Lebaran di Sidikalang
Dalam dua tahun ini, aku menjalani Idulfitri di dua lokasi yang berbeda. Tahun lalu di Berau (Kalimantan Timur), tahun ini di Dairi…
Lebaran di Sidikalang
Dalam dua tahun ini, aku menjalani Idulfitri di dua lokasi yang berbeda. Tahun lalu di Berau (Kalimantan Timur), tahun ini di Dairi (Sumatra Utara). Keduanya berada jauh dari rumah, di pulau yang berbeda, dengan budaya dan orang-orang yang tak sama.
Ketika merayakan lebaran di Berau, suasana hari raya masih terasa khas. Malam takbiran yang ramai, momen belanja dan masak bersama, shalat ied di masjid terdekat beramai-ramai, makan ketupat opor plus sambal goreng, menyicip kue kering aneka jenis, hingga bersilaturahmi ke rumah rekan kerja yang berada di sekitar site. Selama kunjungan itu, aku berkesempatan menjajal buras untuk pertama kalinya yang dipadukan dengan rawon.
Buras merupakan panganan khas Sulawesi yang satu grup dengan lontong dan ketupat. Berbahan dasar beras bercampur santan atau parutan kelapa, dibungkus daun pisang membentuk seperti bantal, dan dikukus. Gurih, empuk, mengenyangkan, dan nagih!
Pada waktu itu, kukira aku masih dapat merasakan buras dan rawon di lebaran berikutnya. Namun, ternyata tahun ini aku merayakan lebaran di lokasi yang sangat jauh dari Berau. Jika ditarik garis lurus dari kedua tempat ini, jaraknya mencapai 2100 km! Tidak pernah terbayangkan dan tidak pernah menduga akan sejauh ini.
Awalnya, kukira lebaran kali ini akan kujalani di Medan pada 20 Maret dan setelahnya aku akan segera ke Sidikalang untuk kembali ke site. Namun, berdasarkan hasil sidang isbat yang mengikuti keputusan pemerintah, aku baru merayakan Idulfitri pada 21 Maret. Kebetulan juga, sehari sebelum lebaran aku menumpang rekan kerja untuk menuju Sidikalang. Sekalian. Masih takut naik Datra (bus antarkota Medan-Dairi) sendirian. Takutnya di momentum lebaran ini jumlah Datra yang aktif akan menurun, jam keberangkatan tidak fleksibel, atau terjebak macet di Sibolangit-Berastagi-Kebonjahe.
Akhirnya, aku sudah berada di Sidikalang (ibukota Kabupaten Dairi) pada siang hari sehari sebelum lebaran.
Ah, tiwas ngarep-ngarep pengen gek ndang jajan ning Medan.
Sebelum maghrib, aku menyempatkan berjalan kaki mencari masjid terdekat dari mess Sidikalang. Memang perlu dicari dan dipastikan agar tidak kecilik. Untungnya ada masjid di dekat Indomaret, berjarak 350 m dari mess, dan menggelar shalat ied pada 21 Maret. Setelah kutanya warga lokal, kudapatkan info bahwa shalat ied akan dilaksanakan pukul 8 pagi.
Serius mulai jam 8? Sesiang itu? Biasanya di rumah jam 6.30 sudah mulai…

Sepulang survei masjid di Sidikalang sebelum buka puasa
Pukul 7 pagi, aku sudah turun ke bawah dan siap berangkat. Di ruang tamu, terlihat Anas masih tidur berkepompong di dalam sleeping bag. Ah, biarkan. Sepertinya dia memang kurang tidur. Lah wong status Whatsapp terbarunya saja baru diunggah pukul 4 pagi ini.
Ketika berjalan menuju masjid, jalanan masih sepi. Sama sekali tidak ada takbiran yang terdengar dari toa. Sempat terbesit ‘Ini lebaran atau enggak ya? Aku terlambat datang kah?’
Sesampainya di masjid, ternyata memang masih sangat sepi. Hanya ada 3 ibu-ibu yang sudah duduk bermukena rapi di shaf pertama perempuan. Shaf laki-laki masih kosong melompong.

Sepi? Masih kosong?

Jamaah mulai datang

Penduduk mulai merapat sodaraaa

Shaf di dalam sudah penuh, meluber hingga halaman masjid
Ternyata shalat ied di sini memang dimulai pukul 8 pagi kawan-kawan. Awalnya aku mempertanyakan dan takut kesiangan, ternyata aslinya memang sesiang itu. Pukul 8.05 mulai, 8.15 selesai, dilanjut khotbah hingga 9.00. Ketika pulang dari masjid, jalanan terasa panas karena matahari bersinar cerah dan serasa jetlag. Seumur hidup, baru kali ini pulang shalat ied sesiang ini.

Pulang dari masjid
Lebaran ini menjadi momen pertama hari raya tidak ada opor ayam, lontong, ketupat, sambel goreng, dan aneka kue kering. Tidak banyak warga yang merayakan Idulfitri di Sidikalang. Rasanya, kios daging babi dan daging ular lebih mudah ditemukan daripada toples-toples kue nastar, kastengel, putri salju, thumbprint, dan palm cheese.
Tidak apa-apa. Kue-kue riroyo masih bisa aku icip ketika pulang di momen Iduladha esok, dengan request spesial ke ibuku. Bahan-bahan pembuatannya tersedia sepanjang waktu kan? Hehe.
Pagi ini aku sarapan pepaya setengah buah. Setengah dari sisa kemarin sore yang sudah kumakan sendiri pula. Manis, lembut, segar, dan berserat. Dilanjut makan ayam cabe hijau buatan Anas kemarin sore. Si chef mengeluhkan aroma akhir yang kurang mantap karena lengkuas yang terlalu muda. Tapi bagiku, rasa dan aromanya sudah oke dan enak. Meskipun dari tampilannya lebih terlihat seperti ayam saos matcha dibandingkan ayam cabe ijo.

Pepayayayayayay

Ayam saos matcha
Mari aku tunggu, tahun depan aku lebaran dimana lagi ya?
메타데이터
- post_id
- d48e4eef325c
- slug
- lebaran-di-sidikalang-d48e4eef325c
- url
- https://medium.com/@faradiva/lebaran-di-sidikalang-d48e4eef325c
- canonical_url
- https://medium.com/@faradiva/lebaran-di-sidikalang-d48e4eef325c
- author_url
- https://medium.com/@faradiva
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 21:36:38