Kamar ke Kamar: Pembacaan Buku Foto Your Room, Reflects You — Cecilia Elma
Dokumentasi pribadi
Kamar ke Kamar: Pembacaan Buku Foto Your Room, Reflects You — Cecilia Elma

Dokumentasi pribadi
“Bangun tidur, ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi, ku tolong ibu, membersihkan tempat tidurku.”
Lirik lagu tersebut cukup familiar dalam ingatan masa kecil kita. Lagu yang diciptakan oleh Soerjono atau yang lebih dikenal sebagai Pak Kasur banyak diajarkan di Taman Kanak-kanak, juga populer di televisi.
Siapa menyangka bahwa aktivitas dalam lagu tersebut ternyata mengandung priviledge keluarga tertentu. Tentang seorang anak yang begitu riang, karena bisa terbangun dari tidur pulas di kamar yang ia miliki sendiri.
Kekhidmatan dalam menyanyikan lagu tersebut mungkin tidak dialami oleh Cecilia Elma ketika masa kanak-kanaknya dulu. Dimana ia harus berbagi kamar dengan anggota keluarganya yang lain. Belakangan Cecil menyadari pentingnya ruang aman, serta peran kamar dalam menopang kehidupannya yang semakin dewasa.
Qodarullah, cita-citanya semasa kanak-kanak itu akhirnya terwujud, ketika ia melanjutkan studinya di Yogyakarta. Cecil akhirnya bisa menempati kamar pribadinya, berupa kamar kos yang siap untuk menjadi teman dan ruang untuk mengisi cerita kesehariannya.
Atas dasar itu juga, karya Your Room Reflects You mengawali debutnya bersama Project 36x36 sebagai bentuk rasa syukur atas kamar pribadi yang dimilikinya, walaupun bersifat sementara.
Dalam proses penciptaan karyanya, Cecil melakukan kunjungan ke kamar milik teman dan rekanannya yang berjumlah 35 orang. Ia melakukan wawancara seputar kamar sebagai ruang aman untuk beristirahat, berkarya, menangis, dan masturbasi.
Ia juga melakukan pemotretan secara spontan (uhuy), tanpa melakukan sentuhan dan intervensi terhadap kamar yang ia kunjungi. Kita bisa melihat setiap foto yang tersaji secara natural, difoto dengan focal leght yang sama, dengan kompisisi yang seolah menaruh rasa penasaran.
Yang menjadi perhatian saya dalam proses tersebut adalah interaksi yang terjalin antara Cecil dengan pemilik kamar. Mengingat, kamar merupakan sesuatu yang sangat privat dan tidak semua orang bersedia untuk dikunjungi, apalagi difoto. Selain itu, Cecil mengaku bahwa tidak semua subjek fotografinya adalah teman dekatnya, tetapi ada juga rekanan yang ia kenal dari temannya, atau mudahnya temannya teman.
Saya melihat kunci penting dari Your Room, Reflecst You, yakni proses negosiasi yang terjadi sebelum memotret. Untuk melihat alasan lebih lanjut kenapa proses negosiasi itu menjadi penting, saya teringat dengan salah satu puisi Emha Ainun Nadjib yang berjudul “Tamu yang Terlalu”,
“Ada teman yang datang kita temui di beranda, ada yang di ruang tamu, ada yang kita persilahkan masuk ke ruang dalam, bahkan silahkan ambil makan minum di dapur.
Tiba-tiba ada sahabat yang berani masuk kamar pribadi kita.”
Tentu saja, sebuah puisi dapat bermakna konotatif, tetapi kita akan melihatnya secara denotatif tentang bagaimana pemetaan batasan tamu dalam stuktur rumah budaya ketimuran. Emha membagi klasifikasi tamu berdasarkan kedekatan. Tidak semua teman memiliki porsinya yang sama dalam hak untuk mengakses bangunan rumah. Kedekatan pertemanan itu ia terjemahkan berdasarkan ruang mana yang ia persilakan untuk dikunjungi. Misal kita baru mengenal seseorang, tentu saja kita tidak bisa serta merta masuk ke kamarnya. Kita mungkin hanya dipersilakan untuk duduk di ruang tamu. Namun, hal tersebut akan terus bertumbuh seiring kedekatan jalinan pertemanan yang kita bangun.
Saya memahami bahwa mayoritas kamar yang Cecil foto adalah kamar kos-kosan, dimana ia tidak memiliki pemetaan yang kompleks tentang batasan tertentu. Tetapi bukankah ruang tidak hanya yang bersifat fisik? Ada juga ruang yang bersifat emosional, seperti batasan kita dalam berinteraksi dengan seseorang, informasi apa yang perlu kita berikan kepada mereka, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, saya melihat Cecil berhasil menjalin negosiasi hingga ia diberikan kesempatan untuk menggali informasi pribadi dan memotret kamar yang subjeknya tinggali. Sesuatu yang sangat saya apresiasi mengingat saya tidak memiliki kemampuan sosial sekeren itu.
Saya juga melihat tentang bagaimana Cecil melakukannya secara hati-hati. Jika kita lihat masing-masing foto dalam buku foto yang diterbitkan oleh SOKONG! pada tahun 2023 tersebut, kita akan melihat, bahwa subjek dalam karya fotografi Cecil adalah anonim. Ketika saya bertanya kepada Cecil, mengapa hal tersebut ia lakukan. Cecil menjawab bahwa ada sebagian subjeknya yang memang tidak ingin identitasnya diketahui dengan alasan tertentu. Kemudian Cecil mengambil keputusan untuk meniadakannya sama sekali terhadap subjeknya yang lain.
Hal itu kiranya dapat menjadi catatan tentang bagaimana Fotografer/ seniman ajeg terhadap gagasan yang ingin dibangun. Jika kita masih mengingat, Cecil membicarakan tentang ruang aman. Maka dengan melakukan anonimitas tersebut, Cecil juga telah menghadirkan ruang aman yang tidak hanya sebagai cerita karangan belaka, tetapi sudah mewujud menjadi tindakan.
Di sisi lain, saya melihat foto dengan subjek yang anonim ini seperti cermin. Sesuai dengan judulnya, Your Room Reflects You, saya kemudian merefleksikan diri saya ke dalam ruangan yang cocok untuk saya tinggali, ataupun ruangan yang memiliki kedekatan secara fisik dan emosional seperti yang saya miliki di rumah.

