baya itu seperti mengetahui situasinya kini justru tersenyum hangat saat melihat Hanbin.
“Hanbin,” Ucapnya lembut.
Senyumnya melebar, sementara tangannya yang menjinjing tas besar itu sedikit diangkat.
“Kamu nggak mau mempersilakan Mama masuk?” Tanya wanita itu.
“E-eh… i-iya, Ma. Ayo masuk…” Hanbin tergagap, lalu secara refleks merangkul Zhang Hao dan sedikit menariknya ke samping untuk memberi jalan kepada sang ibunda.
Kini, ketiganya sudah berada di meja makan rumah Hanbin. Ibu Hanbin meletakkan tas besar yang sedari tadi dibawanya, lalu mulai mengeluarkan isinya yang ternyata berbagai makanan buatannya.
“Kalian mau pergi?” Tanya wanita itu.
“I-iya, Ma… tadinya. Mama ke sini sendiri?” Tanya Hanbin sambil sedikit membantu membereskan bawaan sang ibu, sementara Zhang Hao berdiri kikuk di antara keduanya.
“Tadi diantar sopir. Papa sedang ke luar negeri dan Mama bosan sendirian di rumah. Kamu juga nggak pulang-pulang sih,” Candanya kepada sang putra, tangannya dengan lihai memisahkan beberapa makanan dan memasukkannya ke dalam wadah kedap udara.
Hanbin membantu memasukkan wadah-wadah itu ke dalam kulkas.
Sang ibu kembali melirik ke arah Zhang Hao setelah selesai membereskan barang bawaannya, lalu tersenyum hangat pada pemuda itu.
Hanbin terdiam sejenak melihat situasi di depannya, sebelum akhirnya membuka suara.
“Mama…” Ia kembali merangkul Zhang Hao, “Kenalin, Ma. Ini Zhang Hao… pacar Hanbin.”
Senyuman sang ibu masih terukir di wajahnya. Ia sedikit meledek putranya. “Pantesan anak Mama ini nggak pernah pulang ke rumah. Ternyata sekarang sudah ada yang ngurusin.”
Tangannya kemudian mengusap pelan pergelangan tangan Zhang Hao.
Zhang Hao tersenyum malu kepalanya sedikit menunduk, merasa sedikit tidak enak dengan perkataan ibu dari kekasihnya.
“Cantik sekali pacar kamu, Bin. Kok nggak pernah dibawa ke rumah?” Tanya sang ibu, membuat pipi Zhang Hao langsung tersipu merah.
“Maaf, Ma… Abin belum sempat bawa Zhang Hao ke rumah,” Jelas Hanbin, sementara Zhang Hao masih mempertahankan senyum tipisnya.
“Ya sudah, mulai sekarang kamu sering ajak Zhang Hao ke rumah, ya. Papa juga pasti ingin bertemu dengan pacarmu yang cantik ini,” ujar Ibu Hanbin sambil mengelus lembut pipi Zhang Hao.
Hanbin mengangguk, lalu mengajak dua orang kesayangannya untuk duduk di sofa rumahnya.
Mentari sudah berada di puncak. Jam menunjukkan waktu makan siang telah tiba. Ketiganya masih asyik berbincang — lebih tepatnya Ibu Hanbin dan Zhang Hao, kekasihnya. Sang ibu dengan antusias bercerita tentang masa kecil Hanbin dan Zhang Hao mendengarkan dengan penuh seksama, sesekali menanggapi dengan senyum dan tawa kecil.
Sementara Hanbin? Ia duduk di sebelah Zhang Hao. Senyum terukir jelas di wajah saat ia memperhatikan dua orang kesayangannya berbincang dengan begitu bahagia — sebuah pemandangan sederhana yang terasa begitu berharga.
Tak lama, Ibu Hanbin tersadar, lalu mengajak Hanbin dan Zhang Hao untuk makan siang. Ia segera beranjak menuju dapur dan tak lama kemudian Zhang Hao menyusul di belakangnya.
Kini langkahnya lebih mantap dibandingkan pagi tadi. Rasa canggung yang sempat menghampirinya perlahan pergi menjauh. Zhang Hao berdiri di samping Ibu Hanbin, membantu menyiapkan makan siang untuk mereka bertiga.
Hanbin melihatnya dari balik meja makan, pemandangan ketika dua orang yang paling ia sayangi berdiri berdampingan di dapur — berbagi tawa, berbagi kehangatan, keduanya baru bertemu pagi tadi namun seolah tak pernah ada jarak di antara mereka.
Dan di momen sederhana itu, Hanbin tahu, dirinya telah menemukan rumahnya — tempat ia akan selalu pulang — Zhang Hao.
Siang berganti petang, sang ibu pun berpamitan untuk pulang. Hanbin sempat menahan dan menawarkannya agar menginap dan pulang keesokan harinya, namun wanita itu menggeleng pelan dengan senyum lembutnya. Baginya, kehadirannya hari ini sudah cukup — ia tak ingin mengusik awal akhir pekan putranya bersama sang kekasih.
Hanbin tak bisa memaksa. Ia hanya berjanji akan segera mampir ke rumah, saat ayahnya telah kembali dari luar negeri — dan kali ini, ia akan mengajak Zhang Hao bersamanya. Mendengar itu, sang ibu tersenyum lebar. Ia memeluk Hanbin, lalu beralih memeluk Zhang Hao dengan erat dan hangat.
Tak lama kemudian, sang ibu beranjak pergi, meninggalkan keduanya di ambang pintu dengan lambaian tangan yang perlahan menjauh — mengiringi kepulangannya.
To be continued,,,
Starforthesky — 2026
메타데이터
- post_id
- d072bb4f20c2
- slug
- eighth-step-sparks-of-certainty-d072bb4f20c2
- url
- https://medium.com/@starforthesky/eighth-step-sparks-of-certainty-d072bb4f20c2
- canonical_url
- https://medium.com/@starforthesky/eighth-step-sparks-of-certainty-d072bb4f20c2
- author_url
- https://medium.com/@starforthesky
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 04:23:28