← Back to list

𝒯𝒾𝓁𝓁 𝒲𝑒 𝑀𝑒𝑒𝓉 π’œπ‘”π’Άπ’Ύπ“ƒ

Ananta tidak pernah benar-benar merencanakan Italia sebagai pelariannya.

ciaaβ˜†γƒŸ Β· 2026-05-31 15:26 Β· 0 claps Β· 6.9 min read
#alternative-universe #narrative #fiction #fiction-writing
Open on Medium β†—
Wiki topics: LIT Β· Literature & Writing πŸ”­ Β· Astronomy & Space ✍️ Β· Writing & Creative

𝒯𝒾𝓁𝓁 𝒲𝑒 𝑀𝑒𝑒𝓉 π’œπ‘”π’Άπ’Ύπ“ƒ

#komazu one shot narrative au

#komazu one shot narrative au

Italia, Januari 2026

Ananta tidak pernah benar-benar merencanakan Italia sebagai pelariannya.

Awalnya murni untuk urusan bisnis β€” riset tentang kopi, networking dengan supplier, melihat langsung bagaimana industri ini bergerak di negara yang melahirkan nama espresso. Jujur saja, jika bukan karena dua bulan yg lalu, mungkin dia akan mengirim orang lain ke sini dan tetap duduk di balik meja kerjanya seperti biasa.

Seperti yang selalu dia lakukan.

Seperti yang katanya menjadi masalah.

Dia tidak mau memikirkannya sekarang, dia tidak mau memikirkan kata-kata itu β€” kata yang diucapkan dengan nada yang terlalu tenang, seperti sudah dipikirkan secara matang-matang, seolah itu adalah keputusan yang sudah lama dibuat, hanya saja menunggu waktu yang tepat untuk diucapkan. Meskipun dia tidak mau memikirkan perbandingan apapun yang ikut terlontar setelahnya, tapi dia tahu bahwa kata-kata tersebut menempel di kepalanya dengan keras sampai saat ini.

β€œEmang kamu punya apa?”

Pertanyaan itu yang membuat Ananta memutuskan untuk mengunjungi Italia.

Kota pertama yang dia tuju adalah Rimini β€” kota tua yang dipenuhi reruntuhan Romawi yang kini menjadi jauh lebih lenggang dari biasanya. Ada hal menarik yang membuat Ananta menginjakkan kaki di kota ini.

Ananta mengunjungi expo food service terbesar di Eropa β€” SIGEP World 2026 yang berlangsung lima hari di Rimini Expo Centre. Tempat yang seharusnya masuk list itenary setiap orang yang ingin serius berada di industri ini. Bagi Ananta, apapun yang sedang terjadi dalam hidupnya, dia takkan pernah lepas dari kopi–hidupnya seserius itu jika mengenai kopi.

Hari pertama di expo tersebut, Ananta berdiri sejenak dan mengedarkan pandangannya di pintu masuk Hall A, Matanya penuh dengan kekaguman yang tak bisa dijelaskan. Rasanya dia seperti berada di surga dunia. Dengan seluas 138.000 meter persegi, lebih dari 1000 exhibitor, dan ribuan orang dari 75 negara yang bergerak ke segala arah dengan name tag yang menggantung di leher dan tas katalog di tangan. Aroma kopi menyeruak dari segala penjuru, aroma yang mampu memanjakan penciumannya β€” bertumpuk dengan wangi coklat, vanilla, adonan pizza yang baru dipanggang, membentuk suatu aroma yang dirumuskan seperti: industri yang sedang hidup.

Dia suka berada disini. Riuh, sesak, bising dengan caranya yang menyenangkan. Tanpa sadar, dia kut bertepuk tangan β€” dan baru menyadarinya ketika suara di kelilingnya mereda. Kapan terakhir dia melakukan sesuatu tanpa berpikir dua kali?

Coffee Arena, sebuah kompetisi yang menjadi alasan Ananta untuk mengunjungi kota Rimini.

