← Back to list

Timah dan Pulau Singkep

Secara sengaja pada tanggal 28 November 2025, saya berkunjung ke Dinas Perpustakaan dan Arsip Kepulauan Riau untuk mengisi waktu luang…

Tania Syahla Asha · 2025-12-01 07:21 · 0 claps · 5.2 min read
#timah #pulau-singkep #sejarah #kepulauan-riau #lingga
Open on Medium ↗

Timah dan Pulau Singkep

Secara sengaja pada tanggal 28 November 2025, saya berkunjung ke Dinas Perpustakaan dan Arsip Kepulauan Riau untuk mengisi waktu luang dengan membaca buku. Awalnya saya ingin mencari novel, namun keinginan tersebut beralih ketika melihat judul buku “Paradigma Pembangunan Kawasan Bekas Tambang Timah (Perspektif Pengembangan Pulau Singkep)”. Tentu saja judul ini lebih menarik daripada novel yang ingin saya cari. Seketika saya langsung beralih haluan untuk menilik ke dalam buku tersebut dan ingin membagikannya kepada Anda.

Buku tersebut terbit pada tahun 2003 ditulis oleh 8 penulis yaitu

  • Rida K. Liamsi, MBA
  • Dr. Firdaus LN, M.Si
  • Dr. Adrizal, M.Sc
  • Ir. Yuliman Gamal, M.Sc
  • Drs. Isnorijal Achmad
  • Ir. Agus Sutikno, M.Si
  • Julita Saidi, SE., M.Si. Ak.
  • Jumri Arif

Beberapa penulis tersebut lahir di pulau Singkep dan ingin memberikan kontribusi untuk pembangunan pulau Singkep pasca tutupnya perusahaan timah. Aktivitas penambangan timah di pulau Singkep sudah berjalan hampir 180 tahun sejak tahun 1812–1992. Berhenti atau tutupnya perusahaan timah pada tahun 1992 dikarenakan timah di pulau singkep sudah habis sehingga perusahaan tersebut harus pindah ke daerah lain yang memiliki pasokan timah yang lebih banyak. Namun kenyataannya hingga sekarang tahun 2025, aktivitas penambangan timah tersebut masih berjalan walaupun dalam skala yang kecil. Beberapa keluarga masih ada yang bergantung dengan timah untuk mata pencahariannya hingga bisa menyekolahkan anak-anak mereka. Walaupun aktivitas penambangan timah yang sekarang termasuk kedalam penambangan yang ilegal. Pemerintah sekarang belum memberikan kebijakan apapun tentang aktivitas penambangan timah.

Buku ini mengatakan bahwa Pulau Singkep memiliki beberapa julukan yaitu Pulau Timah, Pulau Bilis, Pulau Hantu, dan Pulau Pasir. Julukan Pulau Timah diberikan karena kekayaan timah yang dimilki pulau ini, selain itu ikan bilis atau ikan teri juga banyak ditemui di pulau ini menjadi makanan sehari-sehari masyarakat. Pulau Hantu, julukan ini diberikan setelah tutupnya perusahaan timah yang mengakibatkan aktivitas di pulau ini berhenti, orang-orang yang bekerja di perusahaan timah tersebut pindah ke kota lain dan masyarakatnya pun banyak yang memilih untuk merantau mencari pekerjaan yang layak. maka dari itu pulau ini seketika menjadi sepi, masyarakat bingung ingin bekerja apa karena mata pencaharian utamanya telah menghilang. Julukan Pulau Pasir juga sempat diberikan dikarenakan pulau Singkep berada di pesisir sehingga tanahnya seperti pasir pantai.

Keberhasilan pembangunan suatu kawasan harus didasari oleh perencanaan yang baik, selain itu harus pula didukung oleh berbagai kriteria antara lain sistematis, menyeluruh, seksama, terpadu dan sinergi. Penerbitan buku “Paradigma Pembangunan Kawasan Bekas Tambang Timah, Perspektif Pengembangan Pulau Singkep” ini merupakan salah satu bentuk dari upaya perencanaan yang baik, dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki khususnya bagi masyarakat di Pualu Singkep untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Isi buku ini memaparkan beberapa konsep atau program yang bisa dilaksanakan untuk keberlanjutan pulau Singkep yang lebih maju. Membangun kesadaran pengelolaan lingkungan hidup di pulau Singkep. Adapun aksi tindak lanjut tersebut yaitu:

  • Mendirikan Human Resources Development
  • Mendirikan SMK Teknologi Industri Maritim
  • Mendirikan Politeknik Industri Maritim
  • Mendirikan Balai Pelatihan, Bimbingan Belajar, dll
  • Mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Singkep
  • Mendirikan BMT — BMT
  • Mendirikan Radio Singkep
  • Mendirikan Perpustakaan Singkep

Kedelapan poin tersebut sudah difikirkan penulis 22 tahun yang lalu untuk membantu perkembangan pulau Singkep yang lebih maju. Namun kenyataannya sekarang pada tahun 2025 kedelapan program tersebut tidak bisa dilaksanakan sampai sekarang. Hal yang paling mendasar mendirikan perpustaan singkep saja tidak mampu, dulunya memang ada namun tidak dilaksanakan dengan serius sehingga pada tahun 2025 pulau Singkep tidak memiliki perpustakaan. Bahkan penulis memiliki keinginan membuat “Perpustakaan Kampung”. Perpustakaan skala kampung yang bekerjasama dengan camat, guru, dan siswa. Buku-bukunya bisa berasal dari sumbangan mahasiswa atau masyarakat pulau SIngkep yan gmerantau ke kota besar. Di dalam buku tersebut penulis juga mengatakan

“Ingin rasanya entah bila masa kelak, orang ramai bertandang ke pulau Singkep untuk menambang ilmu dan teknologi”.

