Pecah! Showvibes Project di JNM Dipenuhi Teriakan ‘Maling’ dari Penonton
Sore itu Jogja masih terasa lembab setelah ia meneguk segelas hujan. Gerimisnya masih pelit, jatuh satu-satu tapi cukup untuk membasahi…
Pecah! Showvibes Project di JNM Dipenuhi Teriakan ‘Maling’ dari Penonton
Sore itu Jogja masih terasa lembab setelah ia meneguk segelas hujan. Gerimisnya masih pelit, jatuh satu-satu tapi cukup untuk membasahi kaos di bahu. Aku tiba di JNM Bloc saat air sisa hujan masih menempel di daun-daun pohon beringin dan bau tanah basah menguap bersama aroma rokok yang mengepul, sementara raungan amplifiler sudah terdengar dari parkiran pertanda Showvibes Project telah dimulai.

Setlist The Kick
Aku terlambat tiba dan melewatkan satu penampilan dari Rizquna karena harus menunggu hujan lebat sampai sedikit mereda. Saat kakiku melangkah di venue, penggung sudah dikuasai oleh The Kick — band yang entah kenapa terus-terusan membawaku kembali, setidaknya sudah lima kali aku menonton penampilan mereka, padahal mulanya aku lebih dulu mengenal The Jeblogs dan ikut menyuarakan ”Fck The Kick” dalam candaan permusuhan mereka. Meski pun begitu Jiwe (Vocalis The Kick)* selalu berhasil menyalakan gairah bahkan jika harus tampil di jam 3 sore di bawah sisa hujan.
Awan gelap masih mengepul dan gerimis masih sesekali datang, tapi sore itu tetap dipaksa pecah ketika dua band Hardcore naik panggung. Dazzle membuka ”sore-sore hardcorean” ini. Crowd mulai merapat namun masih mencari ritme. Sebagian besar hanya mengangguk-anggukan kepala meski di tengah sudah membuka ruang bagi siapa pun yang ingin moshing. Namun hanya ada satu-dua orang yang mengisi ruang itu, sementara lainnya memilih melakukan pemanasan sambil mencari ritme dengan ‘headbang aja dulu.’ Setelah menampilkan Dazzle yang berasal dari Malang, panggung kemudian bergeser sedikit ke timur yang menampilkan band hardcore Kenya yang berasal dari Bali.
Mulai hangat dengan hentakan dari Dazzle, kini giliran Kenya yang mengambil alih crowd. Pukulan drum hingga teriakan dari Kenya seakan membakar crowd, memancing mereka untuk mengisi ruang kosong di tengah, hingga dalam sekejap ruang itu kini dipenuhi dengan moshing, twostep, bahkan orang-orang yang saling bertabrakan untuk merayakan distorsi sore itu.
Selepas maghrib, suasana mulai naik satu level. Orang-orang yang bekerja sampai sore mulai hadir memadati venue. Enamore tampil seolah bertugas membawa pesta pada malam minggu kali ini menuju puncaknya. Pada titik ini, gerimis nampaknya sudah tak lagi terasa, entah karena ia telah menyerah atau karena panggung yang semakin hangat. Semua orang sibuk bernyanyi, melompat, bahkan beberapa mungkin mulai menertawakan hidup yang barangkali di luar gigs sedang terasa berat.
Lalu datang lah The Jeblogs saat malam sudah mulai menuju klimaksnya. Malam itu aku memakai merchandise berupa jersey dari mereka. Dan entah kenapa rasanya jadi bagian kecil dari sesuatu yang lebih besar. Di tengah crowd yang mulai padat, aku memutuskan bukan hanya sibuk bernyanyi atau merekam lewat handphone. Kali ini aku ikut menyelam di dalamnya, meski awalnya sempat ragu karena penggung yang tidak sepenuhnya rata namun suasana tetap membawaku tenggelam ke dalamnya. Aku menitipkan tas, hp, dan dompet kepada temanku lalu pergi memasuki kerumunan. Crowd surf pertamaku malam itu.
Aku melakukan crowd surf saat The Jeblogs membawakan lagu Bersandarlah dan tiba pada bagian favoritku “Mungkin kita sampai / Mungkin saja tidak / Tugas kita hanyalah berjalan.” Aku meneriakkan lirik itu sambil tubuhku diangkat, dibawa gelombang tangan asing yang terasa begitu akrab hingga tiba dan diturunkan di depan bibir panggung. Di bagian depan kerumunan lebih pecah, satu sama lain bersenggolan, saling meneriakkan lagu sambil sesekali saling membantu membangunkan orang-orang yang terjatuh karena desakan atau pun turun dari surf. Dan di sini lah crowd terasa hangat dan jujur, mereka menikmati lagu tanpa saling merugikan, tak ada yang dengan sengaja melukai, barang-barang yang jatuh tercecer pun segera diambil dan diangkat untuk mencari tahu pemiliknya. Dari rasa aman ini lah, bahkan ada seorang bule yang bahkan ikut merayakan malam itu dengan berselancar, melompat, dan ikut tenggelam di tengah kerumunan.
The Jeblogs memang sudah berhasil memecahkan pesta malam itu, tapi mereka bukan bintang terakhir yang menutup malam itu. Kini panggung dikendalikan oleh anak-anak SMA yang belakangan ini fenomenal dan bahkan berhasil membuat seorang Sholeh Sholihun tertarik dengan mereka.
Anak-anak SMA itu bahkan sudah nyentrik dari namanya. Sukses Lancar Rezeki (Amin) memang lebih terasa sebagai sebuah nama toko bangunan, sembako, atau nama perusahan, dan bahkan lebih dekat dengan doa. Tapi mungkin mereka memang percaya bahwa nama adalah doa. Dan barangkali doa mereka terkabul malam itu. SLR (Sukes Lancar Rezeki) dengan lagu-lagu pendek, spontan, lucu, dan meledak memang sukses pada malam itu. Mereka seolah hanya butuh satu menit untuk membuat JNM berguncang.
Puncaknya adalah ketika lagu Maling dibawakan semuanya meledak. Lagu awalnya memainkan tempo lambat “Ku dengar ada grusak grusuk / Di belakang rumahku / Aku penasaran lalu aku lihat / Ternyata..” lalu lagu mendadak melonjak cepat dengan gebukan drum yang cepat dan seluruh pengujung bahkan di sudut-sudut JNM kompak berteriak ”Maling! Maling!”
Crowd kembali pecah untuk yang kesekian kalinya, semuanya berteriak, melompat, bertabrakan, bahkan moshing untuk meneriakan ”Maling.” Lucu, absurd, sekaligus lepas seolah semua yang datang malam itu butuh satu kata saja untuk melepaskan segala lelah hidup.
Malam memang sudah pecah, tapi pesta belum usai. Masih ada satu pertunjukan yang akan disuguhkan. Showvibes berani menaruh band ini diakhir tentu karena akan dijadikan sebagai penutup yang mewah. Ada kolaborasi dua band dalam satu panggung yang barangkali menjadi yang panggung kolaborasi pertama bagi mereka. Mereka adalah Sukatani dan Dongker.

