← Back to list

Sesi Mengarang Bebas Saat Naik Ojek

Mengapa, saya pikir, orang-orang amat getol mengarang bebas saat menaiki ojek. Saya bisa paham jika alasannya adalah faktor keamanan…

raina j in Ruang Kontemplasi · 2026-06-26 03:32 · 80 claps · 4.8 min read
#ruang-kontemplasi #esai #refleksi #renungan
Open on Medium ↗

Foto oleh Planet Volumes di Unsplash

Foto oleh Planet Volumes di Unsplash

Sesi Mengarang Bebas Saat Naik Ojek

Mengapa, saya pikir, orang-orang amat getol mengarang bebas saat menaiki ojek. Saya bisa paham jika alasannya adalah faktor keamanan. Terutama bagi perempuan yang pergi sendirian di jam-jam rawan — jangankan malam, bahkan di siang bolong pun kejahatan bisa terjadi dan kebohongan yang putih menjadi pilihan yang baik untuk dilontarkan. Ini wajar.

Saya juga dapat mengerti kalau alasannya didorong oleh perasaan risih ditanyai orang asing, sedang tidak mood karena banyak pikiran dan kelelahan, atau vibe dari ojolnya yang tidak ‘klik’. Cuma saya agak gimana gitu dengan alasan mengarang bebas hanya karena… gabut.

Maksud saya, kenapa seseorang harus selalu merasa berbohong itu perlu ketika duduk di boncengan ojek? Saya sempat menebak, selain karena alasan-alasan tadi, barangkali ini fenomena dari dunia maya yang turun gunung ke dunia nyata. Mengingat beberapa kali saya perhatikan di linimasa, percakapan mengenai mengarang bebas di atas ojol sering sekali bersliweran.

Entahlah, mungkin ini semacam fenomena ikut-ikutan yang asyik untuk ditiru. Mungkin ya.

Tapi sebelum itu, saya setuju kok kalau semua orang boleh punya kesenangannya masing-masing. Senyeleneh apa pun asal itu tidak merugikan siapa-siapa dan benar, mengarang bebas pada sesi mengojek termasuk ke dalam kategori ini. Alhamdulillah-nya begitu. Meski saya tidak bisa juga relate dengan kebiasaan ini.

Saya pribadi alhamdulillah-nya (lagi) juga belum berada dalam skenario di mana saya harus berbohong pada ojek yang membawa saya. Biasanya pertanyaan dari kang ojek saya jawab sekenanya saja. Jika sedang ingin meladeni, saya jawab terus hingga basa-basi itu jadi percakapan sungguhan. Apalagi pada dasarnya saya orang yang senang bicara (jika tidak sedang lapar).

Sampai beberapa waktu lalu, ada momen yang membuat saya sedikit ingin menyeberang ke kubu yang butuh mengarang setiap duduk di atas boncengan. Pengalaman yang tidak ingin saya ulang, baik di atas ojol atau di dalam taksi online.

Pagi itu Selasa, saya ada janji penting di suatu kafe. Lima belas menit sebelum jam pertemuan, saya sudah memesan Gojek. Tetapi karena agak sial di awal — yang bisa saja ini jadi tanda saya akan sial lagi, pesanan saya dibatalkan dan jadilah saya memesan ulang. Saya menunggu ojek kedua sambil ketar-ketir.

Jam sudah semakin mepet ditambah saya belum sarapan karena terlalu gugup. Si ojek kedua datang tanpa membawa helm ekstra — ngomong-ngomong dia sendiri juga tidak mengenakan helm padahal itu masih di daerah kota, pagi-pagi lagi, ia berkaos oblong saja, dan ini yang semakin membuat saya sebal luar biasa: ia menyetir amat pelan untuk mengobrol.

Awalnya ia memulai dengan pertanyaan basic. Saya jawab sedikit-sedikit sambil memintanya mempercepat laju sepeda (tidak untuk ditiru, ya).

Yang agak membikin pusing karena tidak tahu bagaimana alurnya, pembicaraan kami sampai pada topik pekerjaan yang tidak linier dengan jurusan kuliah yang diambil. Kebetulan si ojek ini satu almamater yang sama dengan saya, tapi beda fakultas. Dia FKIP, saya FIB.

Ia menekankan betapa semua jurusan kuliah ujung-ujungnya akan bekerja sebagai guru. Dalam hati saya menyahut “atau pegawai bank”.

Namun saya memilih diam sebab saya tahu, sekalinya saya meladeni, saya tidak akan bisa berhenti dan demi Tuhan energi saya yang sudah defisit karena tegang untuk meeting penting, khawatir datang terlambat, kesal karena mendapat ojek cerewet, dan lapar, tidak ingin saya sia-siakan sisa energi saya dengan marah sungguhan.

Kemudian ia bertanya lagi, jurusan saya apa. Oh, kalau ini bisalah saya sahuti. Pikir saya begitu. Setelah saya menjawab, ia lanjut bertanya apakah ada penyesalan di hati saya kenapa dulu mengambil kuliah yang katakanlah sulit mencari pekerjaan. Saya jawab tidak. Karena saya pun sudah siap-siap membangun portofolio sejak SMA di bidang yang jauh dari pilihan kuliah saya. Sekarang pun saya bekerja sesuai portofolio itu.

