← Back to list

Malam itu, Kita Tak Lagi Menahan Rasa.

Kelam malam kembali menghantuiku, berbicara seolah ingin menemani. Tapi bagaimana aku bisa percaya? Tak ada entitas apapun yang hadir dalam…

noone · 2026-01-21 03:54 · 0 claps · 2.0 min read
#love #relationships #mantan
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

Malam itu, Kita Tak Lagi Menahan Rasa.

Sc: Pinterest

Sc: Pinterest

Kelam malam kembali menghantuiku, berbicara seolah ingin menemani. Tapi bagaimana aku bisa percaya? Tak ada entitas apapun yang hadir dalam relungku.

Tuhan, aku merindunya. Ini sangat menyiksa. Bagaimana kabarnya kini, Tuhan?

Jemariku lantas lancang. Membuka bagian terdalam dari apa yang kusembunyikan. Galeri foto yang terkunci itu kembali kuselancari, ternyata kita begitu mencinta, ya? Sesak rasanya. Namun, aku harus menerima. Biarlah semesta yang mengajarkan kita saat ini, agar aku tak kehilanganmu lagi.

Hingga notif itu muncul, hatiku berdetak.

“How r u?”

disusul,

“Hope you’re doin okay.”

Apakah Tuhan mendengarku? Inikah pelipur lara dari perasaan rinduku? Mengapa ini terasa terlalu tepat?

Demi Tuhan, ingin kurangkul dirimu. Menenggelamkanmu dalam dekapan penuh kasih. Tak ingin kubiarkan dirimu sendiri, tak bisa kubiarkan dirimu tenggelam dalam lautan yang tak pasti.

Kupersilakan dirimu hadir. Kuizinkan dirimu pulang. Namun hanya pada kali ini saja, kita belum siap untuk kembali bersama. Tuhan masih ingin kita mencintai diri sendiri dan memaknai hidup, aku tak sanggup bila harus kehilanganmu untuk selamanya.

Kita merindu. Tak perlu lagi menahan rasa. Tak perlu lagi menutupi apapun. Kau bercerita kisahmu, aku menceritakan hariku. Ternyata, kau masih membutuhkan pendapatku untuk perjalananmu. Aku senang, artinya aku hadir di hidupmu.

Ada satu cerita yang sebenarnya sulit untuk membuatku tenang, tapi aku berusaha. Benar dugaanku, kau pernah mendekati perempuan itu. Kakak cantik itu. Kau bercerita dari sudut pandangmu, mengatakan bahwa kau marah padaku, penasaran menyelimutimu. Kalian bertukar cerita, berbagi pandangan, dan mungkin membangun semacam chemistry? Aku pun tak tau.

Benar ‘kan? Aku sudah tau dari awal jika ia memang memiliki ketertarikan denganmu. Aku bisa membaca itu. Ia adalah perempuan yang cantik dan baik, aku menduga kau juga pasti sempat tertarik dengannya.

Tapi, daripada rasa cemburu, perasaanku menggebu kepada perasaan bersalah dan sedikit terima kasih (?). Aku merasa bersalah apabila Kakak Cantik itu berharap padamu, aku turut merasakan sedihnya. Keyakinanku mengatakan ia adalah wanita yang baik dan tulus, aku berharap semoga perasaan sepi dan sedihnya bisa terobati dengan ia bertemu dengan laki-laki yang pas dan baik sepertinya. Namun, aku juga ingin berterima kasih. Aku ingin berterima kasih karena ia pernah menjadi teman bicara lelaki yang kucintai. Pernah menjadi pelipur laranya.

Terima kasih, Kak. Aku berharap kamu bertemu dengan laki-laki yang pas dan sama baiknya denganmu setelah ini.

Namun tolong, jangan ambil lelaki terkasihku. Jangan bersamanya.

Kembali lagi pada pembicaraan kita, aku senang Tuhan memberikan kita waktu melepas rindu. Aku senang Tuhan berbaik hati pada waktu.

Sayang, aku ingin bertumbuh. Tak lagi diriku dipenuhi oleh emosi yang mengganggu itu. Aku ingin menghadirkan ketenangan untukmu, aku akan selalu bersamamu bahkan ketika dunia menghilangkanmu.

Sayang, aku berdoa kau bisa memenangkan kehidupanmu. Be the better person as u want. Kejarlah, aku menunggumu. Aku percaya kau akan menang.

Sayang, jika garis menemukan kita kembali, mari mulai dengan lebih kuat. Aku tak sanggup bila kehilanganmu selamanya. Apabila Tuhan mengizinkan, aku ingin hidup selamanya, bersamamu.

With Love,

Arana.


메타데이터
post_id
d07fbe67aefa
slug
malam-itu-kita-tak-lagi-menahan-rasa-d07fbe67aefa
url
https://medium.com/@ardheafaniena/malam-itu-kita-tak-lagi-menahan-rasa-d07fbe67aefa
canonical_url
https://medium.com/@ardheafaniena/malam-itu-kita-tak-lagi-menahan-rasa-d07fbe67aefa
author_url
https://medium.com/@ardheafaniena
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13