Mencoba Membangun Kesadaran Dari Sampah
Mungkin ada momen yang pernah kita saksikan. Mungkin juga tanpa sadar atau dengan sadar kita pernah melakukan momen itu sendiri. Seorang…
Mencoba Membangun Kesadaran Dari Sampah
Mungkin ada momen yang pernah kita saksikan. Mungkin juga tanpa sadar atau dengan sadar kita pernah melakukan momen itu sendiri. Seorang warga berjalan atau melintas, tangannya mengayun ringan, dan satu sampah mendarat begitu saja. Selesai, dia membuang sampah sembarangan, dan dia kemudian melanjutkan aktifitasnya begitu saja.
Betapa terlihat ringannya perilaku itu. Lalu yang jaadi pertanyaan sebenaarnya apakah benar perilaku itu tanpa rasa bersalah? Lalu jika ada rasa bersalah, kenapa masih saja dia meneruskan perilaku buang sampah sembarangan itu?
Pertanyaan itulah yang mungkin secara reflek kita tanyakan. Karena jika seseorang melakukannya tanpa tahu bahwa itu salah, maka itu adalah soal pendidikan. Tapi jika ia melakukannya sambil tahu, sambil ada sesuatu yang sedikit mengganjal di dalam dadanya, maka rasanya yang sedang terjadi jauh lebih rumit dari sekadar ketidaktahuan.
Kita tahu membuang sampah sembarangan itu tidak baik. Kita mungkin bahkan pernah mengeluh ketika melihat orang lain melakukannya. Tapi pengetahuan itu duduk diam di kepala, tidak cukup hidup untuk menggerakkan perilaku kita ke arah yang berbeda, hanya hidup untuk cukup membuat kita merasa sedikit tidak enak, lalu melanjutkan langkah.
Padahal dalam tradisi pemikiran yang kita warisi, ilmu rasanya selalu dimaksudkan untuk selalu berpasangan dengan amal, yaitu pengetahuan yang berujung pada perbuatan. Keduanya tidak pernah dimaksudkan berjalan sendiri-sendiri. Tapi dalam keseharian, yang sering kita warisi hanyalah pengetahuannya, tanpa mewarisi dorongan untuk menjalaninya. Pengetahuan yang seperti inilah pengetahuan yang mati di tempat.
Dan yang berbahaya bukan ketiadaannya, tetapi justru kehadirannya yang diam itu memberi kita ilusi bahwa kita sudah cukup baik, padahal kita belum melakukan apa pun. Lalu apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala orang yang tangannya mengayun ringan itu?
Jika kita melihat perilaku itu melalui kacamata psikologi Adler, yang terjadi bukan sekadar “lupa” atau “khilaf.” Menurut Adler, setiap tindakan manusia memiliki tujuan. Dan tujuan ayunan (perilaku buang sampah sembarangan) itu bisa kita baca sebagai upaya membebaskan diri dari ketidaknyamanan saat itu juga. Menenteng sampah itu merepotkan. Dan melemparnya sembarangan memberikan kelegaan instan. Dalam bahasa Adler, ego bergerak dari posisi inferior (terbebani, tidak nyaman) menuju posisi superior (bebas, ringan, selesai).
Tapi lalu mengapa kadang masih ada muncul ganjalan di dada?
Adler punya jawaban yang tidak nyaman untuk didengar. Rasa bersalah itu diproduksi bukan untuk mengubah perilaku, melainkan untuk mempertahankan ilusi moralitas. Dengan memelihara perasaan “sedikit tidak enak,” ego sedang menghibur dirinya sendiri “aku masih merasa bersalah, artinya aku sebenarnya orang baik yang tahu aturan.” Rasa bersalah itu bukan tanda nurani yang hidup. Ia adalah alibi yang murah, yaitu cara kita merasa tetap baik tanpa harus bersusah payah menjadi baik.
Dan tidak hanya itu, ada yang lebih dalam lagi yang runtuh, yaitu rasa komunitas. Ketika seseorang melempar sampah ke pinggir jalan, ia sedang memisahkan dirinya dari orang-orang yang menghuni ruang yang sama. Orang yang nanti membersihkannya bukan saudaraku. Kenyamananku adalah pusat semesta. Ia abai dengan ruang publik. Padahal mungkin bahwa dengan merusak ruang publik, ia sedang merusak ruang hidupnya sendiri.
Lalu apa yang dibutuhkan untuk menutup jarak itu?
Adler punya satu jawaban yang terdengar sederhana, tapi tidak mudah dijalani, yaitu keberanian untuk menjadi biasa. Bukan keberanian untuk menjadi pahlawan lingkungan. Tetapi keberanian untuk melakukan hal yang tidak istimewa, tidak dilihat siapapun, tidak mendapat tepuk tangan. Yaitu menenteng satu sampah itu sedikit lebih jauh, sampai menemukan tempat yang semestinya.
Keberanian untuk hidup sesuai dengan apa yang kita tahu.
Perilaku membuang sampah sembarangan adalah cermin kecil yang memperlihatkan seberapa berani kita menjadi manusia yang biasa yang tidak butuh penonton untuk berbuat benar, yang tidak butuh lingkungan sempurna untuk ikut menjaganya, yang tidak butuh orang lain berubah lebih dulu sebelum dirinya sendiri bergerak.
Mungkin perubahan itu tidak dimulai dari kebijakan kota. Tidak dari spanduk larangan. Tidak dari petugas yang lebih rajin menyapu. Tetapi ia dimulai dari satu tangan yang memilih untuk tidak mengayun sembarang, karena pemiliknya akhirnya punya cukup keberanian untuk menjadi biasa.
Tapi sebenarnya justru di sinilah kemudian pertanyaan yang paling jujur dan reflek keluar menunggu jawaban. Pertanyaan yang mungkin selama ini juga kita sengaja sembunyikan bahkan dari diri kita sendiri: Sampai kapan kita bisa menjadi biasa? Dan bisakah kita benar-benar hidup sepenuhnya dengan menjadi biasa tanpa sedikit pun pengakuan?
메타데이터
- post_id
- d2716e1309ec
- slug
- mencoba-membangun-kesadaran-dari-sampah-d2716e1309ec
- url
- https://medium.com/@zainifatchurrohim/mencoba-membangun-kesadaran-dari-sampah-d2716e1309ec
- canonical_url
- https://medium.com/@zainifatchurrohim/mencoba-membangun-kesadaran-dari-sampah-d2716e1309ec
- author_url
- https://medium.com/@zainifatchurrohim
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-09-06 01:56:28