← Back to list

Memahami Rokok Dalam Perspektif Übermensch

Pembahasan singkat, bukan pembenaran.

nvth · 2025-05-25 20:03 · 13 claps · 4.2 min read
#esai #smoking #refleksi #kehidupan #absurd
Open on Medium ↗

Memahami Rokok Dalam Perspektif Übermensch

9 Februari 2025, pada kisaran pukul 2 siang kuputuskan untuk membakar batang kedua Sampoerna Legit Nira dan menghisapnya dengan perlahan. Sembari menikmati hisapan demi hisapan rokok dengan berkelana di sosial media X, berharap bisa menemukan pembahasan menarik dan memantik pikiran. Ditemukanlah satu utas oleh seseorang dengan username @MikaelDewabtara, berisikan;

screenshot from X

screenshot from X

Sekilas memang terlihat biasa saja, pembahasan yang itu-itu melulu. Mengenai permasalahan rokok, substansi eksternal penyuplai nikotin untuk tubuh, yang bagi sebagian dirasa perlu, sebagian lagi dirasa tidak perlu. Seperti sudah jelas apa balasan orang lain mengenai topik ini, komentar-komentar hanya kubaca sekilas saja. Tanpa memahami lebih dalam, karena argumen orang berhenti merokok maupun orang terus merokok hanya itu-itu saja. Masalah kesehatan, kepedulian terhadap yang disayang, kepedulian terhadap sekitar dan sesama. Namun, ternyata setelah menyelam ke kolom komentar lebih dalam lagi, saya menemukan argumen yang membuat saya melihat fenomena mengenai rokok melalui perspektif lain.

Seperti bisa dilihat dari tulisan yang saya unggah di laman medium sebelum ini, terdapat dua tulisan yang berisikan pembahasan fenomena hubungan antar manusia melalui perspektif Apollonian dan Dionysian — teori yang diungkapkan oleh Nietzsche dalam buku pertamanya The Birth of Tragedy. Membahas mengenai dua sisi dalam diri serta jiwa manusia, perbedaan antara keduanya, lalu bagaimana cara menyeimbangkannya — supaya tidak berat sebelah, supaya tidak dominan salah satunya. Kembali pada topik mengenai rokok dan alasan tetap merokok maupun berhenti, ada salah satu argumen dalam kolom komentar yang memantik niat untuk membahasnya melalui perspektif lain. Tak lain tak bukan, melalui perspektif Nietzsche, yang juga mengajukan teori mengenai Übermensch.

screenshot from X

screenshot from X

Salah satu pengguna X dengan username @mhuseinali, membeberkan pandangannya atas ketidaksengajaan yang membawanya kepada keputusan untuk tidak merokok. Ia berargumen, bahwasannya, sejalan dengan apa yang dikatakan Nietzsche mengenai Übermensch, rokok merupakan substansi penyebab kebasnya diri. Penderitaan yang dialami manusia dalam hidup, akan dianestesi menggunakan rokok — entah berapa kadar mati rasanya, dan hal ini yang menyebabkan manusia tidak bisa menjalani penderitaan hidup sebagaimana mestinya. Yang kemudian membawa pada kondisi di mana apa yang harus dirasakan tidak dirasa, menjadikan kita tidak bisa menikmati penderitaan sebagaimana mestinya, dan menghasilkan manusia yang tidak bisa melampaui dirinya — gagal menjadi Übermensch.

Mengeksplornya lebih dalam dan lebih teliti lagi, benarkah rokok membuat kita numb — kebas, mati rasa?

Tulisan ini dibuat semata untuk memenuhi hasrat keingintahuan dan berpegang pada penilaian objektif. Berupaya menghilangkan kesubjektifan penulis pada tiap-tiap argumen dan memberikan insight baru terhadap fenomena. Rokok yang saya bakar ketika membaca cuitan @MikaelDewabtara telah habis tanpa sisa, serta efek dari nikotin telah tiada. Jadi, mari menelisik lebih dalam lagi mengenai perspektif baru ini.

Pertama-tama, sebelum kita melihat dan menentukan hubungan Übermensch dengan merokok, kita perlu untuk mengetahui tentang definisinya. Dalam bukunya berjudul “Thus Spoke Zarathustra”, Nietzsche mengungkapkan suatu konsep adimanusia yang mampu memberi nilai pada diri sendiri sembari menjalani realitas kehidupan sebagaimana mestinya — tanpa berpaling darinya. Digambarkan oleh Nietzsche, mengenai individu yang mampu menciptakan nilai yang melampaui moral tradisional, melampaui apa yang telah ada, kemudian mencapai potensi maksimal masing-masing — ialah apa yang disebut sebagai seorang Übermensch.