Dokumentasi pribadi
Saya melihat diri saya ada pada ruangan di halaman 66–67. Di sana ada seorang yang sedang duduk di lantai, menghadap ke arah kiri dari kamera, rak buku yang penuh, kasur tanpa dipan, kipas angin, juga pendar cahaya berwarna merah. Saya melihat diri saya, dalam nuansa yang murung dan penuh kehampaan itu.
Selain itu, ada juga fotografer lain yang menceritakan tentang kamar, yakni Jerry Aurum dengan karya yang berjudul “In My Room” yang terbit pada tahun 2009. Namun bedanya yang Jerry potret adalah kalangan selebritis, tokoh terkenal dan model. Identitasnya jelas dan kita tahu mereka dari kelas sosial yang mana.

Sumber foto: https://ebooks.gramedia.com/id/buku/in-my-room
Dalam karya Jerry kita akan melihat perbedaan yang kentara secara emosional dengan apa yang dilakukan Cecil. Hal ini bisa karena beberapa faktor, seperti kita sangat familiar dengan subjek yang difoto, pendekatan yang dilakukan Jerry seperti kebutuhan foto untuk majalah, dan kamar yang dimiliki para selebritis tentu saja harum dan mewah, mungkin tidak relate dengan kita (atau saya dalam hal ini). Kita tidak lagi melihat publik figur dalam kehidupannya yang lain, alih-alih Jerry mendokumentasikannya di dalam kamar dengan maksud untuk melihat sisi lain ataupun terdalam dari kehidupan mereka.
Berbeda dengan kamar yang dikunjungi Cecil yang rata-rata terlihat banal dan sederhana, sehingga jika Cecil memotret interior kamar tersebut secara keseluruhan, tidak muncul kesan tentang foto-foto dalam buku arsitektur dan interior yang dapat kita temui di BBW secara diskon. Sehingga lebih mudah untuk relate dengan orang banyak.
Namun, saya juga tidak ingin membela karya Cecil secara membabi buta. Dalam beberapa hal saya merasa ada bagian penting yang justru luput dari amatan.
Hal ini saya jumpai pada tulisan pendamping dari foto di setiap halamannya. Saya rasa proses obrolan Cecil dengan subjek fotografinya tentu lebih intens dan tidak berbentuk template semacam itu, sehingga lembar demi lembarnya terasa membosankan. Cecil seolah mendikte, padahal siapa tahu kalau sebenarnya unsur personalitas individu juga bisa ditampilkan dalam teks yang lebih acak, tanpa terpaku para struktur “It’s a safe place …”.
Selain itu ketika saya bagikan buku tersebut kepada teman saya yang awam terhadap fotografi, apalagi buku foto, ia merasa beberapa fotonya tidak kontekstual dengan teks pendampingnya. Teman saya membayangkan bahwa foto yang ada setelah teks adalah perpanjangan dalam bentuk visualnya. Apalagi jika proses berkarya Cecil adalah mengobrol terlebih dahulu baru kemudian memotret, maka ia bisa mengeksplorasi clue dari setiap obrolan, mengarahkan kameranya tanpa perlu menata ulang kamar seperti ide awalnya.

Dokumentasi pribadi
Teman saya itu kemudian menunjukkan salah satu foto yang ia suka dan sesuai dengan maksud sebelumnya, yakni foto pada halaman 76–77. Ia melihat keselarasan antara teks dan foto, dan sebagai pembaca buku konvensional ia merasa bisa mengikuti dan tidak membuatnya garuk-garuk kepala.
Setelah mendengar ulasan dari teman saya itu, saya kembali membolak-balik buku foto itu, lembar demi lembar. Saya merasa ada perasaan tertentu yang menuntun saya untuk memasuki kamar, mematikan lampu, berbaring di tempat tidur dan memeluk bantal sambil menangis***
Jika kamu menyukai artikel ini dan tertarik untuk mendukung kegiatan saya dalam menulis, kamu bisa melakukannya melalui https://trakteer.id/yugaknow/tip
Terima Kasih!
메타데이터
- post_id
- d1ae31442b4b
- slug
- kamar-ke-kamar-pembacaan-buku-foto-your-room-reflects-you-cecilia-elma-d1ae31442b4b
- url
- https://medium.com/@yugaknow/kamar-ke-kamar-pembacaan-buku-foto-your-room-reflects-you-cecilia-elma-d1ae31442b4b
- canonical_url
- https://medium.com/@yugaknow/kamar-ke-kamar-pembacaan-buku-foto-your-room-reflects-you-cecilia-elma-d1ae31442b4b
- author_url
- https://medium.com/@yugaknow
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13