← Back to list

Tipuan YouTube dan Spotify Premium Memikat Penggunanya

Saya membuat artikel ini ketika peringatan langganan untuk Spotify Premium muncul di e-mail saya dan saya lupa memperbaruinya. Kebetulan…

Sheren Aliya · 2026-04-14 10:39 · 0 claps · 4.7 min read
#youtube-premium #spotify-premium #marketing-strategy-tips #app-subscription
Open on Medium ↗
Wiki topics: ECO · Economy · General DIG · Digital Marketing 🎵 · Music & Audio 🎙️ · Creator Economy

Tipuan YouTube dan Spotify Premium Memikat Penggunanya

Saya membuat artikel ini ketika peringatan langganan untuk Spotify Premium muncul di e-mail saya dan saya lupa memperbaruinya. Kebetulan saya menggunakan plan student atau Kartu Tanda Mahasiswa yang saya miliki dan ini memerlukan pembaharuan setiap tahunnya. Sedangkan, untuk pembayaran bulanan pun tetap saya lakukan dari beberapa e-wallet dan betul, harganya naik bertambahnya tahun. Ketika harga naik ini, saya pun mulai melirik YouTube music premium karena ramai di sosial media.

Dengan penasarannya, saya coba untuk buat polling di akun Instagram dan dari 14 orang yang berpartisipasi, hasilnya SERI! Sebagai anak pemasaran, saya jadi penasaran apa yang sebenarnya YouTube dan Spotify telah lakukan pada diri saya dan banyak orang di dunia ini sampai kita terpikat, setidaknya “mau berlangganan”.

Sebelum langsung beralih ke strategi dari aplikasi music premium yang terkenal, seperti YouTube dan Spotify, tahukah kamu berapa pengguna orang yang telah berlangganan?

Pengguna YouTube Premium telah mencapai 125 juta pengguna per Maret 2025 atau sebesar 1,56% dari total penduduk di dunia ini.

Sedangkan, pengguna Spotify premium mencapai kenaikan positif sebesar 281 juta per Q3 tahun 2025. Hal ini sebanyak 3.51% dari penduduk yang ada di dunia.

Mari kita ulik beberapa perbandingannya harganya:

Detail harga langganan YouTube Music Premium yang terdiri dari Individual, Family, dan Student:

Sedangkan berikut harga dari Spotify Premium yang terdiri dari Premium Student dan Platinum:

Perbandingannya akan jadi seperti ini:

Dilihat dari tabel, YouTube jauh lebih murah, tetapi mengapa Spotify bisa mendominasi dua kali lipatnya?

Berikut penjelasan bagaimana strategi music app premium untuk terus mendapatkan hati pengguna.

Di akhir sesi ini, saya akan menjelaskan perbedaan interface yang membuat pertanyaanmu semakin terjawab.

  1. Biaya yang Affordable

Saya menunjukkan angka dari dua aplikasi populer, tapi di balik banyaknya aplikasi, terutama aplikasi music premium, terdapat biaya affordable dan benefit yang didapatkan. Harga itu akan dilihat seperti bayar parkir Rp2,000 untuk beberapa orang, padahal sebulannya bisa parkir berkali-kali. Namun, pengguna tahu tidak ada yang gratis di dunia ini. Maka, angka langganan itu pun dibuat semenguntungkan itu.

Berdasarkan riset yang dilakukan kepada 400 orang di Bangkok area metropolitan yang melakukan online music streaming dengan pendapatan 15,000–25,000 baht, mereka mendaatkan kesenangan dengan membayar biaya buanan kurang dari 100 baht hanya untuk music streaming. Hal ini mengetahui pentingnya variasi dari gabungan marketing di dalamnya: produk dan layanan premium yang ditawarkan Kumkom, T., & Changwatchai, P. (2023).

Dengan tahu data di atas saja, angka ini menunjukkan bahwa pengeluaran yang dikeluarkan hanya 0,4%-0,67% dari pendapatan yang didapatkan. Di era semua yang serba premium dan manfaat yang didapatkan, uang kecil tidaklah begitu berarti.

2. Periklanan Agresif

Kalau kamu sudah lihat iklan di YouTube yang mengarahkan untuk langganan YouTube premium, atau iklan Spotify di tengah-tengah kamu galau, maka ini adalah strategi periklanan strategis mereka.

