Penolakan Masyarakat sebagai Pembentuk Konsep Diri Wang Yaming dalam cerpen “手”
Sebuah Analisis
Penolakan Masyarakat sebagai Pembentuk Konsep Diri Wang Yaming dalam cerpen “手”

Latar belakang
Sastra merupakan kata yang biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu (Rani, dkk. 2021). Berbagai jenis serta bentuk karya sastra di setiap negara merupakan buah hasil dari ciri khas serta latar belakang budaya dan sejarahnya masing-masing. Hal ini juga berlaku pada sastra di Tiongkok, dikarenakan latar sejarah panjang dan pengaruhnya yang besar, karya-karya sastra Tiongkok tidak hanya menjadi sarana ekspresi diri, tetapi juga dapat menjadi sebuah wadah yang menjadi representasi dari pengalaman serta dampak yang dirasakan masyarakat di Tiongkok. Dari berbagai bentuk sastra di Tiongkok, lahirlah banyak penulis yang memberikan kontribusi terhadap dunia kesusastraan, yang dapat eksis hingga saat ini.
Salah satu penulis tersebut adalah Xiao Hong. Selama Xiao Hong berkarya, gaya penanya yang tajam dan bahasa yang sangat visual dapat berhasil membangun karakter melalui beberapa frasa, selain itu ia juga sering dianggap lebih maju dari jamannya. Xiao Hong dikenalkan pada dunia Tiongkok 1930-an oleh sastrawan, Lu Xun (Lee, 2003). Dari antara seluruh karyanya, ia meninggalkan sebuah cerita pendek legendaris berjudul “Tangan”.
Cerita pendek 手 berangkat dari pengenalan seorang gadis desa bernama Wang Yaming yang memiliki tangan berwarna hitam yang berbeda dengan teman-teman sekolahnya yang lain, hal ini disebabkan dari membantu ayahnya, seorang pencelup warna pakaian. Perbedaan tangan yang ia miliki membuatnya mengalami diskriminasi bentuk penolakan saat berupaya untuk menaikkan status kelas sosial melalui sekolah.
Bagaimana cerpen “Tangan” menggambarkan proses penolakan masyarakat terhadap Wang Yaming, yang berakar melalui perbedaan fisik (tangan hitam), dan bagaimana penolakan itu pada akhirnya membentuk konsep dirinya?
Pembahasan
Tangan Hitam Pembawa Status Kelas Sosial Tokoh Wang Yaming
Sebagai anak yang lahir dari kelas sosial buruh, Wang Yaming dan seluruh saudaranya ikut membantu pekerjaan sang ayah sebagai seorang pencelup warna pakaian.
“爹爹染黑的和篮的,姐姐染红的……” (Ayah mewarnai hitam dan biru, kakak mewarnai merah) “我的手是黑的,细看才带点紫色,那两个妹妹也都和我一样。” (Tanganku berwarna hitam, dilihat seksama baru terlihat sedikit ungu, kedua adik perempuan juga sama seperti saya.)
Kutipan-kutipan tersebut menunjukkan bahwa tangan hitam Wang Yaming tidak hanya sebuah ciri fisik melainkan ikut serta dalam menandai status kelas sosialnya sebagai keluarga buruh. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya pendapatan yang didapatkan sebagai pencelup warna pakaian, sehingga seluruh anggota keluarga ikut serta dalam melakukan pekerjaan tersebut guna memenuhi kebutuhan sehari-hari serta biaya sekolah Wang Yaming.
“我的学费……把他们在家吃鹹盐的钱都给我拿来” (Biaya sekolahku… seluruh uang untuk makan garam di rumah mereka berikan kepadaku)
Melalui kutipan ini pula, dapat jelas mendukung bahwa tangan hitam yang Wang Yaming miliki berasal dari profesi keluarganya. Dengan demikian, tangan hitam Wang Yaming dapat menyimbolkan identitas status kelas sosial keluarganya, di mana pembawaan penyimbolan dari tangan hitam ini kemudian menjadi akar dari perbedaan dan penolakan tokoh Wang Yaming saat berada di Sekolah, tempat yang memiliki status kelas sosial yang berbeda dengannya.
