← Back to list

Waktu yang Kami Ambil Kembali: Saint-Imier, 1872 (Bagian I )

Kabut, Roda Gigi, dan Waktu yang Tak Lagi Milik Negara

Sutan Marajo Lelo · 2025-10-31 12:59 · 0 claps · 5.2 min read
#anarchism #pekerja #anarki #bakunin
Open on Medium ↗

Waktu yang Kami Ambil Kembali: Saint-Imier, 1872 (Bagian I)

Kabut, Roda Gigi, dan Waktu yang Tak Lagi Milik Negara

Kabut menggulung pelan di atas lembah Jura. Pagi itu, 15 September 1872, Saint-Imier masih terlelap di udara yang lembap dan dingin. Jalan-jalan sempitnya menampung sisa hujan semalam, dan di antara atap batu, asap tipis dari cerobong bengkel mulai naik, menandai kehidupan yang perlahan bergerak lagi. Tak ada lonceng gereja yang berbunyi. Hanya bunyi palu kecil dari bengkel pengrajin jam yang memecah kesunyian — ketukan ritmis yang menyerupai detak jantung lembah itu sendiri.

Di bengkel kayu dekat Rue Francillon, Adhémar Schwitzguébel sudah bekerja sebelum matahari muncul. Tangannya yang kokoh namun halus menahan roda gigi kecil, memeriksa porosnya, dan meletakkannya di antara pinion dan pegas yang tergeletak di atas meja. Cahaya lampu minyak memantulkan bayangan tangannya di dinding, menari perlahan bersama gemeretak logam. Setiap roda gigi adalah dunia kecil yang berputar di atas poros kesabaran; setiap tetes oli yang jatuh di permukaan logam adalah ritme kebebasan yang sedang dirakit ulang.

Di luar bengkel, jalan licin dan kabut menutup pandangan. Beberapa pengrajin lain melintas, menyapa singkat. Tak ada yang banyak bicara pagi itu — mereka tahu hari ini bukan hari biasa. Di ujung jalan, di bangunan dua lantai yang dikenal sebagai Maison de Ville, delegasi dari berbagai federasi akan berkumpul. Mereka datang bukan membawa bendera, tapi membawa kertas, pena, dan gagasan yang tak mau tunduk. Bagi mereka, waktu bukan sekadar jam yang berdetak; waktu adalah ruang yang direbut kembali dari negara dan majikan.

Schwitzguébel berhenti sejenak, menatap roda gigi yang baru terpasang di tengah mekanisme jam saku. Ia mendengar bunyi lembutnya berdetak, dan dalam bunyi itu terpantul kenangan tentang perdebatan yang belum lama ini membelah dunia pekerja internasional. Ia masih ingat suasana Kongres Den Haag, dua minggu lalu — bagaimana suara Karl Marx bergema di ruang rapat, berhadapan dengan keyakinan Mikhail Bakunin. Marx berkata bahwa hanya negara proletar yang kuat yang dapat mengantar manusia menuju sosialisme. Bakunin menjawab dengan suara yang lebih lirih, namun menusuk:

“Negara, betapapun namanya, tetaplah rantai. Tak ada kebebasan sejati yang bisa lahir dari kekuasaan, meskipun kekuasaan itu mengatasnamakan rakyat.” (Catatan dari risalah kongres Den Haag, 2–7 September 1872)

Kata-kata itu terus menghantui Schwitzguébel, seperti gema yang tak mau padam di kepala para pekerja. Ia tahu, di balik perdebatan itu tersembunyi pertanyaan yang lebih dalam: siapa yang sesungguhnya memiliki waktu manusia — pekerja itu sendiri, atau struktur yang mengatur hidupnya?

