Dakwah Itu Bullshit
Atau Selama Ini Kita Salah Mengartikannya?
Dakwah Itu Bullshit
Atau Selama Ini Kita Salah Mengartikannya?

Kalimat itu mungkin terdengar lancang. Bahkan aku sendiri tidak benar-benar percaya bahwa dakwah itu bullshit. Tapi kalau beberapa tahun lalu ada yang bertanya bagaimana rasanya berjalan di dunia dakwah, mungkin itulah kalimat pertama yang akan keluar dari mulutku.
Kalimat itu bukan lahir karena aku membenci dakwah. Justru sebaliknya. Kalimat itu lahir dari perjalanan panjang ketika aku mencoba mencintai dakwah, lalu berkali-kali bertemu dengan realita yang tidak sesuai dengan bayanganku.
Di dunia perkuliahan ini, aku memang punya target untuk istiqamah berpakaian syar’i, sebagaimana yang dulu pernah aku janjikan kepada umi. Bukan semata-mata untuk menyenangkan hati beliau, tapi semakin aku bertambah dewasa, aku sadar kalau nilai-nilai yang orang tuaku tanamkan sejak kecil ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Pelan-pelan, tanpa aku sadari, semuanya tumbuh menjadi bagian dari diriku sendiri.
Tapi aku tidak pernah menyangka kalau niat kecil itu berusaha memperbaiki pakaian dan mencari lingkungan yang baik justru akan membawaku pada perjalanan yang tidak mudah. Perjalanan yang namanya dakwah.
Sebenarnya sejak SMA aku sudah tergabung di organisasi rohani Islam di sekolah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, kegiatan kami waktu itu masih sebatas eventual saja. Tidak jauh berbeda dengan organisasi lainnya. Bahkan penerapan code of conduct pun sering kali hanya menjadi formalitas yang tertulis di atas kertas. Masih banyak yang pacaran, interaksi laki-laki dan perempuan juga biasa saja, dan kalau dipikir lagi, aku merasa waktu itu kami lebih banyak menemukan solidaritas daripada benar-benar bertumbuh bersama dalam ilmu.
Mungkin di fase itu aku baru menemukan ukhuwah.
Di pertengahan masa SMA, aku diajak salah satu teman SMP untuk mengikuti Leadership Basic Training di salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Tanpa berpikir panjang aku mengiyakan, karena saat itu aku merasa belum menemukan organisasi Islam yang menurutku ideal.
Selama enam hari kami mengikuti berbagai kelas dengan materi yang luar biasa. Jujur, aku kagum. Saat itu aku berpikir, "Oh... ternyata organisasi Islam harusnya seperti ini. Kaderisasi yang baik ya seperti ini."
Aku pulang dengan semangat yang besar.
Beberapa bulan kemudian, menjelang lulus SMA, aku kembali berangkat sebagai delegasi ke konferensi wilayah bersama teman-teman dari berbagai daerah. Kali ini bukan lagi basic training.
Di sinilah aku mulai melihat sisi lain.
Di luar ruang kelas, di luar forum, ternyata orang-orang yang tadi berbicara soal nilai-nilai juga kembali menjadi manusia biasa. Kami bisa mengobrol sampai subuh, bercampur antara ikhwan dan akhwat. Saat itu aku masih menganggap semuanya wajar. Entahlah... mungkin karena aku juga bagian dari mereka.
Sebelum akhirnya berangkat ke Bogor untuk kuliah, aku sempat mengikuti kursus kemuslimahan selama sekitar satu minggu di Tegal. Setelah pindah ke Bogor, tentu aku ingin tetap terlibat di organisasi yang sama. Aku pun mulai mengikuti akun Instagram ketua umumnya, dan ternyata beliau yang lebih dulu menghubungiku.
Aku belum benar-benar mempertanyakan apa pun. Sampai mulai datang ke beberapa pertemuan.
Dan di sinilah perlahan muncul banyak tanda tanya.
Aku tidak tahu kalau rokok ternyata menjadi hal yang begitu biasa di dalam forum. Aku tidak menyangka kalau pembahasan tentang shalat pun masih diperdebatkan, entah karena mereka terlalu kritis atau memang ada sudut pandang yang berbeda. Bahkan beberapa orang terang-terangan berpacaran dengan sesama kader.
Saat itu aku mulai bingung.
Bukankah organisasi ini seharusnya menjadi tempat kita saling menjaga?Bukankah kaderisasi seharusnya tidak hanya melahirkan orang yang pandai berbicara, tapi juga berusaha menjaga dirinya?
