← Back to list

Mengapa Kita Harus Mulai Memilih Siapa yang Pantas Didengar

Kita hidup di era di mana semua orang merasa berhak menjadi petunjuk arah. Dari pertemuan keluarga yang canggung hingga kolom komentar di…

Rafi Kamindra · 2026-04-30 21:04 · 0 claps · 2.1 min read
#nasehat #role-models
Open on Medium ↗

Mengapa Kita Harus Mulai Memilih Siapa yang Pantas Didengar

Kita hidup di era di mana semua orang merasa berhak menjadi petunjuk arah. Dari pertemuan keluarga yang canggung hingga kolom komentar di media sosial, rasanya tidak pernah ada kekurangan orang yang dengan sukarela memberitahu kita bagaimana seharusnya kita menjalani hidup.

Bekerjalah di bidang ini. Menikahlah di usia sekian. Beli aset ini sebelum usiamu menginjak angka tertentu.

Dulu, aku selalu merasa punya kewajiban moral untuk mengangguk, mendengarkan, dan meresapi setiap petuah yang datang, terutama jika itu keluar dari mulut mereka yang lebih tua atau yang merasa lebih berpengalaman. Ada semacam rasa bersalah jika aku mengabaikan sebuah “masukan”. Namun, seiring berjalannya waktu, sebuah realitas yang cukup mengganggu mulai terlihat jelas: kita sering kali membiarkan diri kita disetir oleh orang-orang yang bahkan tidak tahu cara mengemudikan hidup mereka sendiri.

Mari kita bedah hal ini secara logis. Sebuah nasihat pada dasarnya adalah sebuah peta jalan. Seseorang memberikan peta kepadamu berdasarkan rute yang telah mereka lalui, atau rute yang mereka yakini benar. Tetapi, apa gunanya sebuah peta jika titik akhir dari peta tersebut bukanlah destinasi yang ingin kamu tuju?

Ada satu filter mental yang kini selalu aku gunakan setiap kali seseorang mulai mendiktekan standar hidupnya padaku. Aku akan berhenti sejenak, melihat realitas kehidupan orang tersebut secara utuh, dan bertanya pada diriku sendiri.

Apakah aku ingin berada di posisi mereka?

Apakah aku menginginkan rutinitas harian mereka? Apakah aku menginginkan tingkat stres dan kedamaian pikiran yang mereka miliki? Apakah aku mendambakan bentuk hubungan yang mereka bangun dengan orang-orang di sekitarnya?

Jika jawabannya adalah “tidak”, maka seketika itu juga validitas dari kata-kata mereka gugur.

Memberikan ruang di kepala kita untuk memikirkan, mencerna, atau bahkan merasa cemas atas ekspektasi dari orang-orang yang realitas hidupnya sama sekali tidak mendefinisikan “kesuksesan” versi kita adalah sebuah bentuk sabotase diri. Secara filosofis, waktu dan atensi adalah mata uang paling berharga yang kita miliki. Membuang atensi untuk mendengarkan panduan dari mereka yang hidupnya jauh dari nilai-nilai yang kita yakini adalah bentuk kebocoran energi yang paling sia-sia. Kita menukar kejelasan visi kita dengan kebingungan mereka.

Banyak dari kita yang tanpa sadar terjebak dalam siklus ini. Kita berusaha keras memenuhi standar kesuksesan yang diciptakan oleh generasi atau lingkungan yang memiliki privilege, trauma, dan kondisi ekonomi yang jauh berbeda dengan apa yang kita hadapi hari ini. Kita dihakimi dengan metrik yang sudah kedaluwarsa.

Namun, ini bukanlah sebuah pembenaran untuk menjadi arogan atau keras kepala. Menolak untuk didikte bukan berarti kita menutup telinga dari segala bentuk kritik atau masukan. Ini adalah tentang seni melakukan kurasi.

Bersikaplah kritis terhadap sumber informasi. Temukan mentor atau sosok yang tidak hanya pandai merangkai kata, tetapi benar-benar merepresentasikan kedamaian, pencapaian, dan karakter yang kamu dambakan. Jika kamu ingin belajar tentang kebebasan finansial, belajarlah dari mereka yang memiliki kontrol atas waktunya, bukan hanya mereka yang terlihat sibuk. Jika kamu ingin belajar tentang kebahagiaan, perhatikan senyum dan cara seseorang memperlakukan orang lain di saat mereka sedang berada di bawah tekanan.

Pada akhirnya, hidup ini adalah tentang mengambil tanggung jawab penuh atas konsekuensi dari pilihan kita sendiri. Jika pada akhirnya kita harus gagal atau terjatuh, biarlah itu terjadi karena kita mengikuti kompas yang kita kalibrasi sendiri, bukan karena kita tersesat menggunakan peta milik orang lain.

Jadilah tuan rumah yang ketat untuk pikiranmu sendiri. Tidak semua suara layak mendapatkan tempat duduk di sana.


메타데이터
post_id
d26ccf87ecd5
slug
mengapa-kita-harus-mulai-memilih-siapa-yang-pantas-didengar-d26ccf87ecd5
url
https://medium.com/@rafikmndr/mengapa-kita-harus-mulai-memilih-siapa-yang-pantas-didengar-d26ccf87ecd5
canonical_url
https://medium.com/@rafikmndr/mengapa-kita-harus-mulai-memilih-siapa-yang-pantas-didengar-d26ccf87ecd5
author_url
https://medium.com/@rafikmndr
status
ok
fetched_at
2026-08-01 09:13:42