Pintu bengkel terbuka. James Guillaume masuk, dengan mantel abu-abu yang lembap oleh embun. Ia membawa beberapa lembar kertas dan amplop yang diikat dengan tali. Surat-surat dari Federasi Italia dan Federasi Spanyol, katanya, baru tiba pagi tadi lewat pos dari La Chaux-de-Fonds. Guillaume menaruhnya di meja, lalu duduk di kursi kayu yang berderit. “Federasi Barcelona menolak resolusi Den Haag,” katanya pelan. “Mereka menulis, tak perlu Dewan Umum di New York yang memutuskan untuk kita. Setiap federasi berhak mengatur dirinya sendiri.” Schwitzguébel mengangguk. “Seperti roda gigi ini,” ujarnya sambil memutar perlahan jam saku yang baru disusun. “Masing-masing berputar, tapi bersama membentuk mesin yang utuh. Tak satu pun boleh jadi pusat yang memaksa yang lain.” Guillaume tersenyum samar. Di antara mereka, diam sering lebih jujur daripada retorika politik. Ia mengambil pena dan menulis cepat di atas kertas:

“Kebebasan lahir bukan dari teori, tapi dari tangan yang bekerja dan menentukan ritmenya sendiri.” (catatan Guillaume, Sonvilier, 1872)

Kabut di luar semakin menebal. Dari arah lembah, langkah-langkah kaki berat terdengar. Sekelompok pengrajin datang dari Sonvilier — desa kecil tempat lahirnya Fédération jurassienne, federasi para pembuat jam yang kini menjadi nadi dari seluruh gerakan anarkis di Swiss. Mereka membawa map kayu berisi salinan Pakta Solidaritas dan Pertahanan Bersama, yang disusun setelah Den Haag. Di halaman pertamanya tertulis dengan jelas:

“Penghancuran segala bentuk kekuasaan politik adalah tugas pertama kelas pekerja.” Kalimat itu akan menjadi dasar resolusi di Saint-Imier, dua hari kemudian.

Di bengkel sebelah, Georges Lachat dari Moutier dan Léon Schwitzguébel dari Biel sedang membersihkan peralatan mereka. Mereka baru tiba malam sebelumnya, menempuh jalan berbatu di bawah hujan tipis. Sementara di penginapan kecil di Rue du Vallon, Samuel Schneider dan Ali Eberhardt, yang kelak memimpin sesi kongres, sedang memeriksa daftar delegasi yang sudah dikonfirmasi:

  • Dari Fédération italienne des ouvriers horlogersFederasi Italia para pembuat jam, diwakili oleh Carlo Cafiero dan Andrea Costa, yang membawa pesan solidaritas dari Milan.
  • Dari Federasi Spanyol — delegasi dari Barcelona dan Valencia, mewakili jaringan pekerja bebas yang menolak partai politik.
  • Dari Federasi Prancis — perwakilan pengrajin yang tersebar di Lyon dan Besançon, masih dalam pemulihan setelah kekalahan Komune Paris.
  • Dari Federasi Amerika Serikat — surat dukungan dari kelompok pekerja New York yang menolak sentralisasi IWA.
  • Dan tentu, tuan rumahnya: Fédération jurassienne, federasi lembah jam, yang sejak Kongres Sonvilier tahun lalu menolak setiap bentuk hierarki dalam gerakan.

Semua nama itu akan tercatat dalam sejarah, tapi pagi itu mereka hanya tampak seperti para pengrajin biasa — tangan berminyak, baju kerja lusuh, dan mata yang penuh kantuk. Mereka bukan revolusioner berpedang; mereka adalah pembuat jam yang mengukur kebebasan melalui detak waktu yang mereka rakit sendiri.

Menjelang siang, Guillaume menutup surat terakhir dan berkata, “Kita mulai sore ini.” Schwitzguébel memadamkan lampu minyak, lalu mengambil mantel panjangnya. Di luar, kabut mulai menipis. Cahaya pucat menyinari atap-atap batu Saint-Imier. Di kejauhan, jam besar di balai kota berdentang dua belas kali — dentingan yang panjang, bergema ke seluruh lembah. Setiap denting adalah pengingat bahwa waktu terus berjalan, entah milik siapa pun yang mengklaimnya.

