EMPIRIS : Dicintai atau Ditakuti
“Karena itu orang harus bersikap seperti rubah untuk mengetahui adanya perangkap dan seperti singa untuk menakuti serigala. Mereka yang…
EMPIRIS : Dicintai atau Ditakuti

“Karena itu orang harus bersikap seperti rubah untuk mengetahui adanya perangkap dan seperti singa untuk menakuti serigala. Mereka yang hanya ingin bersikap seperti singa adalah orang bodoh. Sehingga, seorang penguasa yang bijaksana tidak harus memegang janji kalau dengan demikian ia akan merugikan diri sendiri dan kalau alasan yang mengikat sudah tidak ada lagi. Seandainya semua orang baik hati, anjuran ini pasti tidak baik.”
A. Mengenal Niccolo Machiavelli
Niccolo Machiavelli, seorang filsuf politik asal Italia. Ia lahir ketika bangsa Eropa memasuki masa Kelahiran Kembali atau Renaissance. Tepatnya ia lahir pada 3 Mei 1469 di Kota Florence, salah satu kota yang menjadi pusat dari gerakan Renaissance. Italia memiliki peranan penting dalam menyebarkan tujuan dan cita-cita dari Renaissance yang didorong oleh asa humanis. Gerakan ini bertumbuh dan berkembang menjalar di daratan Eropa dan dunia barat. Semangat Renaissance ini didorong oleh usaha untuk menggali kembali akar budaya Yunani dan Romawi kuno.
Seorang Niccolo Machiavelli lahir ketika Florence dipimpin oleh sosok bernama Lorenzo Agung atau yang dikenal juga dengan nama Lorenzo The Magnificent. Ia berasal dari keluarga yang memiliki kecukupan ekonomi pada masanya. Ia adalah anak dari Bernardo di Niccolò Machiavelli dan istrinya, Bartolomea di Stefano Nelli. Berkat kondisi ekonominya, ia dapat mengenyam pendidikan yang baik pada masanya. Dalam buku harian Bernardo, ia menulis bahwa anaknya pernah meminjam karya-karya filsuf Cicero, seperti The Marking of Orator. Pada masa remajanya ia banyak mempelajari nilai-nilai humanisme.
Sosok Machiavelli dikenal sebagai tokoh filsuf politik, diplomat, dan juga pernah berperan dalam bidang militer. Salah satu karya fenomenalnya berjudul Il Principe atau The Prince. Dalam bahasa Indonesia, buku itu dikenal dengan judul Sang Pangeran. Selain itu ada beberapa karya lain seperti The Art of War, History of Florence, Discourse on the First Decade of Titus Livius, a Life of Castruccio Castrancani, dan History of the Affair of Lucca.
B. Sosio-Politik Florence Dalam Diakronis
Kota Florence yang menjadi tanah kelahiran seorang Machiavelli merupakan kota berkembang yang ramai akibat dari perdagangan setelah terjadinya Perang Salib. Status Florence berubah dari wilayah kota menjadi negara-kota atau polis. Kota ini memiliki bangunan-bangunan megah seperti gereja, biara, katedral yang menjadi simbol dari lambang kemegahan pada masa itu. Di sisi lain, kota ini juga dihiasi oleh istana-istana milik aristokrat baru, pertokoan, pusat perdagangan, dan bank yang ikut menghiasi langit-langit kota dengan arsitektur yang menjulang tinggi.
Sejarah perkembangan Kota Florence ini diwarnai dengan pasang-surut perubahan hukum dan konstitusi yang fluktuatif. Sistem monarki yang sempat berjaya telah berubah menjadi sistem demokrasi, tetapi kemudian berubah kembali menjadi monarki. Berdirinya polis-polis ini selalu mendapat ancaman dari kawasan luar, terutama Spanyol dan Perancis. Terlebih polis ini memiliki situasi politik yang kerap tidak menentu. Florence menjadi lahan pertarungan perebutan kekuasaan antara keluarga Guelphi dan Ghibellin. Keluarga Ghibellin mendapat dukungan dari kaum aristokrat, sedang Ghibellin didukung oleh kaum kelas mengah. Perselisihan tersebut akhirnya membuat keluarga Guelphi memenangkan tahta kekuasaan di Florence selama 150 tahun kemudian. Namun, keberpihakan keluarga Guelphi terhadap kaum-kaum marjinal sangat tidak mendapat perhatian yang layak hingga timbul perselisihan-perselisihan sosial.
Kondisi tersebut yang dimanfaatkan oleh keluarga Medici untuk menghimpun basis massa guna mencapai pucuk kekuasaan. Pada lawan politiknya ia membuktikan diri sebagai pihak yang seolah tidak terlibat dalam proses pemilihan. Kelihaian politiknya berhasil memenangkan hati masyarakat jelata dengan cara yang manipulatif, padahal mereka tidak sejatinya diperjuangkan.
