Ternyata Menulis Cukup Melelahkan
[26] Catatan setelah satu pekan jarang menulis
NULIS AJA DULU
Ternyata Menulis Cukup Melelahkan
[26] Catatan setelah satu pekan jarang menulis
Foto oleh Siora Photography di Unsplash
Bagi Manusia yang melabeli dirinya sebagai seorang penulis, rutinitas menorehkan aksara bisa terasa susah-susah-gampang. Ada masa di mana ide terasa mengalir begitu saja. Ada pula kondisi di mana gagasan justru terasa macet di tengah jalan.
Dalam dunia menulis sendiri, ada istilah bernama kebuntuan menulis (writer's block). Situasi ini bisa dialami oleh semua kalangan, baik amatir maupun kelas pakar. Ide mungkin saja ada, tetapi entah mengapa sulit diterjemahkan ke dalam bentuk tulisan.
Fenomena ini bisa disebabkan oleh banyak hal. Umumnya karena kelelahan fisik, tekanan emosional, keinginan untuk tampil sempurna, atau perasaan jenuh karena aktivitas berulang.
Otak manusia merupakan salah satu bagian tubuh yang paling boros
Ia mengonsumsi sekitar 20 persen dari total energi tubuh. Jumlah yang besar untuk organ seukuran dua kepal tangan orang dewasa.
Dari informasi tersebut, dapat diketahui bahwa otak membutuhkan banyak energi. Inilah sebabnya kita dapat merasa lelah setelah berpikir seharian. Berlaku juga untuk aktivitas yang melibatkan kinerja otak, misalnya menulis.
Saat menulis, otak berusaha untuk memahami informasi, mengenali perasaan, dan menerjemahkannya ke dalam bentuk kalimat. Jika dilakukan terus-menerus dengan intensitas yang tinggi, menulis bisa terasa melelahkan.
Selain itu, tekanan emosional juga menjadi salah satu penyebab writer’s block.
Tulisan merupakan cermin dari cara berpikir dan kondisi emosional pengarangnya. Terkadang dua hal tersebut tidak tersurat dengan jelas, tetapi dapat dirasakan oleh pembaca yang akrab berinteraksi dengan banyak tulisan.
Mana penulis yang sedang bahagia. Mana penulis yang sedang kecewa. Dan, mana penulis yang sedang cemas. Itu bisa dilihat dari cara penyampaiannya, misalnya pemilihan kata.
Baca juga
[embed]*Bukan Kutu Loncat, tapi Ide Loncat *[5] Keluh-kesah dari seorang penulis pemula medium.com
Ada pula ‘penyakit’ yang kerap menimpa para penulis pemula: perfeksionisme
Perasaan tertinggal atau minder setelah membaca karya penulis berpengalaman. Kebiasaan ini seperti pisau bermata dua. Di satu sisi bisa menjadi studi banding untuk meningkatkan kualitas tulisan. Namun, ada pula yang malah berakhir mengurungkan niatnya untuk untuk lanjut menulis.
Baca juga
[embed]*Mengejar Sempurna sampai Lupa Menjadi Manusia *[14] Hari pertama melawan perfeksionisme medium.com
Rutinitas yang dilakukan berulang kali rentan menyebabkan bosan
Pola yang sama membuat otak kita familiar dengannya. Terlebih lagi apabila dalam rangkaian aktivitas tersebut, perubahan terjadi secara perlahan. Sedikit demi sedikit sehingga sulit untuk melihat kemajuan (progress) di setiap harinya.
Saya pernah merasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Tiba-tiba sudah berganti hari, pekan, bulan, bahkan tahun. Anehnya, perasaan ini makin sering terlihat seiring bertambahnya usia.
Karena penasaran, saya mencari jawabannya di berbagai sumber. Salah satu penyebabnya yaitu karena aktivitas yang monoton.
Setelah bertumbuh dewasa, kita sudah menjajal banyak pengalaman. Meskipun masih ada hal baru di tiap harinya, polanya masih serupa. Tidak banyak berubah.
