Rumah Itu Bentuknya Ibu, Ayah, dan Adik
Aku membersihan kaca, ibu akan mencuci gorden-gorden. Aku menyapu rumah, ibu akan mengepelnya kemudian. Aku menyapu halaman, sedangkan ibu…
Rumah Itu Bentuknya Ibu, Ayah, dan Adik
Aku membersihan kaca, ibu akan mencuci gorden-gorden. Aku menyapu rumah, ibu akan mengepelnya kemudian. Aku menyapu halaman, sedangkan ibu akan sibuk mengintruksikan ayah untuk memindahkan lemari, tv, rak, atau apapun itu yang bisa dipindahkan, ingin suasana baru katanya. Semua bekerja, kecuali si bungsu nan manja. Tentu saja sebagaimana kakak pada umumnya aku tidak hanya tinggal diam. Ambilkan sapu! Bukan sapu yang ini tapi yang ijuk! Kemudian, aku menyapu rumah, adikku? Dia kembali memainkan gawai milik ayah, bermain gim. Aku menghembuskan napas kasar. Menghentak-hentakkan sapu hingga menimbulkan suara-suara bising. Kalau malas nggak usah kerjakan! Gawat! Itu suara Ibu. Kan, jadi aku yang kena.
Selesai menyapu, aku teruskan mengambil sapu garut di belakang rumah. Dek, bantu kakak pungut sampah sekeliling rumah, yuk. Kali ini aku memberi titah dengan senyum dan nada yang lembut tapi tetap mengeraskan suara agar ayah mendengarnya. Dek, tuh bantu kakak dulu nanti lagi main gimnya. Yeay! Aku bersorak dalam hati. Ayah memang pahlawan yang sesungguhnya. Hal yang menyebalkan ketika menyambut Ramadan adalah bersih-bersih rumah, tapi aku selalu ingin melakukannya lagi dan lagi di tahun-tahun berikutnya.
Aku menangis tapi tidak benar-benar menangis. Aku sedang menggunting kuku jari manis tangan kiriku. Mataku semakin panas. Air mataku menggenang. Aku terus mnggunting kuku jari kelingking. Hari ini hari Jumat, alasan pertama mengapa aku menggunting kuku saat ini. Kedua, karena esok sudah memasuki tanggal 1 Ramadan, aku ingin membersihkan diri secara zahir dan batin. Aku terisak — hanya isakan kecil. Aku baru saja menelpon Ibu, memohon maaf juga meminta doa pun mendoakan agar kami selalu diberi kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan ibadah selama bulan Ramadan.
Aku menarik sehelai tisu, mengusap air mata yang tak lagi dapat kubendung. Aku lanjutkan menggunting kuku di jari kanan, ku mulai dari ibu jari. Aku selalu ingin pulang tapi aku tahu aku tak bisa. Aku selalu rindu akan rumah — orang-orang menyebutnya homesick — tapi ini hanya rindu. Setiap libur datang, semua orang bertanya, “kamu pulang nggak?” Entahlah, pertanyaan karena rindu atau sekadar ingin tahu, pertanyaan peduli atau ingin terlihat bersimpati. Yang aku tahu pertanyaan ini menyebalkan. Memangnya, kapan aku akan pulang? Aku ingin pulang, selalu. Setiap kali libur, setiap teman-temanku pulang ke kampung halaman, berkumpul bersama keluarga, bersuka cita, melepas ikatan rindu memangkas jarak. Memangnya, aku tidak ingin? Aku yang memilih jalan ini, sejak awal aku tahu benar risikonya.
Aku terisak lagi, mengelap ingus menggunakan tisu. Meski tidak pernahku sampaikan secara verbal, tentu saja aku selalu ingin pulang. Tapi, untuk apa juga diucapkan jika tidak benar-benar pulang? Tak ada gunanya. Aku sudah selesai menggunting kuku. Aku merapikan meja belajar, menyapu kamar, dan mengganti alas kasur dengan yang baru kemudian merendam yang lama — kegiatan yang selalu aku lakukan bersama Ibu jika di rumah.
Sejak tamat dari sekolah dasar aku sudah merantau. Aku selalu percaya dengan keputusan yang aku buat dan rencana-rencana yang telah aku siapkan. Aku juga selalu percaya bahwa aku sudah memikirkan dan mempertimbangkan risikonya, tapi ternyata aku baru meyadari dampak sebuah risiko itu setelah benar-benar menyapanya. Soal Morfologi yang sulit akan terasa mudah jika sudah terbiasa berlatih mengerjakannya. Membawa motor di rumitnya jalanan Bandung pun akan tetap mudah dipahami ketika terbiasa melaluinya. Bahkan rasa cinta yang begitu besar juga bisa hilang makna ketika telah terbiasa bersama dengan yang dicinta. Enam tahun sudah aku merantau, sama halnya dengan kebiasaan-kebiasaan lainnya, ku kira, aku pun akan terbiasa untuk tidak pulang. Namun, ternyata rumah itu bentuknya selalu Ibu, Ayah, dan Adik.
Nanti aku akan pulang.
메타데이터
- post_id
- d4a45b1c1fee
- slug
- rumah-itu-bentuknya-ibu-ayah-dan-adik-d4a45b1c1fee
- url
- https://medium.com/@azilafitriar/rumah-itu-bentuknya-ibu-ayah-dan-adik-d4a45b1c1fee
- canonical_url
- https://medium.com/@azilafitriar/rumah-itu-bentuknya-ibu-ayah-dan-adik-d4a45b1c1fee
- author_url
- https://medium.com/@azilafitriar
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-10 08:17:25