← Back to list

Dua Hari Marathon K-Drama yang Tidak Bisa Saya Lupakan

Tentang kekerasan di ruang pendidikan yang tidak kelihatan sebagai kekerasan

Imanuel F Lawalata in Komunitas Blogger M · 2026-06-16 07:16 · 137 claps · 6.0 min read paywalled
#pendidikan #komunitas-blogger-medium #ulasan-film #hiburan #bahasa-indonesia
Open on Medium ↗
Wiki topics: ML · Machine Learning 🎬 · Film & Television 🏃 · Running & Endurance

Dua Hari Marathon K-Drama yang Tidak Bisa Saya Lupakan

Tentang kekerasan di ruang pendidikan yang tidak kelihatan sebagai kekerasan

Sumber Gambar : Netflix

Sumber Gambar : Netflix

Dua hari saya habiskan untuk marathon sepuluh episode Teach You a Lesson.

Teach You a Lesson adalah serial Netflix Korea yang baru tayang Juni 2026. Diadaptasi dari webtoon, serial ini mengisahkan sebuah lembaga fiksi bernama Educational Rights Protection Bureau di bawah Kementerian Pendidikan Korea. Lembaga ini dibentuk sebagai respons atas meningkatnya kekerasan di sekolah dan runtuhnya wibawa guru. Para inspektornya memiliki kewenangan khusus, termasuk penggunaan cara-cara yang tidak konvensional, untuk masuk ke sekolah-sekolah bermasalah dan menangani pihak yang melanggar batas, baik itu murid, orang tua, maupun guru.

Serial ini punya empat karakter utama dan setiap episode menceritakan kasus yang berbeda di sekolah yang berbeda. Format anthology seperti inilah yang membuat saya susah berhenti: setiap episode berdiri sendiri sebagai cerita lengkap, tapi semuanya terhubung pada satu pertanyaan yang sama. Ketika institusi pendidikan gagal melindungi orang-orang di dalamnya, siapa yang bertanggung jawab? Beberapa kisah yang diangkat, kabarnya, terinspirasi dari kejadian nyata.

Saya tidak akan spoiler semuanya. Tapi cukup saya bilang bahwa serial ini tidak memilih kasus yang ringan-ringan. Bully yang dilindungi orang tua berkuasa, guru yang kariernya dihancurkan oleh tuduhan palsu, siswa yang direkrut oleh sindikat kejahatan, orang tua yang obsesinya terhadap prestasi anak yang berubah menjadi teror. Setiap episodenya memilih satu luka dan membedahnya sampai ke dalam.

Episode pertama dibuka dengan adegan yang langsung menampar.

Seorang siswa bernama Gyeong-min menyaksikan temannya, Park Dae-seok, melompat dari gedung sekolah. Tidak ada drama panjang sebelumnya. Tidak ada narasi pembuka yang mempersiapkan penonton. Filmnya langsung menaruh kita di sana, di momen itu, bersama Gyeong-min yang berdiri tidak tahu harus berbuat apa.

Penyebabnya kemudian terkuak: Ryu Jun-hyeong, anak seorang anggota parlemen berkuasa bernama Ryu Gwang-pil, sudah lama menjadikan Park Dae-seok sebagai target perundungan. Sekolah tahu. Tapi tidak bertindak. Karena Ryu Gwang-pil adalah orang yang tidak ingin dimusuhi siapa pun.

Adegan itu tidak sampai lima menit. Tapi efeknya bertahan sepanjang sisa serial.

Yang membuat adegan ini sangat gelap bukan visualnya. Yang membuatnya dark adalah betapa lazimnya situasi itu terasa: seorang anak yang disakiti, sebuah institusi yang memilih diam, dan sebuah keluarga berkuasa yang tahu bahwa diam institusi itu adalah pilihan, bukan kebetulan. Park Dae-seok akhirnya melompat bukan karena tidak ada orang yang tahu. Ia melompat justru karena banyak orang tahu dan tidak ada yang berbuat apa-apa.

Episode-episode berikutnya tidak lebih ringan. Episode kedua masuk ke gang-gang siswa yang direkrut oleh sindikat kejahatan nyata. Episode ketiga tentang seorang siswi yang punya 600 ribu pengikut di media sosial dan menggunakannya untuk menghancurkan nama baik guru kelasnya dengan video yang diedit, tuduhan palsu, dan doxing keluarga. Guru itu akhirnya bunuh diri.

Episode selanjutnya terus membawa kasus yang berbeda: orang tua yang terobsesi dengan prestasi anak sampai mengancam guru secara fisik, jaringan narkoba yang beroperasi dari dalam sekolah, siswa yang manipulatif dan guru yang tidak kalah manipulatifnya.