Penampilan Sukatani
Sukatani, duo suami-istri dengan topeng khas mereka adalah band punk yang pernah ramai diperbincangkan karena satu lagu mereka yang sempat dibredel. Namun malan ini, mereka tak memerlukan kontroversi untuk pecah. Mereka tetap lantang, jujur, sekaligus berani — dan memang begitulah identitas Sukatani. Lagu-lagu mereka yang berisi keresahan sosial dibungkus distorsi dan energi yang membara.
”Dan lakukan yang kami bisa / Bekerja dan belajar di jalan yang ada / Selama itu bukan segala kejahatan / Selama itu adalah sebuah pilihan.”
Setelah Sukatani selesai membawakan beberapa lagu mereka, panggung dengan cepat diisi oleh Dongker. Band ini memang masih memiliki irisan yang sama dengan Sukatani. Mereka sama-sama band Punk yang khas menggunakan atribut topeng dan tentunya sama-sama lantang. Dongker menyambung bara yang telah dinyalakan Sukatani. Meski munuju akhir namun antusias crowd justru semakin pecah. Orang-orang bertopeng melompat, berselancar, bahkan berdiri di pagar pembatas. Malam itu JNM dipenuhi oleh sesak teriakan-teriakan nyanyian, umpatan, dan ungkapan yang jujur sekaligus melegakan.
Dongker selesai membawakan beberapa lagu, kemudian Sukatani kembali ke panggung dan bergabung bersama. Showvibes benar-benar menyuguhkan kolaborasi dari dua band punk yang beberapa tahun belakangan sedang mendapatkan sorotan yang signifikan. Saat Sukatani dan Dongker berada di satu panggung membuat seolah-olah malam itu menjadi ritual punk yang sakral.

Figure 3 Setlist dari Dongker X Sukatani
Mereka membwakan lagu-lagu mereka bergantian, yang paling kutunggu dari kolaborasi ini adalah bagaimana Sukatani dan Dongker membawakan Gelap Gempita-nya Sukatani dan Bertaruh pada Api-nya Dongker. Namun justru yang tidak kalah menarik adalah ketika mereka membawakan lagu anyar dari Dongker yang bertajuk disarankan di Bandung. Akan tetapi karena sedang berada di Jogja, Dongker bercanda memelesetkan judulya menjadi ”disarankan di Bantul”
Di tengah tengah kerumunan yang pecah oleh penampilan mereka, aku tiba-tiba menemukan topeng kain khas Sukatani yang terbang dilemparkan dan jatuh di dekat kakiku. Topeng itu terinjak-injak, basah, dan entah dari mana asalnya. Sudah kutanyakan ke orang-orang sekitarku dan mereka merasa tidak ada yang memiliki jadi topeng itu kuputuskan kubawa pulang. Kuanggap sebagai oleh-oleh yang barangkali akan kuingat sebagai kenangan dari malam dengan pertunjukan yang mewah, pecah, absurd, namun entah kenapa terasa hangat sekali.
메타데이터
- post_id
- d0ce4953dc7c
- slug
- pecah-showvibes-project-di-jnm-dipenuhi-teriakan-maling-dari-penonton-d0ce4953dc7c
- url
- https://medium.com/@biwaranalas/pecah-showvibes-project-di-jnm-dipenuhi-teriakan-maling-dari-penonton-d0ce4953dc7c
- canonical_url
- https://medium.com/@biwaranalas/pecah-showvibes-project-di-jnm-dipenuhi-teriakan-maling-dari-penonton-d0ce4953dc7c
- author_url
- https://medium.com/@biwaranalas
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 02:29:52