Say You Won’t Let Go?
Pada akhirnya semua hal akan pergi darimu. Meski itu lebih dekat dari nadi sekali pun.
Say You Won’t Let Go?
Pada akhirnya semua hal akan pergi darimu. Meski itu lebih dekat dari nadi sekali pun.

Warning! Songfic, angst, hurt, traguc romance, disease, minor character death.
939 words. All credits belongs to Yar, the owner of this oneshot fiction.
First ever writed and published on June 26th, 2023.
Ps. this is a songfiction based on Say You Won’t Let Go by James Arthur.
“Maukah kau memainkan gitar untukku?”
Lelaki bertopi itu bertanya pelanpada sesosok gadis di depannya. Mungkin sudah hampir lima menit mereka saling diam hingga salah satunya angkat suara.
Sang gadis menggigit sedikit bibir bawahnya, tampak menimbang sebentar sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Ia berjalan pelan ke arah sebuah gitar yang teronggok bisu di ujung ruangan. Suara sepasang tapak kaki menggema kencang seolah hanya dirinya yang berada di dunia ini.
Sang gadis yang telah duduk di kursi dekat gitarnya menoleh ke arah si lelaki dengan tatapan tak berdaya. Ia memejamkan mata saat melihat senyuman si lelaki yang ditujukan padanya.
Ia membuka mata dan mengambil gitar berdebu miliknya. Jemari lentiknya telah menyentuh senar-senar usang tersebut dengan ragu.
Nada pertama dipetiknya lalu nada lainnya mengikuti. Petikan gitar yang telah membentuk melodi itu terdengar indah bagi siapa pun yang mendengarnya.
I met you in the dark, you lit me up
Si lelaki masih dengan senyum menawannya. Menatap sang gadis yang mulai mengeluarkan lirik lagu pertama itu dengan lembut.
You made me feel as though I was enough
We danced the night away, we drank too much
I held your hair back when
You were throwing up
Jari-jari sang gadis menari dengan lincah di atas senar-senar usang dan maniknya melirik si lelaki dari ujung matanya. Dapat ia lihat si lelaki masih tersenyum sambil menatapnya.
Lega melihatnya, sang gadis kembali berfokus pada permintaan di lelaki.
Then you smiled over your shoulder
For a minute, I was stone-cold sober
I pulled you closer to my chest
Sang gadis kembali melirik, lantas mendadak maniknya melebar ketakutan ketika melihat si lelaki yang telah memejamkan mata.
“Jihoon!”
“Hm?”
Sang gadis mengembuskan napas lega dan kembali melanjutkan lagunya.
And you asked me to stay over
I said, I already told ya
I think that you should get some rest
Sang gadis lagi-lagi melirik si lelaki yang berbaring dengan tenang di atas ranjang. Sang gadis memanggil dan kembali dijawab dengan gumaman. Lalu sang gadis kembali fokus.
I knew I loved you then
But you’d never know
‘Cause I played it cool when I was scared of letting go
Kembali sang gadis melirik dan memanggil. Namun tidak seperti sebelumnya, kali ini tak ada gumaman yang didengungkan sebagai jawaban.
Mengetahui si lelaki telah abai, sang gadis memejamkan mata kuat-kuat. Setetes air mata berhasil meluncur turun melewati pipi gembilnya. Sebuah permulaan menyedihkan sebelum kemudian tetesan tersebut berubah bagai air terjun yang meluncur deras.
Meski begitu, sang gadis tetap melanjutkan permainan gitarnya. Walau suaranya semakin serak serta pipinya semakin basah.
I know I needed you
But I never showed
But I wanna stay with you until we’re grey and old
Jemari lentiknya memaksa untuk terus memetik senar gitar. Hingga petikan tersebut terdengar sedikit sumbang karena jemarinya yang semakin lama semakin bergetar.
Tidak sanggup, jemari tersebut berhenti.
Just say you won’t let go
Kini tangisannya memunculkan isakan.
Just say you won’t let go…
Suaranya seolah habis ditelan isak di ujung kalimat. Sang gadis menunduk dalam-dalam sembari mencengkeram gitarnya dengan erat. Ia terisak semakin keras di atas gitar usangnya.
“Park Jihoon!”