Mereka berjalan melewati jalan kecil menuju Hôtel Central, tempat kongres akan dimulai. Di dinding luar bangunan itu tergantung papan kayu bertuliskan: Maison de Ville. Di dalam, meja-meja kayu telah disusun melingkar. Tak ada podium, tak ada kursi kehormatan. Di atas meja, hanya ada dokumen, pena, dan secangkir arak kecil yang diletakkan di tengah.

Guillaume berdiri sejenak di ambang pintu, lalu menatap ke arah ruangan yang masih kosong. “Apa kau sadar,” katanya kepada Schwitzguébel, “bahwa yang kita lakukan ini mungkin tampak kecil bagi dunia, tapi di sinilah sejarah bergeser?” Schwitzguébel menjawab tanpa menoleh, “Sejarah selalu dimulai di tempat kecil. Di bengkel, di meja kayu, di antara orang-orang yang menolak diperintah.”

Lalu mereka masuk, menempati kursi di sisi timur ruangan. Dari luar, kabut mulai memudar, tapi suara lembah tetap hening. Hanya terdengar satu hal: detak jam di dinding, beradu dengan napas mereka sendiri — dua ritme yang kini sedang menegosiasikan arti waktu.

Sore menjelang. Delegasi berdatangan satu per satu. Beberapa membawa koper tua, sebagian membawa surat dari federasi masing-masing. Di antara mereka ada Adolphe Herter dan Paul Junet dari distrik Courtelary, Justin Guérber dari Sonvilier, dan para pengrajin muda yang datang tanpa nama besar, tapi dengan tekad yang keras kepala.

Saat semua sudah duduk, Samuel Schneider mengetukkan palu kecil ke meja kayu — bukan tanda perintah, melainkan isyarat kesepakatan dimulai. Tak ada pidato pembukaan. Tak ada simbol negara. Hanya suara pelan Guillaume yang membaca resolusi pertama:

“Bahwa otonomi dan kemerdekaan setiap federasi pekerja merupakan syarat mutlak bagi pembebasan kelas pekerja. Tak satu pun kongres berhak memaksakan kehendak kepada yang lain.” (Resolusi Kongres Saint-Imier, 1872)

Ruangan sunyi. Di luar, angin melewati jendela, membawa aroma logam dan kayu basah. Di antara denting jam dan suara pena yang menulis, seolah-olah waktu berhenti sebentar — bukan karena mesin rusak, tapi karena manusia, untuk pertama kalinya, sedang menegosiasikan kembali makna waktu itu sendiri.

Malam turun perlahan di Saint-Imier. Lampu-lampu minyak dinyalakan, menerangi meja kayu yang kini penuh dengan coretan dan tanda tangan. Guillaume memandang sekeliling dan merasa sesuatu sedang lahir — bukan negara baru, bukan partai, melainkan cara lain untuk hidup bersama. Ia menulis di buku catatannya sebelum pulang malam itu:

“Kami menolak kekuasaan apa pun yang memaksakan dirinya atas kami. Kami menolak untuk diatur dari luar. Kami adalah pengrajin kebebasan, dan mesin kami adalah waktu.”

Di luar, Schwitzguébel berdiri menatap lembah yang tenggelam dalam kabut. Ia mendengar detak jam besar di balai kota, tapi kali ini bunyinya berbeda. Dentingnya tak lagi terasa seperti perintah; dentingnya terdengar seperti pengakuan: bahwa waktu, akhirnya, mulai kembali menjadi milik mereka sendiri..

…….. (Bagian II)


메타데이터
post_id
d29bdaad1bcf
slug
waktu-yang-kami-ambil-kembali-saint-imier-1872-d29bdaad1bcf
url
https://medium.com/@sutanmarajolelo/waktu-yang-kami-ambil-kembali-saint-imier-1872-d29bdaad1bcf
canonical_url
https://medium.com/@sutanmarajolelo/waktu-yang-kami-ambil-kembali-saint-imier-1872-d29bdaad1bcf
author_url
https://medium.com/@sutanmarajolelo
status
ok
fetched_at
2026-07-15 23:37:27