[embed]Fakta-fakta Kasus Bullying Siswa SD di Subang, Pelaku Diduga Kakak Kelas, Alami Pendarahan di Otak… Siswa SD di Subang, Jawa Barat, berinisial AR (9) diduga menjadi korban perundungan atau bullying oleh tiga kakak…jabar.tribunnews.com

Saya tidak perlu jauh-jauh untuk menemukan cerita yang serupa.

November 2024, AR, siswa kelas 3 SD berusia 9 tahun di Subang, dipukuli oleh tiga kakak kelasnya saat jam istirahat. Ia menolak memberikan uang yang diminta. Setelah dianiaya, ia mengeluh sakit di kepala, muntah-muntah, dan tidak sadarkan diri. Dibawa ke RSUD Subang, dokter menemukan luka serius di otak. Beberapa hari kemudian, AR meninggal. Pihak sekolah, ketika dimintai keterangan, mengatakan tidak mengetahui kejadian tersebut.

[embed]Kecam Kasus Perundungan di SMPN 19 Tangerang Selatan, Menteri PPPA Tegaskan Sekolah Harus Jadi… Jakarta (17/11) - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi mengecam kasus perundungan…kemenpppa.go.id

Oktober 2025, MH, siswa SMP berusia 13 tahun di Tangerang Selatan, dipukul dengan bangku besi di bagian kepala. Dirawat di rumah sakit, tapi kondisinya terus memburuk dan ia meninggal dunia. Sebelum meninggal, ia sempat mengaku sudah sering mendapat perlakuan kasar dari teman-temannya.

Dua kasus itu cermin langsung dari episode pertama. Pola yang sama: kekerasan yang berlangsung bukan karena tidak ada yang tahu, tapi karena tidak ada yang bertindak. Dan ketika akhirnya ada yang bertindak, seringkali sudah terlambat.

Tapi yang membuat saya benar-benar diam adalah episode ketiga. Karena Indonesia punya versi nyatanya juga.

[embed]Jadi Tersangka, Guru Honorer di Konawe Selatan Bantah Aniaya Anak Polisi Polisi menetapkan guru honorer Supriyani sebagai tersangka penganiayaan anak polisi. Supriyani membantah melakukan…www.detik.com

Tahun 2024, Supriyani, guru honorer di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, menjadi tersangka setelah dituduh menganiaya muridnya. Murid itu adalah anak seorang polisi. Supriyani membantah, tapi statusnya sebagai guru honorer, tanpa perlindungan institusional yang kuat, membuatnya sangat rentan. Kasusnya menjadi viral dan memicu perdebatan nasional tentang betapa mudahnya guru dikriminalisasi hanya karena mencoba menjalankan tugasnya.

[embed]Awal Mula Kronologi Christiana Budiyati Guru SD Dipolisikan Orang Tua Murid Usai Lomba Agustusan … Awal mula duduk perkara Christiana Budiyati, Guru SDK Mater Dei Pamulang Tangerang Selatan Banten dilaporkan ke polisi.bangka.tribunnews.com

Agustus 2025, Christiana Budiyati, guru SD di Pamulang, Tangerang Selatan, dilaporkan ke polisi oleh orang tua murid setelah ia menasihati siswa-siswanya agar lebih bertanggung jawab dan saling peduli. Nasihat umum itu dianggap sebagai teguran yang memalukan seorang murid di depan kelas. Orang tuanya melapor ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, lalu ke polisi.

[embed]Kesal Anaknya Dihukum, Ortu di Bengkulu Ketapel Mata Guru Zuharman (58) mengalami luka serius di bagian mata karena diketapel oleh orang tua murid. Zuharman dianiaya karena…www.detik.com

Ada juga kasus Zaharman, guru yang diserang langsung oleh orang tua murid yang datang ke sekolah membawa ketapel. Ketapel itu terlepas, mengenai bola mata kanan Zaharman, dan merusak penglihatannya secara permanen. Bukan tuduhan di media sosial. Bukan laporan ke polisi. Serangan fisik. Di halaman sekolah.

Kasus-kasus itu bukan tentang Korea. Itu tentang di sini. Tentang betapa rentannya semua orang yang ada di dalam ruang pendidikan ketika tidak ada sistem yang cukup kuat dan cukup netral untuk menjadi penengah.

