← Back to list

Indikator Kegilaan Seorang Pemimpin

Albert Einstein pernah berkata, “Kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang sambil mengharapkan hasil yang berbeda.”  Sekilas…

Joufri · 2025-04-29 15:46 · 0 claps · 1.3 min read
#leadership-development #prabowo #joko-widodo #einstein
Open on Medium ↗
Wiki topics: BIZ · Business Strategy

Indikator Kegilaan Seorang Pemimpin

Albert Einstein pernah berkata, “Kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang sambil mengharapkan hasil yang berbeda.” Sekilas sederhana, namun jika kita tarik ke dalam ranah kepemimpinan, kalimat ini menjadi pisau bedah yang kejam — membuka borok tersembunyi di balik jabatan dan kekuasaan.

Seorang pemimpin gila bukanlah mereka yang berteriak-teriak di podium atau membuat keputusan sembrono semata. Kegilaan sejati dalam kepemimpinan justru lebih halus, lebih tersembunyi, lebih berbahaya: ketika ia terus-menerus mengulangi pola gagal yang sama, namun tetap yakin akan mendapatkan keajaiban baru.

Indikator kegilaan seorang pemimpin itu sederhana namun mematikan:

  1. Mengeluh tentang hasil buruk, tanpa pernah mau mengubah pendekatan. Dia berbicara tentang perubahan, namun membunuh inovasi dengan tangan sendiri.
  2. Mencaci bawahan, tapi memelihara sistem bobrok yang melahirkan mereka. Ia ingin pasukan elang, tapi terus menabur benih kodok.
  3. Menuntut percepatan, tapi berjalan di atas rel masa lalu yang berkelanjutan. Ia berharap jet tempur, padahal masih menggunakan kereta kuda dari Surakarta.
  4. Membanggakan “pengalaman, yang berbintang-bintang di pundak” tapi menutup diri dari realitas baru. Baginya, pengalaman adalah jubah suci, bahkan ketika dunia telah berputar tiga kali lipat lebih cepat.
  5. Mendewakan prosedur, mengabaikan esensi. Ia sibuk memoles kotak, sementara isinya membusuk.

Kegilaan dalam kepemimpinan adalah sebuah paradoks: semakin tinggi keyakinannya bahwa ia benar, semakin dalam ia terjerumus dalam lingkaran stagnasi.

Seorang pemimpin waras sadar: Ketika hasil tidak berubah, maka akal sehat menuntut pendekatan baru. Ia paham bahwa mengulang-ulang metode usang berkelanjutan dengan berharap keajaiban, adalah bentuk keputusasaan yang disamarkan sebagai optimisme.

Lalu, bagaimana kita mengukur kewarasan seorang pemimpin?

  • Apakah ia berani merombak dirinya sebelum menuntut orang lain berubah?
  • Apakah ia cukup jujur mengakui bahwa strategi lamanya gagal?
  • Apakah ia siap meninggalkan zona nyaman meski harus dihujat?

Jika jawabannya “ya”, maka ia masih berpijak pada realitas. Jika tidak — maka jangan heran jika organisasi yang ia pimpin berjalan di tempat, sambil perlahan-lahan menuju jurang dengan penuh percaya diri.

Di zaman yang bergerak lebih cepat dari waktu itu sendiri, kewarasan pemimpin bukan lagi tentang kekuatan menahan badai, tetapi tentang kelincahan untuk membangun kapal baru sebelum badai datang.

Dan di situlah perbedaan antara pemimpin sejati… dan pemimpin gila. 🚀


메타데이터
post_id
d4ca979344a4
slug
indikator-kegilaan-seorang-pemimpin-d4ca979344a4
url
https://medium.com/@joufri/indikator-kegilaan-seorang-pemimpin-d4ca979344a4
canonical_url
https://medium.com/@joufri/indikator-kegilaan-seorang-pemimpin-d4ca979344a4
author_url
https://medium.com/@joufri
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13