← Back to list

Are You All Alone?

Daniet Dhaulagiri · 2026-01-14 16:57 · 1 claps · 1.7 min read
#the-stone-roses #made-of-stone
Open on Medium ↗

Are You All Alone?

Hanya lampu kamar yang saat ini menerangi ruang sesak untuk bersembunyi, seolah menelanjangi sebuah pandangan kosong yang terpaku pada siluet botol vodka yang terletak di sudut meja kerja, di depannya tergeletak sebungkus rokok yang sudah dimodernisasi industri. Terpanggang, bukan terbakar. Kepulan asap yang dihembuskan adalah hasil racikan kapitalisme dengan USP yang tidak lebih baik dari yang konvensional, model elektrifikasi satu ini bukan menawarkan rasa semata, namun lebih menjual gengsi. Yup, and I fell for it.

Tidak, di sini saya tidak akan mumbling atau yapping soal tembakau, beberapa hal di atas hanya detail kecil yang sekarang ini jarang dituturkan ketika saya⎯seorang manusia⎯berkomunikasi, karena tuntutan untuk bergerak sangat cepat, mereka kini hanya peduli pada sebuah inti, atau sebenarnya kita memang tidak peduli, selain pada hal-hal yang bersangkutan pada untung dan rugi. Membosankan sekali.

Ketika melihat dari perspektif orang ketiga tentang situasi di mana kepala terasa penat tapi hati tak merasa secuil emosi, nampak ironis sekali. Kesepian? Tentu. Namun bukannya sepi lebih baik daripada bising?

Pertanyaan itu muncul ketika “Made of Stone” dari The Stone Roses tak sengaja berputar dari katalog musik digital hasil berlangganan per bulan. Sekilas membawa saya kembali ke masa putih abu ketika lagu tersebut entah sudah diputar berapa ratus atau ribu kali⎯bisa jadi lebih, meminjam ucapan Ian Brown ketika diwawancarai soal tato Union Jack barunya yang tak tahu di sebelah mana pergelangan tangannya. Ya, masa yang bisa diwakilkan dengan 2 kata; pissed and foolish.

Sekali lagi saya akan membantah, jika kamu kira tulisan ini soal Mancunian satu itu, bukan, ini soal saya. Saya yang akhirnya mengerti akan makna dari hasil intepretasi diri sendiri soal lagu “Made of Stone”, lagu anthemic dari band asal Manchester tersebut; soal sepi, alienasi, dan rasa hati yang mati. Bagi orang dengan kondisi seperti itu, berfantasi adalah cara untuk mencoba mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi, sebelum akhirnya memilih aksi untuk menyikapi.

Mungkin banyak saya saya lainnya yang sedang ada di kondisi serupa di luar sana; kedinginan, kesepian, dan mati rasa layaknya seonggok batu. Tapi yang ingin saya katakan adalah sebuah pengingat; kita bukan kerikil, kita adalah seonggok batu besar, dan bisa jadi batu mulia? Entahlah.. Tulisan ini dibuat untuk menemukan kembali apa yang saya cintai, atau mungkin terapi untuk diri sendiri, karena konsultasi tidak lagi ditanggung oleh asuransi. Well..

Are you all alone?

Are you made of stone?

Yes, I am. And I’m always waiting for my resurrection!🍋

[embed]


메타데이터
post_id
d073683ef9b4
slug
are-you-all-alone-d073683ef9b4
url
https://medium.com/@dhaulagg/are-you-all-alone-d073683ef9b4
canonical_url
https://medium.com/@dhaulagg/are-you-all-alone-d073683ef9b4
author_url
https://medium.com/@dhaulagg
status
ok
fetched_at
2026-07-14 06:57:04