Bukan berarti aku merasa lebih baik dari mereka. Justru karena aku sadar aku juga penuh kekurangan, akhirnya aku memutuskan mundur dari kepengurusan yang bahkan belum sempat dilantik.
Bukan karena aku merasa paling benar. Bukan juga karena aku tidak suka dengan orang-orangnya. Aku hanya takut kalau aku tetap bertahan, aku akan lebih sibuk melihat kekurangan orang lain daripada memperbaiki diriku sendiri.
Ternyata keputusan itu tidak berjalan mulus.
Aku berkali-kali mendapat kritik, dibilang meninggalkan jalan dakwah, dibilang tidak mau mengajak orang dalam kebaikan, dibilang menyia-nyiakan kesempatan. Tapi... it’s my choice.
Suatu hari aku menceritakan semua keresahan ini kepada salah satu pemateri dalam diskusi kemuslimahan. Beliau hanya menjawab dengan satu kalimat sederhana.
"Kamu tahu kenapa ada peristiwa hijrah ke Madinah? Karena saat itu keadaan di Makkah sudah tidak memungkinkan."
Lalu beliau melanjutkan,
"Jalan dakwah itu banyak. Kalau kamu tidak merasa cocok di satu tempat, bukan berarti kamu meninggalkan dakwah. Pastikan saja kamu tetap menemukan tempat lain yang bisa menjadi media dakwahmu."
Kalimat itu cukup menenangkan. Rasanya seperti diingatkan bahwa Allah tidak membatasi jalan kebaikan hanya melalui satu organisasi atau satu tempat saja. Dan aku mencoba mewujudkannya. Hari ini, media dakwahku mungkin bukan lagi di organisasi itu. Aku menemukannya di LKM dan BKIM, tempat-tempat yang membuatku merasa tetap bisa bertumbuh tanpa harus memaksakan diri berada di lingkungan yang tidak membuatku tenang.
Meskipun begitu, ternyata pindah tempat tidak serta-merta menghilangkan semua pertanyaanku. Justru setelah berada di lingkungan yang baru, aku semakin sering bertanya pada diri sendiri. Selama ini aku terlalu sibuk mempertanyakan organisasi, sampai lupa mempertanyakan diriku sendiri. Kalau ternyata manusia di jalan dakwah sama-sama sedang berproses, lalu bagaimana denganku? Dengan ilmu yang masih sedikit, dengan hafalan yang masih jauh dari cukup, apa aku sendiri pantas berbicara tentang kebaikan kepada orang lain?
Pertanyaan itu akhirnya kubawa kepada mentorku, Ka Diva. "Ka, sebenarnya dengan ilmu yang masih sedikit begini, apa kita pantas berdakwah?" Beliau hanya menjawab singkat, "Sampaikan walau satu ayat."
Sesederhana itu.
Kalimat yang mungkin sudah sering kita dengar, tetapi entah kenapa waktu itu terasa berbeda. Seolah beliau sedang mengingatkanku bahwa dakwah bukan soal siapa yang paling banyak ilmunya, melainkan tentang tidak pelit membagikan kebaikan yang memang sudah kita ketahui.
Aku sering berpikir, kenapa ya kadang justru orang-orang yang menurutku sangat berpotensi di jalan dakwah memilih tidak menekuninya? Atau mungkin memang Allah memberikan ketertarikan yang berbeda-beda kepada setiap orang, sehingga jalan kontribusinya pun berbeda.
Aku punya seorang teman yang hafidzah 30 juz. MasyaAllah, ilmunya jauh lebih banyak dariku. Tapi penampilannya biasa saja, tidak mengenakan pakaian syar’i seperti yang selama ini sedang aku usahakan. Sedangkan aku yang berusaha istiqamah dengan pakaian syar’i justru tidak punya hafalan sebanyak itu.
Kadang aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya siapa yang lebih pantas berada di jalan dakwah? Apakah orang yang pakaiannya sudah mencerminkan identitas seorang muslimah tetapi ilmunya masih sedikit? Atau orang yang ilmunya luar biasa tetapi memilih mengekspresikan keislamannya dengan cara yang berbeda?