Ruangan itu berbeda dari sisa expo yang terasa seperti pasar raksasa. Disini ada panggung, ada pencahayaan yang terfokus, ada juga keheningan yang tak sepenuhnya hening β€” lebih tepatnya, penonton yang menggigit jari atau menahan napas, ada juri yang mencatat, dan ada suara mesin espresso yang berbunyi dengan presisi.

Hari itu sedang berlangsungnya sebuah kompetisi yang dinamakan Italian Barista Championship. Sebuah kompetisi yang mengharuskan barista menyajikan berbagai kopi dalam waktu lima belas menit β€” empat espresso, empat minuman berbasis susu, empat signature beverage, dan seorang barista harus menceritakan kopinya yang seolah setiap cangkirnya adalah argumen yang perlu dimenangkan. Dimulai dari teknik, kreativitas, dan storytelling–ketiganya dilakukan pada hari itu untuk meyakinkan juri.

Ananta berdiri di sisi penonton dengan notebook yang sedia di tangan β€” sebuah kebiasaan lamanya yang senang mencatat dengan tulisan tangan, karena kata-kata yang ditulis lebih nyata, juga lebih mudah diingat. Matanya mengikuti setiap gerakan barista di panggung; cara tangannya memegang portafilter, sudut tamping, timing extraction yang dihitung dalam kepalanya.

Dia tidak sadar bahwa dia sudah menahan napas sambil menggigit ujung penanya sampai barista itu selesai dan seketika ruangan dipenuhi oleh keriuhan tepuk tangan dari penonton.

Enam belas detik extraction. Distribusi grind-nya hampir sempurna.

Dia menulis itu. Lalu dibawahnya, dia menorehkan apa yang dia pikirkan: apakah storytelling bisa dipelajari, atau memang ada orang yang lahir tahu cara menceritakan sesuatu?

Kemudian, dia menutup notebook nya.

Keempat hari setelahnya dia habiskan di antara ribuan booth yang membentang di Exhibition Floor.

Supplier biji kopi dari Ethiopia, Kolumbia, Guatemala berdatangan memenuhi booth yang sudah disediakan. Roaster Italian yang berbicara dengan tangan hampir lebih banyak dari mulut kemudian menjelaskan flavor profile dengan antusias, seolah sedang menceritakan sesuatu yang sakral. Tanpa dia sadari, seorang distributor asal Jepang diam-diam menyelipkan kartu nama di atas notebook nya Ananta yang terbuka dan berkata, β€œIf you ever want single-origin from Yamagata, call me first.” yang kemudian dijawab β€œThank you, I’ll consider it.” sambil tersenyum.

Ananta melanjutkan aktivitasnya β€” berbicara, mencatat, mencicipi, dan bertanya. Dia baru sdar sudah dua jam berlalu dan HPnya belum sekalipun dia lirik. Di Jakarta, dua puluh menit meeting saja rasanya seperti menunggu antrian di kantor imigrasi. Mungkin benar kata Gilang bahwa dia takkan rugi untuk datang kesini karena dia benar-benar melihat banyak orang yang mencintai pekerjaan ini.

Matanya tertuju pada salah satu sudut Hall A1. Dia melihat mesin espresso terbaru dari sebuah brand Italia yang belum memasuki pasar β€” teknologi pre-infusion yang lebih presisi, dilengkapi dengan desain yang lebih compact. Barista yang menjaga booth itu mempersilahkan dia mencoba sendiri dan Ananta melakukannya dengan penuh kehati-hatian β€” dia tahu betul apa yang sedang dipegang olehnya.

Dia bergumam, β€œExtraction nya bagus, lebih dari kata bagus.” yang kemudian mendapat anggukan dan jempol dari baristanya.

