← Back to list

Mengapa Warga Bangka Marah?

Seorang kawan, via DM Instagram mengirimkan postingan video demonstrasi ke kantor PT. Timah, “prediksimu beberapa tahu lalu, terjadi…

Typewriter · 2025-10-07 05:43 · 17 claps · 2.9 min read
#bangka-belitung #bangka #timah #democracy #demonstrasi
Open on Medium ↗
Wiki topics: PHI · Philosophy SOC · Sociology & Politics 🏛️ · Politics

Mengapa Warga Bangka Marah?

anak-anak di pertambangan timah. foto oleh Resha Juhari

anak-anak di pertambangan timah. foto oleh Resha Juhari

Seorang kawan, via DM Instagram mengirimkan postingan video demonstrasi ke kantor PT. Timah, “prediksimu beberapa tahu lalu, terjadi sekarang. Apakah kamu ini orang dari masa depan?”

Beberapa tahun lalu, saya memprediksi bahwa pada satu masa, masyarakat Babel akan mengalami kesusahan ekonomi yang parah & kesusahan seringkali memantik orang berbuat di luar kebiasaan.

Pada dasarnya, orang Bangka berkarakter apatis (tidak peduli), hal itu terbukti dengan slogan “dak kawa nyusa/tidak mau repot”. Masyarakat yang demikian biasanya bukanlah masyrakat yang anarkis atau suka ngamuk. Jika masyarakat demikian sampai ngamuk, maka tentu persoalan di kehidupan sehari-hari yang mereka alami sudah gawat.

Di kolom komentar Instagram Bangka Pos pada video demo ke PT. Timah, muncul dua pendapat dangkal, bahkan berbahaya. Pertama, tuduhan bahwa yang melakukan demonstrasi ialah orang luar, alias pendatang. Siapa yang dimaksud pendatang? Bukankah semua orang Bangka aslinya ialah pendatang dari daratan Sumatra, Malaysia, Jawa, bahkan Tiongkok, dll?

Suku Melayu yang dianggap asli pun sejatinya ialah manusia yang pada masa lampau datang dari daratan Sumatra atau Malaysia. Jadi siapa yang kamu maksud asli/pribumi? Siapa yang kamu maksud pendatang? Jika satu jari telunjukmu mengarah ke orang lain, maka empat jarimu yang lainnya mengarah ke diri sendiri. Wahai warga Bangka, jika punya kuota internet, coba baca-baca sebentar di Internet, orang Bangka itu dari mana. Jika punya uang lebih dan punya waktu luang, belilah buku & bacalah pelan-pelan.

Pada dasarnya, manusia memang suka melimpahkan & mengkambinghitamkan “yang lain” ketika terjadi masalah yang menimpa dirinya. Hal demikian ialah tanda ketakmampuan mengenali pokok permasalahan & tak memiliki rasa tanggungjawab dalam dirinya. Dan biasanya orang yang demikian jarang mengapresiasi “yang lain” itu jika berprestasi.

Yang kedua, didominasi komentar yang menganggap orang-orang yang berdemonstrasi “ber-SDM rendah”. Apakah Edward W. Said, penulis buku Orientalism yang terkenal itu, yang berdemo menentang penjajahan Israel atas Palestina dengan melempar batu, saya ulangi: melempar batu, itu ber-SDM rendah? Apakah Reza Rahadian, yang ikut demo juga ber-SDM rendah? Apakah Soe Hok Gie yang ikut demo di dua rezim, orde lama & baru, ber-SDM rendah?

lahan yang rusak karena pertambangan. foto oleh Resha Juhari

lahan yang rusak karena pertambangan. foto oleh Resha Juhari

Anarkisme, pada sejatinya ialah wacana yang dicetuskan para filsuf, para pemikir, para intelektual. Dari Pierre-Joseph Proudhon, Mikhail Bakunin, William Godwin, Max Stirner, dll-nya itu, apakah mereka ber-SDM rendah? Saya tak memihak/menolak aksi anarkisme demo di Bangka kemarin, posisi saya sebagai pemikir ialah netral. Namun, yang ingin saya tegaskan ialah bahwa anarkisme yang jenisnya bermacam-macam itu lahir dari diskursus: pertukaran ide, wacana, dan pemikiran. Ada alasan orang menjadi anarkis & melakukan tindakan anarkis.

Baiklah, mari kita asumsikan bahwa peserta demo tak terpengaruh wacana filsafat anarkisme. Apa penyebab warga ngamuk? Kesulitan mencari lapangan pekerjaan, harga-harga bahan pokok naik, lingkungan yang rusak, tak sebandingnya harga per kilo hasil perkebunan dengan harga bahan pokok, aktivitas pertambangan di laut Batu Beriga yang menyulitkan nelayan, apakah hal tersebut tidak memantik kemarahan? Jangan lupakan korupsi timah maha dahsyat, apakah itu tak memantik kemarahan?

Saya iseng mengecek salah satu akun yang menuduh orang-orang yang berdemonstrasi ber-SDM rendah? Isi Instagramnya menunjukkan hedonisme, gaya hidup kaum menengah ke atas. Artinya apa? Dia sejatinya berjarak dengan penderitaan & kesusahan warga. Ia tak pernah tahu betapa pontang-panting warga menengah ke bawah bekerja. Saya yakin dia tak pernah memikul karung sahang, tak pernah berendam di lubang camoy, tak pernah tangannya menarik jala, tak pernah menantang laut maha bahaya. Hidupnya ia habiskan di gym mahal, memoles tubuh agar bagus. Hey si SDM tinggi, warga yang pontang-panting itu tak pernah memikirkan ke gym atau cafe mahal, sebab hidupnya sudah habis disita mencari sesuap nasi demi keluarga?

Jadi siapa yang ber-SDM rendah?

Masa depan Bangka, Belitung, ada di generasi muda. Masa depan itu dimulai dengan kolaborasi, kerja sama, bertanggungjawab, terus belajar meningkatkan pengetahuan dan kemampuan taktis lainnya, bukan saling menyalahkan-menuduh orang lain. Seorang pemimpin legendaris di masa lampau pernah berkata, “kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik”. Terus bersuara, jangan “dak kawa nyusa”.


메타데이터
post_id
d17c0ed3290f
slug
mengapa-warga-bangka-marah-d17c0ed3290f
url
https://medium.com/@jemi.batin.tikal/mengapa-warga-bangka-marah-d17c0ed3290f
canonical_url
https://medium.com/@jemi.batin.tikal/mengapa-warga-bangka-marah-d17c0ed3290f
author_url
https://medium.com/@jemi.batin.tikal
status
ok
fetched_at
2026-07-17 00:25:38