← Back to list

Menukar Sakral menjadi Pasar

Sebuah obrolan mendalam dengan seorang kawan antropolog memicu perenungan panjang mengenai dokumenter Pesta Babi (2026). Kawan saya bahkan…

eskapisme · 2026-05-19 17:51 · 0 claps · 1.8 min read
#film-reviews #dokumenter #pesta-babi
Open on Medium ↗
Wiki topics: AI · AI · General 🎬 · Film & Television

Menukar Sakral menjadi Pasar

sumber: X/cypripajudale

sumber: X/cypripajudale

Sebuah obrolan mendalam dengan seorang kawan antropolog memicu perenungan panjang mengenai dokumenter Pesta Babi (2026). Kawan saya bahkan mengaku tidak sanggup melanjutkan tontonan selepas sepuluh menit pertama. Argumen-argumennya kian menebalkan rasa penasaran saya, alih-alih membela, film ini justru terjebak mempraktikkan bentuk kolonialisme budaya baru terhadap masyarakat adat Papua.

Dari penjelasan kawan saya, sebuah riset komunitas atau advokasi yang etis seharusnya bersandar pada prinsip Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) — sebuah persetujuan sukarela tanpa paksaan dari masyarakat adat lokal sebelum proyek dimulai. Namun, proyek kolaborasi antara jurnalis senior sekelas Dandhy Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale yang berlatar antropolog ini tampak mengabaikan etika mendasar tersebut. Mereka meminjam “Awon Atatbon”, sebuah ritus sakral milik suku Muyu, lalu mereduksinya secara serampangan demi mengejar pemenuhan metafora visual tentang kerakusan korporasi.

Penyederhanaan tersebut memicu dampak yang fatal bagi cara pandang publik. Bagi penonton awam, istilah “Pesta Babi” yang sejatinya melambangkan kesuburan, kebersamaan, serta ikatan spiritual mendalam dengan leluhur, seketika mengalami apa yang dalam istilah antropologi disebut sebagai perampasan makna simbolik atau symbolic dispossession. Ritus suci itu kini menyusut, bertukar rupa menjadi sekadar simbol keserakahan oligarki yang berlangsung tanpa persetujuan adil dari suku Muyu sendiri.

Ironisnya, kegagalan metodologis ini juga tecermin dari kualitas produksi sinematik yang terkesan malas. Di satu sisi, pembuat film kerap lantang menyuarakan isu hak cipta. Di sisi lain, mereka justru merangkai karya ini dari repetisi visual dan stok rekaman, alih-alih melakukan turun lapangan penuh untuk merekam realitas mutakhir. Absennya observasi partisipatoris yang intim membuat film ini kehilangan basis empiris dan gagal memenuhi kualifikasi sebagai sebuah karya sinema yang utuh.

Ketiadaan proses turun lapangan yang mendalam itu pada akhirnya melahirkan cacat etis yang paling krusial, yakni pengebirian agensi masyarakat adat. Kritik kawan saya itu sangat mendasar bahwa etika etnografi seharusnya membiarkan masyarakat adat bercerita sendiri, bukan dinarasikan oleh orang luar. Namun, film ini justru menempatkan mereka sebagai objek pasif yang pasrah didefinisikan oleh narator. Suara lirih para narasumber hanya hadir sebagai pelengkap ornamen penderitaan demi mendukung premis tunggal milik pembuat film.

Kecenderungan eksploitatif tersebut kian benderang saat menilik jalur distribusinya. Keputusan memutar perdana film ini di Auckland, Berlin, hingga New York sebelum menjangkau penonton lokal mempertegas pola lama yang usang. Produsen sengaja mengemas narasi penderitaan suku Marind dan Muyu dalam format yang memikat pasar geopolitik barat serta panggung festival internasional, bukan dalam corak yang memberdayakan komunitas di hulu sungai Digoel.

Niat awal pembuatan film mungkin saja berupa advokasi. Namun, keseluruhan proses produksinya justru mengasingkan subjek utama demi memuaskan selera estetika kelas menengah kota. Pada akhirnya, kedua pesohor Pesta Babi ini menjajakan perlawanan terhadap kolonialisme modern dengan cara menjajah kebudayaan lokal secara sepihak.


메타데이터
post_id
d278eb4db9a4
slug
menukar-sakral-menjadi-pasar-d278eb4db9a4
url
https://medium.com/@eskapism/menukar-sakral-menjadi-pasar-d278eb4db9a4
canonical_url
https://medium.com/@eskapism/menukar-sakral-menjadi-pasar-d278eb4db9a4
author_url
https://medium.com/@eskapism
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30