Sekolah sebagai Tempat Penolakan Masyarakat pada Tokoh Wang Yaming
2.1. Penolakan Akibat Perbedaan Latar Belakang oleh Teman-teman di Sekolah
Dalam cerpen 手 sebagian besar cerita ini berasal dari sudut pandang seorang siswi teman sekelas Wang Yaming, Nona Xiao. Ia membuka cerita dengan menunjukkan perbedaan antara Wang Yaming dengan teman sekelasnya sejak awal.
“在我们的同学中,从来没有见过这样的手” (Diantara teman sekelas kami, tidak pernah melihat tangan yang seperti itu.)
Berdasarkan perbedaan tersebut, Wang Yaming kemudian mendapat panggilan, “Monster” (怪物). Hal ini dapat berubah menjadi diskriminasi, atas dasar memanggil seseorang yang dianggap berbeda dengan sebutan lain. Selain pada awal cerpen, Wang Yaming juga mengalami penolakan lain oleh teman-teman sekolahnya di asrama.
“我不要她,我不和她并床……” (Saya tidak mau dia, saya tidak (akan) bersatu ranjang dengannya….) “后来她们就开着玩笑,甚至于说出害怕王亚明的黑手而不敢接近她。” (Kemudian mereka bercanda, bahkan sampai mengatakan bahwa mereka takut pada tangan hitam Wang Yaming, dan tidak berani mendekatinya.)
Melalui dua kutipan didapatkan penolakan langsung oleh teman-teman sekolah terhadap Wang Yaming, hanya karena ia ingin mendapatkan hak yang sama dengan siswi-siswi lain di sekolah. Berbagai alasan penolakan tersebut membuat ia akhirnya tidur di sebuah kursi panjang di lorong asrama sekolah, hal ini menunjukkan bagaimana penolakan tersebut tidak lagi hanya secara pasif melalui nama panggilan, melainkan tindakan langsung yang membuat Wang Yaming tidak mendapatkan hak yang sama dengan teman-teman sebayanya.
2.2. Penolakan Kehadiran Tokoh Wang Yaming oleh Pihak Sekolah
Penolakan tidak hanya berasal dari teman-teman sesama siswi sekolah saja, penolakan juga datang dari para pihak yang bekerja di sekolah, tempat Wang Yaming berjuang untuk menaikkan status sosialnya.
“你的手,就洗不净了吗?多加点肥皂!” (Tanganmu, apa sudah dicuci bersih? tambahkan lebih banyak sabun!) “既然是不整齐,戴手套也是不整齐。” (Jika memang tidak rapi, pakai sarung tangan juga tidak akan rapi) “还哭!还哭什么?来了参观的人,还不躲开” (Masih menangis! Apa yang masih ditangisi? orang yang berkunjung telah datang, masih belum bersembunyi)
Kutipan-kutipan di atas berasal dari seorang pemegang wewenang tertinggi di sekolah, kepala sekolah. Sejak awal cerita, kepala sekolah terlihat seperti menolak keberadaan Wang Yaming karena kondisinya yang berbeda dengan siswi-siswi lain. Kepala sekolah tidak hanya menyuruh Wang Yaming membersihkan tangannya yang hitam, namun juga menunjukkan penolakan dalam upaya Wang Yaming untuk menutupi tangan hitamnya sebagai bagian dari upaya penerimaan dirinya, yang langsung ditolak oleh kepala sekolah dengan mengatakan kutipan kedua. Tidak berhenti, penolakan kehadiran Wang Yaming untuk diketahui oleh orang-orang yang datang ke sekolah tersebut, seperti kutipan ketiga juga menjadi petunjuk bagaimana pihak dari sekolah menolak diri Wang Yaming bagaimanapun ia berupaya untuk menutupi tangan hitamnya.
“我说,这也不行……不讲卫生,身上生着虫类,什么人还不想躲开她呢?” (Saya katakan, ini juga tidak boleh... tidak menjaga kebersihan, tubuh memiliki kutu, orang seperti apa yang tidak ingin menjauh darinya?)
Pernyataan di atas dikeluarkan oleh seorang ibu pengurus asrama, melalui kutipan di atas dapat tergambar bagaimana penolakan yang Wang Yaming alami oleh pihak sekolah tidaklah pandangan saja, melainkan diskriminasi yang ditujukan langsung kepada Wang Yaming oleh pihak berwenang sekolah. Melalui perkataan tersebut, pengurus asrama tidak hanya menolak kehadiran Wang Yaming, namun juga seperti melakukan ajakan untuk tidak mendekati Wang Yaming dengan memandang negatif Wang Yaming yang dianggap “kotor” dan memiliki kutu.