Dia pun menanyakan terkait kapan mesin espresso ini bisa masuk ke pasar dan barista memberitahu bahwa sebentar lagi, jadi dia hanya perlu menunggu informasi lanjutan. Setelahnya, dia meninggalkan booth itu dengan brosur, katalog, harga, dan pikirang yang sudah setengah jalan merancang bagaimana mesin ini akan masuk ke dalam layout coffee shop nya.

Dia bergumam dalam hati, β€œSetidaknya, gue tahu gue punya sesuatu jika menyangkut soal kopi.”

Kalimat itulah yang menjadi jawaban atas pertanyaan yang selalu menempel di pikirannya.

Hingga menuju hari terakhir expo, Ananta keluar dari Rimini Expo Centre untuk terakhir kalinya menjelang sore.

Udara di luar terasa berbeda setelah lima hari di dalam gedung yang penuh suara. Dingin, lembab, berkabut tipis dari arah laut Adriatik. Kota tua Rimini di kejauhan yang terlihat seperti sketsa hitam putih, gedung-gedung bersejarah yang siluetnya menghilang ke dalam kabut, lampu-lampu yang mulai menyala meski sore belum sepenuhnya gelap.

Sekali lagi, dia merasa senang berada disini. Cukup untuk mengobati perasaannya yang kalut. Dia suka kesunyian yang berbeda dari keramaian saat di expo. Ananta berdiri di parkiran sebentar, menikmati sambil meraup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum kembali ke hotel dan mengepak barangnya untuk keberangkatan selanjutnya.

Malamnya, dia membuka catatan itinerary nya β€” buku kecil bercover hitam yang menjadi saksi atas perjalanan bisnisnya, dipenuhi dengan tulisan tangan dan sticky note berwarna. Dia mengecek nama kota dan tempat yang dia ingin kunjungi selanjutnya.

Milan. Orsonero Coffee. Via Giuseppe Broggi, 15.

Kota Milan menjadi kota yang dia tuju selanjutnya. Kota yang lebih dingin dari Rimini. Milan menyambut dengan kabut tipis dan batu-batu jalan yang basah β€” bukan salju, tapi dinginnya menyelinap masuk dari sela jaket dengan cara yang lebih diam dan serius. Disana terdapat salah satu speciality coffee shop pertama di Milan yang benar-benar serius. Tempat yang katanya akan mengubah cara pandang kita terhadap espresso Italian β€” atau setidaknya, akan mempertanyakannya.

Ananta menutup bukunya dan segera beristirahat.

Keesokan harinya, Ananta berangkat dari Rimini ke Milan dengan membutuhkan waktu sekitar 3 jam lebih menggunakan kereta api cepat. Dia pun menikmati perjalanan sambil membaca buku sambil mendengarkan lagu pilihannya.

Hingga tak terasa dia tiba di tujuannya.

Dia memilih duduk di dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan sekitarnya. Kemudian pelayan menghampirinya dan menanyakan ingin memesan kopi apa, dan dia ingin kopi yang paling enak menurut pelayan tersebut. Tentu saja, pelayan tersebut tersenyum dan segera pergi memberitahukan barista terkait pesanannya.

Tak lama kemudian, seorang wanita datang menghampirinya setelah mencari tempat untuk duduk, dan secara kebetulan kursi kosong hanya tersedia tepat di sebelah Ananta.

Wanita itu bertanya, β€œExcuse me, may I sit here?” sambil menatap Ananta. Wanita itu duduk, meletakkan tas kerjanya di pangkuannya dan segera mengeluarkan laptop.

Ananta menoleh ke sumber suara dan dia menjawab dengan ramah, β€œYes, sure.” sambil tersenyum.

Hening tercipta diantara mereka

Ananta sibuk dengan iPad dan membuka notebook nya, Jihan tak sengaja melihat buku tersebut melalui ekor matanya β€” dan mengakhiri keheningan itu dengan pertanyaannya, β€œLoh, orang Indonesia juga?”

