← Back to list

Berani Menulis (14)

Prinsip 12: Menjaga Lisan dari Perkataan Sia-Sia

Muhammad Fakhri Fadhlillah · 2026-07-07 13:01 · 0 claps · 3.3 min read
#berani #menulis #menjaga #lisandro-bregant
Open on Medium ↗

Berani Menulis (14)

Prinsip 12: Menjaga Lisan dari Perkataan Sia-Sia

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, segala puji hanya milik Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa melimpahkan nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, serta kesempatan kepada kita untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan mendekatkan hati kepada-Nya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Kembali lagi dengan saya Muhammad Fakhri Fadhlillah. Alhamdulillah, kita masih dipertemukan dalam rangkaian tadabbur 30 Prinsip Hidup dari Al-Qur’an karya Ustaz Nor Kandir. Setelah pada pembahasan sebelumnya kita belajar bahwa kemuliaan diperoleh melalui kemandirian dan kerja keras, kini kita sampai pada Prinsip ke-12, yaitu Menjaga Lisan dari Perkataan Sia-Sia. Sebuah prinsip yang mungkin terlihat sederhana, tetapi justru menjadi salah satu penentu keselamatan seorang hamba di dunia maupun di akhirat.

Prinsip ini berlandaskan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah Qaf ayat 18,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

Ayat ini menghadirkan sebuah kesadaran yang sangat mendalam. Setiap kata yang keluar dari mulut kita tidak pernah benar-benar hilang. Ia mungkin terlupakan oleh manusia, tetapi tidak pernah luput dari catatan malaikat. Bahkan dalam kehidupan hari ini, makna “ucapan” menjadi jauh lebih luas. Bukan hanya apa yang kita katakan secara langsung, tetapi juga apa yang kita tulis di media sosial, komentar yang kita tinggalkan, pesan yang kita kirimkan, hingga informasi yang kita sebarkan. Semua itu termasuk bagian dari lisan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Sering kali kita menganggap dosa besar hanyalah perkara yang tampak nyata, sementara dosa yang berasal dari lisan dianggap sepele. Padahal, banyak hubungan persaudaraan yang hancur karena satu kalimat. Banyak persahabatan yang retak karena satu komentar. Banyak fitnah yang menyebar karena seseorang tidak mampu menahan keinginan untuk berbicara atau membagikan sesuatu yang belum tentu benar.

Rasulullah Saw. memberikan sebuah pedoman yang sangat sederhana, tetapi luar biasa dalam praktiknya: “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” Kalimat ini bukan berarti kita harus selalu diam, tetapi mengajarkan bahwa setiap ucapan seharusnya memiliki nilai. Jika tidak membawa manfaat, lebih baik ditahan daripada menjadi sebab lahirnya penyesalan.

Di era digital seperti sekarang, menjaga lisan menjadi tantangan yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Dahulu seseorang harus bertemu langsung untuk menyakiti orang lain melalui ucapannya. Kini cukup dengan beberapa ketukan jari, sebuah komentar dapat dibaca ribuan orang hanya dalam hitungan detik. Hoaks menyebar, ghibah menjadi hiburan, cibiran dianggap candaan, dan perdebatan tanpa ujung menjadi konsumsi harian. Semua itu sering kali dilakukan tanpa berpikir bahwa setiap huruf yang kita tuliskan sedang dicatat sebagaimana ucapan yang keluar dari mulut.

Prinsip ini mengajarkan kita bahwa kecerdasan sejati bukan hanya terlihat dari banyaknya ilmu yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan mengendalikan perkataan. Orang yang benar-benar dewasa tidak merasa harus selalu berkomentar terhadap segala sesuatu. Ia tahu kapan berbicara, kapan mendengarkan, dan kapan memilih diam demi menjaga hati dirinya maupun hati orang lain.

Menjaga lisan juga bukan hanya berarti menghindari kata-kata kasar. Ia mencakup kemampuan menahan diri dari ghibah, fitnah, dusta, adu domba, menyebarkan rahasia orang lain, hingga mengeluarkan candaan yang menyakiti. Bahkan perkataan yang benar sekalipun bisa menjadi tidak bernilai apabila disampaikan tanpa hikmah dan adab.

Sebaliknya, lisan yang dijaga akan menjadi sumber pahala yang tidak pernah habis. Melalui lisan kita membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, memberi nasihat, menguatkan orang yang sedang lemah, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan menyampaikan kalimat-kalimat yang mampu menghidupkan harapan dalam hati seseorang. Betapa banyak orang yang berubah menjadi lebih baik hanya karena mendengar satu kalimat yang baik. Dan betapa banyak pula orang yang kehilangan semangat hidup hanya karena mendengar satu ucapan yang menyakitkan.

Mungkin karena itulah Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan. Sebab lisan adalah cerminan isi hati. Ketika hati dipenuhi iman, syukur, dan kasih sayang, maka ucapan pun akan dipenuhi kelembutan. Namun ketika hati dipenuhi iri, dengki, dan amarah, maka yang keluar pun adalah kata-kata yang melukai.

Jika kita renungkan lebih dalam, sebagian besar konflik dalam kehidupan sebenarnya bukan bermula dari tindakan, melainkan dari perkataan. Oleh karena itu, memperbaiki lisan sejatinya adalah bagian dari memperbaiki hati. Ketika hati semakin dekat kepada Alloh, lisan akan semakin mudah dijaga.

Mari mulai membiasakan diri untuk berhenti sejenak sebelum berbicara ataupun menulis. Tanyakan kepada diri sendiri, apakah perkataan ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah akan mendekatkan kepada ridha Alloh? Jika jawabannya tidak, maka diam sering kali menjadi pilihan yang jauh lebih mulia.

Semoga melalui prinsip ini kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam berbicara, lebih berhati-hati dalam menulis, dan lebih selektif dalam menyebarkan informasi. Semoga lisan kita senantiasa dipenuhi dzikir, doa, ilmu, nasihat, serta kata-kata yang menenangkan hati orang lain, bukan justru menjadi sebab lahirnya dosa yang terus mengalir.

Terima kasih telah membersamai renungan ini. Semoga setiap ayat yang kita pelajari tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, memperhalus akhlak, dan mengantarkan kita menjadi pribadi yang semakin dicintai oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Semoga Alloh menjaga lisan kita dari perkataan yang sia-sia, dari ucapan yang menyakiti, serta menjadikannya sebagai jalan untuk meraih pahala dan keridaan-Nya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


메타데이터
post_id
d295bb4499bb
slug
berani-menulis-14-d295bb4499bb
url
https://medium.com/@muhammadfakhrifadhlillah/berani-menulis-14-d295bb4499bb
canonical_url
https://medium.com/@muhammadfakhrifadhlillah/berani-menulis-14-d295bb4499bb
author_url
https://medium.com/@muhammadfakhrifadhlillah
status
ok
fetched_at
2026-07-08 17:17:42