Selain dari kepala sekolah serta ibu pengurus asrama, terdapat pula pelaku lain yang menolak Wang Yaming di sekolah.
“你没按过铃吗?” (Kamu belum menekan bel?) “按铃没有用,喝喝,校役开了灯,来到门口,隔着玻璃向外看看……可是到底他不给开。” (Menekan bel tidak akan berguna, hehe. Penjaga sekolah menyalakan lampu, datang sampai ke pintu, melihat keluar melalui kaca... tapi pada akhirnya tidak ia bukakan.)
Penjaga sekolah ini, menjadi pihak yang juga turut serta menolak keberadaan Wang Yaming dengan tidak menganggap ia penting seperti siswi lainnya di sekolah, karena setelah melihat Nona Xiao ikut menunggu pintu dibukakan, penjaga sekolah tersebut langsung mengubah sifatnya dan bertanya hanya kepada Nona Xiao seorang. Sikap ini menunjukkan penolakan secara tidak langsung terhadap kehadiran Wang Yaming untuk masuk sekolah oleh sang penjaga sekolah. Dampak Penolakan pada Wang Yaming Sejak awal cerita pendek 手, Wang Yaming sudah digambarkan sebagai seseorang yang menyadari dirinya berasal dari desa dan menganggap dirinya tidak memiliki kemampuan yang sama dengan teman-temannya.
“我的脑筋笨,乡下人的脑筋没有你们那样灵活。” (Otak saya bodoh, otak orang desa tidak ada yang selincah milik kalian.)
Ucapan ini tampak seperti pernyataan biasa tentang dirinya, tetapi juga menjadi bukti bahwa sejak awal ia sudah memandang dirinya berbeda dan lebih rendah dibandingkan teman-temannya atau yang disebut dengan konsep diri. Konsep diri dalam Widiarti, P. W. (2017) adalah pemahaman tentang diri sendiri yang timbul akibat interaksi dengan orang lain. Cara pandang Wang Yaming tersebut tidak terbentuk hanya dari kondisi dirinya saja, melainkan juga dari pengalaman penolakan yang dialami keluarganya ketika mencoba mendapatkan hak umum yang sama dengan keluarga dari kelas sosial lain.
“那医生知道她是没有钱的人,就不给她看病…… 他先向我要马车钱…… 你家是干什么的?你家开染缸房吗?…… 不能去看这病,你回去吧。” (Dokter itu tahu bahwa dia orang yang tidak punya uang, jadi tidak mau mengobatinya… Pertama dia meminta kepadaku uang ongkos kereta kuda… ‘Keluargamu bekerja apa? Keluargamu membuka usaha pencelup warna pakaian ya?’… ‘Penyakit seperti ini tidak bisa diperiksa. Kamu pulang saja.)
Melalui kutipan-kutipan ini, terlihat jelas pengalaman penolakan yang dialami keluarga Wang Yaming sebelum ia masuk sekolah. Dokter menolak mengobati ibunya karena mereka berasal dari kelas sosial buruh. Hal ini menjadi petunjuk bahwa dasar pemahaman diri Wang Yaming tidak terbentuk di sekolah, tetapi dari lingkungan sekitar kemudian menjadikan sekolah menjadi tempat puncak penolakan yang dihadapi dari lingkungan sekitarnya. Penolakan-penolakan tersebut muncul karena adanya diskriminasi yang ia terima di sekolah. Setelah liburan musim panas, kondisinya mulai berubah.
“王亚明却渐渐变成了乾缩,眼睛的边缘发着绿色,耳朵也似乎薄了一些,至于她的肩头一点也不再显出蛮野和强壮。” (Namun, Wang Yaming perlahan-lahan mengering dan menyusut. Ujung matanya tampak kehijauan, telinganya pun seakan menipis, dan pundaknya sama sekali tidak lagi menunjukkan kesan kuat.) “王亚明哭了这一次,好象风声都停止了,她还没有停止。” (Kali ini Wang Yaming menangis. Seakan-akan suara angin pun berhenti, sementara ia sendiri belum berhenti menangis.)
