Tekanan yang Tak Terlihat
#1159: Mengapa Telinga Sakit di Kabin Pesawat?
Sains
Tekanan yang Tak Terlihat
#1159: Mengapa Telinga Sakit di Kabin Pesawat?
Ilustrasi: Pascal Meier/Unsplash
Naik pesawat ketika pilek itu menyeramkan. Saya tahu telinga akan diuji. Saat pesawat lepas landas atau mulai turun, rasa penuh muncul perlahan di dalam kepala. Rasa itu kadang hanya seperti budek sementara, tetapi kadang berubah menjadi nyeri yang membuat wajah meringis. Di tengah suara mesin dan pengumuman awak kabin, saya sering bertanya-tanya, tekanan apa sebenarnya yang sedang bekerja diam-diam di dalam telinga ini.
🔑 Lanjutkan membaca dengan mengklik tautan teman ini.
Udara memang tak terlihat, tetapi ia punya berat. Seluruh kolom udara dari permukaan bumi hingga lapisan atas atmosfer menekan tubuh kita setiap saat. Di permukaan laut, tekanannya sekitar satu atmosfer. Kita tidak merasa terhimpit karena tekanan di dalam tubuh setara dengan tekanan di luar. Selama keseimbangan terjaga, semuanya terasa wajar. Rasa sakit muncul ketika keseimbangan itu berubah mendadak.
Di dalam kabin pesawat, tekanan tidak sama persis dengan tekanan di darat. Sistem pesawat mengatur tekanan kabin agar tetap nyaman, kira-kira setara dengan berada di kawasan Dieng, sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Artinya, tubuh kita sebenarnya berada di lingkungan buatan. Saat pesawat naik dan turun, tekanan kabin ikut berubah secara bertahap. Tubuh harus menyesuaikan diri pada perubahan yang tidak terlihat itu.
Gendang telinga menjadi titik paling peka dalam penyesuaian ini. Ia adalah selapis jaringan tipis yang memisahkan saluran telinga luar dengan ruang kecil di belakangnya yang berisi udara. Agar nyaman, tekanan di kedua sisi harus sama. Jika tekanan luar lebih besar, membran terdorong ke dalam. Jika tekanan dalam lebih besar, ia melengkung ke luar. Sedikit selisih saja sudah cukup menimbulkan rasa tidak enak.
Baik saat pesawat naik maupun turun, yang terjadi adalah perubahan tekanan. Saat naik, tekanan kabin menurun sehingga udara di telinga tengah relatif lebih tinggi tekanannya dan terdorong keluar melalui saluran kecil menuju tenggorokan. Saat turun, tekanan kabin meningkat sehingga udara harus masuk ke telinga tengah. Kedua kondisi ini bisa sama-sama menimbulkan rasa sakit jika penyesuaian tidak berlangsung cepat.
Banyak orang merasa fase turun lebih berat. Bukan karena hukum fisikanya berbeda, melainkan karena arah aliran udaranya. Udara relatif lebih mudah keluar daripada masuk melalui saluran kecil bernama tuba Eustachius. Saat naik, udara mendorong pintu dari dalam untuk keluar. Saat turun, udara luar harus masuk melalui saluran yang sering kali mengempis atau tersumbat.
Karena itulah kita menelan, menguap, atau mengunyah permen saat telinga terasa penuh. Gerakan sederhana itu membantu membuka saluran penyeimbang agar udara bisa mengalir dan tekanan kembali sama di kedua sisi. Begitu keseimbangan tercapai, rasa sakit mereda. Pengalaman di kabin pesawat menunjukkan bahwa tekanan selalu ada meski tak terlihat. Selama ada jalan untuk menyesuaikan diri, perubahan tidak harus berakhir sebagai rasa sakit yang berkepanjangan.
Jurnal dan Kenangan
Rabu kemarin, saya menambahkan menu “Ejaan” di Kateglo karena kesal situs EYD Badan Bahasa kerap sulit diakses. Ini berarti menu keenam setelah kamus, tesaurus, glosarium, makna, dan rima. Malamnya, saya menyimak paparan Selisik Kebahasaan (Lisan) #32 dari Bu Yuliana Setyaningsih dengan topik “Fonologi: Bunyi Bahasa dan Identitas Penutur”. Meski topiknya spesifik, beliau menyelipkan pembahasan dasar fonologi dengan cara yang, menurut saya, mudah dipahami.
[embed]
Tahun lalu, saya mengisi lokakarya penyusunan analisis legislasi luar negeri untuk Pusaka Setjen DPR setelah terlebih dahulu mempelajari dokumen FLA yang mereka kirim. Paparan saya menyoroti struktur kajian, koherensi wacana, hingga ketepatan diksi. Diskusi dengan peneliti lintas bidang menunjukkan pentingnya membandingkan kebijakan global sebelum merumuskan rekomendasi domestik. Mutu analisis sangat ditopang oleh kejernihan bahasa dan ketertiban struktur.
Dua tahun lalu, saya mendampingi Mbak Felicia Nuradi Utorodewo dalam pelatihan penulisan laporan untuk Bank Indonesia dan merasakan peran bak asisten dosen. Saya lebih banyak menyimak, sementara beliau membedah keefektifan kalimat dan koherensi laporan KSK. Dari pengamatan itu, saya makin mafhum bahwa laporan ekonomi menuntut kalimat ringkas, tunggal makna, dan tertata rapi agar mudah dicerna pembaca.
[embed]Asisten Dosen #428: Mendampingi guru mengajar penulisan laporan Bank Indonesiaivanlanin.medium.com
Ingin lebih terampil berbahasa? Kunjungi toko 🏪, ikuti kelas 👨🏫, atau hubungi 📞 Narabahasa.
메타데이터
- post_id
- d2e3e34248e1
- slug
- tekanan-yang-tak-terlihat-d2e3e34248e1
- url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/tekanan-yang-tak-terlihat-d2e3e34248e1
- canonical_url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/tekanan-yang-tak-terlihat-d2e3e34248e1
- author_url
- https://medium.com/@ivanlanin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 07:00:49