Puncak kejayaan Keluarga Medici ini berlangsung di bawah kepemimpinan Lorenzo Agung yang memeimpin 1464–1492. Machiavelli hidup dan berkembang pada masa Lorenzo Agung, di mana saat itu Florence mengalami kemajuan sebagai wilayah perdagangan. Latar belakang keluarga Medici yang merupakan bankir membuat mereka menjadi peletak dasar-dasar kapitalisme awal di daerah tersebut. Lorenzo digantikan kekuasaannya oleh anak laki-lakinya Pietro de’ Medici setalah meninggal dunia pada 1492.
Ternyata buah yang jatuh, jauh dari pohonnya. Tidak seperti penguasa sebelumnya, Pietro de’ Medici tidak berhasil menahan gejolak yang ada di kota. Narasi-narasi dari Savoranola yang menekankan pada aspek agama dan anti-sekularisasi semakin membuat masyarakat tergerak untuk menjadi oposisi pada pemerintah. Dengan bantuan Prancis, Savoranola berhasil naik tahta dan menciptakan rezim teokratis.
Machiavelli menjadi saksi bagaimana keluarga Medici yang sudah berkuasa ratusan tahun harus runtuh karena tidak mendapat dukungan dari masyarakat. Ia juga menjadi saksi ketika kepemimpinan Savoranola yang hanya berlangsung beberapa tahun yang diakibatkan oleh kesepakatan elit-elit dengan kaki-tangan Paus dalam menggulingkan kekuasaan Savoranola.
Setelah Savoranola digulingkan, berdirilah Republik Florence dengan penguasa barunya, Soderini. Ia memiliki kedekatan dengan Machiavelli. Pada saat inilah kiprah Machiavelli sebagai politikus mulai terbentuk. Saat pemerintahan Soderini ia bertindak selaku sekretaris, penasehat militer, hingga diplomat. Machiavelli diutus oleh Soderini untuk pelbagai kegiatan misi diplomatik untuk meningkatkan kemampuan pertahanan dan keamanan Florence dari ancaman utama keluarga Medici dan kerajaan Spanyol. Beberapa misi diplomatik yang dilakukan Machiavelli antara lain pada tahun 1500 bertemu dengan Raja Louis untuk membantu Florence meneruskan peperangan dengan negarakota Pisa. Pada tahun 1503 berangkat ke Roma untuk melaporkan pemilihan dan kebijaksanaan
Paus baru, Julius II (1503–1513). Sedangkan pada tahun 1506 bertemu kembali dengan Julius II untuk membicarakan bantuan Florence bagi kampanye Julius II untuk mendapatkan kembali daerahdaerah negara kepausan yang hilang dalam rangka membangun kembali negara kepausan.
Pada 1512 Florence kembali dikuasai oleh keluarga Medici. Semua orang yang memiliki pengaruh pada Soderini dalam kekuasaan disingkirkan, termasuk Machiavelli. Setelah dicopot dari jabatannya, ia dijebloskan ke penjara. Ia ditahan untuk waktu beberapa lama, tetapi ia kemudian dibebaskan karena tidak terbukti bersalah. Setelah itu ia terlempar dari pemerintahan dan hidup di perkebunan kecil, daerah San Cassiano.
C. Pandangan Machiavelli Dalam Il Principe
Buku Il Principe ditulis berdasarkan empirisme si penulis. Machiavelli tidak menuliskan cita-cita idealis dari sosok seorang pemimpin yang memiliki moralitas terpuji dan banyak dicintai oleh rakyatnya. Hal-hal semacam itu tidak akan ditemukan dalam buku ini. Buku ini menggambarkan bagaimana menjadi pemimpin dari sudut pandang realis, bukan idealis. Pemikirannya condong pada realisme sebagai lawan dari idealis. Cesare Borgia yang menjadi salah satu inspirasi buku ini memberikan warna pragmatisme dan oportunisme dari bagaimana praktik politik Borgia bekerja dalam mengamankan kekuasaan. Bahkan yang menjadi pertimbangan dalam menjalankan kekuasaan bukanlah berasal dari norma-norma yang hidup di masyarakat, tetapi penuh akan realitas politik yang ada.
Pandangan realis dari Machiavelli menggambarkan apa yang memang ada dalam praktik politik, bukan apa yang seharusnya ada. Henry J Schmandt memandang Machiavelli adalah epmikir yang mengesampingkan nilai moral yang ada. Atas dasar pragmatisme dan realisme itu maka tujuan dalam menjalankan kepemimpinan bukan berdasarkan moralitas dan pandangan-pandangan idealis bagi figur pemimpin. Dalam kancah politik, segala hal yang dapat memberi keuntungan dapat diperjuangkan dengan cara-cara yang bahkan tidak sejalan dengan etika dan moral. Machiavelli berpendapat bahwa moralitas tidaklah terlalu penting. Pemimpin yang terlalu mengedepankan moralitas dalam praktik politiknya tidak akan terlalu berhasil. Dalam mencapai tujuan, praktik penipuan hingga “mengamankan” orang lain dapat dibenarkan selagi adapat memberikan efek yang sangat berguna.
