← Back to list

Tentang Perjalanan Kemarin

Memulai tulisan malam ini dengan mengingat beberapa hal yang sengaja maupun tak sengaja tampak oleh mata saat melakukan perjalanan sejauh…

Ibrahim Marzuqi · 2026-04-22 17:30 · 0 claps · 1.9 min read
#journey-of-life #riding
Open on Medium ↗

Tentang Perjalanan Kemarin

Memulai tulisan malam ini dengan mengingat beberapa hal yang sengaja maupun tak sengaja tampak oleh mata saat melakukan perjalanan sejauh 225 km pulang dan pergi melewati jalur Deandles Surabaya. Tak seperti biasa, perjalanan kali ini aku menggunakan motor yang jauh lebih nyaman dari biasanya. Motor milik seorang sahabat yang telah kuanggap selayaknya saudara, Honda PCX 150 yang dia beli pada tahun 2018

Di atas jok yang empuk itu, awalnya aku merasa perjalanan ini akan jadi sesi “menikmati angin” semata. Namun, semakin jauh roda berputar, semakin aku sadar bahwa jalur Daendels bukan sekadar bentangan aspal panjang yang menghubungkan Tuban dan Surabaya. Ia adalah panggung besar kehidupan.

Di sepanjang jalan, aku melihat wajah-wajah yang lelah, namun matanya tetap tajam menatap ke depan. Ada bapak-bapak dengan motor tua yang muatannya menggunung, berjuang menyeimbangkan beban hidup agar sampai ke pasar dengan selamat. Ada juga sopir-sopir truk besar yang mungkin sudah berjam-jam berkutat dengan kemudi, menahan kantuk demi menafkahi keluarga yang menunggu di rumah.

Di sana, aku belajar tentang arti kesabaran. Di tengah hiruk-pikuk kendaraan yang saling menyalip dan debu yang beterbangan, aku melihat bagaimana setiap orang punya “perang” masing-masing. Ada yang terburu-buru karena takut terlambat absen, ada yang santai karena memang ritme hidupnya sudah terbiasa dengan kerasnya aspal.

Jujur, kenyamanan motor yang kupakai ini justru menampar kesadaranku. Aku duduk dengan suspensi yang lembut, sementara di sampingku, banyak orang berjuang dengan kondisi yang jauh dari kata nyaman. Ketimpangan itu nyata, terpampang jelas di pinggir jalan. Ada yang melaju dengan barang mewah, ada yang berpeluh keringat di bawah terik matahari.

Namun, di balik semua hiruk pikuk itu, ada satu napas yang sama: semangat untuk tetap bertahan. Mereka tidak menyerah. Mereka tetap menjalankan roda kehidupan meski jalannya tak selalu mulus.

Melihat semua itu, rasa syukur tiba-tiba membuncah di dada. Seringkali, kita terlalu sibuk mengeluhkan lelahnya rutinitas, padahal di luar sana, banyak orang yang harus berjuang lebih keras hanya untuk bisa “ada” di hari esok. Perjalanan ini mengajarkanku bahwa hidup ini begitu rapuh, sekaligus begitu tangguh.

Mungkin kita tidak bisa mengubah dunia dalam satu perjalanan. Namun, setidaknya kita bisa belajar untuk lebih menghargai setiap detak jantung yang masih terasa, setiap napas yang masih gratis, dan setiap orang yang kita temui di jalan. Bahwa di balik setiap klakson yang berbunyi dan setiap kendaraan yang melintas, ada manusia yang sedang berjuang demi berharganya sebuah kehidupan.

Perjalanan 225 km kemarin bukan hanya soal jarak yang ditempuh. Ia adalah pengingat, bahwa sejauh apa pun kita pergi, pada akhirnya kita hanyalah bagian dari arus besar manusia yang sama-sama sedang belajar untuk bertahan — dan syukur adalah cara terbaik untuk menikmati perjalanan itu sendiri.


메타데이터
post_id
d09274ea2be0
slug
tentang-perjalanan-kemarin-d09274ea2be0
url
https://medium.com/@ibrahimarzouq/tentang-perjalanan-kemarin-d09274ea2be0
canonical_url
https://medium.com/@ibrahimarzouq/tentang-perjalanan-kemarin-d09274ea2be0
author_url
https://medium.com/@ibrahimarzouq
status
ok
fetched_at
2026-07-13 14:08:30