Pandanganku Terhadap Perempuan Dominan
Hai, panggil aku cerenifae. Saat ini aku masih kelas 2 di bangku SMA, sepecifically MAN.
Pandanganku Terhadap Perempuan Dominan
Hai, panggil aku cerenifae. Saat ini aku masih kelas 2 di bangku SMA, sepecifically MAN.
Di sini, aku berinisiatif membahas tentang perasaanku terhadap alpha woman karena tiba-tiba saja aku kepikiran.
Lusa lalu aku berbincang dengan teman sebangkuku tentang pekerjaan dan gajinya. Kemudian, aku ingat dia berkata yang pada intinya dia nanti bekerja hanya ingin untuk menyibukkan dan memuaskan dirinya. Ya, kita tahu kalau uang perempuan nanti buat dia sendiri kalau udah berpasangan. Karrna pemikirannya itu, dia bertanya secara retoris ya mengapa perempuan harus bekerja dengan hasil upah yang banyak kalau bukan kewajiban kita untuk memenuhi rumah tangga, kan yang berkewajiban punya uang banyak itu pasangan lelaki kita.
Hari ini, aku menulis ini setelah berpikir dan menuangkannya bermedia kertas. Okay, this is what we should discuss.
Otakku bereaksi, iya juga yaa mengapa perempuan harus kerja dengan banyak upah nantinya?.
Mulai dari situ, pandanganku terhadap gila kerja lumayan mereda. Ditambah sepulang dari forum penelitian. Tujuanku sebagian berubah. Yang tadinya abstrak aku ingin banyak uang sekarang aku ingin menjadi pendidik, pembina riset, dan peneliti.
Mungkin itu agak sulit, karena bekal risetku belum terlalu mumpuni. Tapi aku berusaha, belajar, berdoa.
Kembali dengan permasalahan upah. Benar juga di mana ketika perempuan memiliki upah yang lebih banyak dari pasangannya tentu akan membuat si lelaki entah merasa insecure, direndahkan, dan semacamnya.
Itulah mengapa aku kemudian merefleksi diriku, apakah tidak apa menjadi seorang perempuan alpha?
Perempuan alpha atau perempuan dominan sebenarnya tidak hanya berorientasi pada upah yang didapat lebih besar nantinya, tetapi juga tentang kognitif, prinsip, kepercayaan dirinya, pandangan tentang pasangan juga sih.
Aku menyadari diriku belum turut menjadi perempuan alpha tapi entah mengapa rasanya aku begitu.
Aku bercerita seidikit tentang aku dan masa lalu pasanganku. Di situ, aku memang merasa kalau dia agak berada di bawahku. Ini bukan tentang kesombongan, tapi aku melihat dia begitu, walaupun aku tidak baik, dan sekarang aku tahu diriku kala itu toxic.
Ini yang membuatku kemudian berpikir, apakah manifestasi benih perempuan alpha sudah ada di dalam diriku?
Aku memecah pemikiranku mengapa aku ingin menjadi perempuan alpha adalah karena aku tidak ingin bergantung, tidak ingin direndahkan, tidak ingin diremehkan oleh siapapun pasanganku nanti. Iya. Siapapun perempuan pasti ingin bersama dengan psangannya dalam artian bukan hanya secara fisik, tapi juga visi misi menciptakan keluarga yang baik bagi mereka. Itu juga citaku.
Aku ga ingin menjadi perempuan yang berpikir bahwa aku lebih unggul dari pasanganku, entah itu kognitif, upah, usaha atau yang lain. Melainkan nantinya aku ingin kita bersama membangunnya tanpa rasa rendah, hina, malu. Aku tetap ingin menjadi perempuan dengan power kognitifitas dan upah tapi dengan tidak adanya kerendahan bagi keduanya. Maka, teruntuk siapapun nanti lelakiku, aku mengatur standartku di mana kamu harus mau membimbingku, memberiku arahan, ilmu-ilmu baru, kasih, cinta, sayang, tanpa adanya insecure atau kerendahan bagi kita tapi dengan kebersamaan. Ya tentu kamu harus jadi yang dominan tapi jangan merendahkan, kamu lelakiku nanti harus berpikiran bahwa aku sebagai pasanganmu tetap butuh kamu lebih unggul tapi tidak mengungguli dan tidak menyaingi.
메타데이터
- post_id
- d19b07166f74
- slug
- pandanganku-terhadap-perempuan-dominan-d19b07166f74
- url
- https://medium.com/@faridasumaiha0507/pandanganku-terhadap-perempuan-dominan-d19b07166f74
- canonical_url
- https://medium.com/@faridasumaiha0507/pandanganku-terhadap-perempuan-dominan-d19b07166f74
- author_url
- https://medium.com/@faridasumaiha0507
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 21:52:29