Fana.
Ada masa-masa dalam hidup di mana diam menjadi bahasa utama. Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, tapi karena terlalu banyak yang menyesak, terlalu banyak yang hilang bentuk, terlalu banyak yang tidak menemukan tempat pulangnya. Tertawa di Negeri yang Terbakar lahir dari masa semacam itu—masa di mana yang tersisa hanyalah reruntuhan, dan kita dipaksa belajar cara berjalan di atasnya tanpa kehilangan diri sendiri.

Sesuatu sudah lama bergemuruh. Sebuah perasaan yang sebelumnya hanya terasa seperti mendung yang tak jadi hujan. Kini, ia telah turun sepenuhnya. Tidak berupa air, tapi api. Dan anehnya, bukan rasa takut yang pertama kali muncul, melainkan tawa.
Tawa yang bukan lahir dari kebahagiaan, tapi dari keterasingan. Dari rasa bahwa segalanya sudah terlalu rusak untuk diperbaiki, tapi kita masih di sini, hidup, bernapas, dan menyaksikannya. Tawa ini adalah semacam kejujuran terakhir—bahwa di antara janji-janji yang diingkari, di antara kota yang tak lagi ramah, di antara suara-suara yang kehilangan gema, kita masih bisa saling menatap dan berkata: “Kita ada.”
Puisi ini adalah tentang dua sosok yang berjalan tanpa arah, dua bayangan yang sudah kehilangan nama tapi masih menggenggam sisa-sisa makna. Di kota yang dipenuhi coretan lapuk dan cahaya lampu yang lelah, mereka tertawa. Bukan karena mereka kuat, tapi karena mereka tahu, dunia tidak akan berhenti hancur, dan mereka pun tak bisa pura-pura tidak melihat.
Ini adalah semacam cinta. Bukan cinta yang romantis atau ideal, tapi cinta sebagai pengakuan, bahwa kita sama-sama hancur, sama-sama bingung, sama-sama terlempar ke dunia yang tidak tahu harus diapakan. Dan mungkin satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah saling menemani sampai semuanya benar-benar runtuh. Saling mengingatkan bahwa kita pernah ada, pernah berjalan, pernah meratap, pernah tertawa—meski dunia tidak lagi mendengar.
Aku menulis ini bukan untuk memberi jawaban, tapi untuk memberi ruang. Ruang bagi siapa pun yang merasa lelah, yang merasa tak lagi bisa percaya pada pagi, yang muak dengan harapan yang dibungkus kata-kata manis. Aku ingin berkata, kamu tidak sendirian. Dan jika semuanya memang harus berakhir, maka biarlah kita jadi yang terakhir menyaksikannya. Bukan sebagai korban, tapi sebagai saksi. Bukan sebagai penyintas yang ingin melupakan, tapi sebagai manusia yang ingin mengingat.
Barangkali, justru di saat semuanya terbakar, kita bisa melihat lebih jelas, siapa yang tetap menggenggam tanganmu, siapa yang masih mau menyalakan rokok terakhir bersamamu, siapa yang masih bisa tertawa bersamamu—bukan karena semuanya baik-baik saja, tapi karena tak ada lagi yang bisa dilakukan selain itu.
Dan jika ini adalah akhir, maka biarlah ia datang dalam sunyi yang kita pilih sendiri. Sunyi yang diisi dengan keberanian, bukan ketakutan. Dengan tawa, bukan ratapan.
Karena kadang, satu-satunya bentuk perlawanan yang tersisa adalah tetap manusia. Tetap merasa. Tetap saling.
Denting Terakhir Sebelum Senyap.
Di kota ini, aku dan kau berjalan, dua bayangan tanpa alamat, dua napas yang mengembara di jalanan yang retak. Di kota ini, nama bukanlah jati diri, hanya suara yang tenggelam di lorong-lorong sunyi.
Kami melihat dinding penuh coretan, kata-kata yang dulu berarti, kini terkikis hujan dan debu. Lampu-lampu berkedip seperti harapan yang kelelahan, dan di sudut gang, seseorang meratap dalam sunyi, menunggu sesuatu yang tak pernah datang.
Kami tertawa. Tertawa karena dunia ini hanya lelucon buruk yang dipertahankan dengan ketakutan. Tertawa karena mereka berkata "hidup," tetapi jalanan tetap sepi, tangan-tangan tetap menengadah, dan kesedihan tetap menjelma bayangan di setiap sudut kota.
"Apa kita ini, kekasih?" tanyamu. Aku menyalakan rokok terakhir yang kita punya, menatap langit yang diselimuti asap entah dari mana, dan menjawab, "Kita ini debu, abu, sisa-sisa percikan api yang gagal dipadamkan."
Kami tidak percaya pada pagi yang dijanjikan. Kami tidak percaya pada harapan yang dikemas dalam kata-kata manis. Kami hanya percaya bahwa dunia ini akan jatuh, akan terbakar, akan runtuh, dan di tengah puing-puingnya, kita akan berdiri, tertawa, dan menikmati pemandangan.
Karena kalau segalanya memang harus berakhir, biarlah kita jadi yang terakhir menyaksikannya, berpegangan tangan, menjadi saksi sunyi dari dunia yang gagal.
- Cimeng D. Shalom.
메타데이터
- post_id
- d366f07e770f
- slug
- fana-d366f07e770f
- url
- https://medium.com/@cimengdshalom/fana-d366f07e770f
- canonical_url
- https://medium.com/@cimengdshalom/fana-d366f07e770f
- author_url
- https://medium.com/@cimengdshalom
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-16 19:09:56