← Back to list

Catatan Musim 02- Dua Bulan di Kelas Dua

Kecamuk pikiran masih mendidih sejak tadi malam. Lambat laun ia agak adem. Saya coba tarik-buang napas, semacam meditasi kecil-kecilan. Apa…

Fathia Dagama · 2025-09-21 15:36 · 25 claps · 1.5 min read
#nulis #menulis #nulisajadulu #kontemplasi #guru
Open on Medium ↗

Catatan Musim 02- Dua Bulan di Kelas Dua

Photo by Javas rabni on Unsplash

Photo by Javas rabni on Unsplash

Kecamuk pikiran masih mendidih sejak tadi malam. Lambat laun ia agak adem. Saya coba tarik-buang napas, semacam meditasi kecil-kecilan. Apa boleh buat? Tidak mungkin perkataan saya meledak-ledak di depan tiga puluh sembilan anak polos yang kadang begitu menggemaskan sekaligus menguji kesabaran.

Dua bulan bersama mereka sama saja dengan belajar mendidik diri. Segala karakter dan latar belakang butuh penyesuaian. Setiap dari mereka sangat unik, punya ciri khas sendiri. Kadang saya hanya bisa menatap pasrah dengan keabsurdan tingkah mereka yang di satu sisi membuat saya lelah, tapi di sisi lain membuat saya tersenyum tanpa sadar.

Serasa dunia sangat bising dan berputar cepat ketika melihat mereka berceloteh tanpa jeda, berlari-lari sambil meloncat seperti di bawah kaki mereka ada per. Tawa mereka yang pecah tanpa beban seolah menyentil saya yang selama ini terlalu serius memandang kehidupan.

Benarlah jugak lah kata Winnie : “Sometimes The Smallest Things Take up The Most Room in Your Heart.” Bersama mereka, kaca mata saya berubah: hal-hal kecil yang sederhana bisa jadi energi positif yang menghangatkan hati, kepolosan bisa jadi pelajaran, dan kebisingan bisa jadi cara lain untuk merayakan hidup.

Pernah suatu kali, seorang murid dengan polosnya bertanya sesuatu yang sederhana, tapi membuat saya bingung menanggapi. “Bu, kalau kita capek sekolah, boleh nggak main aja seharian?” Saya hanya tertawa waktu itu, tapi setelah pulang saya berpikir: memang benar, kadang kita butuh berhenti sebentar, bermain, tertawa, dan lupa dengan beban. Dari mereka saya belajar untuk tidak menutup diri dari jeda-jeda kecil itu.

Meskipun setelah bersama mereka energi sosial saya habis terkuras, justru ada dorongan aneh yang membuat saya ingin kembali besok, dan besoknya lagi untuk bertemu mereka. Mereka yang membuat saya merasa I can keep on going long after I can’t.

Mungkin inilah esensi mengajar: bukan hanya soal memberi pengetahuan, tapi juga tentang ikut tumbuh bersama mereka, ikut belajar dari mereka. Semoga setiap lelah, setiap tawa, setiap pasrah, pada akhirnya bermuara menjadi sesuatu yang bermanfaat, baik bagi mereka maupun bagi diri saya sendiri.

dah, segitu dulu ceritanya. bay.

— F2AD


메타데이터
post_id
d19d588d80af
slug
catatan-musim-02-dua-bulan-di-kelas-dua-d19d588d80af
url
https://medium.com/@fathiadagama/catatan-musim-02-dua-bulan-di-kelas-dua-d19d588d80af
canonical_url
https://medium.com/@fathiadagama/catatan-musim-02-dua-bulan-di-kelas-dua-d19d588d80af
author_url
https://medium.com/@fathiadagama
status
ok
fetched_at
2026-07-17 09:35:44