Setelah tahu mengenai definisi adimanusia yang dikemukakan Nietzsche, kini pembahasan beralih pada korelasi antara merokok dan tercapainya kondisi di mana kita telah menjadi adimanusia — manusia yang mampu melampaui diri, memiliki kontrol atas diri, Übermensch.

Sekilas melihatnya, merokok merupakan suatu ketergantungan dalam hidup. Rokok sendiri ialah suatu zat adiktif yang menyebabkan ketergantungan. Tak salah jika memandang rokok sebagai suatu halangan untuk menjadi seorang Übermensch. Merokok ialah suatu hambatan manusia menuju aktualisasi diri dan menyebabkan manusia diperbudak ketergantungan eksternal. Menjadikan manusia tunduk pada keinginan yang sebetulnya destruktif dan tidak menguntungkan. Suatu keinginan dan kebutuhan tanpa keuntungan, menjadikan tubuh rusak, kemudian menghilangkan refleksi kritis atas realitas.

Tak ada keuntungan yang didapat dari dikonsumsinya rokok, pun malah hanya akan menggerogoti kesehatan dan mematikan daya diri lebih cepat lagi. Karenanya, pandangan bahwa merokok sebagai adiksi dan halangan terhadap tujuan menjadi seorang Übermensch.

Melihat secara biologis, pastilah rokok merupakan objek perusak jalan manusia melampaui keterbatasan. Menjadikan ketergantungan kemudian mematikan perlahan satu-persatu fungsi organ tubuh. Namun, pembahasan atas apa itu Übermensch tidak melulu terbatas pada kekuatan fisik. Selebihnya adalah untuk menjadi individu yang mengafirmasi kekuatan diri; secara moral, kendali, dan keinginan pribadi.

Kemudian, pembahasan akan menuju pertanyaan mengenai apakah merokok ialah suatu tindakan afirmasi terhadap kehidupan.

Man is condemned to be free. Condemned, because he did not create himself, in other respect is free; because, once thrown into the world, he is responsible for everything he does.” — J.P Sartre

Mengutip filsuf yang juga perokok, segala hal yang kita lakukan di dunia ini adalah dalam tanggung jawab kita. Dalam kita menjalani hidup yang bahkan kita tidak inginkan, segala hal juga perbuatan menjadi beban tanggungan. Untuk merokok adalah untuk menjadi bebas. Mungkin dari perasaan terkekang, kabut pikiran, maupun rasa sakit yang tak tertahan. Seluruh dampak darinya harus dapat dipertanggungjawabkan. Akankah bermalas-malasan atau menjadi teman untuk menjalani absurditas kehidupan. We’ll never know; It depends on each person.

Mungkin rokok adalah bagian hidup seseorang, mungkin juga rokok adalah yang harus dihindari untuk mencapai suatu tujuan. Pembahasan ini sangatlah subjektif dan tergantung atas interpretasi masing-masing pihak — pro maupun kontra. Kita hidup dalam kebebasan, menggapai satu tujuan tak juga harus melewati satu jalan. Rokok bukanlah suatu jalan, hanya barang yang kita temui seiring kita berjalan dan mungkin akan ditinggalkan — mungkin juga dibawa hingga akhir tujuan.

Untuk pertanyaan apakah merokok merupakan penghalang menuju Übermensch, kita masing-masing memiliki jawaban berbeda. Tak ada satu jawaban universal — mungkin iya mungkin tidak.

Saat menulis pembahasan singkat ini juga aku tidak membakar satu rokok pun. Ide muncul pada 9 Februari dan dilanjut 26 Mei. Kesimpulan pribadi adalah bahwa rokok yang dibakar bukan merupakan penentu tercapainya tujuan atau lain hal. Keinginan dan kemauan adalah keutamaan. Selebihnya, have fun, smoke some, cheers🥂

Referensi:

  1. Nietzsche, F. Thus spoke Zarathustra (1883–1885)
  2. Nietzsche, F. The birth of tragedy (1872)
  3. Sartre, J.-P. Existentialism and human emotions (1947)

메타데이터
post_id
d34d779a5267
slug
menyikapi-hukum-rokok-dalam-perspektif-übermensch-d34d779a5267
url
https://medium.com/@nvtheism/menyikapi-hukum-rokok-dalam-perspektif-%C3%BCbermensch-d34d779a5267
canonical_url
https://medium.com/@nvtheism/menyikapi-hukum-rokok-dalam-perspektif-%C3%BCbermensch-d34d779a5267
author_url
https://medium.com/@nvtheism
status
ok
fetched_at
2026-07-19 18:06:16