Ananta menoleh ke sumber suara, dia hampir menjawab dalam bahasa Inggris β€” tapi kata-kata itu sudah keburu berbalik arah di tengah jalan. Ananta mengangguk dan pada akhirnya bertanya pada wanita itu mulai dari tempat tinggalnya sampai alasan kenapa berada di negara yang menurutnya unik ini.

β€œJadi, lo disini berapa lama?”

β€œMungkin semingguan atau lebih sedikit, sekalian gue mau refreshing disini.”

β€œSorry ya, tadi gue ga sengaja liat catatan lo, lo nulis pertanyaan tentang storytelling β€” menurut gue storytelling itu bisa dilatih, makanya kalo lo liat orang yang lancar banget storytelling nya itu karena dia sering berlatih,” katanya sambil menoleh sebentar ke Ananta.

Ananta pun mengangguk pelan dan membiarkan kata-kata itu mengendap. β€œMakasih,” katanya. β€œGue nemu jawaban yang gue cari.”

Ananta terdiam. Di sebelahnya, wanita itu melirik sebentar, menunggu β€” tapi Ananta tidak melanjutkannya.

β€œLo beneran diem paham atau gimana?”

β€œEh… maaf. Gue kesannya jadi kelihatan kurang ajar banget padahal lo baru aja kasih gue jawaban,” Dia terkekeh pelan. β€œGue paham, kok. Justru gue lagi mikirin orang-orang di expo tadi β€” storytelling mereka keren banget.”

β€œNah, kalo lo mau latihan, bisa sama gue.”

β€œSerius?”

Wanita itu tersenyum. β€œSerius.” Lalu kepalanya menoleh sebentar ke notebook yang masih terbuka di meja, β€œTapi… lo kelihatan lagi gusar banget. Pertanyaan-pertanyaan di buku lo itu β€” bukan cuma soal kopi, kan?”

Ananta tidak langsung menjawab. Jarinya menutup notebook itu perlahan.

β€œGue abis putus,” katanya singkat. Dia tidak berencana melanjutkan β€” tapi entah kenapa, di kota yang tidak dia kenal, di sebelah orang yang bahkan namanya belum dia tahu, kata-kata itu meluncur lebih mudah dari biasanya, β€œSebelum putus, dia bilang sesuatu yang… nempel. Nanya gue punya apa. Bilang gue stuck disitu-situ aja.”

β€œLo udah cerita ke dia soal kopi? Soal semua ini?”

β€œUdah. Dan dia ga mau tau.”

Wanita itu terdiam sebentar, β€œKalau gitu, mungkin dari awal memang bukan lo yang dia cari. Lo lebih ke… tempat persinggahannya.”

Ananta menatap cangkirnya, menyesap kopinya sebentar, lalu berkata, β€œTempat persinggahan”

β€œGue bisa salah,” katanya. β€œTapi, orang yang beneran milih lo, biasanya mau tau hal-hal yang lo cintai, begitupun sebaliknya.”

Hening tercipta diantara mereka β€” bukan hening yang canggung, lebih ke hening yang membiarkan perkataannya mengendap.

Lalu, wanita itu bangkit, merapikan tasnya.

β€œGue pamit duluan. Jaga diri, ya,” tangannya menepuk pelan pundak Ananta.

β€œMakasih udah nemenin ngobrol.”

β€œTill we meet again?” tanyanya yang sudah setengah berbalik sambil tersenyum.

β€œTill we meet again,” jawab Ananta sambil membalas senyumannya.

Ananta masih duduk ketika langkahnya menghilang ke arah pintu. Baru setelahnya dia menyadari bahwa dia bahkan tak tahu siapa nama wanita itu.

Lah.. Namanya siapa?

Entah akan ada jawabannya atau tidak β€” hanya waktu yang tahu.


메타데이터
post_id
d326f89af40c
slug
-d326f89af40c
url
https://medium.com/@azalevia/-d326f89af40c
canonical_url
https://medium.com/@azalevia/-d326f89af40c
author_url
https://medium.com/@azalevia
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30