Semakin dipikirkan, semakin aku merasa bahwa mungkin pertanyaan itu memang bukan untuk dijawab oleh manusia. Selama ini kita terlalu sering mengukur seseorang dari apa yang tampak, padahal Allah melihat perjalanan yang tidak pernah benar-benar bisa kita lihat. Ada yang sedang berjuang memperbaiki pakaiannya, ada yang sedang berjuang menjaga shalatnya, ada yang sedang menghafal Al-Qur’an, ada pula yang sedang belajar memperbaiki akhlaknya. Semuanya sedang berada di titik perjuangan yang berbeda.
Sampai hari ini pun aku masih belum benar-benar menemukan jawaban atas semua pertanyaan itu. Tentang apa sebenarnya dakwah, tentang siapa yang pantas berdakwah, dan tentang apakah organisasi adalah satu-satunya jalan untuk menyebarkan kebaikan.
Yang mulai aku yakini justru sederhana. Mungkin dakwah bukan tentang menjadi orang yang paling suci atau orang yang paling banyak ilmunya. Kalau memang harus menunggu sempurna untuk berdakwah, mungkin tidak akan ada satu pun manusia yang pantas melakukannya.
Aku juga mulai sadar bahwa setiap orang sedang berjuang di jalannya masing-masing. Ada yang sedang memperbaiki pakaiannya, ada yang sedang menjaga shalatnya, ada yang sedang menghafal Al-Qur’an, ada juga yang sedang belajar memperbaiki akhlaknya. Bisa jadi kita terlalu sering menilai seseorang dari apa yang tampak, padahal Allah melihat proses yang bahkan tidak pernah kita ketahui.
Mungkin selama ini yang membuatku kecewa bukan dakwahnya. Yang membuatku kecewa adalah ekspektasiku terhadap manusia. Padahal manusia, sebaik apa pun lingkungannya, tetaplah manusia yang sedang berjuang melawan dirinya sendiri.
Di tengah semua pertanyaan itu, aku kemudian teringat pada firman Allah:
“ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.’" (QS. Al-Baqarah: 2:30)»
Ayat ini membuatku kembali berpikir. Jika sejak awal penciptaannya manusia memang diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi, bukankah setiap dari kita memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kebaikan sesuai kapasitas yang Allah titipkan? Mungkin bentuknya tidak selalu menjadi dai di atas mimbar, tidak selalu menjadi pengurus organisasi dakwah, atau menjadi orang yang paling banyak ilmunya. Bisa jadi, menjadi khalifah juga berarti menjaga diri, menebarkan manfaat, dan menyampaikan kebaikan yang memang sudah kita pahami.
Barangkali di situlah aku mulai menemukan sedikit jawaban. Dakwah bukanlah tentang siapa yang paling sempurna, melainkan tentang bagaimana setiap manusia menjalankan amanahnya sebagai khalifah di bumi, sambil terus belajar dan memperbaiki diri.
Terlepas dari semua kekurangan yang mungkin masih aku temui di berbagai ruang dakwah hari ini, aku tetap berharap semoga Allah selalu menjaga jalan ini. Semoga Allah terus menghadirkan orang-orang yang ikhlas, yang tidak hanya pandai berbicara tetapi juga terus berusaha memperbaiki dirinya. Dan semoga kita semua, dengan segala keterbatasan ilmu, amal, dan proses yang masih panjang, tetap diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari orang-orang yang menyeru kepada kebaikan.
Karena pada akhirnya, kita semua adalah manusia yang Allah beri amanah sebagai khalifah di bumi. Mungkin bentuk dakwah kita tidak akan selalu sama. Ada yang berdakwah melalui ilmu, ada yang melalui akhlak, ada yang melalui karya, ada pula yang melalui keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Namun semoga, sekecil apa pun ikhtiar yang kita lakukan, Allah berkenan menerimanya sebagai bagian dari amal yang membawa manfaat bagi sesama.
Dan semoga, ketika suatu hari nanti aku kembali membaca tulisan ini, aku tidak lagi sibuk mencari siapa yang paling pantas berdakwah. Aku hanya ingin terus mengingat bahwa tugasku adalah tetap belajar, tetap memperbaiki diri, dan ketika Allah memberiku satu ayat, satu ilmu, atau satu kebaikan yang telah kupahami, semoga aku tidak ragu untuk menyampaikannya.
메타데이터
- post_id
- d2fc311909b6
- slug
- dakwah-itu-bullshit-d2fc311909b6
- url
- https://medium.com/@nasywaramadhani/dakwah-itu-bullshit-d2fc311909b6
- canonical_url
- https://medium.com/@nasywaramadhani/dakwah-itu-bullshit-d2fc311909b6
- author_url
- https://medium.com/@nasywaramadhani
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 00:50:33