← Back to list

Mengapur Berdebu.

CW // family conflict, verbal abuse, emotional abuse, sleep medication, headache, unhealthy coping mechanisms.

Julianne · 2026-08-01 16:23 · 0 claps · 3.2 min read
#fanfiction #fanfic #siblings
Open on Medium ↗
Wiki topics: 👨‍👩‍👧 · Family & Parenting 💪 · Fitness & Wellness ✍️ · Writing & Creative

Mengapur Berdebu.

CW // family conflict, verbal abuse, emotional abuse, sleep medication, headache, unhealthy coping mechanisms.

Samar-samar suara itu masih terdengar.

“Kebiasaan banget kerja kagak becus!”

Jarinya berkedut ketika suara itu masih menembus di balik dinding kamarnya.

“Dua puluh tahun nikah beg■nya masih aja dipelihara, t■lol.”

Api dalam dirinya bergejolak — meraung untuk dibebaskan.

Namun, obat telah lama mengalir dalam pembuluh darahnya, menumpulkan semua indera-nya. Mematikan semua akal sehatnya. Meski begitu, matanya tak kunjung berat.

Ia menatap kosong dinding kamarnya, seolah itu satu-satunya hal menarik di ruangan minim pencahayaan ini. Nafasnya bekerja secara manual; menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya. Persis yang diajarkan guru BK nya dulu saat ia masih di bangku SD, setelah membanting teman sekelasnya kala ia tak dapat mengendalikan amarahnya.

Kini, dia cukup besar untuk mengendalikan diri. Cukup besar untuk tidak membiarkannya menjadi monster yang orang-orang selalu takuti dari dirinya.

Helaan napas lolos dari Bima. Tak dapat lagi menunggu, tangannya meraih botol kapsul di meja samping tempat tidurnya. Di dalamnya tersisa tiga butir pil.

Ia tak begitu ingat telah mengkonsumsi berapa butir sebelumnya, tapi menambah tiga dosis lagi seharusnya bukan masalah.

Dengan acuh tidak acuh, Bima meneguk ketiga butir pil terakhir lalu membuang botol kapsul ke tong sampah begitu saja.

Saat itulah dia baru merasakan obatnya mulai bereaksi.

Satu menit. Dua menit.

Suara-suara itu meredam. Api dalam dirinya perlahan padam.

Tiga menit. Empat menit.

Kedua tangannya menutup telinganya dan matanya terkatup.

Lima menit.

Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur, membiarkan alam bawah sadar menarik dirinya jauh dari dunia ini.

Dinding kamarnya perlahan kehilangan bentuk. Langit-langit di atasnya retak, bukan karena runtuh, melainkan larut menjadi buih-buih yang menyatu dengan laut. Ia tak lagi merasakan kasur yang menyangga punggungnya. Tak merasakan dinginnya lantai, tak merasakan berat tubuhnya sendiri.

Hanya… mengapung di tengah samudra.

Di dalam tempat ini, tidak ada suara-suara kurang ajar yang mengusiknya.

Di dalam tempat ini, tidak ada tuntutan harus hidup seperti apa yang mereka mau.

‘Ah..’

Di dalam tempat ini, dia tidak merasa kesepian walau sendirian.

‘Akhirnya bisa nafas juga.’

.

.

.

.

Pagi itu, kesadaran datang perlahan — nyaris terasa seperti ditarik paksa keluar dari dasar lautan. Kelopak matanya terasa begitu berat sehingga sekedar membukanya pun membutuhkan tenaga yang tidak sedikit.

Bima mengernyit bahkan sebelum matanya benar-benar terbuka. Pikirannya masih tenggelam dalam kabut sisa obat tidur yang ia telan semalam. Ketika ia membuka kedua matanya, cahaya pagi menusuk penglihatannya seperti sebilah pisau — memaksanya untuk menyipitkannya kembali.

Aneh.

Biasanya, bahkan sinar matahari yang jatuh tepat di wajahnya atau suara bising di luar kamar tak pernah cukup untuk membangunkannya. Tubuhnya selalu tenggelam terlalu dalam.