Wang Yaming mulai menunjukkan kelemahan fisik dan emosional yang tidak ia miliki sebelumnya. Ia terlihat sakit, rapuh, dan tidak lagi sekuat dulu.
“像你们多聪明!功课连看也不看,到考试的时候也一点不怕。我就不行,也想歇一会,看看别的书…… 可是那就不成了……” (Kalian itu pintar sekali! bahkan PR saja tidak kalian lihat, dan saat ujian pun kalian sama sekali tidak takut. Aku tidak bisa begitu. Aku juga ingin beristirahat sebentar, membaca buku lain… tetapi itu tidak mungkin bagiku…)
Melalui pengamatannya terhadap teman-temannya, seperti Nona Xiao, ia kembali menegaskan perbedaan antara dirinya dan mereka. Penolakan yang ia alami terus berlanjut hingga akhir cerita, ketika ia tidak dapat mengikuti ujian karena keputusan Kepala Sekolah. Hal tersebut ditunjukkan dengan jawaban untuk menjawab pertanyaan ayahnya alasan ia pulang,
“… 校长告诉我,说我不用考啦,不能及格的……” (Kepala sekolah memberitahu saya, mengatakan saya tidak perku ujian, tidak akan lulus juga…)
Keputusan tersebut membuat Wang Yaming hanya bisa pasrah karena ia tidak memiliki kuasa untuk menentang otoritas tertinggi di sekolah. Keseluruhan penolakan yang berakar dari diskriminasi inilah yang membentuk konsep diri Wang Yaming, terutama dalam cara ia memandang dirinya sebagai seseorang yang tidak pernah dianggap setara oleh masyarakat.
Kesimpulan Pembawaan ciri fisik tangan hitam Wang Yaming sejak awal cerita tidak hanya bersifat ciri fisik, tetapi juga sebagai penanda status kelas sosial keluarganya; buruh. Pengalaman hidupnya menumbuhkan kesadaran akan perbedaan kelas, yang kemudian membentuk menjadi sebuah konsep diri yang negatif, yaitu pandangan bahwa dirinya adalah "orang desa yang berotak bodoh". Serangkaian perlakuan diskriminatif yang menolak kehadirannya di sekolah secara bertahap mengubah sikap dan upaya perjuangannya. Hingga akhirnya, penolakan akhir dari kepala sekolah memaksanya untuk berhenti berjuang. Konsep dirinya pun terbentuk secara jelas sebagai seseorang yang tidak akan bisa menang, menaikkan status sosial keluarganya.
Daftar pustaka
- Rani Siti Fitriani dkk. (2021). Ensiklopedi Bahasa dan Sastra Modern: Sejarah Dan Pengertian Sastra. Hikam Pustaka. Perpustakaan Nasional RI.
- Lee, L. X. H. (2003). [Review of The Field of Life and Death and Tales of Hulan River (Revised Edition), by X. Hong & H. Goldblatt]. China Review, 3(1), 148–151. http://www.jstor.org/stable/23461831
- Widiarti, P. W. (2017). KONSEP DIRI (SELF CONCEPT) DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM PENDAMPINGAN PADA SISWA SMP SE KOTA YOGYAKARTA. Informasi, 47(1), 135–148. https://doi.org/10.21831/informasi.v47i1.15035
Disclaimer,
Tulisan ini merupakan analisis intrinsik terhadap cerpen “手 (Tangan)” karya Xiao Hong, ditulis untuk kepentingan akademik dan apresiasi sastra. Seluruh kutipan digunakan secara terbatas untuk tujuan analisis.
메타데이터
- post_id
- d16fe4c0ffa9
- slug
- penolakan-masyarakat-sebagai-pembentuk-konsep-diri-wang-yaming-dalam-cerpen-手-d16fe4c0ffa9
- url
- https://medium.com/@menyeenangkan/penolakan-masyarakat-sebagai-pembentuk-konsep-diri-wang-yaming-dalam-cerpen-%E6%89%8B-d16fe4c0ffa9
- canonical_url
- https://medium.com/@menyeenangkan/penolakan-masyarakat-sebagai-pembentuk-konsep-diri-wang-yaming-dalam-cerpen-%E6%89%8B-d16fe4c0ffa9
- author_url
- https://medium.com/@menyeenangkan
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 03:39:34