← Back to list

Malam di Warkop Cimanggis

Malam turun pelan-pelan, tapi Cimanggis masih belum reda. Motor lalu-lalang, suara knalpot bersahut-sahutan, dan anak-anak muda…

Abdul Latif · 2025-05-02 01:33 · 6 claps · 1.6 min read
#warkop #cimanggis #jurnalis #jurnal
Open on Medium ↗

Malam di Warkop Cimanggis

Ilustrasi dibuat dari Sora

Ilustrasi dibuat dari Sora

Malam turun pelan-pelan, tapi Cimanggis masih belum reda. Motor lalu-lalang, suara knalpot bersahut-sahutan, dan anak-anak muda berboncengan menembus jalanan perumahan Lawas. Saya duduk di pojokan sebuah warkop, awalnya cuma ingin main hp. Tapi akhirnya, saya tertarik mengamati aktivitas di sekitar saya.

Seekor kecoa lewat, santai banget seolah dia juga langganan di sini. Pengunjung mulai berdatangan. Di depan saya, sekitar sepuluh meter, ada sepasang anak muda. Entah teman, pacar, atau mungkin baru kenal dari Tinder. Keduanya tenggelam di layar hape masing-masing. Si cowok pesan Es Nutrisari jeruk, si cewek Es Cappuccino.

Di kiri saya, dua lelaki bercakap. Satunya gondrong pakai kacamata hitam malam-malam begini. Satunya lagi rambut pendek, nyender sambil mengisap rokok kretek. Obrolan mereka pelan, tapi dari raut wajahnya kelihatan akrab.

Lalu datang satu lagi pengunjung, pakai jaket ojol. Duduk santai di kursi bar, merokok, seolah malam itu miliknya. Warkop ini memang nggak neko-neko.

Menunya standar: indomie, gorengan, kopi sachet. Murah, cepat, dan akrab. Persis seperti obrolan para pengunjungnya — tanpa basa-basi.

Tujuh menit berlalu. Tak banyak berubah di sekitar saya. Si cewek tadi kini sedang menelpon, si gondrong hilang entah ke mana, dan si rambut cepak sendirian ngulik hape.

“Atas nama Esa,” seru pegawai warkop sambil membawa pesanan. Rupanya untuk si ojol. Saya baru tahu, sistem panggil nama dipakai juga di sini.

Waktu saya pesan indomie telur tadi, abang kasir langsung mencatat tanpa panggilan apa pun. Mungkin karena saya kelihatan sendirian. Mungkin juga karena belum jadi ‘langganan tetap’.

Saya memperhatikan semuanya sambil terus mengetik. Tujuannya sederhana: melatih indra penglihatan untuk hadir utuh dalam tulisan. Tapi malam ini, saya merasa lebih dari itu. Saya sedang belajar menjadi bagian dari sebuah cerita kecil yang sering kita abaikan: cerita tentang orang-orang asing yang tak sadar sedang berbagi waktu dan ruang bersama.

Dari speaker, lagu Denny Caknan mengalun pelan. Lagu-lagu Jawa bertubrukan dengan logat Betawi dari dua cowok di depan saya. Kontrasnya menarik — seperti warkop ini: sederhana tapi penuh warna.

Kadang saya heran, kenapa saya lebih tenang di tempat asing seperti ini? Mungkin karena tak ada yang mengenal, jadi tak perlu berpura-pura. Mungkin karena di antara orang-orang asing saya bisa merasa hadir.


메타데이터
post_id
d2d02cf814da
slug
malam-di-warkop-cimanggis-d2d02cf814da
url
https://medium.com/@lalativ/malam-di-warkop-cimanggis-d2d02cf814da
canonical_url
https://medium.com/@lalativ/malam-di-warkop-cimanggis-d2d02cf814da
author_url
https://medium.com/@lalativ
status
ok
fetched_at
2026-07-20 02:51:28