← Back to list

Hadiah

Aku butuh sedikit sayang

Zaki Mubarak in Ruang Kontemplasi · 2026-05-03 01:30 · 138 claps · 3.0 min read
#ruang-kontemplasi #kontemplasi-diri #hadiah #pacaran #romansa
Open on Medium ↗

DIARI

Hadiah

Aku butuh sedikit sayang

Pacaran — atau memiliki seorang kekasih, aku lebih senang menyebutnya demikian — mengubahmu menjadi orang yang berbeda.

Aku tahu aku bukan orang yang paling tepat untuk mengatakan ini. Mengingat ini pertama kalinya bagiku (dan kuharap cukup ini saja untuk selamanya), maka tentu saja aku lebih banyak tidak tahunya daripada tahunya. Jadi, sebisa mungkin aku berhati-hati agar tidak terkesan sok. Tapi ketika aku mengatakan “mengubah”, aku tidak sedikit pun ada maksud melebih-lebihkan. Percayalah — sebab itu yang kurasakan.

Terlebih sejak malam itu.

Satu malam larut, di hari yang menurutnya cantik, aku mengatakan sesuatu yang kurang lebih intinya apakah kamu tidak keberatan bersamaku. Dia diam sesaat. Tertawa kecil. Kemudian memberi jawab. Aku gembira. Dan yah, segalanya menjadi tambah cantik. Dari situ, sesuatu di dalam diriku pelan-pelan bergeser.

Seolah-olah selama ini aku adalah sebuah hunian — yang itu berarti ada penghuni yang menempatinya.

Dan pada malam itu, penghuni di dalam diriku menyaksikan semuanya, lalu memutuskan, “Baiklah, sepertinya sudah waktunya mendekor ulang tempat ini.” Dia menggeser meja, memindahkan lemari ke sudut lain, membeli kasur baru, mengepel lantai, memaku rak buku, dan seterusnya. Semenjak itu, segalanya berubah. Aku pun ikut berubah.

Apa yang kumaksud dengan berubah di sini begitu beragam bentuknya. Mulai dari hal-hal kecil tapi mengusik — membuka dan menutup ponsel setiap lima menit hanya untuk menanti satu notifikasi pesan; Hal-hal sedikit berat dan mulai menggelisahkan — teman lelakinya yang memendam rasa; Hingga hal-hal yang jauh lebih berat sampai-sampai aku bersedih hati (untuk yang terakhir ini, aku tidak bisa mengungkapkannya).

Namun, tidak selalu bernuansa muram. Ada juga yang manis. Yang membuatku tersenyum sendiri. Yang membuatku terjaga hingga pukul empat pagi. Aku kira aku tidak perlu memaparkannya satu per satu. Tapi, sudah terlanjur sampai di sini, mungkin tidak ada salahnya jika aku menceritakan salah satunya.

Hadiahnya (Dokumentasi Peibadi)

Hadiahnya (Dokumentasi Peibadi)

Kekasihku memberi sebuah diari kecil. Sebetulnya alih-alih disebut buku diari, siapa pun pasti tahu kalau itu adalah notebook. Tapi sejauh ini, aku tidak pernah cocok soal memindahkan ide ke dalam buku catatan. Jadi jangan heran, apabila kamu berkunjung ke meja kerjaku dan membuka laci lantas menemukan setumpuk buku terbengkalai yang tampak mengenaskan.

Karena itu, aku agak kelimpungan saat dia memberi hadiah tersebut. Aku tidak mau menyakiti hatinya dengan membiarkan buku itu tetap bersih kecuali sedikit berdebu. Tapi apa. Apa yang bisa kulakukan, tanyaku pada diri sendiri. Untungnya, tidak perlu waktu lama untuk menemukan jawabannya.

“Tentang dia. Buku ini tentang dia,” kuputuskan.

Kalau dipikir-pikir, tiap kali aku membuka diari dan mulai menulis tentang pacarku— terutama semua perasaan bingungku padanya. Aku tidak bisa tidak merasa aku mirip dengan gadis bergaun merah muda itu, yang berbaring di atas tempat tidur di dekat jendela berukuran sedang yang dihiasi bunga-bunga. Tentu saja, di atas kasurnya, diarinya terbuka. Dan tentu saja, pada baris pertama halaman itu tertulis, “Dear diary….” Bedanya, ia menulis tentang laki-laki yang ia cintai. Dan satu perbedaan lagi — sejauh ini aku belum pernah memakai gaun merah muda.

Kurasa ini akan menjadi rutinitasku yang baru. Tapi jangan salah paham dan mengira ini cara untuk membuat pacarku tersipu dan berkata, “Ah, kamu manis sekali.”

Karena pertama-tama, era Shakespeare sudah lama berlalu. Orang akan menganggapmu aneh jika kamu menulis puisi, novel, atau membuat film berdasarkan (dan untuk) seseorang yang kamu cintai.

Kedua, aku adalah laki-laki yang sedang jatuh cinta pada perempuan yang lembut. Itu berarti, sama seperti gadis bergaun merah muda itu; aku juga bahagia, murung, semangat, lesu, percaya diri, malu, bersyukur, mengeluh, terharu, merana, dan beragam emosi tak terlukiskan lainnya — saat hatiku menjadi miliknya.

Apa yang ingin kukatakan sebetulnya adalah bahwa aku nyaris belum mengerti apa pun tentang gerak hatiku sendiri. Maka, tidak jarang di hadapan kekasihku aku jadi benar-benar tersesat. Kendati kurasa aku setidaknya bisa mengenali kegembiraan dan kesedihan pada dasarnya. Hanya saja aku belum mengerti beraneka suasana hati di antara gembira dan sedih itu, juga belum mampu menentukan hubungan atau semacamnya di antara kedua perasaan tersebut. Dan karena itulah, tak jarang aku dibuat merasa amat tak tenang dan tak berdaya.

Seperti sekarang, misalnya.

Dia sedang sibuk. Tapi aku merindukannya. Kalau boleh, aku ingin ia tahu. Kalau aku membutuhkannya. Kalau aku sedang mengalami kekacauan hati yang sulit dijelaskan. Karena dia, dan tentang dia. Dan itulah kenapa aku di sini. Terapung di atas perahu kecil di tengah lautan, di bawah hujan yang turun deras. Dingin di sini. Aku kedinginan. Apakah tidak apa-apa kalau aku meminta sedikit kehangatannya.

Aku butuh sedikit sayang.


메타데이터
post_id
d499e1f30d67
slug
hadiah-d499e1f30d67
url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/hadiah-d499e1f30d67
canonical_url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/hadiah-d499e1f30d67
author_url
https://medium.com/@justjeki
status
ok
fetched_at
2026-06-22 05:41:33