← Back to list

Sesi Potret

🍵 · 2026-07-06 10:12 · 0 claps · 3.5 min read
#life #feelings #words #poetry #writing
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Sesi Potret

Sesi potret adalah upacara kecil yang selalu kubenci. Setiap kali seseorang mengangkat kamera, aku merasa sedang menghadiri sebuah perpisahan yang belum berani mengaku sebagai perpisahan. Orang-orang tersenyum seolah dunia akan tetap tinggal di tempatnya, seolah waktu memiliki belas kasih untuk menunggu sedikit lebih lama. Padahal di balik hitungan satu, dua, tiga itu, usia sedang diam-diam menggeser segala sesuatu beberapa langkah lebih jauh dari yang mampu kita kejar.

Sebab, kamera memiliki cara yang kejam untuk menghentikan waktu tepat ketika hidup sedang sibuk mengajarkan bahwa tak ada apa pun yang benar-benar tinggal.

Ia membekukan tawa yang kelak kehilangan pemiliknya. Mengabadikan pelukan yang suatu hari akan terlepas oleh jarak, takdir, atau kematian. Menyimpan wajah-wajah yang hari itu masih saling mengenal, padahal tanpa mereka sadari masing-masing sedang berjalan ke arah musim yang berbeda, menuju persimpangan yang kelak membuat nama-nama mereka hanya sesekali saling mampir dalam doa atau percakapan yang lirih.

Aneh sekali.

Pada saat foto itu diambil, tak seorang pun merasa sedang menciptakan peninggalan. Kami hanya berdiri berdekatan, saling merapatkan bahu, saling melempar tawa yang ringan, seakan hidup akan terus mengulang sore yang sama. Kami tak pernah tahu bahwa beberapa detik yang dibekukan itu diam-diam sedang menjelma sebuah fosil; sisa kehidupan yang suatu hari akan digali kembali oleh seseorang yang sedang merindukan masa ketika segalanya masih utuh.

Barangkali itulah mengapa setiap kali seseorang berkata, “Ayo, kita foto dulu,” ada sesuatu di dalam dadaku yang selalu mengecil. Seolah-olah aku sedang diminta berdiri di ambang sebuah kenangan yang bahkan belum sempat terjadi, namun bayangannya telah lebih dahulu menyentuh dadaku seperti angin dingin menjelang hujan. Ada firasat yang tak pernah mampu kujelaskan, bahwa setiap foto sesungguhnya bukan sedang mengabadikan kebersamaan, melainkan sedang menandai awal dari kehilangan yang perlahan akan tumbuh di masa depan. Aku takut pada cara sebuah foto mengubah manusia menjadi masa lalu.

Sebab begitu waktu bergerak, gambar itu tak lagi menjadi sekadar gambar. Ia berubah menjadi pintu yang hanya bisa dibuka dari arah rindu. Setiap kali menatapnya, aku tidak sedang melihat wajah-wajah di dalam bingkai, melainkan sedang menatap seseorang yang tak mungkin lagi kembali menjadi seperti saat itu. Bahkan jika orangnya masih hidup, waktu telah mengubahnya menjadi pribadi yang berbeda. Ada tawa yang tak lagi sama, ada sorot mata yang telah belajar menyimpan lebih banyak lelah, ada bahu yang kini memikul kehilangan-kehilangan yang dahulu belum pernah dikenalnya.

Hari ini kami masih saling menatap, saling memanggil nama, saling tertawa tanpa menyadari betapa rapuhnya hari-hari yang kami miliki. Kami begitu sibuk menjalani hidup sampai lupa bahwa setiap pertemuan diam-diam sedang menghitung jumlahnya sendiri. Tak ada yang benar-benar tahu pelukan mana yang akan menjadi pelukan terakhir, percakapan mana yang akan menjadi percakapan terakhir, atau foto mana yang kelak berubah menjadi satu-satunya tempat di mana semua orang masih berkumpul dengan utuh. Beberapa tahun dari sekarang, mungkin hanya bingkai itu yang tersisa.

