← Back to list

Beyond the Algorithm

Menatap sebuah era dan kemajuan dengan kejernihan adalah “blessing in disguise” atau keberkahan itu sendiri. Lalu menatapnya dengan penuh…

Albar Rahman ✍️ · 2026-06-07 07:17 · 0 claps · 4.1 min read paywalled
#medsos #ai #bahasa-indonesia
Open on Medium ↗
Wiki topics: AI · AI · General 💻 · Programming

Beyond the Algorithm

The Fusion of Human Creativity and Artificial Intelligence Technology

The Fusion of Human Creativity and Artificial Intelligence Technology

Menatap sebuah era dan kemajuan dengan kejernihan adalah “blessing in disguise” atau keberkahan itu sendiri. Lalu menatapnya dengan penuh kemarahan dan memuncaknya emosi adalah petaka itu sendiri.

Tulisan kali ini dibuka dengan tujuan melebarkan pintu optimisme dan mengetuk jendela sinisme agar melihat sebuah era dengan dua kacamata dan menimbangnya sejernih mungkin. Karena kita hidup di sebuah era dan menatap masa depan.

unsplash.com

unsplash.com

Memang, kita perlu berkaca dengan masa lalu dan mengambil banyak ibroh, hikmah, pelajaran, keteladanan dari masa lalu. Tapi, kita tidak perlu takut untuk menatap masa depan. Yang perlu kita lakukan adalah mengelaborasinya menjadi sebuah inovasi baru, tantangan baru, bahkan membangun harapan.

Medsos

axios.com

axios.com

Fenomena anak-anak muda Amerika Serikat meninggalkan media sosial karena mereka melihat media sosial sebagai tools atau alat serta medium untuk mempertontonkan standar hidup, lifestyle atau gaya hidup. Mereka mengambil sikap untuk meng-uninstall sebagai langkah trending, adalah sebuah apresiasi di satu sisi.

Sekalian ini menjadi fenomena tersendiri di mana negara Paman Sam, anak-anak mudanya mulai memiliki kesadaran dengan kesehatan mental, dengan rasa kesepian, membanding-bandingkan hidup kita dengan apa yang ada di screen, itu adalah sesuatu yang tidak sehat. Era ini akhirnya memiliki counter narasi bahwa tidak sepenuhnya media sosial adalah alat untuk sekedar hiburan atau sekedar memberikan pencerahan, edukasi satu platform.

Studi tahun 2025 terhadap 373 anak muda usia 18–24 tahun di Amerika menemukan bahwa satu minggu social media detox menurunkan gejala kecemasan sebesar 16,1%, depresi 24,8%, dan insomnia 14,5%. Fakta ini membuka mata kita semua tentang sisi bahaya medsos di era algoritma yang terkadang selalu mempertontonkan standar hidup orang lain melalui screen (layar)

zdfheute.de

zdfheute.de

Pada 2026 muncul gerakan “Month Offline” di Washington DC, di mana anak-anak muda menukar smartphone mereka dengan ponsel lipat selama satu bulan untuk mengurangi dampak negatif media sosial. Langkah kongkrit dan nyata ini bertujuan nyata untuk mengurangi serangan mental dari apa yang mereka konsumsi secara berlebihan di media sosial.

Era AI

US-EDUCATION-HARVARD-GRADUATION

US-EDUCATION-HARVARD-GRADUATION

Fenomena selanjutnya, adanya narasi dalam tanda petik, walk of AI, fuck of AI oleh salah satu keynote speaker di Harvard atau Harvard University menyampaikan gagasan bahwa AI adalah pembunuh yang paling nyata, pembunuh kreativitas kita, pembunuh kita dalam berproses untuk segala mencipta sesuatu.

Ini menjadi catatan penting untuk melihat era atau kontra narasi terkait AI yang lagi berkecamuk. Media sosial dan AI lagi berkecamuk menciptakan algoritmanya sendiri.

