← Back to list

Membangun Kembali Makna Solidaritas Global: Refleksi 70 Tahun Konferensi Asia–Afrika di Era…

Warisan Sejarah yang Tetap Hidup

Nabila Dita Kartika Putri · 2025-12-07 16:02 · 0 claps · 2.4 min read
#kaas #asia #afrika #indonesia #hubungan-internasional
Open on Medium ↗

Membangun Kembali Makna Solidaritas Global: Refleksi 70 Tahun Konferensi Asia–Afrika di Era Multipolar

Warisan Sejarah yang Tetap Hidup

Pada tahun 2025, dunia akan merayakan 70 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang pertama kali berlangsung di Bandung pada tahun 1955. Pertemuan bersejarah ini sukses menggabungkan 29 negara Asia dan Afrika yang saat itu baru merdeka, dengan tujuan memperjuangkan hak berdaulat dan menolak penjajahan serta dominasi kekuatan saat Perang Dingin. KAA bukan hanya sekadar forum diplomatik, tetapi juga menjadi landasan bagi identitas kolektif yang kini dikenal sebagai Global South.​

Prinsip-prinsip yang diperkenalkan dalam KAA, seperti penolakan terhadap kolonialisme, solidaritas di antara negara-negara berkembang, dan politik yang bebas dan aktif, menjadi dasar yang kuat untuk menciptakan dinamika hubungan internasional yang lebih adil dan setara. Dalam rentang waktu tujuh dekade, warisan ini tetap ada meskipun situasi dunia mengalami perubahan yang sangat signifikan.

KAA dalam Dunia yang Berubah

Era Perang Dingin dengan struktur bipolar kini telah bertransformasi menjadi dunia yang lebih rumit dengan banyak kutub. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, permasalahan perubahan iklim yang semakin mendesak, kesenjangan ekonomi yang terus meluas, serta munculnya kolonialisme digital melalui dominasi platform teknologi asing, menjadi tantangan utama yang dihadapi negara-negara berkembang saat ini.

Dalam situasi ini, semangat dan prinsip Konferensi Asia-Afrika seperti kedaulatan politik, solidaritas antarkawasan, serta hak untuk menentukan posisi politik kembali menjadi penting. Negara-negara Asia dan Afrika, sebagai bagian dari Global South, perlu menyusun strategi yang berlandaskan pada nilai-nilai tersebut agar dapat memainkan peran yang strategis dan efektif dalam peta geopolitik dunia.

Politik Bebas-Aktif dan Kemandirian Politik di Tengah Geopolitik

Salah satu pesan paling penting yang dibawa oleh KAA adalah penerapan politik bebas-aktif. Dalam istilah saat ini, ini berarti bahwa negara-negara berkembang memiliki hak untuk menetapkan kebijakan luar negeri mereka sendiri tanpa adanya tekanan atau paksaan dari kekuatan besar di dunia. Pada era Perang Dingin, hal ini sangat penting agar kawasan Asia dan Afrika tidak terjebak dalam konflik antara dua blok yang besar.

Sekarang, saat ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok semakin meningkat, politik bebas-aktif menjadi alat strategis bagi negara-negara berkembang untuk menjaga suara mereka, mempertahankan stabilitas di dalam negeri, dan memanfaatkan kesempatan untuk kerja sama global. KAA mengajarkan bahwa kemandirian politik bukanlah suatu kemewahan, tetapi merupakan kebutuhan yang mendasar dalam dunia yang selalu berubah.

Solidaritas Selatan–Selatan sebagai Jawaban Kolektif

Lebih dari sekadar lambang, KAA merupakan awal dari usaha kolaborasi dan dukungan antar negara berkembang — satup grup negara yang berjuang bersama untuk meningkatkan kemampuan ekonomi, teknologi, dan politik mereka. Dukungan ini lebih dari sekadar kata-kata dan direalisasikan dalam pertemuan-pertemuan internasional seperti G77, ASEAN, dan Uni Afrika.

Di zaman sekarang, dukungan ini menjadi semakin krusial karena tantangan yang bersifat internasional mulai dari masalah perubahan iklim yang membutuhkan kolaborasi global, ketidakadilan dalam akses terhadap teknologi digital, sampai dinamika perdagangan internasional yang seringkali merugikan negara-negara berkembang. Kerja sama antar negara berkembang yang berbasiskan semangat KAA bisa menjadi solusi yang tepat untuk meningkatkan posisi tawar Global South di dalam sistem global.

Tantangan dan Peluang KAA di Era Modern

Saat ini, KAA menghadapi tantangan yang jauh lebih rumit dan berbeda dibandingkan 70 tahun yang lalu. Persaingan geopolitik antara Amerika Serikat dan Tiongkok, ancaman perubahan iklim yang ekstrem, peningkatan kesenjangan ekonomi di seluruh dunia, serta munculnya kolonialisme baru dalam bentuk dominasi teknologi dan konflik perdagangan, adalah kenyataan yang harus ditangani.

Namun, pada saat-saat yang penuh ketidakpastian ini, nilai-nilai yang ada dalam KAA seperti solidaritas, kemandirian, dan penolakan terhadap hegemoni dapat menjadi dasar yang kuat bagi negara-negara berkembang untuk bertahan dan maju.

Indonesia berperan penting sebagai penerus semangat KAA untuk menjadi pemimpin dalam diplomasi kawasan yang inklusif, menciptakan peluang dialog dan kerja sama yang lebih erat antara negara-negara Asia dan Afrika. Melalui kepemimpinan ini, Indonesia dapat memperkuat suara Global South agar semakin terdengar di kancah internasional.


메타데이터
post_id
d16f59a5bdc2
slug
membangun-kembali-makna-solidaritas-global-refleksi-70-tahun-konferensi-asia-afrika-di-era-d16f59a5bdc2
url
https://medium.com/@bluestone210405/membangun-kembali-makna-solidaritas-global-refleksi-70-tahun-konferensi-asia-afrika-di-era-d16f59a5bdc2
canonical_url
https://medium.com/@bluestone210405/membangun-kembali-makna-solidaritas-global-refleksi-70-tahun-konferensi-asia-afrika-di-era-d16f59a5bdc2
author_url
https://medium.com/@bluestone210405
status
ok
fetched_at
2026-06-28 04:42:08