Perlu diingat bahwa dalam buku ini Machiavelli berfokus pada salah satunya tentang bagaimana seorang penguasa mempertahankan kekuasaannya. Dalam melanggengkan kekuasaannya, seorang penguasa perlu memisahkan antara moral dan politik. Sebab keduanya saling terpisahkan. Politik tidak berkaitan dengan moral karena moral adalah apa yang diharapkan, sedang politik adalah situasi yang dihadapi. Salah satu kutipannya dalam buku ini mengatakan “… Membunuh sahabat seperjuangan, mengkhianati teman-teman sendiri, tidak memiliki iman, tidak memiliki rasa kasihan, dan tidak memiliki agama; Kesemua hal itu tidak dapat digolongkan sebagai tindakan bermoral, namun dapat memberikan kekuatan…”. Jadi dalam buku ini, Machiavelli kerap mengesampingkan moral bahkan kemanusiaan. Michael. H. Hart, penulis buku The 100, a Rangking of The Most Influential Person in History memasukkan nama Machiavelli dalam daftarnya. Bahkan menyebut buku ini sebagai “Buku Pedoman Para Diktator”.
D. Ditakuti atau Dicintai
Dari 26 bab yang terdapat dalam buku Il Principe, terdapat pembahasan mengenai bagaimana seharusnya figur seorang pemimpin di mata para rakyatnya. Pembahasan ini terdapat pada bab 17. Dalam bab tersebut Machiavelli membahas mengenai apakah seorang pemimpin sebaiknya ditakuti atau dicintai. Machiavelli menenkankan bahwa sepatutnya seorang pemimpin harus dihormati dan berperilaku pemaaf dan tidak kejam. Namun, dengan sifatnya itu soerang pemimpin harus waspada jika sikapnya itu tidak disalahgunakan.
Machiavelli menjadikan Cesare Borgia sebagai contoh pemimpin yang memiliki kekejaman. Namun, dengan kekejamannya itulah kerajaan Romagna menjadi kondusif, teratur, dan bersatu. Keadaan ini berimplikasi pada masyarakat yang tunduk pada rajanya. Selama cara yang diprakikannya dapat mempersatukan bangsa dan membuat rakyat setia, maka seorang pemimpin tidak perlu khawatir dengan ancaman yang timbul atas kekejamannya. Dengan contoh itu seorang pemimpin dapat mencitrakan diri sebagai seorang yang penuh belas kasihan daripada dibandingkan dengan yang memiliki kemurahan hati tetapi membiarkan kekacauan dan ketidakstabilan suatu negara. “Seorang penguasa tidak boleh keberatan disebut seorang yang kejam supaya para bawahannya dapat bersatu dan setia kepadanya.”
Pertanyaan terkait apakah seorang pemimpin lebih baik dicintai atau ditakuti menjadi pertanyaan. Bagi Machiavelli secara proporsional, seorang pemimpin harus memiliki keduanya. Namun, menjadi sangat sulit apabila seorang pemimpin memiliki keduanya.
Pada dasarnya sifat manusia seringkali disebut sebagai tidak tahu terima kasih, tamak, penipu, dan pembohong. Selama seorang pemimpin dapat memperlakukan mereka dengan baik maka mereka akan menjadi pengikut. Mereka akan mempertaruhkan segalanya baik berupa harta, hidup, bahkan anak-anaknya sendiri selama ancaman dan bahaya tidak muncul. Namun dalam keadaan bahaya hadir, mereka dapat memberontak pada pemimpinnya. Seorang pemimpin yang yang menggantungkan diri pada janjinya tanpa ada langkah persiapan maka akan hancur.
Manusia pada dasarnya memiliki sifat egois. Ketika apa yang mereka inginkan telah tercapai, ikatan antar manusia yang diikat oleh rasa cinta akan mudah lepas. Manusia akan dengan mudah memutuskan ikatan cinta apabila ia dirasa lebih menguntungkan. Di sisi lain, manusia tidak akan segan-segan membela apa yang ia takuti daripada yang ia cintai. Rasa takut diperkuat oleh hukuman-hukuman yang menakutkan yang selalu efektif. Jadi ketika seorang pemimpin sulit untuk menjadi ditakuti dan dicintai secara sekaligus, maka akan lebih aman apabila seorang pemimpin ditakuti. Maka dari itu seorang raja harus dapat ditakuti rakyatnya ketika dia tidak dicintai, maka pemimpin tidak boleh dibenci. “Sebab rasa takut cocok dengan tidak adanya rasa benci.”
메타데이터
- post_id
- d2c1dbf7b54c
- slug
- empiris-dicintai-atau-ditakuti-d2c1dbf7b54c
- url
- https://medium.com/@KastratBEMFEBTelkom/empiris-dicintai-atau-ditakuti-d2c1dbf7b54c
- canonical_url
- https://medium.com/@KastratBEMFEBTelkom/empiris-dicintai-atau-ditakuti-d2c1dbf7b54c
- author_url
- https://medium.com/@KastratBEMFEBTelkom
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 14:13:14