Jika penulis tersebut melihat kondisi pulau Singkep sekarang (2025) apakah mimpi tersebut telah terwujud? Saya saja baru membaca tulisan yang telah berumur 22 tahun bertanya kepada diri sendiri mengapa hal tersebut belum bisa terwujud? Penulis juga menyebutkan bahwa “semua keinginan ini akan tinggal mimpi semata bila 38.000 penduduk pualu Singkep dan Pemerintah Daerah dan Pengusaha lokal tidak mempunyai atau tidak berupaya menyatupadukan visi dan misi ke arah membangun Singkep pasca Timah”.

Singkep terletak pada kawasan geografis dan sumber daya alam yang cukup strategis dan kaya sehingga seharusnya mampu berkembang dengan cepat. Kenyatannya, telah hampir satu dasawarsa (2003) Singkep justru mengalami ketertinggalan yang cukup parah ketika salah satu kekayaannya (timah) tidak lagi dieksplorasi. Untuk mewujudkan visi tersebut perlu segara dilakukan inventarisasi sumber daya manusia dan potensinya sesuai dengan misi pengembangan Singkep serta menyelamatkan sumber daya alam dan aset yang ada. Dan sekarang (2025) pulau Singkep, kabupaten Lingga masih mengalami ketertinggalan dibuktikan dengan data Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulaua Riau yang menyebutkan bahwa Lingga menjadi kabupaten termiskin se provinsi Kepulauan Riau dengan besaran presentase 9,99%.

Kekayaan alam bukanlah penentu kesuksesan suatu bangsa melainkan kualitas sumber daya manusianya. Pernyataan tersebut memang benar dan telah dibuktikan beberapa kota maju yang tidak memiliki sumber daya alam untuk dimanfaatkan. Sumber daya manusia di Singkep sudah lebih pintar, sudah lebih maju di bandingkan 20 puluh tahun yang lalu. Masyarakat serta anak daerah sudah bisa bersaing dengan kota-kota maju lainnya, namun yang masih terkendala yaitu kurangnya wadah serta dukungan dari pemerintah daerah. Maka dari itu sumber daya manusia yang memiliki potensi ini lebih memilih untuk merantau dan mencari pekerjaan yang lebih layak dan sesuai dengan kemampuan yang mereka punya. Kebijakan Pemerintah Daerah tentunya memiliki peran penting dan berkontribusi terhadap produktivitas sumber daya manusia. Ada 1 program yang membuat saya terkesan di dalam buku ini, yaitu

memberikan investasi kepada Putra-Putri Singkep yang berhasil di bidang ekonomi dan sumber daya manusia — anak-anak Singkep yang telah selesai dan sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi terkemuka seperti (ITB, IPB, UGM, UI) atau bahkan di laur negeri. Kemudian dapat dibangun sebuah Kompleks Institusi Pendidikan Unggul yang independen di atas tanah pasir tailing yang gersang di pulau Singkep mulai dari SD-SMP-SMA sampai Perguruan Tinggi untuk membangun sumber daya manusia Pulau Singkep yang siap menghadapi Abad 21.

Siapa mengira pada tahun 2003 sudah ada sekelompok orang hebat yang bermimpi jauh kedepan untuk pembangunan sumber daya manusia pulau Singkep yang sangat cemerlang. Namun mimpi hanyalah mimpi jika tidak ada yang berkontribusi untuk mewujudkan mimpi tersebut. Sayangnya 22 tahun kemudian, hal tersebut masih menjadi mimpi.

Buku ini juga menjelaskan solusi atau upaya yang bisa dilakukan pada lahan sekitar kolong bekas penambangan timah yaitu dengan melakukan pemulihan tanah kembali (rehabilitasi) dengan memanfaatkan bahan organik yang berasal dari proses bio ciclo farming yang dapat dikembangkan pada lahan di sekitar kolong tersebut. Pengembangan bio ciclo farming ini terdiri dari ternak sapi, itik, unggas, cacing dan budidaya ikan air tawar. Sedangkan kegiatan perkebunan dengan tumpangsari dengan tanaman palawija dan sayuran merupakan upaya yang dapat dilakukan sebagai upaya pemulihan kesuburan tanah di sekitar kolong. Kawasan pertanian terpadu dengan konsep bio ciclo farming di lahan kolong bekas penambangan timah memberikan peluang pengembangan kegiatan bisnis yang lebih luas dengan konsep agro-aqua wisata di pulau Singkep.

Solusi tersebut dibuat pada tahun 2003, namun kenyataannya sekarang tahun 2025 apakah sudah ada yang melakukan hal tersebut? Sepenglihatan saya, kolong bekas penambangan timah hanyalah kolong yang ditumbuhi oleh rumput liar dan ilalang bahkan ada yang menjadi tempat tinggal buaya.

Kolong Marok Kecik, 10 Juli 2025, sumber foto: Taniasyahla

Kolong Marok Kecik, 10 Juli 2025, sumber foto: Taniasyahla

Pertanyaannya apakah pemerintah daerah telah memikirkan solusi ini? atau sederhanaya apakah pemerintah daerah ada yang telah membaca buku ini? Apakah buku ini selama 22 tahun hanya berdiam diri di rak-rak perpustakaan yang telah usang?


메타데이터
post_id
d3a3e84df216
slug
timah-dan-pulau-singkep-d3a3e84df216
url
https://medium.com/@ashatsa29/timah-dan-pulau-singkep-d3a3e84df216
canonical_url
https://medium.com/@ashatsa29/timah-dan-pulau-singkep-d3a3e84df216
author_url
https://medium.com/@ashatsa29
status
ok
fetched_at
2026-07-14 17:06:34