Itu pula yang saya alami ketika menulis. Dahulu, kegiatan ini merupakan hal baru bagi saya. Namun, ketika lama berteman dengannya, menulis bukan lagi aktivitas asing bagi saya.
Tidak salah sebenarnya. Itu bagus. Hanya saja, saya perlu memvariasikan banyak hal tentangnya. Mungkin bisa berpindah tema agar tidak monoton. Mungkin bisa berganti tempat dan suasana agar tidak merasa bosan.
Foto oleh Christof Wettengel di Unsplash
Sejauh ini, saya banyak menulis di topik refleksi dan sains. Kedua ranah tersebut memiliki tantangannya masing-masing. Namun, yang paling sering saya rasakan ialah alur menulis yang itu-itu saja.
Lebih khusus dalam tulisan ilmiah di rubrik Sains Sehari-hari. Diawali dengan pertanyaan receh karena penasaran. Dilanjut mencari jawaban melalui berbagai sumber. Dipahami penjelasannya, lalu dituangkan ke dalam bentuk tulisan dengan bahasa yang (semoga) mudah dipahami.
Alurnya cenderung sama. Lama-lama, saya bosan dan lelah dengan semua itu.
Lebih parahnya lagi, terkadang itu terjadi dengan dipaksakan. Terlebih di fase awal, misalnya tahap mencari ide dan tahap memahami penjelasan.
Makin ke sini, saya merasa itu tidak lagi natural. Sepertinya tulisan tersebut tercipta bukan karena keinginan pribadi, melainkan sekadar supaya ada yang ter-publish hari ini.
Dengan kata lain, menjadi budak angka yang mengagungkan jumlah penerbitan.
Mungkin ke depannya, saya perlu lebih natural lagi. Menulis dengan keinginan yang datang dari hati, bukan sekadar objek pemuas algoritma atau profil LinkedIn. Eh!?
Foto oleh Greg Rakozy di Unsplash
Ini juga termasuk dalam dua rubrik favorit, Menjadi Manusia dan Sains Sehari-hari.
Pengalaman saya memang masih sedikit, tetapi itu bisa menjadi surat pengingat untuk diri di masa depan.
Saya pernah mengalami itu, saya pernah berpikir seperti ini.
Begitu pula dengan tema sains. Jelas ilmu saya kalah jauh jika disandingkan dengan pakar di bidangnya. Akan tetapi, mungkin itu justru bisa menjadi alasan saya untuk kembali dan tetap menulis di Medium.
Bukan hanya sebatas berbagi wawasan, melainkan juga sebagai catatan yang merekam perjalanan belajar.
Saya masih orang yang sama, orang yang ingin mendapat banyak apresiasi, banyak dukungan, dan banyak pembaca. Hanya saja, sepertinya tiga hal itu sudah tidak lagi menjadi alasan utama untuk menulis.
Mungkin sebagai seorang amatir, saya perlu terlebih dahulu menjadikan menulis sebagai rumah yang nyaman untuk pulang.
Tulisan ini berawal dari kontemplasi di atas kertas. Beberapa hari terakhir, entah mengapa menulis dengan pena terasa lebih nyaman.
Oleh karenanya, saya memindahkan catatan perenungan ini ke Medium. Mungkin, cara ini bisa membuat Medium kembali menjadi ‘rumah’ untuk tulisan saya selanjutnya.
Terima kasih telah membaca hingga akhir. Jika artikel ini bermanfaat, Anda bisa memberi tepuk tangan, menyorot kalimat, dan menanggapi gagasan.
메타데이터
- post_id
- d2ea120e5cbc
- slug
- ternyata-menulis-cukup-melelahkan-d2ea120e5cbc
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/ternyata-menulis-cukup-melelahkan-d2ea120e5cbc
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/ternyata-menulis-cukup-melelahkan-d2ea120e5cbc
- author_url
- https://medium.com/@aryo.akhmad
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 10:39:35