Namun pagi ini berbeda.

Tak ada suara yang mengagetkannya. Tak ada sentuhan yang membangunkannya. Namun, tubuhnya sendiri menolak untuk terus terlelap.

Berusaha mengabaikan kejanggalan, ia bangkit dan langsung disambut oleh nyeri tajam berdenyut di pelipisnya, menjalar hingga ke belakang mata, membuat kepalanya terasa seakan diremas dari dalam.

Bima meringis pelan, refleks mengangkat tangan untuk menekan dahinya, berharap tekanan kecil itu bisa meredakan denyutan yang tak kunjung berhenti. Tubuhnya sedikit terhuyung sehingga membutuhkan satu tangannya sebagai penopang di kasurnya. Tubuhnya masih dipenuhi sisa kantuk, tetapi kepalanya seolah dipaksa tetap sadar hanya untuk merasakan setiap denyutan yang menusuk.

Pandangannya berkunang-kunang, sementara denging halus memenuhi telinganya hingga suara di luar kamar terdengar begitu jauh.

“Eh, S■■■–? Lho, ada N■■■ juga?”

Samar-samar ia bisa mendengar suara dari ruang tengah, tapi sensasi berputar dan kepala yang terasa semakin berat membuatnya tidak fokus.

“Nanti dulu, ya, B■■. ■ima dim■na sekarang?”

Setiap cahaya yang masuk ke kamarnya terasa menusuk dan bahkan gerakan sekecil membuka mata membuat kepalanya berdenyut semakin hebat.

Bima menggeram pelan. Ketika kesadarannya perlahan terkumpul, pintu kamarnya terbuka.

Ia pun refleks mengangkat kepala, sosok itu berdiri di ambang pintu dengan napas memburu. Rambutnya sedikit berantakan dan dadanya naik turun mencoba mengejar udara.

Bima mengernyit.

‘Itu — ’

Dalam beberapa langkah lebar, ia sudah berada di sisi ranjang. Kasur berderit pelan di bawah beban tambahan itu kala dua lengan yang kekar tiba-tiba merengkuhnya begitu erat.

Ia membeku.

‘Mas Dewa…?’

Pelukan itu terlalu mendadak. Terlalu kuat. Begitu kuat hingga Bima bisa merasakan jemari kakaknya sedikit gemetar di balik punggungnya, seolah orang yang memeluknya sedang berusaha memastikan bahwa ia benar-benar ada.

Lalu disusul oleh kakak keduanya — yang ntah sejak kapan telah membeku diambang pintu. Ia menghampiri di sisi kanan Bima dan menangkupkan kedua pipinya, seolah sedang memastikan satu hal sederhana yang begitu sulit ia percayai.

‘Mas Kula…?’

Seolah dunia tidak cukup membuatnya kebingungan, pria dengan netra biru itu akhirnya bicara.

“Kamu… gapapa?”

Hah.

Barulah pelukan itu sedikit mengendur. Pria dengan netra kuning itu menarik tubuhnya beberapa senti, cukup untuk memandang netra yang sama dengan miliknya — milik sang adik bungsu.

Bima tak pernah menyangka akan melihat ekspresi seperti itu di wajah seorang Sadewa Sagara.

Kakak tertuanya yang selalu tenang, bijaksana, dan sedikit bicara itu kini menatapnya dengan kecemasan yang begitu nyata.

Seolah… baru saja melihat hantu.

Hah.

Kini, kedua kakaknya menatapnya.

Untuk sesaat, Bima terdiam. Lalu satu tangannya terangkat…

…dan menampar pipinya sendiri.


메타데이터
post_id
d16c89ce35a1
slug
mengapur-berdebu-d16c89ce35a1
url
https://medium.com/@julianne4907/mengapur-berdebu-d16c89ce35a1
canonical_url
https://medium.com/@julianne4907/mengapur-berdebu-d16c89ce35a1
author_url
https://medium.com/@julianne4907
status
ok
fetched_at
2026-08-02 18:41:28