Lalu kemudian, ada salah satu pemuka tokoh yang berani memberikan kontra narasinya dengan argumen yang sangat amat kuat. Fenomena ini lahir lagi dari satu kampus terbaik yang ada di Amerika Serikat. Sebuah kontras yang amat luar biasa saat era ini bermunculan begitu masifnya.

AI Creative Intelligence Human Machine Collaboration Technology Concept

AI Creative Intelligence Human Machine Collaboration Technology Concept

Perancang busana Jeremy Scott secara simbolik merobek pidato yang dibuat AI di depan para wisudawan untuk menunjukkan bahwa orisinalitas manusia masih memiliki nilai yang tidak mudah digantikan mesin. Secara eksisitensi manusia tindakan ini wajar saja dilakukan sebagai penekanan fundamental bahwa sejatinya manusia tak akan tergantikan. Ya, sejalan dengan titah Tuhan bahwa manusia itu amatlah istimewa.

Karena mungkin pertanyaan terpenting di era ini bukanlah, “Seberapa canggih AI?” melainkan, “Apakah manusia tetap menjadi manusia ketika segala sesuatu menjadi terlalu mudah?”

Tantangan

Human Creativity vs AI Generation, Artificial Intelligence in Digital Art, Creative Industry Transformation, Originality, Automation and Future of Content Creation Concept

Human Creativity vs AI Generation, Artificial Intelligence in Digital Art, Creative Industry Transformation, Originality, Automation and Future of Content Creation Concept

Sejumlah akademisi berpendapat AI dapat menjadi asisten kreatif yang sangat kuat, asalkan manusia tetap memegang kendali arah, tujuan, dan makna dari karya yang dihasilkan.

Saya memandang ini adalah sebuah tantangan. Dalam kesempatan kali ini saya menitipkan sebuah gagasan bahwa medsos hanyalah alat pun demikian dengan AI.

Kita bisa menggunakan senjata tercanggih sekalipun untuk menjawab tantangan sebuah era atau sebuah masa atau zaman atau sebuah peperangan dengan senjata tercanggih yang bisa kita craft dan ciptakan atau senjata-senjata tercanggih yang telah disediakan. Itu sah-sah saja.

Namun yang perlu kita garis bawahi bersama adalah ketika media sosial adalah ajang untuk menampilkan standar hidup, terutama menampilkan gaya hidup maka kita berhak untuk cut off. Lalu kemudian, jika AI adalah alat atau sebuah hantu yang mematikan daya kreativitas kita, kita juga berhak untuk cut off.

generative, creative and smart Artificial Intelligence concept with human face

generative, creative and smart Artificial Intelligence concept with human face

Sebaliknya, justru AI jadi alat bantu menajamkan kita dalam berpikir dan menciptakan kreativitas yang jauh lebih menantang, jauh lebih progresif, lebih maju, lebih menjawab zaman, justru kita perlu menjadikannya tools yang kita asah setiap harinya.

Media sosial jika media sosial adalah wadah atau tempat, platform yang mampu menyalurkan pikiran-pikiran kita, gagasan-gagasan besar kita, maka ia layak untuk dijadikan panggung megah bagi tersalurnya sebuah gagasan dan pikiran-pikiran besar kita.

Bagaimana pendapat teman-teman? Jika ada pandangan lain atau alternatif pandangan silahkan komentar dan berikan gagasan terliar yang teman-teman ciptakan sendiri!

Sebagai penutup saya ingin mengutip Yuval Noah Harari,

“The real question is not what will happen to technology, but what will happen to humans.”

Pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah apa yang akan terjadi pada teknologi, melainkan apa yang akan terjadi pada manusia?

Semoga bermanfaat. Salam.


메타데이터
post_id
d2cbec9615e7
slug
beyond-the-algorithm-d2cbec9615e7
url
https://medium.com/@albarrahman20/beyond-the-algorithm-d2cbec9615e7
canonical_url
https://medium.com/@albarrahman20/beyond-the-algorithm-d2cbec9615e7
author_url
https://medium.com/@albarrahman20
status
ok
fetched_at
2026-07-09 03:40:04