← Back to list

Behavioral Series #45 — Affect Heuristic

Kalau Anda sudah swipe carousel sebelumnya, Anda sudah lihat polanya. Banyak keputusan kita ternyata tidak dimulai dari data. Tapi dari…

Lury Sofyan in Nudgeplus · 2026-06-17 07:11 · 0 claps · 3.1 min read
#affect-heuristic #behavioral-economics #nudge
Open on Medium ↗
Wiki topics: ECO · Economy · General

Behavioral Series #45 — Affect Heuristic

Kalau Anda sudah swipe carousel sebelumnya, Anda sudah lihat polanya. Banyak keputusan kita ternyata tidak dimulai dari data. Tapi dari rasa. Dari “feels right”. Dari kesan pertama yang entah kenapa terasa meyakinkan.

Artikel ini mengajak kita masuk sedikit lebih dalam. Bukan cuma memahami bahwa emosi berperan, tapi kenapa emosi bisa terasa seperti fakta. Dan kenapa kita sering tidak sadar sedang mengandalkannya.

Coba ingat satu momen sederhana.

Anda masuk ke kafe baru. Interiornya hangat, lighting-nya nyaman, musiknya pas. Tanpa sadar, Anda sudah merasa, “tempat ini bagus.” Bahkan sebelum kopi pertama datang.

Lalu kopi disajikan. Rasanya… biasa saja.

Tapi anehnya, Anda tetap bilang, “ini enak.”

Relate donk pastinya? Iya kan?

Nah…..

Yang bekerja di situ bukan sekadar rasa kopi. Tapi keseluruhan emosi yang sudah terbentuk sejak awal. Dalam behavioral science, ini dikenal sebagai affect heuristic. Sebuah mekanisme di mana perasaan cepat kita digunakan sebagai informasi untuk menilai sesuatu.

Bukan karena kita malas berpikir. Tapi karena otak kita memang didesain begitu.

Secara biologis, otak kita punya dua sistem. Yang satu cepat, intuitif, emosional. Yang lain lambat, analitis, penuh pertimbangan. Daniel Kahneman menyebutnya sebagai System 1 dan System 2. System 1 bekerja otomatis, hampir tanpa usaha. System 2 butuh energi dan waktu (Kahneman, 2011).

Masalahnya, dalam banyak situasi sehari-hari, System 1 lebih sering mengambil alih.

Kenapa?

Karena lebih hemat.

Bayangkan kalau setiap keputusan kecil harus dianalisis mendalam. Mau pilih makan siang saja harus bikin cost-benefit analysis. Bisa-bisa kita tidak pernah benar-benar makan.

Jadi otak membuat shortcut. Perasaan jadi sinyal cepat. Kalau sesuatu terasa menyenangkan, diasumsikan aman. Kalau terasa tidak nyaman, diasumsikan berisiko.

Seperti yang dijelaskan dalam penelitian Paul Slovic dan timnya, orang sering menggunakan respon afektif mereka sebagai petunjuk utama dalam menilai risiko dan manfaat, bahkan ketika informasi faktual tersedia (Slovic, Finucane, Peters, & MacGregor, 2002).

Artinya, emosi bukan sekadar “tambahan”. Ia sering jadi dasar.

Sekarang kita lihat contoh yang lebih dekat.

Anda melihat dua produk investasi.

Yang satu dijelaskan dengan grafik, angka, dan proyeksi return. Yang satu lagi menggunakan cerita, visual orang bahagia, dan narasi “masa depan yang lebih baik”.

Mana yang lebih menarik?

Kalau jujur, banyak orang akan condong ke yang kedua.

Bukan karena datanya lebih kuat. Tapi karena terasa lebih “hidup”.

Dalam studi tentang risk as feelings, Loewenstein dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa reaksi emosional terhadap suatu situasi sering kali lebih menentukan keputusan dibanding evaluasi kognitif yang lebih rasional (Loewenstein, Weber, Hsee, & Welch, 2001).

Masa iya?

Iya….!

Dan ini bukan hanya di konteks marketing. Ini terjadi di mana-mana.

Ketika kita menilai orang dari first impression. Ketika kita merasa sebuah kota “aman” hanya karena terlihat bersih. Ketika kita takut naik pesawat setelah melihat berita kecelakaan, padahal secara statistik lebih aman dibanding berkendara.

Beeuhh… banyak juga ya.

Di satu sisi, affect heuristic ini sangat membantu. Ia membuat kita bisa bergerak cepat di dunia yang kompleks. Tanpa harus menganalisis setiap detail.

Tapi di sisi lain, ia juga membuka celah.

Karena emosi bisa dibentuk.

Visual bisa didesain. Cerita bisa dikonstruksi. Pengalaman bisa dikurasi.

Dalam dunia marketing modern, ini bukan rahasia lagi. Banyak brand tidak hanya menjual produk, tapi menjual rasa. Rasa aman, rasa bangga, rasa eksklusif.

Dan sering kali, rasa itu yang menentukan keputusan.

Bukan spesifikasi.

Tapi bukan berarti emosi itu “buruk”.

Justru sebaliknya. Emosi adalah bagian penting dari keputusan manusia. Tanpa emosi, kita tidak akan punya preferensi yang jelas. Bahkan pasien dengan kerusakan pada area otak yang mengatur emosi sering kesulitan mengambil keputusan sederhana, meskipun kemampuan logisnya utuh.

Jadi masalahnya bukan pada emosinya.

Masalahnya ketika kita menganggap emosi sebagai fakta tanpa sadar.

Mungkin pertanyaan yang lebih relevan bukan, “bagaimana menghilangkan bias ini?”

Karena itu hampir tidak mungkin.

Pertanyaan yang lebih berguna adalah, “kapan saya perlu berhenti sebentar sebelum percaya pada rasa ini?”

Ketika keputusan besar. Ketika risikonya tinggi. Ketika sesuatu terasa “terlalu benar”.

Di situ, kita perlu memberi ruang untuk System 2 masuk.

Bukan untuk menggantikan emosi. Tapi untuk menyeimbangkannya.

Akhirnya, kita kembali ke satu hal sederhana.

Manusia bukan mesin rasional. Kita adalah makhluk yang merasakan dunia, lalu mencoba memahaminya.

Dan sering kali, kita tidak sadar bahwa yang kita anggap “logika”… sebenarnya sudah dipengaruhi oleh rasa sejak awal.

Jadi lain kali Anda merasa sesuatu itu “pasti benar”… coba tanya pelan-pelan:

Ini fakta… atau cuma terasa seperti fakta?

Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. Farrar, Straus and Giroux.

Loewenstein, G. F., Weber, E. U., Hsee, C. K., & Welch, N. (2001). Risk as feelings. Psychological Bulletin, 127(2), 267–286. https://doi.org/10.1037/0033-2909.127.2.267

Slovic, P., Finucane, M. L., Peters, E., & MacGregor, D. G. (2002). The affect heuristic. In T. Gilovich, D. Griffin, & D. Kahneman (Eds.), Heuristics and biases: The psychology of intuitive judgment (pp. 397–420). Cambridge University Press.

Originally published at https://www.linkedin.com.


메타데이터
post_id
d278089fb7ea
slug
behavioral-series-45-affect-heuristic-d278089fb7ea
url
https://medium.com/nudgeplus/behavioral-series-45-affect-heuristic-d278089fb7ea
canonical_url
https://medium.com/nudgeplus/behavioral-series-45-affect-heuristic-d278089fb7ea
author_url
https://medium.com/@lury.sofyan
status
ok
fetched_at
2026-06-27 07:40:21