Saya tidak sedang membangun argumen bahwa semua guru selalu benar atau semua tuduhan terhadap guru adalah fitnah. Bukan itu. Ada guru-guru yang memang melakukan kekerasan dan harus bertanggung jawab. Tapi yang ingin saya tunjukkan adalah ini: di Indonesia, tidak ada mekanisme yang cukup kuat untuk melindungi semua pihak di ruang pendidikan secara bersamaan, baik murid yang jadi korban bully maupun guru yang jadi korban tuduhan. Keduanya sama-sama bisa jatuh tanpa ada yang benar-benar menangkap.

Dan satu hal yang lebih penting: ketika tidak ada mekanisme yang jelas, yang menentukan nasib seseorang bukan bukti atau kebenaran. Yang menentukan adalah siapa yang punya lebih banyak akses, koneksi, dan keberanian untuk berteriak lebih keras.

JPPI(Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia) mencatat 573 kasus kekerasan di sekolah sepanjang 2024, naik lebih dari 100 persen dibanding tahun sebelumnya. Itu angka yang tercatat. Yang diselesaikan diam-diam di ruang kepala sekolah, yang tidak pernah dilaporkan karena korban takut atau tidak tahu harus melapor ke mana, tidak ada yang tahu berapa jumlahnya. Kekerasan yang tidak terhitung adalah kekerasan yang tidak bisa ditangani.

Kita Mau Jadi Apa?

Saya menulis ini dari sudut yang berbeda dari guru kelas, dan berbeda pula dari peneliti atau pembuat kebijakan. Saya bukan siapa-siapa di dalam ruang itu. Tapi saya pernah berada di dalamnya, dan saya tahu betapa berbedanya situasi yang terlihat dari luar dengan situasi yang terasa dari dalam. Dan saya ingin jujur: ini bagian yang paling susah untuk ditulis.

Lebih mudah menonton serial seperti ini dan merasa marah pada sistem. Marah pada sekolah yang tidak bergerak, pada orang tua yang salah kaprah, pada pemerintah yang tidak punya mekanisme perlindungan yang memadai. Semua kemarahan itu valid. Tapi ada pertanyaannya: apa yang kita lakukan, atau tidak kita lakukan, dalam kapasitas kita masing-masing?

Sebagai pendidik, pertanyaan yang relevan bukan hanya “apakah saya pernah melakukan kekerasan?” tapi juga “apakah saya pernah memilih tidak melihat?” Apakah pernah ada momen di mana saya tahu ada sesuatu yang tidak beres, tapi saya memutuskan bahwa itu bukan urusan saya?

Karena dalam banyak kasus yang terdokumentasi, justru bukan tindakan aktif yang membiarkan kekerasan berlanjut. Yang membiarkannya adalah ketidakaktifan yang terasa aman. Diam yang terasa seperti netralitas tapi sebenarnya adalah keberpihakan pada pihak yang lebih kuat.

Sebagai orang tua, pertanyaannya tidak lebih sederhana. Serial ini menggambarkan orang tua dalam berbagai wajah: ada yang memproteksi anak dari segala konsekuensi karena percaya itu adalah bentuk cinta, ada yang menggunakan kekuasaan untuk membungkam korban, ada yang tidak sadar bahwa cara mereka berbicara tentang guru di depan anak adalah pembentukan sikap yang sedang berjalan diam-diam.

Tidak semua orang tua punya kekuasaan seperti Ryu Gwang-pil. Tapi semua orang tua punya pengaruh terhadap bagaimana anak mereka memperlakukan orang lain di sekolah. Dan pengaruh itu bekerja jauh sebelum ada insiden yang perlu diselesaikan. Jauh sebelum ada laporan ke polisi, ada percakapan-percakapan kecil di meja makan yang membentuk cara anak melihat guru, melihat teman yang berbeda, melihat konflik.

Serial ini tidak memberikan jawaban yang bersih. Dan saya kira itulah yang membuatnya jujur. Di akhir setiap episode, kasusnya mungkin selesai tapi pertanyaannya tidak. Institusi yang lebih baik, mekanisme yang lebih kuat, perlindungan yang lebih nyata bagi semua pihak: itu bukan sesuatu yang lahir dari satu lembaga fiksi yang keren. Itu lahir dari banyak orang yang memilih untuk melihat, dan tidak berhenti melihat, bahkan ketika lebih mudah untuk tidak.


메타데이터
post_id
d0cc65ee5708
slug
dua-hari-marathon-k-drama-yang-tidak-bisa-saya-lupakan-d0cc65ee5708
url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/dua-hari-marathon-k-drama-yang-tidak-bisa-saya-lupakan-d0cc65ee5708
canonical_url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/dua-hari-marathon-k-drama-yang-tidak-bisa-saya-lupakan-d0cc65ee5708
author_url
https://medium.com/@imanuelfl
status
ok
fetched_at
2026-06-21 09:28:43