Ia semula mengapresiasi kemudian kembali memaksa poin bahwa seluruh pekerjaan akan bermuara menjadi guru. Si ojek ini, yang syukur-syukur tidak saya toyor dari belakang, mulai bertanya umur (yang tidak saya jawab dan kalau dilihat dari ceritanya, sepertinya kami seumuran) dan memberi saya wejangan yang ujung-ujungnya dia memaksakan bahwa semua sarjana, mau desperate atau tidak, akan jadi guru.

Saya di belakang agak melotot sambil tetap menjawab dalam hati, “atau pegawai bank.”

Ia masih membeo dengan nada arif yang ditekan-tekankan, disopan-sopankan, dan diramah-ramahkan. Saya di belakang mulai kebas menahan bibir untuk tidak menyahut. Ya Tuhan, tolong.

Masalahnya, saya tahu cara menekan tombol lawan bicara supaya dia kesal dan marah — meski tentu tak sebaik abang ojek itu. Biasanya saya orang yang cenderung terus terang dan tidak takut pada konfrontasi. Apalagi jika berhadapan dengan lawan bicara yang pasif-agresif, terutama dengan mereka yang pasif-agresif. Dan sialnya (ini sial yang ketiga), lawan bicara saya pasif-agresif sekali. Sialan (astaghfirullah).

Tujuan saya tinggal beberapa blok lagi. Patah juga sabar saya. Dengan satu tarikan napas dan nada pelan untuk memastikan suara saya masuk ke telinganya yang saya rasa ini mudah sebab tidak ada helm di antara kami, saya menyahut:

“Nggak semua orang ingin dan bisa jadi guru, Kak. Kakak juga tidak boleh projecting keinginan atau mimpi Kakak pada orang lain. Lagian, daripada guru, pegawai bank jadi opsi yang lebih banyak dipilih dibanding guru.”

Sepeda berbelok memasuki parkiran, saya lihat Ibu yang dengannya saya ada janji temu menghilang di pintu masuk kafe. Pemandangan itu membuat hati saya mencelus. Saya turun tanpa menoleh dan sambil terburu-buru mengucapkan “makasih”.

Dan itu, menjadi ucapan terima kasih terketus saya kepada ojek untuk yang pertama kalinya.

Barangkali karena pada dasarnya saya bermoral abu-abu, pertemuan dengan ojek itu sedikit menghantui saya bukan pada bagian bahwa saya berhasil menahan amarah atau apalah-apalah, tapi lebih kepada bagian:

1.) Saya menyesal kenapa saya diam saja walau saya begitu untuk menghemat energi — keputusan bijak tapi saya kok sesal ya dibuatnya haha, 2.) Saya menyesal tidak memotong pembicaraannya dengan, “Lah, Kakak sendiri kenapa nggak jadi guru? Ngapain nganggur dua tahun dan, sekali lagi, nggak jadi guru?” (karena dia sempat berkata dua tahun menganggur), 3.) Saya menyesal tidak menjawab, “Dan ternak lele” setelah mengusulkan pegawai bank sebagai karier pilihan top para sarjana meski saya tidak yakin ternak lele masih relevan untuk generasi saya.

Sejak pertemuan menyebalkan itu, saya jadi bertekad untuk tak lagi jujur kalau ditanya-tanya oleh ojek. Saya ingin mempraktikkan sesi mengarang bebas di atas sepeda dengan ojek berhelm maupun tidak berhelm. Saya perlu berlatih storytelling dengan orang asing dan dengan cara yang agak-agak itu. Tidak apa. Ini aneh tapi semua orang aneh dengan gaya. Saya siap menaiki bandwagon ini. Sebab rasa gondok yang takutnya jadi gondok betulan pada ojek itu, bisa saya rasakan bahkan saat menulis semua ini.

Namun ya, keesokan hari sewaktu saya memesan ojek, wacana mengambek tadi tidak benar-benar bisa saya tepati.

Ojek saya kali ini bapak-bapak yang mudah tertawa dan memulai percakapan tentang cuaca dan Jember yang kemarin malam hujan deras. Ia bercerita lupa mengangkat jemuran, jadilah dimarahi istrinya. Saya tertawa di belakang meski suara ojek agak berwer-wer tertiup angin dan terhalangi helm yang saya pakai.

Saya tak jadi ikut-ikutan mengarang bebas. Toh, ending-nya ya dari pengalaman buruk seperti itu saya jadi ada bahan untuk menulis refleksi. Soalnya kalau dipikir-pikir, kita lebih mudah menulis saat dikelilingi sesuatu yang membuat kita menggerutu alih-alih dengan hal ringan dan menyenangkan.

Oh, satu lagi. Anggap ini hikmah terpenting dari seluruh tulisan ini: makanlah sesuatu sebelum bepergian. Terutama saat bepergian dengan ojek.

Sekian.


메타데이터
post_id
d20bce83d2d9
slug
sesi-mengarang-bebas-saat-naik-ojek-d20bce83d2d9
url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/sesi-mengarang-bebas-saat-naik-ojek-d20bce83d2d9
canonical_url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/sesi-mengarang-bebas-saat-naik-ojek-d20bce83d2d9
author_url
https://medium.com/@rainaj
status
ok
fetched_at
2026-06-29 22:44:20