Publikasi menunjukkan optimisasi yang berawal dari gratisan ke berlanganan premium membawa keuntungan operasional. Hal ini dilakukan dengan melakukan perbandingan antara pengguna gratis dan berbayar dengan perbedaan model. Yang perlu diprioritaskan adalah periklanan agresif. Optimisasi langganan juga dapat dilakukan dari harga tinggi ke harga rendah (Yunke Mai, Bin Hu, 2022).

Periklanan ini membuat sesuatu yang berulang di telinga kita. Sedangkan permainan harga turut mendorong keinginan berlangganan dari pengguna.

3. Premium App is The Trend

Kalau kamu sudah lihat teman-temanmu share playlist di Spotify atau YouTube, kemudian kamu lihat produk ini bahkan dijual di supermarket, maka ini lebih tepatnya kita “dikelilingi” oleh aplikasi premium, yang mau tidak mau kita jadi “tahu” dan terdorong untuk mengikutinya.

Terdapat temuan bahwa ubiquity atau maraknya premium app ini mendorong keinginan untuk berlangganan, dan pengaruh teman sebaya pun sama mempengaruhi dalam pembelian langganan aplikasi. Pengaruh emosi ketika terdapat kenyamanan dari layanan gratis juga mempengaruhi keputusan konsumen (Vilniaus universitetas, 2025).

4. Interface dan Layanan yang Spesial

Ketika pengguna sudah terpikat, tahu kan tahap selanjutnya apa? Betul, mempertahankannya. Setiap perubahan yang dilakukan dari perusahaan YouTube dan Spotify, serta music app premium lainnya bisa mengacak-acak ekosistem langganan penggunanya. Layanan yang diberikan mempengaruhi pilihan pengguna untuk lanjut atau tidak. Terlebih, ketika mereka sudah jadi top of the top, paling populer, untuk apa beralih?

Studi menemukan bahwa ketidaknyamanan atau sedikit perubahan mempengaruhi bagaimana konsumen melakukan langganan, bahkan sering disadari bahwa music streaming application sudah berfokus hanya kepada paid-only subscriber daripada pengguna gratis (Alkeshkumar, K.A., Mishra, M.R., 2025).

Penting mengetahui rasa senang dan nilai dari harga yang dikeluarkan untuk langganan bisa memprediksi keinginan untuk berlangganan. Sedangkan keinginan untuk “bertahan” berlangganan didorong dari marak atau populernya, serta fitur terbaru yang ditawarkan. (Matti Mäntymäki et al, 2019)

Setelah mengetahui betapa dahsyatnya strategi harga, periklanan, trend, dan layanan, mari kita menilik interface dan benefit “nyata” berdasarkan yang saya rasakan.

Youtube

YouTube lebih memainkan ekosistem Google yang dimilikinya. Lagu-lagu, podcast yang kamu sukai akan masuk otomatis di YouTube music. Saat kamu nonton YouTube pun, benefitnya kamu bisa nonton tanpa iklan di tengah-tengah video. Ibaratnya videonya cuma berapa menit, iklannya berapa menit.

Yang saya suka dari YouTube adalah “top picks” yang dimiliknya mengambil lagu-lagu lama kesukaan saya, dan saya akui mereka punya magic shuffle songs yang semua lagunya saya suka, mengetahui kadang playlist YouTube kecampur sama soundtrack referensi yang saya kumpulkan, jadi opsi ini cukuplah bagus.

Spotify

Spotify memainkan playlist yang bisa dibagikan, mutual following, sampai penghargaan yang memberikan personalisasi penggunanya. Hal ini membuat saya merasa selalu menunggu personalisasi setiap tahunnya. Lebih seperti comfort zone.

Jadi … bagaimana? Sudah masuk akal kah kalau aplikasi premium ini ternyata memikat banyak orang, termasuk kamu? Please leave a comment bagaimana impresi kamu setelah baca artikel ini!


메타데이터
post_id
d0b557efd3d5
slug
tipuan-youtube-dan-spotify-premium-memikat-penggunanya-d0b557efd3d5
url
https://medium.com/@sherenaliyaa/tipuan-youtube-dan-spotify-premium-memikat-penggunanya-d0b557efd3d5
canonical_url
https://medium.com/@sherenaliyaa/tipuan-youtube-dan-spotify-premium-memikat-penggunanya-d0b557efd3d5
author_url
https://medium.com/@sherenaliyaa
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30