Wajah-wajah di dalamnya masih muda, masih lengkap, masih menyala oleh harapan yang belum sempat disentuh kenyataan. Tak ada uban yang tumbuh. Tak ada kerut yang mengendap di sudut mata. Tak ada kursi kosong yang menyisakan sunyi. Tak ada nisan. Tak ada air mata. Di dalam foto, semua orang tetap tinggal pada usia yang sama, seolah waktu lupa menemukan mereka.

Namun kehidupan di luar bingkai tidak mengenal belas kasihan. Ia terus berjalan dengan langkah yang tak pernah menoleh. Membawa sebagian orang pergi tanpa sempat berpamitan, mengubah sebagian lainnya menjadi asing, mempertemukan kita dengan kehilangan demi kehilangan, sampai akhirnya kita sadar bahwa yang paling sulit dari bertambah dewasa bukanlah menerima usia, melainkan menerima bahwa dunia akan terus lengkap meski satu per satu orang yang kita cintai mulai hilang dari dalamnya.

Foto tidak pernah bertambah tua. Kitalah yang pelan-pelan berubah menjadi orang asing bagi diri sendiri.

Tubuh ini berganti musim tanpa meminta izin. Rambut belajar memutih. Tangan mulai menyimpan jejak waktu. Ingatan berlubang sedikit demi sedikit. Bahkan wajah yang setiap pagi kita temui di cermin pun perlahan berubah menjadi seseorang yang sesekali gagal kita kenali sepenuhnya. Anehnya, foto itu tetap setia menjaga versi diri kita yang telah lama mati. Ia menjadi semacam museum kecil yang memamerkan kehidupan-kehidupan yang tak lagi dapat dihuni.

Dan setiap kali aku kembali menatapnya, yang kurasakan bukan semata-mata rindu. Yang datang lebih dulu justru kesadaran yang menikam dengan kelembutan yang kejam: bahwa waktu adalah pencuri paling sabar yang pernah diciptakan semesta. Ia tidak mendobrak pintu, tidak merampas dalam satu malam, tidak membuat kita menjerit saat itu juga. Ia hanya mengambil sedikit demi sedikit. Sedikit cahaya dari mata. Sedikit tenaga dari langkah. Sedikit hangat dari pelukan. Sedikit suara dari orang-orang yang kita cintai. Sedikit ruang di meja makan. Sedikit kursi yang perlahan menjadi kosong. Sedikit nama yang semakin jarang dipanggil karena pemiliknya telah lama pulang ke tempat yang tak dapat dijangkau siapa pun.

Begitulah cara waktu bekerja. Ia tidak membunuh sekaligus. Ia mengajari kita kehilangan dengan dosis yang begitu kecil, hingga sering kali kita baru menyadari betapa banyak yang telah hilang ketika semuanya benar-benar telah tiada.

Mungkin karena itulah sesi potret selalu menjadi hal yang paling kubenci. Bukan karena aku tak ingin dikenang. Melainkan karena setiap kali tombol kamera ditekan, aku seperti mendengar waktu sedang berbisik lirih dari tempat yang tak terlihat, “Lihatlah baik-baik wajah-wajah ini. Hafalkan tawa mereka. Simpan cara mereka memanggil namamu. Karena kelak, ketika musim telah berkali-kali berganti dan hidup menghapus begitu banyak jejak, inilah satu-satunya pintu yang masih mampu membawamu pulang — ke hari ketika semua orang masih ada, ketika kehilangan belum menemukan alamatnya, dan ketika kau belum tahu bahwa kebahagiaan ternyata sering kali baru dikenali setelah ia berubah menjadi kenangan.”


메타데이터
post_id
d10a68af85c3
slug
sesi-potret-d10a68af85c3
url
https://medium.com/@inkr.emains/sesi-potret-d10a68af85c3
canonical_url
https://medium.com/@inkr.emains/sesi-potret-d10a68af85c3
author_url
https://medium.com/@inkr.emains
status
ok
fetched_at
2026-07-08 21:20:17