← Back to list

#10: Menjaga Suara dan Wajah Manusia Papua

Film documenter Pesta Babi, ruang dialog tentang martabat, tanah, dan suara manusia Papua

Sam Sirken · 2026-05-21 01:49 · 0 claps · 3.5 min read
#menulis #social-media #film
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media 🔒 · Cybersecurity 🎬 · Film & Television

#10: Menjaga Suara dan Wajah Manusia Papua

Film documenter Pesta Babi, ruang dialog tentang martabat, tanah, dan suara manusia Papua

Diskusi dan dialog reflektif film dokumenter Pesta Babi dalam rangka menyambut Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60.

Diskusi dan dialog reflektif film dokumenter Pesta Babi dalam rangka menyambut Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60.

Seminggu yang lalu, saya menjadi salah satu pembicara dalam acara nobar dan diskusi film dokumenter Pesta Babi dalam rangka menyambut Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60.

Saya diminta untuk memberikan sedikit catatan tentang pesan Paus Leo XIV untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 yang bertema “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”, lalu menghubungkannya dengan realitas yang ditampilkan dalam film dokumenter tersebut. Awalnya saya berpikir ini hanya akan menjadi diskusi biasa tentang film. Namun setelah duduk, menonton, mendengar suara-suara dalam film itu, dan melihat wajah-wajah masyarakat Papua yang muncul di layar, saya sadar bahwa yang sedang dibicarakan bukan sekadar film dokumenter. Yang sedang dipertaruhkan adalah suara dan wajah manusia Papua itu sendiri.

Film Pesta Babi memang memunculkan banyak perdebatan. Ada yang mendukung, ada yang menolak. Ada yang menganggapnya sebagai kritik sosial, ada pula yang melihatnya sebagai ancaman. Tetapi bagi saya, film ini seharusnya dilihat lebih jauh daripada sekadar soal siapa pembuatnya atau siapa yang menjadi objek dalam ceritanya. Film ini adalah ruang untuk mendengar suara yang selama ini sering tenggelam di tengah hiruk-pikuk pembangunan dan kepentingan politik.

Saya teringat pengalaman bersama masyarakat adat Arfak di Papua Barat. Dari mereka saya belajar bahwa hutan, tanah, dan air bukan sekadar sumber kehidupan ekonomi, melainkan bagian dari identitas dan cara mereka memandang hidup. Hutan adalah rumah. Tanah adalah ibu yang memberi hidup. Sungai adalah ruang yang menyambungkan manusia dengan alam dan sesamanya. Karena itu, ketika hutan rusak atau tanah kehilangan maknanya, yang sesungguhnya ikut terluka bukan hanya alam, tetapi juga martabat manusia Papua sendiri.

Karena itu, ketika hutan rusak, tanah dirampas, atau ruang hidup berubah atas nama pembangunan, sesungguhnya yang ikut terluka bukan hanya alam, tetapi juga martabat manusia Papua. Suara mereka perlahan hilang. Wajah mereka perlahan berubah.

Nobar dan diskusi reflektif film dokumenter Pesta Babi.

Nobar dan diskusi reflektif film dokumenter Pesta Babi.

Di titik inilah pesan Paus Leo XIV terasa sangat relevan. Dalam pesannya, Paus mengingatkan bahwa komunikasi seharusnya menjaga suara dan wajah manusia, bukan malah menghapusnya. Teknologi, media digital, bahkan kecerdasan buatan, seharusnya dipakai untuk memperkuat martabat manusia, bukan membungkam mereka yang lemah.

Bagi saya, Pesta Babi justru sedang melakukan hal itu. Film ini menghadirkan suara manusia Papua yang selama ini sering dibicarakan, tetapi jarang sungguh-sungguh didengarkan. Film ini memperlihatkan wajah Papua yang nyata: wajah masyarakat adat yang hidup bersama alam, tetapi terus berhadapan dengan arus besar pembangunan yang datang atas nama kesejahteraan.

Kita tentu tidak bisa menutup mata bahwa Papua sudah terlalu lama hidup dalam janji-janji kesejahteraan. Presiden berganti. Program datang silih berganti. Proyek besar dibangun di mana-mana. Namun pertanyaannya sederhana: apakah masyarakat Papua sungguh merasa sejahtera? Apakah mereka sungguh merasa didengar?

Ironisnya, di tengah kekayaan alam yang luar biasa, masyarakat Papua justru sering menjadi penonton di tanahnya sendiri. Kita sibuk berbicara tentang investasi, hilirisasi, dan proyek strategis nasional, tetapi lupa memikirkan bagaimana masyarakat lokal bisa tetap hidup dengan identitas dan cara hidup mereka sendiri.

Padahal masyarakat Papua memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan tanpa harus merusak wajah asli mereka. Sagu misalnya. Semua orang tahu bahwa sagu adalah makanan pokok masyarakat Papua. Tetapi mengapa perhatian kita lebih besar pada proyek-proyek besar daripada membantu masyarakat mengembangkan dan memasarkan hasil pangan lokal mereka sendiri?

Kadang kita terlalu cepat menyebut pembangunan sebagai tanda kemajuan, padahal yang terjadi justru keterasingan. Alam rusak. Ruang hidup menyempit. Dan masyarakat adat semakin jauh dari identitas mereka sendiri.

Karena itu saya melihat Pesta Babi bukan sebagai ajakan melawan negara atau menolak pembangunan. Film ini adalah ajakan untuk berdialog. Ajakan untuk berhenti sejenak dan bertanya: pembangunan macam apa yang sebenarnya sedang kita perjuangkan? Pembangunan yang menjaga manusia, atau pembangunan yang mengorbankan manusia?

Papua Bukan Tanah Kosong!

Papua Bukan Tanah Kosong!

Sayangnya, di beberapa tempat, pemutaran film ini justru ditolak dan dibubarkan. Alasannya macam-macam: mengganggu stabilitas, belum ada izin, atau dianggap sensitif. Tetapi bagi saya, membubarkan ruang diskusi justru memperlihatkan bahwa kita masih takut mendengar suara masyarakat Papua.

Padahal dialog tidak pernah lahir dari ketakutan. Dialog lahir dari keberanian untuk mendengar. Dan mungkin, itulah pesan paling penting yang saya bawa pulang dari malam nobar dan diskusi itu: menjaga suara dan wajah manusia Papua berarti berani mendengar mereka apa adanya. Bukan sekadar mendengar data statistik tentang kemiskinan dan pembangunan, tetapi mendengar kegelisahan mereka, harapan mereka, bahkan luka mereka.

Papua bukan hanya soal kekayaan alam. Papua adalah manusia. Papua adalah wajah-wajah yang ingin tetap hidup dengan martabatnya. Papua adalah suara yang tidak ingin dibungkam oleh kebisingan kekuasaan dan modal.

Karena itu, film dokumenter seperti Pesta Babi seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman. Ia bisa menjadi cermin. Cermin yang mengajak kita melihat kembali apakah selama ini kita sungguh menjaga manusia Papua, atau justru perlahan menghapus suara dan wajah mereka atas nama kemajuan. ***


메타데이터
post_id
d0ff4294bf1b
slug
10-menjaga-suara-dan-wajah-manusia-papua-d0ff4294bf1b
url
https://medium.com/@semisirken/10-menjaga-suara-dan-wajah-manusia-papua-d0ff4294bf1b
canonical_url
https://medium.com/@semisirken/10-menjaga-suara-dan-wajah-manusia-papua-d0ff4294bf1b
author_url
https://medium.com/@semisirken
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30