Tidak peduli dengan gitarnya yang terjatuh dengan kasar ke atas lantai, sang gadis berlari ke arah ranjang tempat si lelaki telah tertidur tenang.
Sang gadis segera memeriksa kondisi si lelaki begitu mencapai pinggiran ranjang. Dan sependek pengetahuannya, si lelaki benar-benar telah tertidur dengan tenang saat ini.
Ia menekan tombol di kepala ranjang berkali-kali. Seolah tombol tersebut adalah samsak untuk pelampiasan emosinya yang meluap penuh kesedihan saat ini.
Dengan penuh keputusasaan, ia berakhir mengguncang tubuh si lelaki. Berharap mendapat respon meski ia tahu, itu mustahil.
Tangisannya menjadi tak bersuara kala seorang dokter serta beberapa perawat menyergap masuk dan memeriksa keadaan si lelaki.
Memang sudah tidak ada harapan, ia tahu itu. Hatinya bagai dihujam oleh bilah pedang paling tajam ketika sang dokter berbalik padanya dengan ekspresi wajah muram.
“Tak mungkin lagu tadi adalah lagu terakhirku yang kau dengar, kan, Jihoon?”
Sang gadis ambruk ke lantai. Ia jatuh terduduk dengan tangan kanannya yang mencengkeram erat ujung ranjang. Beberapa perawat berusaha menenangkannya, namun semua itu sia-sia karena ia hanya menatap ke depan dengan pandangan kosong. Tangisannya telah berhenti, menyisakan bola matanya yang memerah dengan menyedihkan.
“Pada akhirnya, kau tetap meninggalkanku, Hoon.”
Beberapa hari telah berlalu dengan begitu menyedihkan. Kini sang gadis tengah duduk sendirian di dekat batu nisan bertuliskan ‘Park Jihoon’.
Pemakaman begitu sepi. Kalaupun ada orang, sang gadis tetap akan merasa sepi karena si lelaki yang telah meninggalkannya.
Tidak, ia tidak pernah menangis sejak hari kematian si lelaki. Entahlah, ia tak sanggup melakukan apa-apa. Bahkan untuk sekedar menangis saja sudah tidak bisa. Dirinya terlalu sedih untuk sekedar diekspresikan dengan tangisan. Yang ia rasa saat ini hanyalah kehampaan.
Sang gadis menggumamkan melodi yang terakhir kali didengar oleh si lelaki dengan pelan. Kelopak matanya terkatup.
Ingatannya lagi-lagi dibawa kepada memori dimana seluruh penderitaan si lelaki dimulai.
Sore yang cerah dengan sebuah kertas pernyataan bahwa si lelaki mengidap kanker otak. Sesuatu yang sama sekali berlawanan. Si lelaki yang menderita dan dirinya yang tak mampu berbuat apa-apa.
Ia bahkan tak mengerti bagaimana bisa si lelaki bisa tetap tersenyum dan terus menenangkan dirinya seolah tak ada sesuatu pun yang terjadi pada tubuhnya. Ia selalu merasakan derita kala melihat si lelaki yang semakin melemah setiap harinya.
Gumamannya selesai dan ia membuka mata. Telapak tangan kanannya mendarat di atas batu nisan sang lelaki, lantas mengusapnya perlahan.
“Jihoon, maukah kau menungguku? Tidak lama lagi kita akan kembali bersama dan akan tetap seperti itu sampai seterusnya.”
Sang gadis mengembuskan napas berat.
“Selamanya, Hoon. Selamanya.”
Senyum sang gadis terbit dengan penuh kepedihan. Ia bangkit dari posisinya dengan pandangan yang tidak lepas dari batu nisan si lelaki.
Sang gadis membalikkan tubuhnya membelakangi makam si lelaki.
“Selamat malam, Hoon. Besok aku akan kembali!”
Fin.
메타데이터
- post_id
- d2199f3df985
- slug
- say-you-wont-let-go-d2199f3df985
- url
- https://medium.com/@beomreville/say-you-wont-let-go-d2199f3df985
- canonical_url
- https://medium.com/@beomreville/say-you-wont-let-go-d2199f3df985
- author_url
- https://medium.com/@beomreville
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-16 07:53:42