Bukan Baper, Kami Cuma Manusia
Stoikisme tidak pernah melarang kita untuk speak up. Karena diam, ketika hati kita tahu ada yang salah, bukanlah kebijaksanaan
Bukan Baper, Kami Cuma Manusia

Kita hidup di zaman yang katanya serba cepat, serba agile, serba “bisa ngapain aja asal mau belajar”. Tapi anehnya, ketika seorang karyawan — apalagi yang baru lulus dan baru kerja — kesandung sedikit, responsnya bukan dibantu, tapi malah disindir, dikucilkan, dan ditertawakan. “Lemah.” “Nggak tahan banting.” “Mental tempe.” Dan label-label lain yang seringkali dilemparkan tanpa berpikir panjang.
Saya berpendapat seperti itu bukanlah tanpa alasan, beberapa hari lalu, dua teman saya bercerita. Yang satu baru saja kena layoff — sebut saja dia Si Mojo. Diterima kerja pada ketika baru lulus, kerja dengan semangat dan loyal. Tapi pas diakhiri, nggak ada tuh ucapan terima kasih, nggak ada tuh evaluasi yang membangun, nggak ada tuh tangan yang menepuk pundak sambil bilang, “Terima kasih ya, sudah berjuang.” Cuma sepotong kalimat dingin: Thanks and good luck.

Lalu yang kedua, Si Jon. Dia baru konflik dengan atasannya. Alasannya? Kerjaannya banyak, nggak ada arahan, semua dilempar ke dia, dan ketika dia inisiatif pergi ke lapangan, malah diframing seolah dia kabur dari kerjaan. Kepala bidang pun nggak membela. Sunyi senyap. Kalian tahu nggak rasanya kerja keras, tapi dipelintir jadi drama? Itu bukan sekadar lelah. Itu menyayat harga diri.
Dari dua cerita itu, saya jadi merenung. Barangkali ini yang dimaksud Seneca saat bilang: “We suffer more in imagination than in reality.” Tapi kalau realitasnya memang menyakitkan dan tidak adil, apa kami harus terus memaklumi? Apakah karena kami Gen Z, kami harus siap dicap manja setiap kali kami bilang, “Aku lelah, tapi aku juga ingin dibimbing”?

Kami bukan ingin dimanja. Kami ingin diarahkan. Kami ingin lingkungan kerja yang manusiawi. Yang mengakui proses belajar itu penuh trial and error, bukan tempat adu cepat, adu kuat, apalagi adu sarkas.
Kami bukan baperan. Tapi ketika tempat kerja lebih mirip survival game daripada ruang berkembang, mungkin yang salah bukan generasinya — tapi sistem yang lupa bahwa di balik gelar “pegawai”, ada manusia dengan harga diri dan kebutuhan untuk merasa dihargai.

Buat saya pribadi, Stoikisme tidak mengajarkan kita untuk mati rasa. Tapi ia mengajarkan kita untuk tetap waras di tengah kekacauan. Untuk memilih reaksi terbaik meskipun perlakuan yang kita terima jauh dari baik. Tapi juga, Stoikisme tidak pernah melarang kita untuk speak up. Karena diam, ketika hati kita tahu ada yang salah, bukanlah kebijaksanaan — itu penindasan terhadap diri sendiri.

Jadi, kalau ada temanmu yang curhat soal lingkungan kerja yang toksik, jangan buru-buru bilang “ya namanya juga kerja.” Tanyakan dulu: apakah mereka benar-benar lemah, atau lingkungan kerjanya yang memang tidak layak untuk berkembang?
Kami, Gen Z, cuma ingin bekerja dengan hati tenang, dengan tubuh sehat, dan dengan harapan bahwa esok lebih baik dari hari ini.
Dan yang kami minta bukan kantor dengan bean bag dan kopi gratis. Tapi lingkungan yang tahu caranya memperlakukan manusia… sebagai manusia.
메타데이터
- post_id
- d15f19f403cc
- slug
- bukan-baper-kami-cuma-manusia-d15f19f403cc
- url
- https://medium.com/@FansBeratKopiLiong/bukan-baper-kami-cuma-manusia-d15f19f403cc
- canonical_url
- https://medium.com/@FansBeratKopiLiong/bukan-baper-kami-cuma-manusia-d15f19f403cc
- author_url
- https://medium.com/@FansBeratKopiLiong
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 18:13:15